تسجيل الدخولUcapan Dokter Rowan membuat suasana koridor kembali hening. Tidak ada satu pun yang membantah perkataannya.Aluna yang lembut menahan perasaan bersalahnya. Sementara Sagara mengusap wajahnya pelan. Dia berusaha meredam gejolak emosi dan kekecewaan di dalam dada. Setelah beberapa detik berpikir, dia akhirnya membuka suara. “Mulai hari ini, semua aktivitas Lio yang nggak penting di-stop.”Semua orang menoleh ke arah Sagara. Wajahnya suram dan sorot matanya tajam.Tatapan Sagara dingin, tetapi nadanya mutlak tidak ingin terbantahkan. “Nggak ada sekolah. Nggak ada baca jurnal dan Nggak ada kerja part time. Semua perangkat elektronik yang berhubungan sama jurnal disita sementara.”Mata Nuna melebar. “Tuan… termasuk tablet dan laptop Nona?”“Semuanya,” jawab Sagara, singkat. Nada suara Sagara tegas tanpa adanya ruang negosiasi atau celah kelemahannya. Aluna terdiam. Dia paham keputusan suaminya terdengar keras. Namun untuk kali ini, dia setuju.Dokter Rowan justru mengangguk setuju. “Tu
Dokter Rowan keluar bersama dua dokter spesialis. Wajahnya jauh lebih serius dari sebelumnya.Sagara langsung melangkah maju. “Gimana kondisi Lio?”Koridor mendadak sunyi. Semua orang menunggu jawaban Dokter Rowan.Dokter Rowan menatap Sagara dan Aluna bergantian.“Hasil lengkapnya belum keluar. Tapi dari pemeriksaan neurologis, ada beberapa hal yang perlu kita waspadai.”Mendengar keterangan Dokter Rowan, reaksi anggota keluarga Kivandra beragam. Jantung Aluna serasa berhenti. Tatapan Sagara berubah tajam. Sementara Edward menekan perasaan ingin memukul dinding untuk melampiaskan emosinya.Tatapan Sagara berubah tajam. “Maksudmu?” Dokter Rowan menarik napas pendek.“Dari hasil pemeriksaan awal, saya curiga ini bukan sekadar efek kelelahan biasa atau stres pasca trauma.”Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.Sagara menatap Dokter Rowan dengan sorot mata tegas.“Rowan,” suaranya rendah dan berat, “jelasin semuanya.”Reaksinya itu adalah pertanda Sagara sedang be
Mobil keluarga Kivandra memasuki area VIP Medica Global Hospital. Begitu mobil berhenti, pintu otomatis langsung terbuka dan tim medis sudah menunggu di depan. Dokter Rowan turun lebih dulu. Sorot matanya tajam.“Bawa Nona ke ruang pemeriksaan utama. Jalur steril. Jangan ada orang luar yang masuk tanpa izin saya.”“Baik, Dokter.”Mereka bergerak cepat tanpa membuang waktu sedikit pun. Deyan dan Nuna mengawal Liora turun dari mobil dengan tatapan penuh waspada. Nuna berjalan di sisi kanan sambil memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Liora.Wajah Liora terlihat pucat, tetapi ekspresinya tetap tenang. Justru itu yang membuat Nuna semakin tidak nyaman. Liora terlalu terbiasa menyembunyikan rasa sakit.Begitu masuk ke ruang pemeriksaan utama, suasana langsung berubah serius. Beberapa dokter spesialis sudah menunggu di dalam. Dokter saraf, radiologi, patologi klinik, semuanya hadir. Di tengah ruangan, Dokter Rowan berdiri dengan aura yang langsung mengambil alih seluruh situas
“Nona, kamu mimisan lumayan banyak.”Nuna segera meraih ponsel dan menghubungi seseorang.Panggilan tersambung cepat.“Dokter Rowan? Tolong datang ke kamar Nona Liora sekarang.”Suara Nuna terdengar tegang. “Nona Liora tiba-tiba mimisan. Aku khawatir ini ada hubungannya sama luka penyerangan kemarin.”Liora terdiam. Dia juga memiliki pemikiran seperti itu. Pikiran Liora berkecamuk. ‘Bu Nuna telepon Dokter Rowan? Kalo Bu Nuna sampai manggil dia, berarti Bu Nuna bener-bener menganggap situasi gue serius.’Setelah panggilan berakhir, Bu Nuna menoleh ke sekitar. Tatapannya jatuh pada seorang penjaga yang berdiri tidak jauh dari area kolam renang.“Kamu!”Penjaga itu langsung mendekat. “Ya, Bu Nuna? Ada perintah apa?”“Bawa Nona Liora ke kamarnya sekarang.”Penjaga itu mengangguk cepat. “Baik.”Bu Nuna kembali menatap Liora. “Nona, kita masuk dulu. Jangan di sini.”Liora sebenarnya ingin bilang dia baik-baik saja. Tapi saat hendak berdiri, pandangannya mendadak berkunang-kunang selama sa
“Fabulous! You did it, girl!”Di layar ponsel, Liora berteriak bahagia. Lalu, terdengar suara tepuk tangannya. Dia adalah orang pertama yang bereaksi. Ms. Donna ikut bertepuk tangan dengan air mata penuh haru. Kemudian, disusul oleh suara tepuk tangan kepala sekolah. “Kavita, kamu berhasil,” kata Ms. Donna. “Aku tau, kamu pasti berhasil. Kamu melakukannya dengan baik.”Ms. Donna memeluk muridnya. Dia mengusap punggung Kavita dengan kasih. Sebagai kepala sekolah, Mr. Arnold terkagum-kagum dengan performa piano Kavita. Dia belum berhenti tepuk tangan. “Luar biasa! Kavita, kamu membuat Bapak terkejut,” puji Mr. Arnold sambil berdiri.Lalu, Mr. Arnold menoleh pada Pak Mochtar. “Selamat Pak Mochtar. Putri Anda sangat luar biasa,” kata kepala sekolah. Kepala sekolah menghampiri Kavita. “Sebelumnya, hanya ada satu murid yang pandai memainkan La Campanella tanpa cacat. Dia adalah Liora, siswi berprestasi di bidang matematika dan seni musik.”Tatapan Kepala sekolah mengarah pada layar p
Kepala sekolah mempersilakan Pak Mochtar duduk. Lalu, dia sendiri duduk di sampingnya. Sementara Ms. Donna berjalan menghampiri Kavita. Siapa yang tidak mengenal Pak Mochtar? Seorang maestro piano yang tegas. Bahkan dia menyampaikan kritik anak didiknya dengan kata-kata yang tajam. Udara di ruang musik langsung terasa menekan Kavita. Bibir Kavita bergetar. “Lio, gue… rasanya nggak sanggup. Gimana kalo gue nyerah aja?”Di layar ponselnya, Liora melihat Kavita terlalu tegang dan gugup luar biasa. Liora berujar tenang, “Vita, slay aja! Taruh ponselnya di depan lo. Gue temenin lo dari sini. Oke?”Kavita mengangguk. Liora memang paling bisa diandalkan!Ms. Donna menepuk punggung Kavita. “Kavita, jangan takut. Ada saya dan Liora yang temani kamu. Ayo fokus demi mimpi kamu.”Kavita melirik Ms. Donna tanpa membalas ucapannya. Dengan tangan gemetar, Kavita duduk di depan piano. Dia meletakkan ponsel tepat di depannya. Tidak ada yang berbicara lagi. Perhatian semua orang tertuju pada Kav
“Masuk aja, Bu Nuna.”Liora berteriak dari dalam kamar tanpa menoleh ke arah pintu. Dia tidak ingin konsentrasinya pecah. Pintu terbuka perlahan.Nuna datang membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di depan Liora. “Minum dulu mumpung masih anget, Nona.”“Makasih, Bu Nuna.”Ketika Liora seda
Rian menundukkan kepala tanpa sadar. Papanya memang benar-benar menyukai Liora!“Baik, Pa.”Rian tunduk pada perintah pak tua itu. Otaknya kembali mengingat bagaimana pengaruh Liora pada keluarganya. Setiap kali Rian membawa Liora ke rumah leluhur keluarga Santoso, gadis itu menemani Tuan Ferdian
Rian menatap istrinya tanpa berkedip.“Gita, dulu saya selalu tutup mata sama kelakuanmu dan anakmu. Kamu lupa? Kakek lebih suka Lio daripada cucu kandungnya sendiri.”Suasana mendadak menjadi semakin tegang. Nada suara Rian sangat dingin. Bahkan Pak Suryo yang menjadi kepala pelayan kepercayaan ke
Bel masuk kelas pertama terdengar dari pengeras suara sekolah. Suasana cafetaria yang tadinya dipenuhi teriakan dan komentar, perlahan berubah sibuk. Para siswa mulai membereskan tas mereka. Namun, topik pembicaraan tidak berubah. Semua orang masih membicarakan Andre dan Erlita.“Lio, ayo ke kelas







