Share

Putri Kandung Memegang Skenario
Putri Kandung Memegang Skenario
Author: Anonima

Bab 1

Author: Anonima
"Ibu, aku benaran nggak melakukan apa-apa. Kematian Shinta sama sekali nggak ada hubungannya denganku!"

Tangan dan kakiku ditekan kuat-kuat oleh petugas keamanan hingga tidak bisa bergerak.

Tulangku yang kurus, terasa sangat sakit saat terbentur lantai. Aku hanya bisa memaksakan kata-kata ini keluar dari tenggorokanku.

Di depanku, berdiri ibu kandungku sendiri. Caranya menatapku sama persis seperti menatap musuh bebuyutannya.

"Shofia, dasar pembawa sial! Wanita murahan! Tahu begitu, aku nggak usah membawamu pulang. Kamu cuma pantas tinggal di desa kumuh itu! Ini semua gara-gara kamu! Kalau bukan karena kamu, mana mungkin Shinta-ku mati?"

"Pasti kamu yang membunuhnya!"

Matanya memerah, sepertinya dia sudah menangis semalaman.

Saat aku dan Shinta lahir, pengasuh menukar kami secara diam-diam.

Sejak saat itu, anak pengasuh mendadak menjadi putri keluarga kaya. Sedangkan aku harus ikut pengasuh itu kembali ke desa untuk hidup menderita.

Setelah Shinta tewas secara misterius, ibuku langsung menuduhku sebagai pelakunya. Dia bilang, aku iri pada Shinta yang telah menikmati kehidupan mewah yang seharusnya menjadi milikku selama delapan belas tahun.

Dia melaporkanku ke polisi.

Demi membuktikan bahwa diriku tidak bersalah, aku bersedia mempublikasikan ingatanku.

....

Sensasi saat ingatan diekstraksi benar-benar tidak menyenangkan. Rasanya seperti ada pisau yang sedang mencincang otakku.

Aku menggenggam erat sandaran kursi. Tubuhku gemetar hebat dan ujung jariku berdarah, tetapi aku tetap memaksakan diri memasang senyum mengerikan ke arah ibuku.

"Ibu, aku benaran nggak melakukan apa-apa!"

Orang-orang di bawah panggung berbisik-bisik.

"Siksaan seperti ekstraksi ingatan, bukannya cuma dipakai untuk terpidana mati? Apa gadis semuda dia bisa menahannya?"

"Dengar-dengar karena Nona Shinta meninggal, mereka curiga putri mereka dari desa yang baru ditemukan ini pelakunya."

"Gadis ini sampai sukarela mempublikasikan ingatannya demi membersihkan namanya, kasihan sekali!"

Karena takut opini publik memihak padaku, ibuku bahkan tidak sudi melirikku sekali pun.

Dia bergegas lari ke tepi panggung dan berteriak kencang, "Untuk apa kasihan pada Shofia? Dia yang membunuh putriku! Shinta anakku itu orang yang sangat baik. Setiap ada barang bagus, dia selalu memikirkan Shofia. Dia bahkan memintaku dan Ayahnya untuk memberikan lebih banyak perhatian pada Shofia. Apa begini cara dia membalas budi pada Shinta?"

Kamera di layar besar langsung berpindah dari tubuhku ke ayah dan kakak laki-lakiku yang sedang berjalan naik ke panggung.

Ayahku terlihat lebih tua belasan tahun hanya dalam semalam, nadanya terdengar sangat lelah saat berkata, "Huh, kalau tahu yang kubawa pulang adalah orang yang nggak tahu diri begini, aku nggak akan mau membawa pulang pembunuh ini. Walaupun waktu itu, Shinta sudah memohon-mohon padaku untuk membawanya pulang!"

Kakakku mengerutkan dahi dengan wajah penuh amarah. "Kalau kebaikan cuma mengundang kematian, lebih baik aku nggak pernah mengajari Shinta cara menjadi orang baik!"

Semua tuduhan dari mereka bertiga berhasil menggiring opini publik. Tidak ada lagi orang yang membelaku, yang tersisa hanyalah sorakan yang makin nyaring.

"Biarkan pelaku itu menerima hukuman yang pantas!"

Proses ekstraksi ingatan berhasil.

Melihat ingatanku hendak diputar mulai dari usia lima atau enam tahun, ibuku buru-buru berkata, "Apa hubungannya semua ini dengan kematian Shinta? Cepat lewati, aku nggak mau lihat!"

Jaksa berkata, "Kalau ingatan dilewati secara paksa, otaknya bisa rusak."

Ibuku sama sekali tidak ragu dan langsung berteriak, "Lewati saja, cepat! Kematian Shinta yang paling penting!"

Jaksa menghela napas. Garis proses ingatan di layar besar perlahan digeser.

Tampilan layar besar berganti ke momen saat aku pertama kali kembali ke vila Keluarga Birta.

Shinta tersenyum dan membawaku ke kamar yang dia tata sendiri untukku.

Begitu masuk, aku melihat seluruh kamar bernuansa abu-abu kusam yang membuat orang merasa sangat tertekan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 11

    Setelah semua kejadian ini, cara semua orang menatapku berubah menjadi penuh iba. Cairan nutrisi kelas atas diberikan padaku tanpa henti sampai akhirnya kesadaranku pulih sepenuhnya.Jaksa berbicara padaku dengan ramah dan lembut, "Menurut hukum, aset dan bisnis Keluarga Birta sekarang diwariskan kepada kerabat sedarah terdekat. Bagaimana kamu ingin mengelola aset-aset ini?"Aku masih agak lemah, lalu menjawab pelan, "Aku nggak bisa berbisnis, apa boleh diubah menjadi uang tunai saja?"Jaksa mengangguk setuju.Ini berarti Perusahaan Birta tidak akan ada lagi di dunia ini. Bisnis yang dibangun ayahku dengan bersusah payah selama puluhan tahun, kini sepenuhnya berubah menjadi tumpukan uang tunai.Ayahku hampir gila. Dia mencoba menerjang maju untuk menghentikanku, "Shofia! Kamu nggak boleh melakukan ini! Itu adalah hasil kerja kerasku selama puluhan tahun, bagaimana bisa kamu menghancurkannya begitu saja?"Ibuku menangis dan mencoba memelukku, "Maafkan Ibu, anakku yang baik, Ibu yang s

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 10

    "Padahal dia anak kandung Keluarga Birta, tapi nggak ada satu pun yang menyayanginya. Dia malah dituduh sebagai pembunuh!""Shofia sudah berusaha keras sekali, tadi aku nggak seharusnya memakinya, maafkan aku ....""Dia alergi bulu anjing, tapi saat pergi dia tetap membawa anjing itu. Aku benaran mau menangis!"Kakakku heran dan bingung.Semua ini berbeda dari yang diceritakan Shinta padanya. Bukankah aku yang memaksa Paula pergi? Bukankah aku yang mengancam ingin merusak hidup Paula?Kenapa dalam tayangan tadi, Paula terlihat sangat akrab denganku?Bahkan pacar yang sangat dicintainya itu hanya bagian dari rencana Shinta untuk menjatuhkanku!Dan lagi ....Wajahnya mendadak pucat pasi bagai kertas. Dia bergumam pelan dengan suara gemetar, "Botol anggur itu ... ada racunnya."Racun dalam anggur itu baru akan bereaksi jika dikonsumsi bersamaan dengan menu makan malam waktu itu. Tidak ada yang menduga Shinta akan merebut anggur milikku, dan tidak ada yang menyangka, aku bisa pergi men

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 9

    Shinta berdiri di sampingnya dengan wajah penuh duka.Bukan hari itu saja mereka berdua bersikap seperti itu, jadi aku sudah terbiasa dan tidak terlalu memedulikannya.....Sangat tidak biasa, kakakku memberiku sebotol anggur merah. Dia bilang, orang-orang di keluarga kaya tidak ada yang tidak minum alkohol, jadi aku harus belajar cara meminum dan menikmati anggur.Aku tidak berpikir panjang. Setelah dia pergi, aku duduk di sofa dan membuka botol anggur merah itu.Aku tidak paham cara menikmati anggur, aromanya hanya terasa harum bagiku. Namun belum sempat kuteguk, Shinta berjalan menghampiri dan merebut gelasku dari tanganku.Karena tidak ada orang lain di sekitar, dia tanpa ragu mengejekku dengan berani, "Memangnya orang seperti kamu pantas minum anggur sebagus ini? Orang kampungan, nggak usah sok minum anggur, pulang sana dan minum air putih!"Di depan mataku, dia meminum habis isi gelas yang sudah kutuang, lalu membuang sisanya langsung ke tempat sampah. "Lihat baik-baik. Walaupun

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 8

    "Bagaimana mungkin aku nggak menyalahkannya?"Aku sekali lagi memancing amarah publik."Bisa nggak, berhenti membela Shofia? Karakternya memang bermasalah, kok. Apa haknya meremehkan Paula?""Kata-kata yang dia ucapkan menjijikkan sekali, ya. Kok bisa-bisanya dia sejahat itu pada pacar kakaknya sendiri? Sumpahin orang lain mati, benar-benar gila!""Shinta memang anak yang baik. Wajar kalau dia sempat tergiur pujian. Kalau bukan karena dia menenangkan Paula, bisa saja Paula bukan cuma pergi tanpa pamit, tapi malah lompat dari gedung."Semua hal baik yang kulakukan sebelumnya sirna begitu saja pada saat ini.Aku boleh berwatak buruk atau manja, tetapi aku tidak boleh meremehkan nyawa orang lain, tidak boleh lupa daratan, dan membenci asal-usulku hanya karena tumbuh di desa.Seseorang berseru kencang, "Walaupun bukan Shofia yang membunuh Shinta, lebih baik memeriksa keberadaan Paula juga. Jangan-jangan Paula mati di tangannya?"Para penonton sangat antusias.Mereka sudah tidak sabar ingin

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 7

    Namun, dia tahu itu bukan usahanya, dan dia tahu betul siapa yang meletakkannya.Shinta bersandar di pelukan ayahku, lalu mengalihkan pandangannya menatapku sambil mengangkat alisnya sedikit.Tindakannya itu tampak seperti pamer, sekaligus tantangan bagiku.Di bawah panggung, raut wajah ayahku tampak sangat lesu. Putri penurutnya malah keluyuran dan hamil anak pria lain. Sementara anak yang amat dibencinya justru hidup hemat, berjualan baju, dan bekerja sampingan untuk mengumpulkan uang demi dirinya.Hal yang makin mengejutkan adalah Vincen dan tunangannya ternyata sedang berdiri di tengah kerumunan penonton di bawah panggung saat ini.Suara tamparan yang keras terdengar nyaring. Vincen sampai dibuat pusing oleh tamparan tunangannya. Dia buru-buru memegang tangan tunangannya untuk menjelaskan sesuatu, tetapi pipinya malah ditampar keras sekali lagi."Vincen, bagaimana katamu waktu itu? Kamu bilang kamu mabuk dan mengira dia itu aku, makanya kamu melakukan kesalahan. Karena nggak mau m

  • Putri Kandung Memegang Skenario   Bab 6

    "Kamu nggak boleh bermalas-malasan, ya!"Aku tidak tahu mengapa mataku terasa agak sembab. Aku langsung menjawab dengan cepat, "Tentu saja!"Saat selesai mengajar dan pulang, pikiranku sudah sangat kacau dan lambungku terasa amat sakit.Terakhir kali, karena terlalu sibuk sampai lupa makan, dokter yang memeriksaku bilang, kalau aku terus-terusan begini, tubuhku bisa kena penyakit kronis.Namun, aku tidak punya pilihan lain.Waktu yang bisa kumanfaatkan untuk mencari uang terlalu sedikit, jadi aku terpaksa pindah sementara ke asrama kampus.Akan tetapi, aku pernah tidak sengaja berpapasan dengan Shinta sekali. Jarang sekali dia tidak membawa pengikut-pengikutnya. Dia sendirian, bersembunyi di balik semak-semak pohon sambil menelepon."Aku hamil! Kalau bukan anakmu, anak siapa lagi?" suaranya terdengar sangat panik. "Kalau waktu itu nggak jadi pun, beberapa kali kamu mengundangku setelah itu, belum tentu aman, ‘kan? Kalau kamu nggak mau tanggung jawab, aku akan beritahu tunanganmu! Kal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status