Share

Bab 2

Author: Anonima
Aku melipat tangan di dada dan memutar bola mata. "Ini tempat tinggal manusia? Kamu sedang membuat peti mati untukku? Aku nggak mau tinggal di sini. Renovasi ulang, aku suka warna merah muda."

Shinta tidak menyangka, aku yang baru saja kembali, sudah berani memerintah sesuka hati. Matanya seketika berkaca-kaca, lalu berkata pada ibuku dengan nada teraniaya, "Ibu, aku nggak menyangka Shofia sangat membenciku. Jangankan tinggal di kamar yang kutata sendiri untuknya, dia bahkan memanfaatkan kebaikanku!"

Ibuku langsung pasang badan melindunginya. "Shofia, jangan nggak tahu diri! Kamar ini ditata sendiri oleh Shinta untukmu. Kalau nggak mau tinggal di sini, angkat kaki dari sini!"

Shinta mengusap air matanya dan tersenyum tegar padaku. "Nggak apa-apa. Kurasa Shofia mungkin belum terbiasa dengan lingkungan baru. Bagaimana kalau aku hadiahkan seekor anak anjing untuk menemanimu?"

Raut wajahku makin dingin. "Bawa anjingmu jauh-jauh dari sini. Aku alergi bulu anjing."

Shinta hendak menangis lagi sambil mengadu.

Aku malas berlama-lama meladeni mereka, jadi aku langsung menutup pintu dengan tegas dan memutus semua suara dari luar.

....

Para penonton di bawah panggung merasa sangat marah.

"Ucapan Shofia nggak perlu sekasar itu, ‘kan? Dasar orang desa, kasar sekali!"

"Kalau dibandingkan, Shinta kasihan sekali. Dia sudah berusaha keras menyenangkan Shofia yang nggak pantas jadi putri raja, tapi lagaknya seperti putri raja. Hasilnya malah selalu ditolak, hatinya pasti sakit. Agak kasihan juga, ya!"

Ibuku memanfaatkan kesempatan ini dan berkata, "Shofia ini memang anak yang sangat nggak tahu diri. Kalau pelakunya bukan dia, siapa lagi?"

Respons orang-orang di bawah panggung sudah sangat emosional, tetapi ibuku masih merasa belum cukup. Dia mengacungkan tangannya tinggi-tinggi ke arah jaksa di atas. "Pak Jaksa! Saya minta ditambahkan sesi pembuktian! Kami ini keluarga korban, jadi paling pas kalau kami yang menceritakan sendiri kejahatan Shofia!"

Dalam cerita ibuku, aku adalah anak yang jahat, licik, tidak punya nurani, dan tidak tahu diri.

Setelah datang ke Keluarga Birta, aku tidak pernah sekalipun menelepon pengasuh untuk menanyakan kabar, dan waktu yang kuhabiskan di rumah juga tidak banyak.

Ibu mengajakku menghadiri pesta kalangan atas, tetapi sikap dan perilaku kasarku justru membuat Keluarga Birta malu.

Aku tidak terbiasa memakai pisau dan garpu, bahkan meminta pelayan mengganti dagingku dengan steik yang matang sempurna.

Saat dia selesai mengobrol dengan beberapa wanita kalangan atas dan kembali, dia melihatku menjatuhkan menara sampanye dan menyiramkan segelas minuman tepat ke wajah Shinta.

Shinta menangis dan mengaku hanya ingin mengajariku cara menggunakan pisau dan garpu.

Namun, aku justru membalas kebaikannya dengan kejahatan dan membuatnya malu di depan umum.

Sejak saat itu, Keluarga Birta dikeluarkan secara terang-terangan dari lingkaran sosial oleh Nyonya Liliana, hingga sempat menjadi bahan cemoohan di lingkaran kelas atas.

Setibanya di rumah, ibuku menyuruhku berlutut. "Kalau bukan karena kamu yang kasih kesan buruk pada Nyonya Liliana, mana mungkin kita diusir!"

Saat menceritakan bagian ini, ibuku menatapku dengan tajam. "Perbedaan kedua anak ini terlalu jauh. Apalagi setelah itu, Shinta yang membantuku memohon pada Nyonya Liliana sampai beliau mau menerimaku lagi!"

Dia memuji satu anaknya dan menjatuhkan anaknya yang lain. "Shofia sama sekali nggak dewasa, cuma tahu ngomong omong kosong yang menyakitkan. Nggak seperti Shinta ...."

Banyak orang yang ikut menyetujui ucapannya.

"Pantas saja orang tua kandung Shofia nggak suka padanya. Karakternya memang jahat dan sombong!"

"Kalau dibandingkan, Shinta benar-benar seperti malaikat. Sangat perhatian dan dewasa."

"Nyawa dibayar nyawa, Shofia harus dihukum mati!"

Sebelum keputusan sidang keluar, mereka sudah lebih dulu memvonisku sebagai pembunuh dan berteriak menuntut nyawaku.

Selanjutnya, ingatanku akan dipakai untuk membuktikan perkataan ibuku.

Cercaan dan makian sudah siap meluncur dari mulut orang-orang, tetapi layar justru menampilkan adegan saat aku diejek oleh Shinta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 11

    Setelah semua kejadian ini, cara semua orang menatapku berubah menjadi penuh iba. Cairan nutrisi kelas atas diberikan padaku tanpa henti sampai akhirnya kesadaranku pulih sepenuhnya.Jaksa berbicara padaku dengan ramah dan lembut, "Menurut hukum, aset dan bisnis Keluarga Birta sekarang diwariskan kepada kerabat sedarah terdekat. Bagaimana kamu ingin mengelola aset-aset ini?"Aku masih agak lemah, lalu menjawab pelan, "Aku nggak bisa berbisnis, apa boleh diubah menjadi uang tunai saja?"Jaksa mengangguk setuju.Ini berarti Perusahaan Birta tidak akan ada lagi di dunia ini. Bisnis yang dibangun ayahku dengan bersusah payah selama puluhan tahun, kini sepenuhnya berubah menjadi tumpukan uang tunai.Ayahku hampir gila. Dia mencoba menerjang maju untuk menghentikanku, "Shofia! Kamu nggak boleh melakukan ini! Itu adalah hasil kerja kerasku selama puluhan tahun, bagaimana bisa kamu menghancurkannya begitu saja?"Ibuku menangis dan mencoba memelukku, "Maafkan Ibu, anakku yang baik, Ibu yang s

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 10

    "Padahal dia anak kandung Keluarga Birta, tapi nggak ada satu pun yang menyayanginya. Dia malah dituduh sebagai pembunuh!""Shofia sudah berusaha keras sekali, tadi aku nggak seharusnya memakinya, maafkan aku ....""Dia alergi bulu anjing, tapi saat pergi dia tetap membawa anjing itu. Aku benaran mau menangis!"Kakakku heran dan bingung.Semua ini berbeda dari yang diceritakan Shinta padanya. Bukankah aku yang memaksa Paula pergi? Bukankah aku yang mengancam ingin merusak hidup Paula?Kenapa dalam tayangan tadi, Paula terlihat sangat akrab denganku?Bahkan pacar yang sangat dicintainya itu hanya bagian dari rencana Shinta untuk menjatuhkanku!Dan lagi ....Wajahnya mendadak pucat pasi bagai kertas. Dia bergumam pelan dengan suara gemetar, "Botol anggur itu ... ada racunnya."Racun dalam anggur itu baru akan bereaksi jika dikonsumsi bersamaan dengan menu makan malam waktu itu. Tidak ada yang menduga Shinta akan merebut anggur milikku, dan tidak ada yang menyangka, aku bisa pergi men

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 9

    Shinta berdiri di sampingnya dengan wajah penuh duka.Bukan hari itu saja mereka berdua bersikap seperti itu, jadi aku sudah terbiasa dan tidak terlalu memedulikannya.....Sangat tidak biasa, kakakku memberiku sebotol anggur merah. Dia bilang, orang-orang di keluarga kaya tidak ada yang tidak minum alkohol, jadi aku harus belajar cara meminum dan menikmati anggur.Aku tidak berpikir panjang. Setelah dia pergi, aku duduk di sofa dan membuka botol anggur merah itu.Aku tidak paham cara menikmati anggur, aromanya hanya terasa harum bagiku. Namun belum sempat kuteguk, Shinta berjalan menghampiri dan merebut gelasku dari tanganku.Karena tidak ada orang lain di sekitar, dia tanpa ragu mengejekku dengan berani, "Memangnya orang seperti kamu pantas minum anggur sebagus ini? Orang kampungan, nggak usah sok minum anggur, pulang sana dan minum air putih!"Di depan mataku, dia meminum habis isi gelas yang sudah kutuang, lalu membuang sisanya langsung ke tempat sampah. "Lihat baik-baik. Walaupun

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 8

    "Bagaimana mungkin aku nggak menyalahkannya?"Aku sekali lagi memancing amarah publik."Bisa nggak, berhenti membela Shofia? Karakternya memang bermasalah, kok. Apa haknya meremehkan Paula?""Kata-kata yang dia ucapkan menjijikkan sekali, ya. Kok bisa-bisanya dia sejahat itu pada pacar kakaknya sendiri? Sumpahin orang lain mati, benar-benar gila!""Shinta memang anak yang baik. Wajar kalau dia sempat tergiur pujian. Kalau bukan karena dia menenangkan Paula, bisa saja Paula bukan cuma pergi tanpa pamit, tapi malah lompat dari gedung."Semua hal baik yang kulakukan sebelumnya sirna begitu saja pada saat ini.Aku boleh berwatak buruk atau manja, tetapi aku tidak boleh meremehkan nyawa orang lain, tidak boleh lupa daratan, dan membenci asal-usulku hanya karena tumbuh di desa.Seseorang berseru kencang, "Walaupun bukan Shofia yang membunuh Shinta, lebih baik memeriksa keberadaan Paula juga. Jangan-jangan Paula mati di tangannya?"Para penonton sangat antusias.Mereka sudah tidak sabar ingin

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 7

    Namun, dia tahu itu bukan usahanya, dan dia tahu betul siapa yang meletakkannya.Shinta bersandar di pelukan ayahku, lalu mengalihkan pandangannya menatapku sambil mengangkat alisnya sedikit.Tindakannya itu tampak seperti pamer, sekaligus tantangan bagiku.Di bawah panggung, raut wajah ayahku tampak sangat lesu. Putri penurutnya malah keluyuran dan hamil anak pria lain. Sementara anak yang amat dibencinya justru hidup hemat, berjualan baju, dan bekerja sampingan untuk mengumpulkan uang demi dirinya.Hal yang makin mengejutkan adalah Vincen dan tunangannya ternyata sedang berdiri di tengah kerumunan penonton di bawah panggung saat ini.Suara tamparan yang keras terdengar nyaring. Vincen sampai dibuat pusing oleh tamparan tunangannya. Dia buru-buru memegang tangan tunangannya untuk menjelaskan sesuatu, tetapi pipinya malah ditampar keras sekali lagi."Vincen, bagaimana katamu waktu itu? Kamu bilang kamu mabuk dan mengira dia itu aku, makanya kamu melakukan kesalahan. Karena nggak mau m

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 6

    "Kamu nggak boleh bermalas-malasan, ya!"Aku tidak tahu mengapa mataku terasa agak sembab. Aku langsung menjawab dengan cepat, "Tentu saja!"Saat selesai mengajar dan pulang, pikiranku sudah sangat kacau dan lambungku terasa amat sakit.Terakhir kali, karena terlalu sibuk sampai lupa makan, dokter yang memeriksaku bilang, kalau aku terus-terusan begini, tubuhku bisa kena penyakit kronis.Namun, aku tidak punya pilihan lain.Waktu yang bisa kumanfaatkan untuk mencari uang terlalu sedikit, jadi aku terpaksa pindah sementara ke asrama kampus.Akan tetapi, aku pernah tidak sengaja berpapasan dengan Shinta sekali. Jarang sekali dia tidak membawa pengikut-pengikutnya. Dia sendirian, bersembunyi di balik semak-semak pohon sambil menelepon."Aku hamil! Kalau bukan anakmu, anak siapa lagi?" suaranya terdengar sangat panik. "Kalau waktu itu nggak jadi pun, beberapa kali kamu mengundangku setelah itu, belum tentu aman, ‘kan? Kalau kamu nggak mau tanggung jawab, aku akan beritahu tunanganmu! Kal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status