LOGINMathius banyak sekali mendapatkan informasi setelah kembali berkunjung dari kediaman kerabatnya. Dan semua kabar itu, membuatnya murung. Duke sudah berjanji akan memperlakukan Tesa dengan pantas. namun kejadian penembakan di halaman telah menggores kepercayaan Mathius.
"Di mana Duke sekarang?" tanya Mathius tanpa repot menyembunyikan nada sinis dalam suaranya.Pelayan meringis. "Beliau sedang pergi untuk memeriksa pabrik mekanik milik keluarga Veldam di kota, Tuan."Gabriel menatap Romeo di meja makan selagi barang-barang pria itu dibawa masuk. Entah bagaimana ia merasa heran karena rombongan Romeo ternyata lebih banyak dari rombongan Duke, kereta kuda mereka terparkir di ujung jalan semalam dan baru dibawa menuju mansion saat pagi tiba. Mereka bahkan membawa dokter pribadi yang lebih cerewet dari dokter Dixon."Lady Jasmine memiliki kendala nyeri punggung dan pusing di kepala. Kurasa dia terlalu mengkonsumsi gula, dia juga mengeluh sering buang air kecil saat malam dan lebih cepat mengantuk." Begitulah kata dokter Waltres yang dibawa Romeo di meja makan.Suasana pagi itu tampak menyenangkan, menurut Tesa musim panas di sini tidak terlalu buruk. Pagi-pagi ia sudah bangun dan bersih-bersih bersama Rose serta Diana, hasilnya mansion menjadi lebih baik. Tidak serta merta mewah tetapi lebih nyaman dan layak untuk ditinggali.Ia pun senang dengan kehadiran Romeo di sini tapi sepertinya suaminya tidak. Tesa pikir saat di La
"Beri salam pada nenekmu."Tesa mendorong Garret agar berhadapan dengan Lady Jasmine."Nenek?" Putranya itu justru mendongak dengan mata berbinar polos. "Nenek itu artinya dia ibunya Mama?""Bukan, dia ibunya Papa.""Tapi kenapa giginya masih banyak?""Tidak semua nenek-nenek dan kakek-kakek giginya sedikit Garret, itu artinya Lady Jasmine sangat sehat. Caranya menjaga tubuh saat masih muda sangat bagus, dia tidak suka makan permen seperti kau.""Jadi kalau aku sudah kakek-kakek gigiku akan tinggal satu?""Itulah efeknya makan permen."Garret tampak memberengut tetapi Tesa menyeringai, berhasil menyelipkan pelajaran pada putranya yang kerap diam-diam melanggar aturan.Lady Jasmine memerhatikan percakapan mereka dengan seksama. Tatapannya tidak lepas dari anak itu. Pada rambutnya yang hitam kelam, mata yang biru seperti lautan, caranya bicara yang angkuh dan sok pintar. Semua itu mengingatkannya dengan G
Suasana duka itu sudah terlihat sejak kereta kuda yang membawa keluarga Duke Veldam memasuki desa Hila.Bahkan namanya pun terdengar asing di telinga Tesa. Selama berpuluh-puluh kilometer mereka melewati hutan pinus yang lebat, jalanan berdebu tanpa penanda, hanya ada satu atau dua kereta kuda bobrok yang terlihat di sepanjang jalan selama melintas.Garret di pangkuan Gabriel bolak-balik mengerutkan kening menatap sekitar karena tidak ada pemandangan yang bisa dilihat. Suasana sangat mencekam, Gabriel bahkan menyiapkan banyak amunisi takut akan adanya perampok. Tapi Tesa rasa mereka harus lebih khawatir dengan hewan buas alih-alih manusia karena bisa menemukan satu orang saja sudah sebuah keajaiban.Tempat itu benar-benar terpencil.Tidak ada rumah ataupun penginapan di sepanjang puluhan kilometer. Gabriel sampai harus bergantian dengan kusir agar mereka bisa beristirahat.Dan saat peradaban mulai terlihat dari balik hutan dan sungai. Tes
"Mama tolong aku!" Suara Garret menggema di ruang duduk. "Mama..."Tesa terburu-buru berlari dari ruang utama, ia hampir menginjak gaunnya sendiri, jantungnya berdebar keras. Namun saat Tesa masuk, ia langsung tertegun menemukan Garret yang sedang diangkat tinggi-tinggi ke udara lalu dijatuhkan ke sofa. Anak itu berteriak-teriak sekaligus tertawa.Detak jantung Tesa melemah."Mama..." Garret mengulurkan tangan meminta bantuan saat perutnya dibombardir Gabriel dengan gelitikan. Suara tawanya semakin menggema. "Mama tolong selamatkan aku..."Hah!Dua pria ini selalu membuat Tesa tekanan jantung! Jika di luar mereka akan membuat Tesa tidak bisa fokus, menantang bahaya, jika di dalam rumah Gabriel dan Garret akan bertengkar, berbaikan, bertengkar, lalu berbaikan lagi. Seperti itu terus hingga semua pelayan sudah hafal dengan polanya.Tesa pikir anaknya benar-benar dalam kesulitan karena dipaksa Gabriel belajar menggunakan pedang atau
Gabriel melihat sendiri bagaimana wajah Tesa berubah. Awalnya seperti keraguan, bertanya-tanya dan akhirnya menjadi topeng penuh ketenangan.Gabriel menelan ludah. Suasana canggung itu dipecahkan dengan Garret yang menunjuk ke arah luar jendela sambil berseru. "Kuda poni, Papa aku ingin menaiki kuda."Gabriel langsung menyambar kesempatan itu dengan tersenyum sopan. "Tentu Garret, kau turun lebih dulu dan beritahu Paman Ragnar ya, setelah itu aku akan menyusul."Garret mengangguk patuh dan merosot turun dan tubuh Gabriel. Anak itu berlari dan suaranya yang bernyanyi ngasal terdengar di sepanjang koridor."Silakan diminum My Lady, My Lord." Tesa mempersilakan sang tamu. Di dalam dirinya ada sesuatu yang retak. Bukan kesedihan melainkan sesuatu yang lebih mirip dengan rasa bingung.Setelah obrolan yang begitu alot karena Gabriel ternyata ingin mengembangkan bisnisnya di dunia per-kereta api-an akhirnya Lord Chole pamit undur diri.
"Kau marah padaku, Gaby?"Gabriel merayap naik ke atas tubuh Tesa sementara Tesa mundur perlahan, kepalanya mendongak, menahan tengkuk Gabriel, membiarkan suaminya itu menyesap lehernya yang jenjang."Tidak Tesa.""Lalu kenapa kau tidak bicara padaku?""Aku berusaha berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah para penyewa dan tanah mereka yang sudah dirampas secara paksa," jawab Gabriel, merayapkan ciuman ke dada istrinya."Apa aku mengganggu?""Sangat."Dan Tesa memekik saat Gabriel menggigit kecil dagunya. Lalu membungkam bibir Tesa dengan ciuman yang menggebu-gebu.Tubuh kekar Gabriel perlahan diturunkan, berhati-hati agar tidak terlalu menekan, ia menyentuh milik Tesa yang sudah basah di bawah sana kemudian melepaskan pangutannya untuk menatap wajah sang istri.Bibir Tesa tampak membengkak, dan wajahnya bersemu merah jambu. Nafasnya yang memburu terdengar dari celah bibirnya yang mungil. Tesa cantik
Gabriel tidak memiliki masalah dalam mengingat wajah orang, dan sialnya di antara semua orang yang membantunya kenapa orang itu harus Romeo?Gabriel ingin denial bahwa ia tidak peduli dengan adik tirinya itu. Tetapi nyatanya Gabriel memang peduli. Bukan karena dia ingin memeluknya tapi d
Gabriel melihatnya. Saat asap yang membumbung tinggi itu perlahan mulai mereda. Di depannya sebuah siluet sosok jangkung tengah memanggul Garret dan mencoba menarik istrinya.Pandangan Gabriel yang semula melemah sontak menajam.Tanpa ragu, ia mengokang senapan membidik pria ber
"Kau masih menyimpan belatimu, Sayang?" Tepat saat mengatakan itu, kelopak mata Tesa terbuka lebar.Detak jantungnya kehilangan ritme tapi bukan dalam rasa takut, melainkan keinginan kuat untuk melindungi.Perlahan, ia mendongak, dan menatap Gabriel. Bibir pria itu perlahan turu
"Aku harus membawanya ini sudah menjadi kesayanganku Paman Sirkus.""Yah, tidak ada yang tidak memperbolehkan kau membawa itu.""Dan tidak di dalam peti.""Kau bisa memeluknya, Garret."Garret mendengkus kecil kemudian melompat masuk ke dalam kereta kuda, mende







