LOGIN“Lo, Liora Santoso kan?” tanyanya.
Lelaki itu seumuran dengan Liora. Mereka satu sekolah di SMA Internasional School The Global Academy. Namun, beda kelas. Saat dia ingin bertanya lagi, suara Sagara terdengar dalam dan penuh tekanan. “Edward, sekarang dia adikmu. Liora Kivandra. Kamu harus jaga dia di sekolah. Jangan sampai anak sah keluarga Santoso menindas Lio. Ngerti kamu?” Liora dan Edward saling bertatapan. Edward memiliki rasa penasaran yang tinggi. Namun, Liora hanya mengangguk. Hati kecil Liora bertanya-tanya, ‘Bukannya Edward cuek banget, ya? Kok dia tau nama gue? Padahal gue bukan bintang sekolah. Gue juga bukan primadona sekolah.’ “Saya ngerti, Pa.” Edward yang dingin, ternyata takluk begitu saja pada Sagara. Dia menyodorkan kotak hadiah. “Lio, karena Mama tadi telepon mendadak banget, gue nggak sempet cari hadiah. Jadi, gue cuma bisa kasih lo ini.” Ah, kotak perhiasan! Ketika Liora membaca merk di atas kotaknya, dia mencibir dalam hati. ‘Edward lagi ngeledek gue, ya? Jelas-jelas perhiasan merk Tiffany’s Jewellery mahal banget. Bahkan keluarga Santoso cuma punya 10 koleksi aja.’ Liora membukanya. Dia tersenyum sumringah. “Gelang ini… cantik banget. Thank you, Edward.” Edward berjalan memutari meja makan. Lalu, menyentil dahi Liora. “Enak aja panggil nama doang. Buruan panggil gue Kakak.” Liora mengaduh. “Aisshhh…” Aluna tertawa. “Jangan buru-buru gitu, Ed. Lio aja nggak mau panggil Papa.” Edward duduk di samping Aluna. Dia mengambil paha ayam panggang dan langsung memakannya. “Iyakah, Ma? Kenapa? Apa Papa galak sama Lio?” tanya Edward. Sagara mengusap sisa makanan di bibirnya dengan napkin. Lalu, dia berdiri. Sagara berkata, “Edward, ikut Papa ke ruang kerja sekarang.” Sagara pergi bersama asisten. Edward segera menyusulnya. “Aku juga udah kenyang, Ma,” kata Liora. “Ayo Mama anterin ke kamar,” ajak Aluna. Setelah makan malam, Aluna mengantar Liora ke kamarnya di lantai dua. Mereka duduk di pinggir ranjang. “Gimana kamarnya? Suka, nggak? Mama nggak tau seleramu, Lio. Kalo nggak sesuai, bilang Pak David. Dia akan bantu renovasi kamar mu.” “Nggak usah, Ma. Kamar ini lebih luas dan lebih bagus daripada kamarku di keluarga Santoso,” sahut Liora. Jika dibandingkan dengan gudang kecil di loteng kediaman keluarga Santoso, kamar ini memang jauh lebih layak untuk ditempati. Liora sangat bersyukur kedua orang tuanya memperlakukan dia dengan sangat baik. Aluna tersenyum. ‘Anak ini, sederhana banget. Dia selalu cepat puas.’ Aluna merasa, Liora dan Edward memiliki karakter yang jauh berbeda. Jika Edward suka menghamburkan uang, Liora justru hidup sederhana. “Kamu jangan sungkan begitu sama orang tua sendiri,” ujar Aluna. “Kamu harus adaptasi di keluarga ini. Oke, Lio?” Aluna menghela napas panjang. “Lio, papamu memang keras dan disiplin. Tapi, dia orang yang penyayang.” Potongan memori muncul begitu saja di benak Liora. Dulu, Liora sangat mengagumi sosok Sagara Kivandra yang sedang berpidato di sekolahnya. Dari hari ke hari, Liora terlalu berkhayal memiliki ayah seperti Sagara yang memiliki aura bangsawan agung. “Aku tau, Ma. Aku pernah lihat Papa waktu pidato di sekolah acara penghargaan siswa berprestasi.” Aluna mengusap punggung anaknya. “Istirahatlah lebih awal. Besok berangkat ke sekolah bareng Edward.” Liora mengangguk. …… The Global Academy High School. Pagi-pagi sekali, Liora sudah berada di sekolah. Dia duduk di Home Room Ms. Donna bersama Kavita Luthan, sahabat satu-satunya Liora. Karena hari ujian sekolah sisa dua bulan lagi, Liora menghapal kosakata bahasa Inggris bersama Kavita. Bahasa Inggris adalah satu-satunya kelemahan Liora. Jadi, dia harus berusaha keras agar nilainya tidak nol lagi. “Jadi sekarang, lo tinggal di rumah keluarga kandung? Di mana, Lio? Mereka jahat, nggak?” Belum sempat Liora menjawab, bell tanda masuk berbunyi. Datang Erlita dan gengnya yang berjumlah tujuh orang. Kedatangan mereka langsung menarik perhatian semua murid di kelas. “Lita, lihat! Putri Palsu keluarga lo masih berani datang ke sekolah.” “Dasar nggak tau malu,” cibir yang lainnya. “Lio, lo udah diusir dari keluarga Santoso. Kalo bukan karena uang mereka, mana bisa lo sekolah di sini!” Siswi yang terakhir bicara bernama Alesha Gunawan. Dia adalah salah satu penjilat Erlita. Seolah tidak terpengaruh dengan suasana ricuh, Liora tetap membaca buku pelajaran sambil menghapal. Brakk! Kavita menggebrak meja. Dia berdiri sambil menatap gerombolan Erlita. “Ale, lo masih punya hati nurani nggak, sih? Lo pernah jadi temen dekat Lio. Kok lo tega banget ngomong gitu ke Lio?” Sebelumnya, berita mengenai identitas Putri Palsu keluarga Santoso telah menyebar luas di grup-grup kelas. Bahkan video kedatangan Ella juga ikut tersebar. Akibatnya, seluruh penghuni sekolah tahu asal-usul Liora yang berasal dari desa Gunung Randu di kota Avalon yang miskin. Suasana Home Room Ms. Donna yang memiliki 21 murid semakin memanas. Kavita menatap Erlita. “Pasti lo sama Andre yang nyebarin videonya, kan? Kalo bukan kalian berdua, terus siapa pelakunya? Alesha tidak mau kalah. Dia membalas, “Kavita, itu dulu. Sekarang, gue bisa bedain mana Putri Asli dan Putri Palsu. Gimana pun juga, yang asli akan jauh lebih baik.” Wajah Erlita berubah sedih. Dia maju beberapa langkah mendekati Liora. “Lio, gue tau. Sekarang lo udah balik ke keluarga kandung yang miskin. Biaya sekolah di sini memang mahal banget. Gue bisa bantu ngomong ke papa supaya nggak cabut uang sekolah lo. Tapi… ada syaratnya.” Liora sama sekali tidak memandang Erlita. Dia bahkan menganggap gadis itu tidak ada. “Apa syaratnya?” tanya Kavita. Insting Liora mengatakan, ini bukanlah hal baik. Karena Erlita tidak pernah bersikap baik padanya. “Syaratnya gampang, kok. Lo harus tetap jadi babu gue di sekolah. Kerjain tugas, bersihin sepatu gue, bawain makanan di kantin, beliin obat, dan bawain tas gue.” Erlita yakin, sebentar lagi Liora pasti akan menyerah dan kembali menjadi babunya seperti hari-hari sebelumnya. Dengan begitu, dia tidak perlu mengerjakan tugas dan bisa meraih nilai cemerlang berkat semua bantuan Liora. Liora mengepalkan tangan. Dia hanya ingin sekolah dengan tenang sampai lulus. Dia ingin mendapatkan nilai sempurna untuk modal masuk universitas ternama di Kota Poseidon. Tapi Erlita? Dia selalu mengganggunya! Tatapan Liora tetap tenang sehingga emosi di matanya sulit terbaca. Dia mendongak, menatap Erlita yang sedang tersenyum lebar. “Udah ngomongnya? Nggak capek, ya? Duduk sana. Ms. Donna bentar lagi datang.”Erlita dan gengnya melotot, tidak menyangka Liora berani melontarkan kata-kata pedas.Belum lagi, tatapan jengah Liora yang menyepelekan Erlita. Lagaknya seolah Liora bisa menginjak Erlita kapanpun.Ini bukanlah situasi yang dibayangkan Erlita!Sambil menunjuk Liora, Erlita berkata, “Lo… sejak kapan lo punya nyali sebesar ini? Lo lupa, identitas lo siapa?”Alesha mencibir, “Lio, jadi orang harus tau diri. Lo sekarang udah nggak punya pendukung. Bukannya bersikap baik sama Lita, eh malah nggak tau balas budi.”Namun Kavita dan murid lain menatap Liora dengan wajah terkejut, sekaligus kagum. Kavita menepuk-nepuk pundak Liora. Lalu, menunjuk Erlita dengan dagu. “Good job, Lio. Kadang lo perlu bersikap tegas saat berhadapan sama makhluk sombong kayak dia.”“Tau, nih. Sama-sama tercipta dari tanah aja belagu banget,” celetuk siswi lain. Liora menambahkan, “Lah, kalo Lita tercipta dari api… berarti dia setan dong?”Saat itu juga, terdengar gema tawa murid-murid di ruangan Home Room Ms. Do
“Lo, Liora Santoso kan?” tanyanya. Lelaki itu seumuran dengan Liora. Mereka satu sekolah di SMA Internasional School The Global Academy. Namun, beda kelas. Saat dia ingin bertanya lagi, suara Sagara terdengar dalam dan penuh tekanan. “Edward, sekarang dia adikmu. Liora Kivandra. Kamu harus jaga dia di sekolah. Jangan sampai anak sah keluarga Santoso menindas Lio. Ngerti kamu?”Liora dan Edward saling bertatapan. Edward memiliki rasa penasaran yang tinggi. Namun, Liora hanya mengangguk. Hati kecil Liora bertanya-tanya, ‘Bukannya Edward cuek banget, ya? Kok dia tau nama gue? Padahal gue bukan bintang sekolah. Gue juga bukan primadona sekolah.’“Saya ngerti, Pa.”Edward yang dingin, ternyata takluk begitu saja pada Sagara. Dia menyodorkan kotak hadiah.“Lio, karena Mama tadi telepon mendadak banget, gue nggak sempet cari hadiah. Jadi, gue cuma bisa kasih lo ini.”Ah, kotak perhiasan!Ketika Liora membaca merk di atas kotaknya, dia mencibir dalam hati. ‘Edward lagi ngeledek gue, ya? J
Halaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao.Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bart, musuh bebuyutan keluarga Kivandra. Namun ketika dia sudah tidak berguna, Nyonya Besar keluarga Bart menyuruh orang untuk membunuhnya. Ketika berada di ambang kematian, Sagara datang menyelamatkan nyawa David. Sejak itulah, dia berhutang nyawa dan mendedikasikan hidupnya untuk Sagara.Liora berjalan di tengah, diapit Nuna dan David.Saat mereka mendekati anak tangga menuju pintu utama, suara bisikan para pelayan terdengar lagi.“Dia… Nona Besar Kivandra?”Bola mata para pelayan nyaris copot!Penampilan Liora sangat sederhana. Rok hitam lipit di atas lutut yang warnanya telah pudar, kemeja putih tanpa lengan yang sedikit kusut dan tas sekolah di punggungnya. Rambut coklat sebahu Liora jat
Liora dan Ella keluar dari rumah besar keluarga Santoso saat hari sudah berubah gelap. Sesuai perkataan Rian, Liora tidak membawa barang berharga apapun. Dia hanya membawa tas sekolah, laptop dan buku-buku pelajaran. Begitu mereka sampai di persimpangan jalan, tiga mobil mewah berwarna hitam berbaris rapi menunggu Liora dengan lampu yang menyala redup. Mobil yang berada di tengah menyita perhatian Liora. Dia berdecak kagum di dalam hati. ‘Ah, Maybach S-Class memang bener-bener keren!’ Di depan dan belakang Mercedes-Maybach S-Class, terdapat Mercedes-Benz G-Class yang merupakan mobil pengawal keluarga super elite. “Bu, tumben banget banyak mobil berjejer di pinggir jalan begini,” ujar Liora, keheranan. “Keluarga kaya mana yang punya mobil mewah sebanyak ini?”Sebelum Ella sempat menjawab, seorang wanita mendekati Liora. Usianya kira-kira 48 tahun. Pakaiannya serba hitam dengan potongan rambut pendek sebatas telinga dan earphone bluetooth menggantung di telinga kanannya. “Halo, Non
“Cukup!” bentak Rian. Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat. Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora. Rian dan istrinya sudah membesarkan Liora selama 16 tahun. Jadi, dia merasa lebih mengetahui karakter Liora daripada orang lain. Rian menghembuskan asap rokok dengan santai. “Saya akan kasih kamu dua pilihan. Tetap di sini menjadi Putri Palsu keluarga Santoso dan melayani Erlita atau pergi dengan wanita miskin itu tanpa membawa apa-apa.”Rian tersenyum licik. Bola matanya menyiratkan niat tidak baik dan Ella menyadarinya. Bagaimana dengan Liora?Di mata keluarga dan orang lain, Liora hanyalah seorang putri yang hidup santai dan bermanja-manja. Jatah uang jajan bulanan yang bernilai Rp 400 juta selalu habis dalam sepekan. Rian berpikir, ‘Hidup Lio terlalu santai. Sebanyak apapun uang jajan yang saya kasih, dia tetap boros.
“Mama, Papa!”Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria.Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?”Nyonya Gita berdiri merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk putrinya. Tuan Rian juga berdiri sambil tertawa bahagia.Erlita berlari ke pelukan Nyonya Gita, bermanja-manja. “Iya, seru. Aku senang banget, Ma.”Awalnya, wajah tuan dan nyonya Santoso menunjukkan rasa tidak senang. Namun kedatangan Erlita langsung membuat mereka bahagia. Nyonya Gita mengusap rambut panjang Erlita. “Baguslah.”“Andre, ayo duduk dulu,” ajak Tuan Rian. “Kamu pasti capek jagain Lita selama liburan.”“Ah! Biasa aja kok, Pa,” sahut Andre. Andre Malik adalah tunangan Erlita. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan sudah pergi liburan bersama. Tuan dan Nyonya Santoso benar-benar memanjakan anaknya!Ketika Erlita hendak dud







