Share

Bab 4

last update Date de publication: 2026-05-08 09:48:52

Halaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.

“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao.

Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bart, musuh bebuyutan keluarga Kivandra. Namun ketika dia sudah tidak berguna, Nyonya Besar keluarga Bart menyuruh orang untuk membunuhnya.

Ketika berada di ambang kematian, Sagara datang menyelamatkan nyawa David. Sejak itulah, dia berhutang nyawa dan mendedikasikan hidupnya untuk Sagara.

Liora berjalan di tengah, diapit Nuna dan David.

Saat mereka mendekati anak tangga menuju pintu utama, suara bisikan para pelayan terdengar lagi.

“Dia… Nona Besar Kivandra?”

Bola mata para pelayan nyaris copot!

Penampilan Liora sangat sederhana. Rok hitam lipit di atas lutut yang warnanya telah pudar, kemeja putih tanpa lengan yang sedikit kusut dan tas sekolah di punggungnya.

Rambut coklat sebahu Liora jatuh lurus dengan poni yang dijepit seadanya di samping. Tidak ada aksesori mahal, apalagi sentuhan glamor seperti kebanyakan putri keluarga kaya.

Namun, cara Liora berjalan tetap tenang. Punggungnya lurus dan langkahnya tidak ragu.

“Seriusan penampilannya kusut begitu?”

“Jauh banget dari yang kita dibayangin. Iya, nggak?”

“Aura kemiskinannya kental banget.”

Langkah Liora sempat melambat, ingin lebih banyak mendengar respon negatif tentang dirinya.

Nuna berhenti. “Tutup mulut sampah kalian.”

Suara Nuna rendah, tapi langsung membungkam mulut mereka.

Nuna menoleh perlahan, melihat para pelayan yang berdiri membeku. Tatapannya dingin dan tajam, seperti sudah terbiasa mengendalikan situasi tanpa perlu meninggikan suara.

“Pak David, catat nama mereka sekarang. Besok pagi, keluarin mereka dari daftar staf tetap,” perintah Nuna.

“Siap, Kak Nuna.”

Beberapa pelayan langsung menunduk, menyadari kesalahan mereka. Tidak ada yang berani membantah, apalagi membela diri.

Keputusan Nuna langsung berlaku saat itu juga.

Nuna kembali menatap barisan pelayan yang tersisa. “Ingat baik-baik. Nona Liora adalah Nona Besar Kivandra. Jaga sikap kalian.”

Suasana senyap. Tidak ada satupun pelayan yang berani mengangkat kepala.

David membentak mereka. “Mana sikap hormat kalian?”

Para pelayan langsung membungkuk hormat dan mengucapkan selamat datang serempak.

Liora berdiri diam. Dia tidak merasa bangga juga tidak tersinggung. Hanya ada rasa tidak nyaman yang samar dia rasakan, seperti sesuatu yang belum sepenuhnya dia pahami.

Tanpa berkata apa-apa, Liora melangkah lagi.

Liora melewati anak tangga satu persatu. Pintu utama villa berdiri tinggi di hadapannya. Kayu gelap dengan ukiran halus, diterangi cahaya hangat dari kedua sisi.

Seorang wanita paruh baya menahan haru. “Dia… putri kandung kita, Pa.”

“Benar-benar mirip sama kamu waktu remaja dulu, Ma,” sahut suaminya.

Sepasang suami istri berdiri di depan pintu, menunggu Liora dengan antusias. Mereka adalah orang tua kandungnya, Sagara Kivandra dan Aluna Bastian.

Aluna berdiri sedikit di depan. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan emosi yang bergejolak. Sagara berdiri di sampingnya, lebih terkendali. Dia mengamati gerak-gerik Liora dalam diam.

Aluna sempat melirik ke arah pelayan yang masih tegang. “Kenapa mereka kurang ajar gitu?”

“Tenang aja, Sayang. Urusan pelayan udah diberesin Nuna dan David,” balas Sagara pelan.

Aluna mengangguk kecil, meski masih menyimpan kesal. Perhatiannya tertuju kembali ke Liora.

Saat mata mereka bertemu, langkah Liora terhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Hanya dengan melihat kedua orang tuanya, hati Liora menjadi sangat tenang.

Aluna melangkah mendekat. “Anakku… boleh Mama peluk kamu?”

Tanpa menunggu jawaban, Aluna langsung memeluk anaknya. Tangis Aluna pecah.

Tubuh Liora langsung menegang. Matanya yang coklat jernih itu sedikit berair.

Pelukan Aluna hangat, sehangat cinta kasih seorang ibu.

Liora menahan perasaannya. ‘Jadi, seperti ini rasanya punya ibu?’

Tangan Liora sempat kaku di samping tubuh. Dia tidak langsung membalas pelukan Aluna.

Setelah dua menit, Aluna melepaskan pelukannya. Dia memeriksa kondisi Liora dengan prihatin.

Aluna mengusap lembut wajah Liora. Rambut coklat lurus, wajah sederhana tanpa riasan dan pakaian yang jauh dari bayangan seorang putri keluarga besar. Tapi justru semua itu membuat dada Aluna sesak.

Tatapan Aluna penuh harap. “Kami sudah mencarimu kemana-mana. Lio, ayo panggil Mama.”

Permintaan Aluna membuat napas Liora sedikit tersendat. Tangan Liora terangkat perlahan, memeluk Aluna.

“Mama…”

Wajah Liora tenggelam dalam pelukan Aluna. Dia menangis.

Sagara mendekat, meletakkan tangannya di kepala Liora. Lalu, mengusap rambutnya.

“Lio, ayo panggil Papa,” pinta Sagara, tenang.

Liora melepaskan pelukannya. Melihat Liora hanya diam saja, Aluna mengambil inisiatif.

Aluna mengguncang sedikit tangan Liora. “Lio, apa papamu nggak cukup ganteng sampai-sampai kamu nggak mau panggil Papa?”

“Ahh, nggak gitu, Ma. Aku cuma…”

Liora berusaha menyangkal, tidak ingin membuat Sagara tersinggung. Tapi baru setengah bicara, Aluna malah memotongnya.

“Oh, bener juga. Pa, mana hadiah buat Lio? Jangan bilang kamu nggak siapin hadiah?”

Sagara menggeleng. “Mama meremehkan Papa, ya? Ayo ajak Lio masuk dulu.”

Suasana yang semula tegang berubah menjadi hangat dan penuh sukacita.

Mereka berjalan masuk ke dalam villa menuju ruang makan.

Liora melihat meja panjang dengan hidangan yang tertata sempurna. Piring putih bersih, sendok berkilau, dan aroma makanan yang menggugah selera.

Liora duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya, diapit Sagara dan Aluna. ‘Keluarga Kivandra jauh lebih kaya daripada keluarga Santoso.’

Di belakang kursi Liora, Nuna dan Ella berdiri tegak. Sementara di belakang kursi Sagara dan Aluna, terdapat satu pelayan pribadi mereka.

Pelayan bergerak tanpa suara. Tidak ada kesalahan sedikit pun.

Liora menatap makanannya. Terlihat mahal, tapi tidak berlebihan. Dia mengambil sumpit perlahan.

“Kalau nggak sesuai seleramu, bilang aja. Mama akan minta koki masak lagi,” ujar Aluna pelan.

Liora menggeleng. “Ini cukup, Ma.”

Aluna diam-diam memperhatikan Liora. Sumpitnya mengambil potongan daging sapi panggang dan meletakkannya di piring Liora.

Aluna berujar, “Selama bertahun-tahun… kamu tumbuh di keluarga Santoso. Lihat badanmu yang kurus, Lio. Apa kamu pernah makan sampai kenyang?”

Sagara menunduk, jemarinya mengepal di atas meja. Asisten datang dan langsung menyerahkan sebuah dokumen padanya.

Tanpa basa-basi, Sagara membaca dokumennya.

Liora menatap mereka, ragu. “Aku…”

“Kami sudah tau masa lalumu. Nggak perlu ada yang ditutupi, Lio,” ujar Aluna lagi.

Liora tidak berkata apa-apa lagi. Dia menguyah makanannya.

Sagara melemparkan dokumen ke atas meja. “Kurang ajar!”

Gerakan Liora terhenti. Dia memandangi Sagara.

Aluna memeluk putrinya. “Pa, kamu buat Lio kaget.”

Sagara menatap piringnya beberapa detik. Lalu, sudut bibirnya bergerak tipis.

“Lio, dengerin Papa. Karena kamu anak kami, kamu bebas melakukan apapun asalkan nggak melanggar batas. Kami akan selalu mendukungmu.”

Aluna menggigit bibirnya, matanya memerah. “Semua kemewahan ini… nggak sebanding dengan penderitaanmu, Lio. Jadi, biarkan kami menebusnya.”

Ketika Liora ingin membalas, muncul seorang laki-laki membawa sekotak hadiah kecil. Dia terpaku, menatap Liora.

“Ma, Pa. Dia… adikku?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 6

    Erlita dan gengnya melotot, tidak menyangka Liora berani melontarkan kata-kata pedas.Belum lagi, tatapan jengah Liora yang menyepelekan Erlita. Lagaknya seolah Liora bisa menginjak Erlita kapanpun.Ini bukanlah situasi yang dibayangkan Erlita!Sambil menunjuk Liora, Erlita berkata, “Lo… sejak kapan lo punya nyali sebesar ini? Lo lupa, identitas lo siapa?”Alesha mencibir, “Lio, jadi orang harus tau diri. Lo sekarang udah nggak punya pendukung. Bukannya bersikap baik sama Lita, eh malah nggak tau balas budi.”Namun Kavita dan murid lain menatap Liora dengan wajah terkejut, sekaligus kagum. Kavita menepuk-nepuk pundak Liora. Lalu, menunjuk Erlita dengan dagu. “Good job, Lio. Kadang lo perlu bersikap tegas saat berhadapan sama makhluk sombong kayak dia.”“Tau, nih. Sama-sama tercipta dari tanah aja belagu banget,” celetuk siswi lain. Liora menambahkan, “Lah, kalo Lita tercipta dari api… berarti dia setan dong?”Saat itu juga, terdengar gema tawa murid-murid di ruangan Home Room Ms. Do

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 5

    “Lo, Liora Santoso kan?” tanyanya. Lelaki itu seumuran dengan Liora. Mereka satu sekolah di SMA Internasional School The Global Academy. Namun, beda kelas. Saat dia ingin bertanya lagi, suara Sagara terdengar dalam dan penuh tekanan. “Edward, sekarang dia adikmu. Liora Kivandra. Kamu harus jaga dia di sekolah. Jangan sampai anak sah keluarga Santoso menindas Lio. Ngerti kamu?”Liora dan Edward saling bertatapan. Edward memiliki rasa penasaran yang tinggi. Namun, Liora hanya mengangguk. Hati kecil Liora bertanya-tanya, ‘Bukannya Edward cuek banget, ya? Kok dia tau nama gue? Padahal gue bukan bintang sekolah. Gue juga bukan primadona sekolah.’“Saya ngerti, Pa.”Edward yang dingin, ternyata takluk begitu saja pada Sagara. Dia menyodorkan kotak hadiah.“Lio, karena Mama tadi telepon mendadak banget, gue nggak sempet cari hadiah. Jadi, gue cuma bisa kasih lo ini.”Ah, kotak perhiasan!Ketika Liora membaca merk di atas kotaknya, dia mencibir dalam hati. ‘Edward lagi ngeledek gue, ya? J

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 4

    Halaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao.Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bart, musuh bebuyutan keluarga Kivandra. Namun ketika dia sudah tidak berguna, Nyonya Besar keluarga Bart menyuruh orang untuk membunuhnya. Ketika berada di ambang kematian, Sagara datang menyelamatkan nyawa David. Sejak itulah, dia berhutang nyawa dan mendedikasikan hidupnya untuk Sagara.Liora berjalan di tengah, diapit Nuna dan David.Saat mereka mendekati anak tangga menuju pintu utama, suara bisikan para pelayan terdengar lagi.“Dia… Nona Besar Kivandra?”Bola mata para pelayan nyaris copot!Penampilan Liora sangat sederhana. Rok hitam lipit di atas lutut yang warnanya telah pudar, kemeja putih tanpa lengan yang sedikit kusut dan tas sekolah di punggungnya. Rambut coklat sebahu Liora jat

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 3

    Liora dan Ella keluar dari rumah besar keluarga Santoso saat hari sudah berubah gelap. Sesuai perkataan Rian, Liora tidak membawa barang berharga apapun. Dia hanya membawa tas sekolah, laptop dan buku-buku pelajaran. Begitu mereka sampai di persimpangan jalan, tiga mobil mewah berwarna hitam berbaris rapi menunggu Liora dengan lampu yang menyala redup. Mobil yang berada di tengah menyita perhatian Liora. Dia berdecak kagum di dalam hati. ‘Ah, Maybach S-Class memang bener-bener keren!’ Di depan dan belakang Mercedes-Maybach S-Class, terdapat Mercedes-Benz G-Class yang merupakan mobil pengawal keluarga super elite. “Bu, tumben banget banyak mobil berjejer di pinggir jalan begini,” ujar Liora, keheranan. “Keluarga kaya mana yang punya mobil mewah sebanyak ini?”Sebelum Ella sempat menjawab, seorang wanita mendekati Liora. Usianya kira-kira 48 tahun. Pakaiannya serba hitam dengan potongan rambut pendek sebatas telinga dan earphone bluetooth menggantung di telinga kanannya. “Halo, Non

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 2

    “Cukup!” bentak Rian. Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat. Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora. Rian dan istrinya sudah membesarkan Liora selama 16 tahun. Jadi, dia merasa lebih mengetahui karakter Liora daripada orang lain. Rian menghembuskan asap rokok dengan santai. “Saya akan kasih kamu dua pilihan. Tetap di sini menjadi Putri Palsu keluarga Santoso dan melayani Erlita atau pergi dengan wanita miskin itu tanpa membawa apa-apa.”Rian tersenyum licik. Bola matanya menyiratkan niat tidak baik dan Ella menyadarinya. Bagaimana dengan Liora?Di mata keluarga dan orang lain, Liora hanyalah seorang putri yang hidup santai dan bermanja-manja. Jatah uang jajan bulanan yang bernilai Rp 400 juta selalu habis dalam sepekan. Rian berpikir, ‘Hidup Lio terlalu santai. Sebanyak apapun uang jajan yang saya kasih, dia tetap boros.

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 1

    “Mama, Papa!”Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria.Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?”Nyonya Gita berdiri merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk putrinya. Tuan Rian juga berdiri sambil tertawa bahagia.Erlita berlari ke pelukan Nyonya Gita, bermanja-manja. “Iya, seru. Aku senang banget, Ma.”Awalnya, wajah tuan dan nyonya Santoso menunjukkan rasa tidak senang. Namun kedatangan Erlita langsung membuat mereka bahagia. Nyonya Gita mengusap rambut panjang Erlita. “Baguslah.”“Andre, ayo duduk dulu,” ajak Tuan Rian. “Kamu pasti capek jagain Lita selama liburan.”“Ah! Biasa aja kok, Pa,” sahut Andre. Andre Malik adalah tunangan Erlita. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan sudah pergi liburan bersama. Tuan dan Nyonya Santoso benar-benar memanjakan anaknya!Ketika Erlita hendak dud

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status