Compartilhar

Bab 6

last update Data de publicação: 2026-05-12 05:52:02

Erlita dan gengnya melotot, tidak menyangka Liora berani melontarkan kata-kata pedas.

Belum lagi, tatapan jengah Liora yang menyepelekan Erlita. Lagaknya seolah Liora bisa menginjak Erlita kapanpun.

Ini bukanlah situasi yang dibayangkan Erlita!

Sambil menunjuk Liora, Erlita berkata, “Lo… sejak kapan lo punya nyali sebesar ini? Lo lupa, identitas lo siapa?”

Alesha mencibir, “Lio, jadi orang harus tau diri. Lo sekarang udah nggak punya pendukung. Bukannya bersikap baik sama Lita, eh malah nggak tau balas budi.”

Namun Kavita dan murid lain menatap Liora dengan wajah terkejut, sekaligus kagum.

Kavita menepuk-nepuk pundak Liora. Lalu, menunjuk Erlita dengan dagu. “Good job, Lio. Kadang lo perlu bersikap tegas saat berhadapan sama makhluk sombong kayak dia.”

“Tau, nih. Sama-sama tercipta dari tanah aja belagu banget,” celetuk siswi lain.

Liora menambahkan, “Lah, kalo Lita tercipta dari api… berarti dia setan dong?”

Saat itu juga, terdengar gema tawa murid-murid di ruangan Home Room Ms. Donna. Murid-murid lain menambahkan bumbu agar Erlita dan gengnya merasa malu.

“Lio, gue rasa… setan aja sungkem sama dia. Hahaha…”

“Eh, lo salah. Yang ada, setan bakalan tersinggung disamain dengan Lita dan geng Celestial Heirs.”

Kavita tidak bisa menahan tawa. “Ppfffhh! Rasain lo, Lita.”

Geng Erlita bernama Celestial Heirs, yang artinya Pewaris Surgawi dan beranggotakan 7 orang. Di sekolah, Celestial Heirs menganggap status mereka tinggi.

Celestial Heirs gemar mencari masalah terhadap murid lain yang mereka anggap tidak setara. Maka tidak heran, ketika Liora berani melawan Erlita, murid lain mendukungnya dan merasa Erlita pantas dipermalukan!

“Eh, kalian! Awas aja, gue bakalanー”

Maudy baru separuh bicara, tapi Ms. Donna datang dan langsung memotongnya.

“Ada apa ramai-ramai? Cepat duduk, kelas mau mulai!” seru Ms. Donna.

Penampilan Ms. Donna cantik dan seksi. Dia memiliki bentuk tubuh yang nyaris sempurna. Wajah cantik dan manis didukung dengan postur tubuh semampai.

Suasana yang semula gaduh, kini berangsur tenang. Wajah-wajah geng Celestial Heirs pun menjadi masam. Mereka duduk di kursi masing-masing.

Ms. Donna berdiri di podium kelas, menatap semua muridnya. Dia mulai menjelaskan.

“Hari ini, ada pengumuman baru. Sebulan lagi, sekolah kita akan mengadakan Pentas Kreasi Siswa Tahunan.”

Ms. Donna berhenti sejenak. Lalu, berjalan menuju bagian depan kelas. Dia menuliskan tema besar acara di papan tulis kapur di sisi kiri.

Ruang Home Room kelas elit The Global Academy High School menggunakan papan hybrid modern.

Di tengah dinding depan kelas terpasang layar LED interaktif berukuran besar untuk presentasi digital. Sementara di kedua sisinya terdapat papan tulis kapur hitam klasik yang digunakan guru untuk menulis cepat atau membuat penjelasan langsung saat mengajar.

Perpaduan teknologi modern dan nuansa akademik klasik itu menjadi ciri khas The Global Academy High School.

“Pentas Kreasi Siswa Tahunan : Voices Of The Future.”

Di bawahnya, tertulis slogan besar.

Liora membacanya. “Satu Panggung, Seribu Bakat, Untuk Mereka yang Membutuhkan.”

Seketika, suasana kelas kembali ramai. Banyak murid mulai berbisik antusias.

Ms. Donna melanjutkan penjelasannya.

“Tahun ini, sekolah memberikan kebebasan penuh untuk setiap kelas menampilkan kreativitas terbaik mereka.”

“Kalian boleh membuat pertunjukan musik, tari, drama musikal, fashion show daur ulang, pertunjukan teknologi, sulap, pameran seni digital, modern dance, choir, band performance, sampai pertunjukan tradisional.”

Beberapa murid langsung bersorak.

“Wih, keren banget!”

“Gue pengen ikut band,” kata murid laki-laki.

Alesha Gunawan, menepuk punggung Erlita dari belakang. “Kelas kita bikin dance aja, gimana?”

Ms. Donna mengangkat tangan, meminta semuanya tenang.

“Selain kompetisi bakat, acara tahun ini juga punya tujuan khusus.”

Suara Ms. Donna menjadi lebih serius.

“Seluruh keuntungan tiket, lelang karya siswa, dan donasi sponsor akan disalurkan untuk korban banjir dan tanah longsor di desa-desa perkebunan sawit di Pulau Konoha bagian Selatan.”

Ruangan langsung hening. Berita tentang desa-desa yang tertimbun longsor memang sedang ramai dibicarakan di semua platform media sosial dalam dan luar negeri.

Liora sendiri tergabung dalam komunitas sukarelawan Natuna Project yang dia dirikan bersama lima mahasiswa terpilih. Nama Natuna sendiri diambil dari nama pahlawan yang jarang disebut-sebut di buku sejarah negara Valoria. Yaitu Langit Natuna.

Ketika liburan musim panas, Natuna Project telah menyalurkan bantuan ke tiga desa yang paling terdampak. Itulah kenapa, Erlita murka saat jadwal liburannya sempat tertunda karena Liora pergi tanpa pemberitahuan.

Para murid mulai memberikan pendapat.

“Keren juga sekolah kita…”

“Iya. Nggak cuma acara hura-hura.”

Ms. Donna mengangguk pelan. “Karena itu, kepala Sekolah berharap acara ini bukan sekadar ajang pamer bakat, tapi juga bentuk kepedulian sosial.”

Setelah menjelaskan teknis acara, Ms. Donna mengaktifkan tablet.

“Acara puncak adalah pemberian apresiasi khusus untuk salah satu murid berprestasi.”

Beberapa siswa mulai penasaran.

“Siapa?”

“Apaan tuh?”

Sesekali, tatapan Ms. Donna mengarah pada Liora.

“Sebelum liburan musim panas, SMA kita mengirim perwakilan untuk mengikuti Kompetisi Robotik Antar SMA Nasional.”

Murid-murid langsung ribut.

“Robotik?”

“Yang lomba tingkat nasional itu, ya?”

“Serius?”

“Wahh, kira-kira siapa, ya?”

Namun sepertinya, Ms. Donna tidak ingin memberitahu identitas murid jenius tersebut. Dia menutup pertemuan dengan cepat.

“Ok, Class. Itu aja pengumuman pagi ini. Sekarang, kalian silakan pergi ke ruang kelas masing-masing.”

Selesai memberikan pengumuman, Home Room bubar.

Ms. Donna berbalik dan pergi. Rok ketat hitamnya memperlihatkan lekuk tubuh yang menantang.

“Lio, ayo pergi ke kelas Akuisisi Bahasa,” ajak Kavita.

Di saat yang sama, anggota cowok geng Celestial Heirs mendekati Erlita. Sementara anggota perempuan duduk mengelilingi Maudy. Mereka memperhatikan interaksi Liora dan Kavita.

Lenno mulai menyindir Liora.

“Ada murid tertentu yang mati-matian belajar bahasa Inggris dan nilainya tetap nol…”

“Beda sama princess Lita. Setiap ulangan dan ujian akhir selalu dapat nilai 90,” timpal Alesha.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 6

    Erlita dan gengnya melotot, tidak menyangka Liora berani melontarkan kata-kata pedas.Belum lagi, tatapan jengah Liora yang menyepelekan Erlita. Lagaknya seolah Liora bisa menginjak Erlita kapanpun.Ini bukanlah situasi yang dibayangkan Erlita!Sambil menunjuk Liora, Erlita berkata, “Lo… sejak kapan lo punya nyali sebesar ini? Lo lupa, identitas lo siapa?”Alesha mencibir, “Lio, jadi orang harus tau diri. Lo sekarang udah nggak punya pendukung. Bukannya bersikap baik sama Lita, eh malah nggak tau balas budi.”Namun Kavita dan murid lain menatap Liora dengan wajah terkejut, sekaligus kagum. Kavita menepuk-nepuk pundak Liora. Lalu, menunjuk Erlita dengan dagu. “Good job, Lio. Kadang lo perlu bersikap tegas saat berhadapan sama makhluk sombong kayak dia.”“Tau, nih. Sama-sama tercipta dari tanah aja belagu banget,” celetuk siswi lain. Liora menambahkan, “Lah, kalo Lita tercipta dari api… berarti dia setan dong?”Saat itu juga, terdengar gema tawa murid-murid di ruangan Home Room Ms. Do

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 5

    “Lo, Liora Santoso kan?” tanyanya. Lelaki itu seumuran dengan Liora. Mereka satu sekolah di SMA Internasional School The Global Academy. Namun, beda kelas. Saat dia ingin bertanya lagi, suara Sagara terdengar dalam dan penuh tekanan. “Edward, sekarang dia adikmu. Liora Kivandra. Kamu harus jaga dia di sekolah. Jangan sampai anak sah keluarga Santoso menindas Lio. Ngerti kamu?”Liora dan Edward saling bertatapan. Edward memiliki rasa penasaran yang tinggi. Namun, Liora hanya mengangguk. Hati kecil Liora bertanya-tanya, ‘Bukannya Edward cuek banget, ya? Kok dia tau nama gue? Padahal gue bukan bintang sekolah. Gue juga bukan primadona sekolah.’“Saya ngerti, Pa.”Edward yang dingin, ternyata takluk begitu saja pada Sagara. Dia menyodorkan kotak hadiah.“Lio, karena Mama tadi telepon mendadak banget, gue nggak sempet cari hadiah. Jadi, gue cuma bisa kasih lo ini.”Ah, kotak perhiasan!Ketika Liora membaca merk di atas kotaknya, dia mencibir dalam hati. ‘Edward lagi ngeledek gue, ya? J

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 4

    Halaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao.Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bart, musuh bebuyutan keluarga Kivandra. Namun ketika dia sudah tidak berguna, Nyonya Besar keluarga Bart menyuruh orang untuk membunuhnya. Ketika berada di ambang kematian, Sagara datang menyelamatkan nyawa David. Sejak itulah, dia berhutang nyawa dan mendedikasikan hidupnya untuk Sagara.Liora berjalan di tengah, diapit Nuna dan David.Saat mereka mendekati anak tangga menuju pintu utama, suara bisikan para pelayan terdengar lagi.“Dia… Nona Besar Kivandra?”Bola mata para pelayan nyaris copot!Penampilan Liora sangat sederhana. Rok hitam lipit di atas lutut yang warnanya telah pudar, kemeja putih tanpa lengan yang sedikit kusut dan tas sekolah di punggungnya. Rambut coklat sebahu Liora jat

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 3

    Liora dan Ella keluar dari rumah besar keluarga Santoso saat hari sudah berubah gelap. Sesuai perkataan Rian, Liora tidak membawa barang berharga apapun. Dia hanya membawa tas sekolah, laptop dan buku-buku pelajaran. Begitu mereka sampai di persimpangan jalan, tiga mobil mewah berwarna hitam berbaris rapi menunggu Liora dengan lampu yang menyala redup. Mobil yang berada di tengah menyita perhatian Liora. Dia berdecak kagum di dalam hati. ‘Ah, Maybach S-Class memang bener-bener keren!’ Di depan dan belakang Mercedes-Maybach S-Class, terdapat Mercedes-Benz G-Class yang merupakan mobil pengawal keluarga super elite. “Bu, tumben banget banyak mobil berjejer di pinggir jalan begini,” ujar Liora, keheranan. “Keluarga kaya mana yang punya mobil mewah sebanyak ini?”Sebelum Ella sempat menjawab, seorang wanita mendekati Liora. Usianya kira-kira 48 tahun. Pakaiannya serba hitam dengan potongan rambut pendek sebatas telinga dan earphone bluetooth menggantung di telinga kanannya. “Halo, Non

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 2

    “Cukup!” bentak Rian. Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat. Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora. Rian dan istrinya sudah membesarkan Liora selama 16 tahun. Jadi, dia merasa lebih mengetahui karakter Liora daripada orang lain. Rian menghembuskan asap rokok dengan santai. “Saya akan kasih kamu dua pilihan. Tetap di sini menjadi Putri Palsu keluarga Santoso dan melayani Erlita atau pergi dengan wanita miskin itu tanpa membawa apa-apa.”Rian tersenyum licik. Bola matanya menyiratkan niat tidak baik dan Ella menyadarinya. Bagaimana dengan Liora?Di mata keluarga dan orang lain, Liora hanyalah seorang putri yang hidup santai dan bermanja-manja. Jatah uang jajan bulanan yang bernilai Rp 400 juta selalu habis dalam sepekan. Rian berpikir, ‘Hidup Lio terlalu santai. Sebanyak apapun uang jajan yang saya kasih, dia tetap boros.

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 1

    “Mama, Papa!”Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria.Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?”Nyonya Gita berdiri merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk putrinya. Tuan Rian juga berdiri sambil tertawa bahagia.Erlita berlari ke pelukan Nyonya Gita, bermanja-manja. “Iya, seru. Aku senang banget, Ma.”Awalnya, wajah tuan dan nyonya Santoso menunjukkan rasa tidak senang. Namun kedatangan Erlita langsung membuat mereka bahagia. Nyonya Gita mengusap rambut panjang Erlita. “Baguslah.”“Andre, ayo duduk dulu,” ajak Tuan Rian. “Kamu pasti capek jagain Lita selama liburan.”“Ah! Biasa aja kok, Pa,” sahut Andre. Andre Malik adalah tunangan Erlita. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan sudah pergi liburan bersama. Tuan dan Nyonya Santoso benar-benar memanjakan anaknya!Ketika Erlita hendak dud

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status