Share

Bab 3

last update publish date: 2026-05-08 09:48:31

Liora dan Ella keluar dari rumah besar keluarga Santoso saat hari sudah berubah gelap. Sesuai perkataan Rian, Liora tidak membawa barang berharga apapun. Dia hanya membawa tas sekolah, laptop dan buku-buku pelajaran.

Begitu mereka sampai di persimpangan jalan, tiga mobil mewah berwarna hitam berbaris rapi menunggu Liora dengan lampu yang menyala redup.

Mobil yang berada di tengah menyita perhatian Liora. Dia berdecak kagum di dalam hati. ‘Ah, Maybach S-Class memang bener-bener keren!’

Di depan dan belakang Mercedes-Maybach S-Class, terdapat Mercedes-Benz G-Class yang merupakan mobil pengawal keluarga super elite.

“Bu, tumben banget banyak mobil berjejer di pinggir jalan begini,” ujar Liora, keheranan. “Keluarga kaya mana yang punya mobil mewah sebanyak ini?”

Sebelum Ella sempat menjawab, seorang wanita mendekati Liora. Usianya kira-kira 48 tahun. Pakaiannya serba hitam dengan potongan rambut pendek sebatas telinga dan earphone bluetooth menggantung di telinga kanannya.

“Halo, Nona Liora. Saya Nuna Ferdian, kepala pengawal keluarga Kivandra. Tuan mengutus kami untuk menjemputmu.”

Nuna membungkuk hormat. Gerakan Nuna diikuti oleh anak buah yang berdiri di belakangnya.

Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Liora. Tidak seorang pun tahu, Nuna sedang menahan haru.

Nuna sedikit mendongak, menatap wajah cantik Liora. “Kamu… bener-bener mirip Nyonya Aluna.”

Tubuh Liora terasa lunglai, tapi dia memaksa berdiri tegak. Sambil menatap anak buah Nuna yang berjumlah enam orang, Liora mundur teratur.

“Kamu… yakin nggak salah orang?” tanya Liora, kebingungan. Lalu, dia menatap Ella. “Bu, iniー”

Ella menyela, “Jangan takut, Nona. Kami akan membawamu pulang ke rumah keluarga kandungmu, keluarga Kivandra.”

Sambil melepaskan tangan Liora dari lengannya, Ella menjelaskan.

“Nona, maafin saya. Sebenarnya, saya bukan ibu kandung kamu. Tuan sengaja memalsukan tes DNA kita berdua dan mengirim kami untuk membawamu pergi dari keluarga Santoso.”

Ella membungkuk hormat, menunggu respon Liora.

Mata Liora penuh binar, terdapat rasa ingin menyelidiki di dalamnya. Namun detik berikutnya, hatinya berubah ragu.

Jika anak seusia Liora bertingkah pongah dengan mengandalkan kekayaan orang tua, tetapi yang Nuna dan Ella lihat adalah wajah kebingungan Liora.

“Keluarga Kivandra? Yang bener, Bu? Ini… sulit dipercaya. Bukannya kalian punya seorang Tuan Muda?”

Memori Liora yang terkutuk itu memutar ulang sosok Edward Kivandra.

Edward Kivandra adalah cicit kesayangan pemilik sekolah SMA Internasional School The Global Academy, tempat Liora bersekolah. Dia menjadi salah satu dari tiga murid laki-laki yang paling banyak memiliki pengagum.

Mata Liora seakan membeku dalam sekejap saat mengingat wajah Edward yang seperti es abadi itu. Liora merasa kesal.

“Silakan masuk ke mobil dulu, Nona. Saya akan jelasin di perjalanan,” kata Nuna.

Pintu Maybach S-Class telah terbuka. Namun, Liora tidak beranjak juga.

Ketika melihat Ella mengangguk, barulah Liora mau masuk ke mobil.

Liora berujar, “Oke. Kali ini, aku coba percaya kalian. Tapi kalo kalian menipuku, aku akan telepon polisi.”

Nuna mengangguk.

Mobil bergegas pergi dari perumahan Hillsdale Estate yang bernuansa modern dan elegan. Liora duduk di kursi belakang sopir bersama Nuna. Sedangkan Ella duduk di sisi sopir.

Liora kegirangan di dalam hati. ‘Ah, akhirnya aku bisa duduk di mobil impianku.’

Liora bersandar tipis. Cahaya emas redup menyentuh wajahnya. Dari balik kaca gelap, dia menatap pemandangan malam Kota Poseidon dengan tenang.

Karena Nuna tidak bicara juga, Liora menjadi tidak sabar.

Liora memainkan ponsel, bersiap merekam. “Jadi, apa penjelasan kalian?”

Sebelum bicara, Nuna menghela napas panjang.

“Sebelumnya, saya adalah tangan kanan Papamu, Tuan Sagara Kivandra.”

Nuna menatap dua orang di bangku depan.

“Sopirmu bernama Deyan Anggara, Suaminya Ella. Mereka juga anak buah kepercayaan Tuan Sagara. Ketika ibumu melahirkan di rumah sakit milik keluarga Kivandra, dia…”

Nuna menjeda kalimatnya, merasa tidak tega mengatakan semua fakta pada Liora.

“Bu Nuna, ngomong aja semuanya,” kata Liora. “Aku nggak lemah seperti yang kalian pikirkan.”

Nuna menggenggam tangan Liora.

“Dokter bilang, bayi yang dilahirkan Nyonya Aluna adalah laki-laki. Dokter beralasan salah melihat jenis kelamin janin saat di dalam kandungan. Terus, mereka menukarnya dengan bayi keluarga pesaing bisnis papamu.”

“Mereka membawamu pergi ke keluarga Santoso. Sementara bayi mereka dibawa ke pinggir kota.”

Bola mata Liora yang coklat seakan tidak bernyawa. Perlahan, mata Liora melengkung seperti bulan sabit

“Apa, Bu? Menukar bayi? Kok bisa Medica Global Hospital bertindak sebrutal itu?”

Liora sering menonton drama pendek tentang putri yang tertukar. Tapi sekarang, dia berada di dunia nyata. Dia tidak menyangka hidupnya persis seperti alur cerita di drama pendek yang ditontonnya.

Merasa ada yang janggal, Liora bertanya, “Jadi, Edward?”

Nuna tidak menjawab, membiarkan Liora tenggelam di lautan penasaran.

Ella berkata, “Alasan Tuan Sagara melakukan ini demi keamanan Nona sendiri. Dan Tuan Muda Edward…”

Baru separuh bicara, Nuna memotongnya.

“Cukup, Ella. Kita nggak punya hak kasih tau semuanya. Karena Tuan dan Nyonya sendiri yang akan jelasin langsung ke kamu, Nona.”

Liora yang sebelumnya menggebu-gebu ingin mengetahui masa lalu, kini wajah cerahnya meredup. Jika dibiarkan begitu saja, kemungkinan dia akan mati penasaran.

Di saat pikirannya kacau, Liora berusaha untuk kembali bersikap tenang dan fokus.

“Aku mengerti.”

Akhirnya, Liora mengalah. Darah yang semula bergejolak, seakan tersumbat. Dia akan mengikuti alur cerita kehidupannya dengan santai dan waspada.

Semua orang di dalam mobil mendengar suara geraman marah Liora yang tertahan. Begitu merasakan aura dingin di sekitar Liora, mereka tidak mengatakan apa-apa lagi.

Satu jam kemudian.

Mobil telah memasuki kawasan Serenity Enclave di perbukitan. Itu adalah kediaman keluarga Kivandra yang megah. Liora mengamati jalanan yang dia lalui dan mencoba mengingatnya.

Mobil berhenti di depan villa utama.

“Kita sudah sampai, Nona. Selamat datang di keluarga Kivandra,” ujar Nuna sambil tersenyum.

Pria berusia 50 tahun membukakan pintu mobil.

Kepala pelayan berucap, “Selamat datang di keluarga Kivandra, Nona Liora.”

Liora tidak senang. Dia bukanlah tipikal putri kaya yang hobi pamer. Dia bahkan tidak suka keramaian dan menjadi pusat perhatian. Jadi, dia hanya memasang ekspresi dingin ketika kepala pelayan menyambutnya.

Kepala pelayan mengulurkan tangan, hendak membantu Liora keluar dari mobil. Namun, Liora justru mengabaikannya.

“Aku bisa sendiri.”

“Ah, ini…”

Kepala pelayan ragu. Namun saat melihat Nuna mengangguk, dia langsung mundur dan membiarkan Liora keluar dari mobil sendiri.

Kaki Liora menginjak tanah keluarga Kivandra untuk pertama kali. Para pelayan yang berjumlah puluhan sudah berbaris rapi demi menyambutnya.

Mereka menahan napas.

Mereka sangat penasaran dengan putri keluarga Kivandra. Mereka berpikir, pastinya sosok Liora sangatlah cantik dan menawan. Namun saat itu juga, para pelayan kecewa.

Semua mata tertuju pada Liora. Bisik-bisik pelan mulai terdengar seiring dengan tatapan menilai para pelayan.

“Ehm? Apa-apaan ini?”

“Di mana Putri cantik dan berkharisma keluarga Kivandra?”

“Aku rasa, dia nggak bakalan bisa bersaing sama Tuan Muda Edward.”

“Gimana kalo kita taruhan? Aku yakin, perempuan kampungan kayak dia nggak bakalan bertahan lebih dari 3 hari di sini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 90

    The Global Academy International High School. Senin pagi di home room Ms. Donna. Sambil menunggu Ms. Donna, Liora mengaktifkan tablet. Dia membaca jurnal Poseidon University AI Lab Research yang sempat tertunda. Di sebelahnya, Kavita sedang membaca undangan digital yang diberikan oleh Pak Mochtar Luthan semalam. “Lio, menurut lo… anak cewek keluarga Kivandra cantik, nggak? Kenapa sampai sekarang keluarga Kivandra menyembunyikan anak cewek mereka?”Liora melirik Kavita sejenak. Lalu, tersenyum. “Pasti cantik,” jawab Liora. “Soalnya Nyonya Aluna cantik banget dan Tuan Sagara ganteng. Anak-anak mereka pasti cantik dan tampan. Lo lihat aja Edward. Dia ganteng, kan?”“Ah, iya bener. Edward aja seganteng itu. Anak cewek keluarga Kivandra udah pasti cantik. Tapi, Lio…”Meskipun menyetujui opini Liora, tetapi Kavita ragu-ragu. Belum sempat Kavita melanjutkan berbicara, Erlita dan geng Celestial Heirs datang. Brak!Erlita menggebrak meja Liora. “Lihat ini!”Erlita menunjukkan undangan d

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 89

    Di lantai tiga.Liora mengarahkan langkahnya ke ruangan paling sudut yang tersembunyi dari pandangan umum. Di balik pintu besi tebal itu, tersimpan rahasia terbesar dari bimbingan belajar Ruang Kelas. Dari luar, ruko ini hanyalah bimbingan belajar Ruang Kelas. Tapi sebenarnya, di sinilah markas Natuna Project yang Liora pimpin. Setidaknya, ada 11 adik asuh di bawah naungan Komunitas Natuna Project. Mereka terdiri dari usia SD dan SMP dari keluarga miskin dan yatim piatu yang putus sekolah. Begitu Liora mendorong pintu masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Mereka adalah anggota Natuna Project.“Boss, what's up?” sapa Aryo dengan nada akrab.Azalea menyisihkan tumpukan buku pelajaran di atas meja panjang. “Boss, lo udah selesai ngajar?”“Baru banget selesai,” jawab Liora. Nathaniel berjalan menyambut Liora dengan wajah berseri-seri. Diantara anggota Natuna Project yang lain, dialah yang paling dekat dengan Liora. Bisa dibilang, Nathaniel adalah tangan kanan Liora. N

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 88

    Setelah mendapatkan izin dari Aluna, Liora pergi ke Taman Literasi. Liora tahu, Aluna diam-diam menempatkan penjaga di sekitarnya. Jadi, dia akan bermain sedikit trik untuk mengelabuinya. Maybach S-Class hitam sudah berhenti di depan Taman Literasi. “Paman Deyan, nanti jemput aku jam 4 sore di sini. Aku mau ikutan acara komunitas Baca Buku.”“Siap, Non. Kalo ada apa-apa, langsung telepon aku aja.”Liora mengangguk. Lalu, turun dari mobil, membawa tasnya. Untuk menghilangkan kecurigaan Deyan, Liora melangkah masuk ke Toko Buku Aksara dengan langkah ringan. Sesuai dugaannya, suasana di dalam cukup ramai. Di sudut ruangan, sekelompok orang duduk melingkar mengikuti acara bedah buku berjudul Rumah karya Ds. Pelangi. Liora tersenyum tipis. Ada udang di balik batu. Ini adalah kedok yang sempurna! Dia tidak mungkin meninggalkan area Taman Literasi tanpa alasan yang kuat jika ingin mengelabui penjaga diam-diam yang ditempatkan oleh mamanya.“Hmm, di sini oke juga,” gumamnya. Liora me

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 87

    Sekarang sudah lewat tengah malam. Kamar Liora sudah gelap. Liora memang sudah mematikan lampu utama di kamarnya. Akan tetapi, lampu di atas nakas masih menyala. “Hmm, sebenernya Edward ngapain pergi ke Dermaga?”Liora duduk bersandar di atas ranjang. Dia tidak benar-benar tidur. Di sampingnya, tergeletak ponsel lama Edward dan ponselnya sendiri. Karena Sagara sudah mengizinkan Liora pergi ke sekolah, jadi semua perangkat miliknya telah dikembalikan. Mata Liora masih terpaku pada layar laptop, memeriksa titik lokasi Edward. “Ada untungnya juga gue pinjam HP lama Edward. Gue bisa lacak Edward pakai email sama di HP yang dia pakai sekarang.”Menurut data yang Liora baca, Dermaga Lama nomor 7 adalah kawasan lama yang sudah ditinggalkan oleh warga. Jadi seharusnya, tidak ada aktivitas apapun di sana. “Papa nggak mungkin kasih Edward misi klan, kan? Kalo iya, udah pasti Papa perketat penjagaan Edward.”Akhirnya, Liora menyerah pada pikirannya sendiri. “Kayaknya gue yang terlalu over

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 86

    “Hahahaha…”Kian Black tertawa hingga wajahnya memerah. Suara tawanya menggema di seluruh gudang.“Gen keluarga Black memang bagus. Nggak salah Mamamu melahirkanmu dengan susah payah,” ujar Kian. Mengetahui kenyataan barusan, pertahanan diri Edward nyaris ambruk. Dia limbung.Ketika Lion mau membantunya, Edward menghindar. Dia sudah berdiri tegak lagi. Tangan Edward terkepal kuat. “Nggak mungkin! Ini nggak mungkin.”Edward berteriak. Dia menyangkal kenyataan.Demian berdecak sinis. “Di dunia ini, nggak ada yang nggak mungkin. Bahkan sesuatu yang asli pun bisa dipalsuin.”Lion menambahkan, “Apa kamu sudah terlalu nyaman jadi Tuan Muda Kivandra dan nggak mengakui asal-usulmu?”“Cukup!” bentak Kian. Kian berdiri dengan bantuan tongkat. Lalu, menghampiri Edward. Kian tersenyum licik. “Edward, kamu pasti masih ingat penyerangan Jum'at malam di bukit Serenity Enclave, kan?” Edward melotot. “Apa itu ulah kalian?!”Kian tertawa lagi. “Itu hadiah perkenalan dari kami buat Liora,” jawab

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 85

    “Dan… kalian nggak salah manggil saya Tuan Muda Black? Lihat baik-baik. Saya, Edward Kivandra.”Tidak ada yang langsung menjawab semua pertanyaan Edward. Lelaki tua hanya tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya yang tajam. Dengan tangan gemetar, dia mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai beton. Pria paruh baya akhirnya bicara. Suaranya tenang, tetapi mengandung tekanan yang kuat. “Nggak, kami nggak salah manggil kamu. Karena kamu… memang Tuan Muda keluarga Black dari Gordon 101 di pinggir Kota Poseidon.”Edward tertawa sinis. Namun, benaknya mencoba mengingat dengan cepat nama tempat yang baru saja disebut-sebut pria paruh baya. Edward berpikir keras. ‘Gordon 101? Kenapa gue ngerasa nama tempat itu terasa familiar, ya?’Edward tersenyum miring. “Keluarga Black? Omong kosong! Di kota Poseidon nggak ada keluarga Black. Saya bahkan nggak kenal kalian.”Benar!Ada beberapa keluarga old money di Kota Poseidon. Tentu saja Edward mengenal mereka semua. Namun keluarga Blac

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 5

    “Lo, Liora Santoso kan?” tanyanya. Lelaki itu seumuran dengan Liora. Mereka satu sekolah di SMA Internasional School The Global Academy. Namun, beda kelas. Saat dia ingin bertanya lagi, suara Sagara terdengar dalam dan penuh tekanan. “Edward, sekarang dia adikmu. Liora Kivandra. Kamu harus jag

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 4

    Halaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao.Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bar

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 2

    “Cukup!” bentak Rian. Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat. Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora. Rian dan istrinya sudah membesarka

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 1

    “Mama, Papa!”Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria.Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?”Nyonya Gita berdi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status