ログインErlita dan gengnya melotot, tidak menyangka Liora berani melontarkan kata-kata pedas.
Belum lagi, tatapan jengah Liora yang menyepelekan Erlita. Lagaknya seolah Liora bisa menginjak Erlita kapanpun. Ini bukanlah situasi yang dibayangkan Erlita! Sambil menunjuk Liora, Erlita berkata, “Lo… sejak kapan lo punya nyali sebesar ini? Lo lupa, identitas lo siapa?” Alesha mencibir, “Lio, jadi orang harus tau diri. Lo sekarang udah nggak punya pendukung. Bukannya bersikap baik sama Lita, eh malah nggak tau balas budi.” Namun Kavita dan murid lain menatap Liora dengan wajah terkejut, sekaligus kagum. Kavita menepuk-nepuk pundak Liora. Lalu, menunjuk Erlita dengan dagu. “Good job, Lio. Kadang lo perlu bersikap tegas saat berhadapan sama makhluk sombong kayak dia.” “Tau, nih. Sama-sama tercipta dari tanah aja belagu banget,” celetuk siswi lain. Liora menambahkan, “Lah, kalo Lita tercipta dari api… berarti dia setan dong?” Saat itu juga, terdengar gema tawa murid-murid di ruangan Home Room Ms. Donna. Murid-murid lain menambahkan bumbu agar Erlita dan gengnya merasa malu. “Lio, gue rasa… setan aja sungkem sama dia. Hahaha…” “Eh, lo salah. Yang ada, setan bakalan tersinggung disamain dengan Lita dan geng Celestial Heirs.” Kavita tidak bisa menahan tawa. “Ppfffhh! Rasain lo, Lita.” Geng Erlita bernama Celestial Heirs, yang artinya Pewaris Surgawi dan beranggotakan 7 orang. Di sekolah, Celestial Heirs menganggap status mereka tinggi. Celestial Heirs gemar mencari masalah terhadap murid lain yang mereka anggap tidak setara. Maka tidak heran, ketika Liora berani melawan Erlita, murid lain mendukungnya dan merasa Erlita pantas dipermalukan! “Eh, kalian! Awas aja, gue bakalanー” Maudy baru separuh bicara, tapi Ms. Donna datang dan langsung memotongnya. “Ada apa ramai-ramai? Cepat duduk, kelas mau mulai!” seru Ms. Donna. Penampilan Ms. Donna cantik dan seksi. Dia memiliki bentuk tubuh yang nyaris sempurna. Wajah cantik dan manis didukung dengan postur tubuh semampai. Suasana yang semula gaduh, kini berangsur tenang. Wajah-wajah geng Celestial Heirs pun menjadi masam. Mereka duduk di kursi masing-masing. Ms. Donna berdiri di podium kelas, menatap semua muridnya. Dia mulai menjelaskan. “Hari ini, ada pengumuman baru. Sebulan lagi, sekolah kita akan mengadakan Pentas Kreasi Siswa Tahunan.” Ms. Donna berhenti sejenak. Lalu, berjalan menuju bagian depan kelas. Dia menuliskan tema besar acara di papan tulis kapur di sisi kiri. Ruang Home Room kelas elit The Global Academy High School menggunakan papan hybrid modern. Di tengah dinding depan kelas terpasang layar LED interaktif berukuran besar untuk presentasi digital. Sementara di kedua sisinya terdapat papan tulis kapur hitam klasik yang digunakan guru untuk menulis cepat atau membuat penjelasan langsung saat mengajar. Perpaduan teknologi modern dan nuansa akademik klasik itu menjadi ciri khas The Global Academy High School. “Pentas Kreasi Siswa Tahunan : Voices Of The Future.” Di bawahnya, tertulis slogan besar. Liora membacanya. “Satu Panggung, Seribu Bakat, Untuk Mereka yang Membutuhkan.” Seketika, suasana kelas kembali ramai. Banyak murid mulai berbisik antusias. Ms. Donna melanjutkan penjelasannya. “Tahun ini, sekolah memberikan kebebasan penuh untuk setiap kelas menampilkan kreativitas terbaik mereka.” “Kalian boleh membuat pertunjukan musik, tari, drama musikal, fashion show daur ulang, pertunjukan teknologi, sulap, pameran seni digital, modern dance, choir, band performance, sampai pertunjukan tradisional.” Beberapa murid langsung bersorak. “Wih, keren banget!” “Gue pengen ikut band,” kata murid laki-laki. Alesha Gunawan, menepuk punggung Erlita dari belakang. “Kelas kita bikin dance aja, gimana?” Ms. Donna mengangkat tangan, meminta semuanya tenang. “Selain kompetisi bakat, acara tahun ini juga punya tujuan khusus.” Suara Ms. Donna menjadi lebih serius. “Seluruh keuntungan tiket, lelang karya siswa, dan donasi sponsor akan disalurkan untuk korban banjir dan tanah longsor di desa-desa perkebunan sawit di Pulau Konoha bagian Selatan.” Ruangan langsung hening. Berita tentang desa-desa yang tertimbun longsor memang sedang ramai dibicarakan di semua platform media sosial dalam dan luar negeri. Liora sendiri tergabung dalam komunitas sukarelawan Natuna Project yang dia dirikan bersama lima mahasiswa terpilih. Nama Natuna sendiri diambil dari nama pahlawan yang jarang disebut-sebut di buku sejarah negara Valoria. Yaitu Langit Natuna. Ketika liburan musim panas, Natuna Project telah menyalurkan bantuan ke tiga desa yang paling terdampak. Itulah kenapa, Erlita murka saat jadwal liburannya sempat tertunda karena Liora pergi tanpa pemberitahuan. Para murid mulai memberikan pendapat. “Keren juga sekolah kita…” “Iya. Nggak cuma acara hura-hura.” Ms. Donna mengangguk pelan. “Karena itu, kepala Sekolah berharap acara ini bukan sekadar ajang pamer bakat, tapi juga bentuk kepedulian sosial.” Setelah menjelaskan teknis acara, Ms. Donna mengaktifkan tablet. “Acara puncak adalah pemberian apresiasi khusus untuk salah satu murid berprestasi.” Beberapa siswa mulai penasaran. “Siapa?” “Apaan tuh?” Sesekali, tatapan Ms. Donna mengarah pada Liora. “Sebelum liburan musim panas, SMA kita mengirim perwakilan untuk mengikuti Kompetisi Robotik Antar SMA Nasional.” Murid-murid langsung ribut. “Robotik?” “Yang lomba tingkat nasional itu, ya?” “Serius?” “Wahh, kira-kira siapa, ya?” Namun sepertinya, Ms. Donna tidak ingin memberitahu identitas murid jenius tersebut. Dia menutup pertemuan dengan cepat. “Ok, Class. Itu aja pengumuman pagi ini. Sekarang, kalian silakan pergi ke ruang kelas masing-masing.” Selesai memberikan pengumuman, Home Room bubar. Ms. Donna berbalik dan pergi. Rok ketat hitamnya memperlihatkan lekuk tubuh yang menantang. “Lio, ayo pergi ke kelas Akuisisi Bahasa,” ajak Kavita. Di saat yang sama, anggota cowok geng Celestial Heirs mendekati Erlita. Sementara anggota perempuan duduk mengelilingi Maudy. Mereka memperhatikan interaksi Liora dan Kavita. Lenno mulai menyindir Liora. “Ada murid tertentu yang mati-matian belajar bahasa Inggris dan nilainya tetap nol…” “Beda sama princess Lita. Setiap ulangan dan ujian akhir selalu dapat nilai 90,” timpal Alesha.Dokter Rowan keluar bersama dua dokter spesialis. Wajahnya jauh lebih serius dari sebelumnya.Sagara langsung melangkah maju. “Gimana kondisi Lio?”Koridor mendadak sunyi. Semua orang menunggu jawaban Dokter Rowan.Dokter Rowan menatap Sagara dan Aluna bergantian.“Hasil lengkapnya belum keluar. Tapi dari pemeriksaan neurologis, ada beberapa hal yang perlu kita waspadai.”Mendengar keterangan Dokter Rowan, reaksi anggota keluarga Kivandra beragam. Jantung Aluna serasa berhenti. Tatapan Sagara berubah tajam. Sementara Edward menekan perasaan ingin memukul dinding untuk melampiaskan emosinya.Tatapan Sagara berubah tajam. “Maksudmu?” Dokter Rowan menarik napas pendek.“Dari hasil pemeriksaan awal, saya curiga ini bukan sekadar efek kelelahan biasa atau stres pasca trauma.”Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.Sagara menatap Dokter Rowan dengan sorot mata tegas.“Rowan,” suaranya rendah dan berat, “jelasin semuanya.”Reaksinya itu adalah pertanda Sagara sedang be
Mobil keluarga Kivandra memasuki area VIP Medica Global Hospital. Begitu mobil berhenti, pintu otomatis langsung terbuka dan tim medis sudah menunggu di depan. Dokter Rowan turun lebih dulu. Sorot matanya tajam.“Bawa Nona ke ruang pemeriksaan utama. Jalur steril. Jangan ada orang luar yang masuk tanpa izin saya.”“Baik, Dokter.”Mereka bergerak cepat tanpa membuang waktu sedikit pun. Deyan dan Nuna mengawal Liora turun dari mobil dengan tatapan penuh waspada. Nuna berjalan di sisi kanan sambil memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Liora.Wajah Liora terlihat pucat, tetapi ekspresinya tetap tenang. Justru itu yang membuat Nuna semakin tidak nyaman. Liora terlalu terbiasa menyembunyikan rasa sakit.Begitu masuk ke ruang pemeriksaan utama, suasana langsung berubah serius. Beberapa dokter spesialis sudah menunggu di dalam. Dokter saraf, radiologi, patologi klinik, semuanya hadir. Di tengah ruangan, Dokter Rowan berdiri dengan aura yang langsung mengambil alih seluruh situas
“Nona, kamu mimisan lumayan banyak.”Nuna segera meraih ponsel dan menghubungi seseorang.Panggilan tersambung cepat.“Dokter Rowan? Tolong datang ke kamar Nona Liora sekarang.”Suara Nuna terdengar tegang. “Nona Liora tiba-tiba mimisan. Aku khawatir ini ada hubungannya sama luka penyerangan kemarin.”Liora terdiam. Dia juga memiliki pemikiran seperti itu. Pikiran Liora berkecamuk. ‘Bu Nuna telepon Dokter Rowan? Kalo Bu Nuna sampai manggil dia, berarti Bu Nuna bener-bener menganggap situasi gue serius.’Setelah panggilan berakhir, Bu Nuna menoleh ke sekitar. Tatapannya jatuh pada seorang penjaga yang berdiri tidak jauh dari area kolam renang.“Kamu!”Penjaga itu langsung mendekat. “Ya, Bu Nuna? Ada perintah apa?”“Bawa Nona Liora ke kamarnya sekarang.”Penjaga itu mengangguk cepat. “Baik.”Bu Nuna kembali menatap Liora. “Nona, kita masuk dulu. Jangan di sini.”Liora sebenarnya ingin bilang dia baik-baik saja. Tapi saat hendak berdiri, pandangannya mendadak berkunang-kunang selama sa
“Fabulous! You did it, girl!”Di layar ponsel, Liora berteriak bahagia. Lalu, terdengar suara tepuk tangannya. Dia adalah orang pertama yang bereaksi. Ms. Donna ikut bertepuk tangan dengan air mata penuh haru. Kemudian, disusul oleh suara tepuk tangan kepala sekolah. “Kavita, kamu berhasil,” kata Ms. Donna. “Aku tau, kamu pasti berhasil. Kamu melakukannya dengan baik.”Ms. Donna memeluk muridnya. Dia mengusap punggung Kavita dengan kasih. Sebagai kepala sekolah, Mr. Arnold terkagum-kagum dengan performa piano Kavita. Dia belum berhenti tepuk tangan. “Luar biasa! Kavita, kamu membuat Bapak terkejut,” puji Mr. Arnold sambil berdiri.Lalu, Mr. Arnold menoleh pada Pak Mochtar. “Selamat Pak Mochtar. Putri Anda sangat luar biasa,” kata kepala sekolah. Kepala sekolah menghampiri Kavita. “Sebelumnya, hanya ada satu murid yang pandai memainkan La Campanella tanpa cacat. Dia adalah Liora, siswi berprestasi di bidang matematika dan seni musik.”Tatapan Kepala sekolah mengarah pada layar p
Kepala sekolah mempersilakan Pak Mochtar duduk. Lalu, dia sendiri duduk di sampingnya. Sementara Ms. Donna berjalan menghampiri Kavita. Siapa yang tidak mengenal Pak Mochtar? Seorang maestro piano yang tegas. Bahkan dia menyampaikan kritik anak didiknya dengan kata-kata yang tajam. Udara di ruang musik langsung terasa menekan Kavita. Bibir Kavita bergetar. “Lio, gue… rasanya nggak sanggup. Gimana kalo gue nyerah aja?”Di layar ponselnya, Liora melihat Kavita terlalu tegang dan gugup luar biasa. Liora berujar tenang, “Vita, slay aja! Taruh ponselnya di depan lo. Gue temenin lo dari sini. Oke?”Kavita mengangguk. Liora memang paling bisa diandalkan!Ms. Donna menepuk punggung Kavita. “Kavita, jangan takut. Ada saya dan Liora yang temani kamu. Ayo fokus demi mimpi kamu.”Kavita melirik Ms. Donna tanpa membalas ucapannya. Dengan tangan gemetar, Kavita duduk di depan piano. Dia meletakkan ponsel tepat di depannya. Tidak ada yang berbicara lagi. Perhatian semua orang tertuju pada Kav
Senin pagi di Serenity Enclave, Kota Poseidon.Karena masih dalam masa pemulihan, Liora tidak pergi sekolah seperti biasa. Dia berjemur di pinggir kolam renang sambil membaca jurnal Poseidon University AI Lab research di layar tablet. “Hemm, jurnal ini gampang dimengerti,” gumam Liora. Di sekolah, orang-orang melihatnya sebagai si Jenius Matematika yang aktif di club robotics. Tapi di luar sekolah, dia sebenarnya memimpin komunitas riset AI sendiri dan mengembangkan teknologi untuk disaster response.Tidak perlu merasa terharu. Liora memang cerdas dan berbakat di bidang teknologi. Bagi Liora, matematika, AI, dan robotik sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak usia 12 tahun.Nuna yang duduk menemaninya sangat penasaran. Dia teringat data-data Liora yang diberikan oleh Sagara. “Nona, apa baca jurnal begitu menarik banget?” tanya Nuna. Sagara memang sudah menyelidiki kegiatan Liora beberapa tahun terakhir. Sagara juga tahu bahwa putrinya ini adalah jenius matematika. Namun, Sagara h
Di kamar Liora. Ketika hari hampir siang, Liora menunjukkan tanda-tanda bangun. “Ahhhh, kepalaku…”Bulu mata Liora bergetar dua kali sebelum matanya terbuka. Dia menatap langit-langit kamarnya. Liora memegangi kepalanya. Terdapat kasa kecil yang direkatkan dengan medical tape menutupi luka di da
“Baik, Tuan.”David mengulurkan tangan, berniat mengambil alih Liora dari gendongan Edward. Namun, pelukan Edward pada Liora justru semakin erat. Meskipun Edward sudah mendengar perintah papanya, dia tetap tidak tega menyerahkan Liora pada David. Edward malah mundur setengah langkah sambil menata
“Cukup!” bentak Rian. Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat. Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora. Rian dan istrinya sudah membesarka
“Mama, Papa!”Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria.Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?”Nyonya Gita berdi







