LOGINHalaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.
“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao. Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bart, musuh bebuyutan keluarga Kivandra. Namun ketika dia sudah tidak berguna, Nyonya Besar keluarga Bart menyuruh orang untuk membunuhnya. Ketika berada di ambang kematian, Sagara datang menyelamatkan nyawa David. Sejak itulah, dia berhutang nyawa dan mendedikasikan hidupnya untuk Sagara. Liora berjalan di tengah, diapit Nuna dan David. Saat mereka mendekati anak tangga menuju pintu utama, suara bisikan para pelayan terdengar lagi. “Dia… Nona Besar Kivandra?” Bola mata para pelayan nyaris copot! Penampilan Liora sangat sederhana. Rok hitam lipit di atas lutut yang warnanya telah pudar, kemeja putih tanpa lengan yang sedikit kusut dan tas sekolah di punggungnya. Rambut coklat sebahu Liora jatuh lurus dengan poni yang dijepit seadanya di samping. Tidak ada aksesori mahal, apalagi sentuhan glamor seperti kebanyakan putri keluarga kaya. Namun, cara Liora berjalan tetap tenang. Punggungnya lurus dan langkahnya tidak ragu. “Seriusan penampilannya kusut begitu?” “Jauh banget dari yang kita dibayangin. Iya, nggak?” “Aura kemiskinannya kental banget.” Langkah Liora sempat melambat, ingin lebih banyak mendengar respon negatif tentang dirinya. Nuna berhenti. “Tutup mulut sampah kalian.” Suara Nuna rendah, tapi langsung membungkam mulut mereka. Nuna menoleh perlahan, melihat para pelayan yang berdiri membeku. Tatapannya dingin dan tajam, seperti sudah terbiasa mengendalikan situasi tanpa perlu meninggikan suara. “Pak David, catat nama mereka sekarang. Besok pagi, keluarin mereka dari daftar staf tetap,” perintah Nuna. “Siap, Kak Nuna.” Beberapa pelayan langsung menunduk, menyadari kesalahan mereka. Tidak ada yang berani membantah, apalagi membela diri. Keputusan Nuna langsung berlaku saat itu juga. Nuna kembali menatap barisan pelayan yang tersisa. “Ingat baik-baik. Nona Liora adalah Nona Besar Kivandra. Jaga sikap kalian.” Suasana senyap. Tidak ada satupun pelayan yang berani mengangkat kepala. David membentak mereka. “Mana sikap hormat kalian?” Para pelayan langsung membungkuk hormat dan mengucapkan selamat datang serempak. Liora berdiri diam. Dia tidak merasa bangga juga tidak tersinggung. Hanya ada rasa tidak nyaman yang samar dia rasakan, seperti sesuatu yang belum sepenuhnya dia pahami. Tanpa berkata apa-apa, Liora melangkah lagi. Liora melewati anak tangga satu persatu. Pintu utama villa berdiri tinggi di hadapannya. Kayu gelap dengan ukiran halus, diterangi cahaya hangat dari kedua sisi. Seorang wanita paruh baya menahan haru. “Dia… putri kandung kita, Pa.” “Benar-benar mirip sama kamu waktu remaja dulu, Ma,” sahut suaminya. Sepasang suami istri berdiri di depan pintu, menunggu Liora dengan antusias. Mereka adalah orang tua kandungnya, Sagara Kivandra dan Aluna Bastian. Aluna berdiri sedikit di depan. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan emosi yang bergejolak. Sagara berdiri di sampingnya, lebih terkendali. Dia mengamati gerak-gerik Liora dalam diam. Aluna sempat melirik ke arah pelayan yang masih tegang. “Kenapa mereka kurang ajar gitu?” “Tenang aja, Sayang. Urusan pelayan udah diberesin Nuna dan David,” balas Sagara pelan. Aluna mengangguk kecil, meski masih menyimpan kesal. Perhatiannya tertuju kembali ke Liora. Saat mata mereka bertemu, langkah Liora terhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Hanya dengan melihat kedua orang tuanya, hati Liora menjadi sangat tenang. Aluna melangkah mendekat. “Anakku… boleh Mama peluk kamu?” Tanpa menunggu jawaban, Aluna langsung memeluk anaknya. Tangis Aluna pecah. Tubuh Liora langsung menegang. Matanya yang coklat jernih itu sedikit berair. Pelukan Aluna hangat, sehangat cinta kasih seorang ibu. Liora menahan perasaannya. ‘Jadi, seperti ini rasanya punya ibu?’ Tangan Liora sempat kaku di samping tubuh. Dia tidak langsung membalas pelukan Aluna. Setelah dua menit, Aluna melepaskan pelukannya. Dia memeriksa kondisi Liora dengan prihatin. Aluna mengusap lembut wajah Liora. Rambut coklat lurus, wajah sederhana tanpa riasan dan pakaian yang jauh dari bayangan seorang putri keluarga besar. Tapi justru semua itu membuat dada Aluna sesak. Tatapan Aluna penuh harap. “Kami sudah mencarimu kemana-mana. Lio, ayo panggil Mama.” Permintaan Aluna membuat napas Liora sedikit tersendat. Tangan Liora terangkat perlahan, memeluk Aluna. “Mama…” Wajah Liora tenggelam dalam pelukan Aluna. Dia menangis. Sagara mendekat, meletakkan tangannya di kepala Liora. Lalu, mengusap rambutnya. “Lio, ayo panggil Papa,” pinta Sagara, tenang. Liora melepaskan pelukannya. Melihat Liora hanya diam saja, Aluna mengambil inisiatif. Aluna mengguncang sedikit tangan Liora. “Lio, apa papamu nggak cukup ganteng sampai-sampai kamu nggak mau panggil Papa?” “Ahh, nggak gitu, Ma. Aku cuma…” Liora berusaha menyangkal, tidak ingin membuat Sagara tersinggung. Tapi baru setengah bicara, Aluna malah memotongnya. “Oh, bener juga. Pa, mana hadiah buat Lio? Jangan bilang kamu nggak siapin hadiah?” Sagara menggeleng. “Mama meremehkan Papa, ya? Ayo ajak Lio masuk dulu.” Suasana yang semula tegang berubah menjadi hangat dan penuh sukacita. Mereka berjalan masuk ke dalam villa menuju ruang makan. Liora melihat meja panjang dengan hidangan yang tertata sempurna. Piring putih bersih, sendok berkilau, dan aroma makanan yang menggugah selera. Liora duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya, diapit Sagara dan Aluna. ‘Keluarga Kivandra jauh lebih kaya daripada keluarga Santoso.’ Di belakang kursi Liora, Nuna dan Ella berdiri tegak. Sementara di belakang kursi Sagara dan Aluna, terdapat satu pelayan pribadi mereka. Pelayan bergerak tanpa suara. Tidak ada kesalahan sedikit pun. Liora menatap makanannya. Terlihat mahal, tapi tidak berlebihan. Dia mengambil sumpit perlahan. “Kalau nggak sesuai seleramu, bilang aja. Mama akan minta koki masak lagi,” ujar Aluna pelan. Liora menggeleng. “Ini cukup, Ma.” Aluna diam-diam memperhatikan Liora. Sumpitnya mengambil potongan daging sapi panggang dan meletakkannya di piring Liora. Aluna berujar, “Selama bertahun-tahun… kamu tumbuh di keluarga Santoso. Lihat badanmu yang kurus, Lio. Apa kamu pernah makan sampai kenyang?” Sagara menunduk, jemarinya mengepal di atas meja. Asisten datang dan langsung menyerahkan sebuah dokumen padanya. Tanpa basa-basi, Sagara membaca dokumennya. Liora menatap mereka, ragu. “Aku…” “Kami sudah tau masa lalumu. Nggak perlu ada yang ditutupi, Lio,” ujar Aluna lagi. Liora tidak berkata apa-apa lagi. Dia menguyah makanannya. Sagara melemparkan dokumen ke atas meja. “Kurang ajar!” Gerakan Liora terhenti. Dia memandangi Sagara. Aluna memeluk putrinya. “Pa, kamu buat Lio kaget.” Sagara menatap piringnya beberapa detik. Lalu, sudut bibirnya bergerak tipis. “Lio, dengerin Papa. Karena kamu anak kami, kamu bebas melakukan apapun asalkan nggak melanggar batas. Kami akan selalu mendukungmu.” Aluna menggigit bibirnya, matanya memerah. “Semua kemewahan ini… nggak sebanding dengan penderitaanmu, Lio. Jadi, biarkan kami menebusnya.” Ketika Liora ingin membalas, muncul seorang laki-laki membawa sekotak hadiah kecil. Dia terpaku, menatap Liora. “Ma, Pa. Dia… adikku?”Mobil keluarga Kivandra memasuki area VIP Medica Global Hospital. Begitu mobil berhenti, pintu otomatis langsung terbuka dan tim medis sudah menunggu di depan. Dokter Rowan turun lebih dulu. Sorot matanya tajam.“Bawa Nona ke ruang pemeriksaan utama. Jalur steril. Jangan ada orang luar yang masuk tanpa izin saya.”“Baik, Dokter.”Mereka bergerak cepat tanpa membuang waktu sedikit pun. Deyan dan Nuna mengawal Liora turun dari mobil dengan tatapan penuh waspada. Nuna berjalan di sisi kanan sambil memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Liora.Wajah Liora terlihat pucat, tetapi ekspresinya tetap tenang. Justru itu yang membuat Nuna semakin tidak nyaman. Liora terlalu terbiasa menyembunyikan rasa sakit.Begitu masuk ke ruang pemeriksaan utama, suasana langsung berubah serius. Beberapa dokter spesialis sudah menunggu di dalam. Dokter saraf, radiologi, patologi klinik, semuanya hadir. Di tengah ruangan, Dokter Rowan berdiri dengan aura yang langsung mengambil alih seluruh situas
“Nona, kamu mimisan lumayan banyak.”Nuna segera meraih ponsel dan menghubungi seseorang.Panggilan tersambung cepat.“Dokter Rowan? Tolong datang ke kamar Nona Liora sekarang.”Suara Nuna terdengar tegang. “Nona Liora tiba-tiba mimisan. Aku khawatir ini ada hubungannya sama luka penyerangan kemarin.”Liora terdiam. Dia juga memiliki pemikiran seperti itu. Pikiran Liora berkecamuk. ‘Bu Nuna telepon Dokter Rowan? Kalo Bu Nuna sampai manggil dia, berarti Bu Nuna bener-bener menganggap situasi gue serius.’Setelah panggilan berakhir, Bu Nuna menoleh ke sekitar. Tatapannya jatuh pada seorang penjaga yang berdiri tidak jauh dari area kolam renang.“Kamu!”Penjaga itu langsung mendekat. “Ya, Bu Nuna? Ada perintah apa?”“Bawa Nona Liora ke kamarnya sekarang.”Penjaga itu mengangguk cepat. “Baik.”Bu Nuna kembali menatap Liora. “Nona, kita masuk dulu. Jangan di sini.”Liora sebenarnya ingin bilang dia baik-baik saja. Tapi saat hendak berdiri, pandangannya mendadak berkunang-kunang selama sa
“Fabulous! You did it, girl!”Di layar ponsel, Liora berteriak bahagia. Lalu, terdengar suara tepuk tangannya. Dia adalah orang pertama yang bereaksi. Ms. Donna ikut bertepuk tangan dengan air mata penuh haru. Kemudian, disusul oleh suara tepuk tangan kepala sekolah. “Kavita, kamu berhasil,” kata Ms. Donna. “Aku tau, kamu pasti berhasil. Kamu melakukannya dengan baik.”Ms. Donna memeluk muridnya. Dia mengusap punggung Kavita dengan kasih. Sebagai kepala sekolah, Mr. Arnold terkagum-kagum dengan performa piano Kavita. Dia belum berhenti tepuk tangan. “Luar biasa! Kavita, kamu membuat Bapak terkejut,” puji Mr. Arnold sambil berdiri.Lalu, Mr. Arnold menoleh pada Pak Mochtar. “Selamat Pak Mochtar. Putri Anda sangat luar biasa,” kata kepala sekolah. Kepala sekolah menghampiri Kavita. “Sebelumnya, hanya ada satu murid yang pandai memainkan La Campanella tanpa cacat. Dia adalah Liora, siswi berprestasi di bidang matematika dan seni musik.”Tatapan Kepala sekolah mengarah pada layar p
Kepala sekolah mempersilakan Pak Mochtar duduk. Lalu, dia sendiri duduk di sampingnya. Sementara Ms. Donna berjalan menghampiri Kavita. Siapa yang tidak mengenal Pak Mochtar? Seorang maestro piano yang tegas. Bahkan dia menyampaikan kritik anak didiknya dengan kata-kata yang tajam. Udara di ruang musik langsung terasa menekan Kavita. Bibir Kavita bergetar. “Lio, gue… rasanya nggak sanggup. Gimana kalo gue nyerah aja?”Di layar ponselnya, Liora melihat Kavita terlalu tegang dan gugup luar biasa. Liora berujar tenang, “Vita, slay aja! Taruh ponselnya di depan lo. Gue temenin lo dari sini. Oke?”Kavita mengangguk. Liora memang paling bisa diandalkan!Ms. Donna menepuk punggung Kavita. “Kavita, jangan takut. Ada saya dan Liora yang temani kamu. Ayo fokus demi mimpi kamu.”Kavita melirik Ms. Donna tanpa membalas ucapannya. Dengan tangan gemetar, Kavita duduk di depan piano. Dia meletakkan ponsel tepat di depannya. Tidak ada yang berbicara lagi. Perhatian semua orang tertuju pada Kav
Senin pagi di Serenity Enclave, Kota Poseidon.Karena masih dalam masa pemulihan, Liora tidak pergi sekolah seperti biasa. Dia berjemur di pinggir kolam renang sambil membaca jurnal Poseidon University AI Lab research di layar tablet. “Hemm, jurnal ini gampang dimengerti,” gumam Liora. Di sekolah, orang-orang melihatnya sebagai si Jenius Matematika yang aktif di club robotics. Tapi di luar sekolah, dia sebenarnya memimpin komunitas riset AI sendiri dan mengembangkan teknologi untuk disaster response.Tidak perlu merasa terharu. Liora memang cerdas dan berbakat di bidang teknologi. Bagi Liora, matematika, AI, dan robotik sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak usia 12 tahun.Nuna yang duduk menemaninya sangat penasaran. Dia teringat data-data Liora yang diberikan oleh Sagara. “Nona, apa baca jurnal begitu menarik banget?” tanya Nuna. Sagara memang sudah menyelidiki kegiatan Liora beberapa tahun terakhir. Sagara juga tahu bahwa putrinya ini adalah jenius matematika. Namun, Sagara h
Aluna membalikkan halaman album. Dia menunjuk seorang pria paruh baya berbadan tegap di dalam foto. Wajahnya angkuh dan dingin dengan rambut sebahu kecoklatan yang diikat. “Lio, ini kakekmu waktu masih muda. Namanya Charles Kivandra.”Liora melihat foto itu. Wajah Charles memiliki aura yang mirip dengan Sagara.Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, kan?“Dia ayah kandung Papa,” kata Aluna. “Dialah pemimpin Klan Racun Gelap sebelum papamu.”Charles Kivandra.Dia, mantan pemimpin Klan Racun Gelap. Di dunia bawah, dia dikenal dengan julukan Dewa Racun—monster yang membunuh musuh-musuhnya dengan racun ciptaannya sendiri.Charles anak kedua pasangan Hansen Kivandra dan Laura. Kakak laki-lakinya bernama Yono Kivandra yang tidak pandai memimpin. Dia memiliki kakak angkat bernama Ibnu Adhitama Kivandra yang telah dicoret dari daftar pewaris. Karena itulah hanya Charles yang mampu meneruskan kepemimpinan Hansen di Klan Racun Gelap sekaligus menjadi kepala keluarga. Di bawah otoritasny
“Sama-sama punya rahasia?”Liora mengulang kalimat Genzio. Cowok di depannya ini memang pandai membuatnya emosi. Genzio tersenyum sinis. “Kenapa bengong? Mau bongkar ke orang-orang kalo kita ciuman?”Tiba-tiba, Liora tercerahkan. ‘Ah! Ide bagus.’Liora menantangnya. “Kalo iya, kenapa?”Genzio meme
Genzio mendengus dingin. “Tapi gue juga nggak suka diatur.”Sambil menunggu respon gadis di depannya, Genzio melepas hoodie. Semua teman dekatnya tahu. Mengganggu tidur siang Genzio, sama dengan mengundang bencana! Urat kesal langsung muncul di kepala Liora. Dia mengepalkan tangan, berusaha meneka
Genzio kembali menyandarkan kepala ke kursi. Dia sudah terbiasa mendapatkan ekspresi terkejut dari para wanita saat melihatnya. “Iya, Sayang. Ini gue, Genzio Mogilevich yang ganteng,” ucap Genzio, setengah menggoda. Liora membelalak, tidak percaya. Kenapa dia harus bertemu den
“Hah? Sejak kapan Okka care banget sama Lio?”“Ini… aneh.”Semua murid, termasuk Ms. Evelyn ikut terkejut melihat perubahan sikap Okka pada Liora. Sebab, Okka Khadafi terkenal sebagai Kutu Buku di sekolah yang tidak pernah tertarik dengan apapun di sekitarnya. Sejarah mencatat, keluarga Khadafi me