로그인Liora dan Ella keluar dari rumah besar keluarga Santoso saat hari sudah berubah gelap. Sesuai perkataan Rian, Liora tidak membawa barang berharga apapun. Dia hanya membawa tas sekolah, laptop dan buku-buku pelajaran.
Begitu mereka sampai di persimpangan jalan, tiga mobil mewah berwarna hitam berbaris rapi menunggu Liora dengan lampu yang menyala redup. Mobil yang berada di tengah menyita perhatian Liora. Dia berdecak kagum di dalam hati. ‘Ah, Maybach S-Class memang bener-bener keren!’ Di depan dan belakang Mercedes-Maybach S-Class, terdapat Mercedes-Benz G-Class yang merupakan mobil pengawal keluarga super elite. “Bu, tumben banget banyak mobil berjejer di pinggir jalan begini,” ujar Liora, keheranan. “Keluarga kaya mana yang punya mobil mewah sebanyak ini?” Sebelum Ella sempat menjawab, seorang wanita mendekati Liora. Usianya kira-kira 48 tahun. Pakaiannya serba hitam dengan potongan rambut pendek sebatas telinga dan earphone bluetooth menggantung di telinga kanannya. “Halo, Nona Liora. Saya Nuna Ferdian, kepala pengawal keluarga Kivandra. Tuan mengutus kami untuk menjemputmu.” Nuna membungkuk hormat. Gerakan Nuna diikuti oleh anak buah yang berdiri di belakangnya. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Liora. Tidak seorang pun tahu, Nuna sedang menahan haru. Nuna sedikit mendongak, menatap wajah cantik Liora. “Kamu… bener-bener mirip Nyonya Aluna.” Tubuh Liora terasa lunglai, tapi dia memaksa berdiri tegak. Sambil menatap anak buah Nuna yang berjumlah enam orang, Liora mundur teratur. “Kamu… yakin nggak salah orang?” tanya Liora, kebingungan. Lalu, dia menatap Ella. “Bu, iniー” Ella menyela, “Jangan takut, Nona. Kami akan membawamu pulang ke rumah keluarga kandungmu, keluarga Kivandra.” Sambil melepaskan tangan Liora dari lengannya, Ella menjelaskan. “Nona, maafin saya. Sebenarnya, saya bukan ibu kandung kamu. Tuan sengaja memalsukan tes DNA kita berdua dan mengirim kami untuk membawamu pergi dari keluarga Santoso.” Ella membungkuk hormat, menunggu respon Liora. Mata Liora penuh binar, terdapat rasa ingin menyelidiki di dalamnya. Namun detik berikutnya, hatinya berubah ragu. Jika anak seusia Liora bertingkah pongah dengan mengandalkan kekayaan orang tua, tetapi yang Nuna dan Ella lihat adalah wajah kebingungan Liora. “Keluarga Kivandra? Yang bener, Bu? Ini… sulit dipercaya. Bukannya kalian punya seorang Tuan Muda?” Memori Liora yang terkutuk itu memutar ulang sosok Edward Kivandra. Edward Kivandra adalah cicit kesayangan pemilik sekolah SMA Internasional School The Global Academy, tempat Liora bersekolah. Dia menjadi salah satu dari tiga murid laki-laki yang paling banyak memiliki pengagum. Mata Liora seakan membeku dalam sekejap saat mengingat wajah Edward yang seperti es abadi itu. Liora merasa kesal. “Silakan masuk ke mobil dulu, Nona. Saya akan jelasin di perjalanan,” kata Nuna. Pintu Maybach S-Class telah terbuka. Namun, Liora tidak beranjak juga. Ketika melihat Ella mengangguk, barulah Liora mau masuk ke mobil. Liora berujar, “Oke. Kali ini, aku coba percaya kalian. Tapi kalo kalian menipuku, aku akan telepon polisi.” Nuna mengangguk. Mobil bergegas pergi dari perumahan Hillsdale Estate yang bernuansa modern dan elegan. Liora duduk di kursi belakang sopir bersama Nuna. Sedangkan Ella duduk di sisi sopir. Liora kegirangan di dalam hati. ‘Ah, akhirnya aku bisa duduk di mobil impianku.’ Liora bersandar tipis. Cahaya emas redup menyentuh wajahnya. Dari balik kaca gelap, dia menatap pemandangan malam Kota Poseidon dengan tenang. Karena Nuna tidak bicara juga, Liora menjadi tidak sabar. Liora memainkan ponsel, bersiap merekam. “Jadi, apa penjelasan kalian?” Sebelum bicara, Nuna menghela napas panjang. “Sebelumnya, saya adalah tangan kanan Papamu, Tuan Sagara Kivandra.” Nuna menatap dua orang di bangku depan. “Sopirmu bernama Deyan Anggara, Suaminya Ella. Mereka juga anak buah kepercayaan Tuan Sagara. Ketika ibumu melahirkan di rumah sakit milik keluarga Kivandra, dia…” Nuna menjeda kalimatnya, merasa tidak tega mengatakan semua fakta pada Liora. “Bu Nuna, ngomong aja semuanya,” kata Liora. “Aku nggak lemah seperti yang kalian pikirkan.” Nuna menggenggam tangan Liora. “Dokter bilang, bayi yang dilahirkan Nyonya Aluna adalah laki-laki. Dokter beralasan salah melihat jenis kelamin janin saat di dalam kandungan. Terus, mereka menukarnya dengan bayi keluarga pesaing bisnis papamu.” “Mereka membawamu pergi ke keluarga Santoso. Sementara bayi mereka dibawa ke pinggir kota.” Bola mata Liora yang coklat seakan tidak bernyawa. Perlahan, mata Liora melengkung seperti bulan sabit “Apa, Bu? Menukar bayi? Kok bisa Medica Global Hospital bertindak sebrutal itu?” Liora sering menonton drama pendek tentang putri yang tertukar. Tapi sekarang, dia berada di dunia nyata. Dia tidak menyangka hidupnya persis seperti alur cerita di drama pendek yang ditontonnya. Merasa ada yang janggal, Liora bertanya, “Jadi, Edward?” Nuna tidak menjawab, membiarkan Liora tenggelam di lautan penasaran. Ella berkata, “Alasan Tuan Sagara melakukan ini demi keamanan Nona sendiri. Dan Tuan Muda Edward…” Baru separuh bicara, Nuna memotongnya. “Cukup, Ella. Kita nggak punya hak kasih tau semuanya. Karena Tuan dan Nyonya sendiri yang akan jelasin langsung ke kamu, Nona.” Liora yang sebelumnya menggebu-gebu ingin mengetahui masa lalu, kini wajah cerahnya meredup. Jika dibiarkan begitu saja, kemungkinan dia akan mati penasaran. Di saat pikirannya kacau, Liora berusaha untuk kembali bersikap tenang dan fokus. “Aku mengerti.” Akhirnya, Liora mengalah. Darah yang semula bergejolak, seakan tersumbat. Dia akan mengikuti alur cerita kehidupannya dengan santai dan waspada. Semua orang di dalam mobil mendengar suara geraman marah Liora yang tertahan. Begitu merasakan aura dingin di sekitar Liora, mereka tidak mengatakan apa-apa lagi. Satu jam kemudian. Mobil telah memasuki kawasan Serenity Enclave di perbukitan. Itu adalah kediaman keluarga Kivandra yang megah. Liora mengamati jalanan yang dia lalui dan mencoba mengingatnya. Mobil berhenti di depan villa utama. “Kita sudah sampai, Nona. Selamat datang di keluarga Kivandra,” ujar Nuna sambil tersenyum. Pria berusia 50 tahun membukakan pintu mobil. Kepala pelayan berucap, “Selamat datang di keluarga Kivandra, Nona Liora.” Liora tidak senang. Dia bukanlah tipikal putri kaya yang hobi pamer. Dia bahkan tidak suka keramaian dan menjadi pusat perhatian. Jadi, dia hanya memasang ekspresi dingin ketika kepala pelayan menyambutnya. Kepala pelayan mengulurkan tangan, hendak membantu Liora keluar dari mobil. Namun, Liora justru mengabaikannya. “Aku bisa sendiri.” “Ah, ini…” Kepala pelayan ragu. Namun saat melihat Nuna mengangguk, dia langsung mundur dan membiarkan Liora keluar dari mobil sendiri. Kaki Liora menginjak tanah keluarga Kivandra untuk pertama kali. Para pelayan yang berjumlah puluhan sudah berbaris rapi demi menyambutnya. Mereka menahan napas. Mereka sangat penasaran dengan putri keluarga Kivandra. Mereka berpikir, pastinya sosok Liora sangatlah cantik dan menawan. Namun saat itu juga, para pelayan kecewa. Semua mata tertuju pada Liora. Bisik-bisik pelan mulai terdengar seiring dengan tatapan menilai para pelayan. “Ehm? Apa-apaan ini?” “Di mana Putri cantik dan berkharisma keluarga Kivandra?” “Aku rasa, dia nggak bakalan bisa bersaing sama Tuan Muda Edward.” “Gimana kalo kita taruhan? Aku yakin, perempuan kampungan kayak dia nggak bakalan bertahan lebih dari 3 hari di sini.”Erlita dan gengnya melotot, tidak menyangka Liora berani melontarkan kata-kata pedas.Belum lagi, tatapan jengah Liora yang menyepelekan Erlita. Lagaknya seolah Liora bisa menginjak Erlita kapanpun.Ini bukanlah situasi yang dibayangkan Erlita!Sambil menunjuk Liora, Erlita berkata, “Lo… sejak kapan lo punya nyali sebesar ini? Lo lupa, identitas lo siapa?”Alesha mencibir, “Lio, jadi orang harus tau diri. Lo sekarang udah nggak punya pendukung. Bukannya bersikap baik sama Lita, eh malah nggak tau balas budi.”Namun Kavita dan murid lain menatap Liora dengan wajah terkejut, sekaligus kagum. Kavita menepuk-nepuk pundak Liora. Lalu, menunjuk Erlita dengan dagu. “Good job, Lio. Kadang lo perlu bersikap tegas saat berhadapan sama makhluk sombong kayak dia.”“Tau, nih. Sama-sama tercipta dari tanah aja belagu banget,” celetuk siswi lain. Liora menambahkan, “Lah, kalo Lita tercipta dari api… berarti dia setan dong?”Saat itu juga, terdengar gema tawa murid-murid di ruangan Home Room Ms. Do
“Lo, Liora Santoso kan?” tanyanya. Lelaki itu seumuran dengan Liora. Mereka satu sekolah di SMA Internasional School The Global Academy. Namun, beda kelas. Saat dia ingin bertanya lagi, suara Sagara terdengar dalam dan penuh tekanan. “Edward, sekarang dia adikmu. Liora Kivandra. Kamu harus jaga dia di sekolah. Jangan sampai anak sah keluarga Santoso menindas Lio. Ngerti kamu?”Liora dan Edward saling bertatapan. Edward memiliki rasa penasaran yang tinggi. Namun, Liora hanya mengangguk. Hati kecil Liora bertanya-tanya, ‘Bukannya Edward cuek banget, ya? Kok dia tau nama gue? Padahal gue bukan bintang sekolah. Gue juga bukan primadona sekolah.’“Saya ngerti, Pa.”Edward yang dingin, ternyata takluk begitu saja pada Sagara. Dia menyodorkan kotak hadiah.“Lio, karena Mama tadi telepon mendadak banget, gue nggak sempet cari hadiah. Jadi, gue cuma bisa kasih lo ini.”Ah, kotak perhiasan!Ketika Liora membaca merk di atas kotaknya, dia mencibir dalam hati. ‘Edward lagi ngeledek gue, ya? J
Halaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao.Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bart, musuh bebuyutan keluarga Kivandra. Namun ketika dia sudah tidak berguna, Nyonya Besar keluarga Bart menyuruh orang untuk membunuhnya. Ketika berada di ambang kematian, Sagara datang menyelamatkan nyawa David. Sejak itulah, dia berhutang nyawa dan mendedikasikan hidupnya untuk Sagara.Liora berjalan di tengah, diapit Nuna dan David.Saat mereka mendekati anak tangga menuju pintu utama, suara bisikan para pelayan terdengar lagi.“Dia… Nona Besar Kivandra?”Bola mata para pelayan nyaris copot!Penampilan Liora sangat sederhana. Rok hitam lipit di atas lutut yang warnanya telah pudar, kemeja putih tanpa lengan yang sedikit kusut dan tas sekolah di punggungnya. Rambut coklat sebahu Liora jat
Liora dan Ella keluar dari rumah besar keluarga Santoso saat hari sudah berubah gelap. Sesuai perkataan Rian, Liora tidak membawa barang berharga apapun. Dia hanya membawa tas sekolah, laptop dan buku-buku pelajaran. Begitu mereka sampai di persimpangan jalan, tiga mobil mewah berwarna hitam berbaris rapi menunggu Liora dengan lampu yang menyala redup. Mobil yang berada di tengah menyita perhatian Liora. Dia berdecak kagum di dalam hati. ‘Ah, Maybach S-Class memang bener-bener keren!’ Di depan dan belakang Mercedes-Maybach S-Class, terdapat Mercedes-Benz G-Class yang merupakan mobil pengawal keluarga super elite. “Bu, tumben banget banyak mobil berjejer di pinggir jalan begini,” ujar Liora, keheranan. “Keluarga kaya mana yang punya mobil mewah sebanyak ini?”Sebelum Ella sempat menjawab, seorang wanita mendekati Liora. Usianya kira-kira 48 tahun. Pakaiannya serba hitam dengan potongan rambut pendek sebatas telinga dan earphone bluetooth menggantung di telinga kanannya. “Halo, Non
“Cukup!” bentak Rian. Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat. Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora. Rian dan istrinya sudah membesarkan Liora selama 16 tahun. Jadi, dia merasa lebih mengetahui karakter Liora daripada orang lain. Rian menghembuskan asap rokok dengan santai. “Saya akan kasih kamu dua pilihan. Tetap di sini menjadi Putri Palsu keluarga Santoso dan melayani Erlita atau pergi dengan wanita miskin itu tanpa membawa apa-apa.”Rian tersenyum licik. Bola matanya menyiratkan niat tidak baik dan Ella menyadarinya. Bagaimana dengan Liora?Di mata keluarga dan orang lain, Liora hanyalah seorang putri yang hidup santai dan bermanja-manja. Jatah uang jajan bulanan yang bernilai Rp 400 juta selalu habis dalam sepekan. Rian berpikir, ‘Hidup Lio terlalu santai. Sebanyak apapun uang jajan yang saya kasih, dia tetap boros.
“Mama, Papa!”Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria.Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?”Nyonya Gita berdiri merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk putrinya. Tuan Rian juga berdiri sambil tertawa bahagia.Erlita berlari ke pelukan Nyonya Gita, bermanja-manja. “Iya, seru. Aku senang banget, Ma.”Awalnya, wajah tuan dan nyonya Santoso menunjukkan rasa tidak senang. Namun kedatangan Erlita langsung membuat mereka bahagia. Nyonya Gita mengusap rambut panjang Erlita. “Baguslah.”“Andre, ayo duduk dulu,” ajak Tuan Rian. “Kamu pasti capek jagain Lita selama liburan.”“Ah! Biasa aja kok, Pa,” sahut Andre. Andre Malik adalah tunangan Erlita. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan sudah pergi liburan bersama. Tuan dan Nyonya Santoso benar-benar memanjakan anaknya!Ketika Erlita hendak dud







