Share

Bab 2 Dia..?

Author: Cynta
last update Last Updated: 2025-07-29 09:00:52

Lampu redup di kamar VIP itu membuat bayangan jatuh di wajah pucat Aluna. Nafasnya mulai teratur, meski tatapan matanya masih waspada.

“Namamu siapa?”

Aluna menjawab seraya membuka mata perlahan. “Al–una.”

“Oh… Aluna,” Radit memecah keheningan, suaranya lega. “Maaf ya, tadi temenku nggak sengaja nabrak kamu.” Dia melirik sekilas ke Raka, lalu kembali fokus. “Sekarang gimana? Masih sakit di bagian kepala?”

Aluna menutup mata sejenak, menarik napas dalam. “Pusing,” jawabnya singkat.

“Oke, aku panggil dokter dulu,” ucap Radit sambil menekan tombol panggil perawat di sisi ranjang.

Hening kembali menyelimuti ruangan. Raka, yang sejak tadi bersandar di sofa, mengalihkan pandangan ke jendela. Tapi matanya sesekali melirik Aluna, menelusuri wajah itu seperti mencari potongan memori yang hilang.

‘Kenapa mata itu nggak asing…? Siapa sebenarnya perempuan ini?’ pikirnya.

Aluna bisa merasakan tatapan itu. Dingin, tajam, tapi juga seakan menuntut jawaban. Tatapan yang membuatnya terintimidasi sekaligus—anehnya—sedikit terpesona.

‘Mirip artis drakor… tapi kok kayak mesum ya? Liatin orang segitunya?’ batinnya.

“Lo ngapain liatin gue? Mupeng, ya? Lo yang nabrak gue tadi, kan?!” serang Aluna tiba-tiba. Nada suaranya tinggi, tanpa basa-basi.

Radit terlonjak, Raka mengangkat wajahnya perlahan, menatapnya balik tanpa ekspresi. “Kepedean,” balasnya datar. “Gue liat caranya lo drama, bukan muka memelas lo itu.”

Aluna mendengus. “Drama? Lo buta ya? Nyetir nggak liat jalan, pikir jalan ini warisan kakek lo?”

Raka menyipitkan mata, suaranya turun satu nada tapi terasa menusuk. “Lo nyebrang kayak ayam. Jangan-jangan lo sengaja? Modus minta ganti rugi?”

Tubuh Aluna menegang. “Gila lo ya?! Orang kaya emang susah punya empati!”

Radit langsung maju, berdiri di antara mereka. “Stop! Udah kayak mau sparing tinju aja. Ini rumah sakit, bukan ring!”

Aluna melipat tangan di dada, menoleh pada Radit. “Pak, bilang ke temen lo, punya muka jangan mupeng. Kayak nggak pernah liat perempuan.”

Radit menepuk dadanya dramatis. “Astaga… Pak? Muka segini segar lo panggil Pak? Panggil Kak Radit aja, biar manis.”

Aluna terkekeh singkat. “Oke deh, Radit. Deal?”

“Deal!” Radit mengulurkan tangan, Aluna menyambutnya.

Dari sofa, Raka bergumam pelan, “Sok akrab…”

Radit menunduk, membisik pada Aluna, “Biarin. Dia memang gitu sama semua cewek. Makanya jomblo abadi.”

Aluna terkekeh lagi. “Pantes… labil.”

Radit tertawa kecil, tapi tawa itu terhenti saat mendengar nada lirih Aluna berikutnya. “Gue nggak punya rumah. Nggak punya keluarga.”

Radit menoleh cepat. “Serius?”

“Ya… diusir. Mereka udah nemuin anak kandungnya.” Senyum tipis terbit di bibir Aluna, tapi matanya tak ikut tersenyum. “Tapi gue masih bisa hidup tanpa mereka.”

Radit terdiam, tak tahu harus membalas apa. Aluna cepat-cepat menarik selimut, memalingkan wajah. “Udah, tidur aja. Besok gue ke rumah temen.”

Radit mengangguk pelan. “Oke… tapi kalau butuh bantuan, bilang.”

Di sofa, Raka memejamkan mata, tapi telinganya menangkap setiap kata. Sorot matanya sedikit berubah.

‘Kalau itu bohong, dia aktris yang sangat meyakinkan,’ pikirnya. Tapi entah kenapa, bagian dalam dirinya… ingin tahu lebih jauh.

Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..

Tiba-tiba saja ponsel yang berada di saku celana Raka bergetar cukup keras. Alisnya mengernyit, mengumpat dengan suara lirih.

“Oh shith..! Siapa yang menelpon malam-malam begini..”

Saat melihat nama yang tertera di ponsel, Raka mendengus kesal. Dia langsung bangkit dan melangkah keluar ruangan dengan cepat, tubuhnya sedikit tegang. Matanya masih membaca nama ’Papa’ terpampang di layar ponsel sebelum menerima panggilan masuk itu.

[Halo.. Pa..]

[Raka..! Kamu dimana sekarang..?! Jam segini belum pulang?]

Suara Dirgantara Wijaya, Ayahnya. Sang penguasa perusahaan sekaligus pria yang paling tidak ingin dihadapi saat ini.

[Jangan lupa besok kita kerumah Pak Ardian..! Membahas perjodohan mu dengan putrinya..!]

Nada tegas dan memaksa dari ayahnya seperti cambuk yang kembali menyakiti hatinya. Raka mengusap wajahnya kasar. ‘Masalah itu lagi. Perjodohan.’ gumamnya dalam hati.

[Pa, aku udah bilang berkali-kali.. Aku gak mau dijodohkan..!] Raka menyandarkan tubuhnya ke dinding, tangan kirinya meremas rambutnya ke belakang dengan kesal, sementara tangan kanan masih memegang ponsel.

[Kalau kamu gak mau dijodohkan, cari istri secepatnya..! Tapi untuk besok, kamu harus datang dulu sampai kamu benar-benar dapat calon istri..!]

[Ck, aku ini udah dewasa, Pa.. Aku CEO.. Bukan anak es-em-ah yang harus terus dalam pengawasan.. Dan malam ini aku gak pulang.. Aku nginep di penthouse..!] Raka berbohong. Tapi demi menghindari masalah baru, itu adalah satu-satunya jawaban cepat yang bisa ia berikan.

Raka melirik ke arah kaca kecil di pintu ruangan VIP, di atas ranjang rumah sakit tempat seorang gadis muda yang masih tak sadarkan diri, sosok yang membuatnya memilih tinggal malam ini.

[Sama siapa? Radit..?! Jangan-jangan kamu dan Radit itu—]

Mata Raka membelalak, buru-buru menjawab dengan suara setengah panik.

[Papa jangan bicara sembarangan..! Aku masih normal..!]

[Ya udah, terserah kamu..! Besok Papa tunggu waktu makan siang..!]

[Iya Pa, iya..]

Klik.

Panggilan terputus.

Raka mendengus keras, membuang napas panjang penuh frustrasi. “Hhhh.. Perjodohan melulu yang dibahas..” gumamnya kesal.

Namun, tiba-tiba saja sebuah ide tiba-tiba muncul dalam pikirannya. ‘Apa aku cari pacar kontrak aja ya..?! Tapi.. Siapa perempuan yang akan jadi pacar kontrak ku..?!’ gumamnya dalam hati.

Langkah Raka kembali masuk kedalam ruangan VIP, seketika itu pandangannya tertuju pada Aluna..

‘Apa dia saja..?!’ tanyanya dalam hati.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Cynta
hmm.. mungkin yaa..
goodnovel comment avatar
Cynta
hmm.. mungkin ya?
goodnovel comment avatar
QueenShe
Jangan-jangan yang mau di jodohin Raka itu????
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Putri Terbuang itu Istri Sah CEO   Bab 201 Puncak kebahagiaan

    Beberapa bulan berlalu dengan cepat, membawa Raka dan Aluna semakin dekat menuju hari kebahagiaan yang mereka nantikan. Aluna kini tinggal sepenuhnya di Mansion yang telah disiapkan Raka, dilengkapi dengan fasilitas dan pengamanan terbaik, serta perawat dan bidan khusus yang siaga 24 jam untuk kehamilan quadrupletnya. ​Selama masa kehamilan yang berat ini, Raka benar-benar membuktikan julukannya sebagai King pelindung. Ia memangkas jadwal kerjanya, sering mengambil rapat online dari rumah, memastikan ia selalu berada di dekat Aluna. Raka menepati janjinya pada Dokter Clara untuk menjaga keintiman secara aman. ​Di malam hari, keintiman mereka mencapai level yang baru dan mendalam. Raka akan menghabiskan waktu berjam-jam memijat kaki Aluna yang membengkak karena membawa beban empat janin. Ia akan membelai perut Aluna yang kini sangat besar dengan penuh cinta dan kekaguman, bibirnya berbisik penuh janji-janji mesra pada empat calon pewarisnya. ​Suatu malam, Raka berbaring miring, wajah

  • Putri Terbuang itu Istri Sah CEO   Bab 200 Perayaan kebagian

    ​Satu bulan telah berlalu sejak masalah pengkhianatan dan penangkapan itu. Kekuatan cinta dan kebersamaan telah mengalahkan segala masalah yang mereka hadapi. Raka dan Aluna sepakat untuk merayakan kebebasan Alvian di Mansion Keluarga Aluna, sebuah janji simbolis bahwa Alvian telah kembali pulang ke keluarga, siap memulai babak baru. ​Saat mobil hitam Raka memasuki gerbang mansion yang megah, Aluna, yang duduk di kursi penumpang dengan sabuk pengaman yang disesuaikan untuk kehamilannya, tersenyum lebar. Kehamilannya sudah mulai terlihat, menjadi bukti nyata dari janji cinta mereka. Raka mencium pipinya, memancarkan kebahagiaan dan gairah yang terpendam. ​“Siap membuat Papa dan Mama lo pingsan karena kabar baik, sayang?” bisik Raka, matanya penuh gairah yang hanya bisa ia tunjukkan kepada istrinya. ​Aluna tertawa, tawanya merdu. “Mereka pasti akan senang melihatmu, Raka, meskipun mereka akan terkejut mendengar kehamilan ku yang kembar empat.” ​Di dalam mansion, suasana penuh kebaha

  • Putri Terbuang itu Istri Sah CEO   Bab 199 Kebahagiaan di tengah kekacauan

    ​Setelah Alvian dan Pak Aditya dibawa pergi, Raka dengan perlahan mendorong kursi roda Aluna kembali ke kamar VVIP. Ia memastikan ruangan sekitar aman dengan menempatkan beberapa bodyguard yang sangat terpercaya di depan ruangan.“Pastikan tidak membiarkan siapapun masuk, bahkan perawat dan dokter sekalipun, tanpa izin langsung dari saya!”“Baik Pak Raka..”​Begitu pintu kamar tertutup, Raka menguncinya, menjauhkan mereka dari dunia luar yang penuh bahaya dan kekacauan. Ia mengangkat Aluna dari kursi roda dengan hati-hati, memeluknya ke dada.​“Kita aman, Sayang. Hanya kita berdua sekarang,” bisik Raka, menciumi rambut Aluna yang harum. Raka membawa Aluna ke ranjang, membaringkannya perlahan, lalu naik ke ranjang, memposisikan dirinya di samping Aluna, menyandarkan istrinya ke lengan kokohnya.​“Gua takut sekali, Raka,” bisik Aluna, suaranya serak. Ia memeluk pinggang Raka, merasakan setiap lekuk tubuh suaminya, mencari kehangatan dan kep

  • Putri Terbuang itu Istri Sah CEO   Bab 198 Wajah sang pengkhianat

    ​Suara tembakan itu memecah keheningan di koridor rumah sakit, menggantikan suasana tegang menjadi kepanikan sesaat. Peluru itu mengenai bahu pria yang mencoba menembak Raka, yang segera tersungkur.​Seseorang tertembak.​Raka dan Aluna saling berpandangan, dengan kompak saling bertanya, “Kamu baik-baik saja?!”​“Lo nggak apa-apa, Sayang?” Raka memutar tubuh Aluna, memeriksa apakah ada goresan atau cedera.​Aluna menggeleng cepat. “Aku aman, Raka. Tapi kamu..” Air mata kembali menetes di pipinya. Ia menarik Raka, mendekapnya erat dari kursi roda, menciumi dada Raka untuk memastikan keberadaannya.​“Kalian baik-baik saja?!” Radit yang segera berlari menghampiri, pistolnya masih siaga.​Tidak lama Alvian pun juga menghampiri, diapit oleh polisi. “Kalian tidak ada yang terluka, kan?!” tanyanya cemas.​“Kami baik-baik saja..” Raka menghela napas panjang, membalas pelukan Aluna erat sebelum melepaskannya perlahan. “Tapi siapa

  • Putri Terbuang itu Istri Sah CEO   Bab 197 Firasat Buruk

    ​“Baiklah,” Raka akhirnya mengalah. “Tapi ini di bawah pengawasan dan pengawalan gua dan Radit. Tidak ada pergerakan berlebihan, tidak ada kelelahan, dan hanya sepuluh menit. Setelah itu, lo kembali ke sini dan istirahat.”“Iya Raka, gua terima syarat lo.. Makasih sayang..” suara Aluan terdengar lega dan manja. ​Raka mencium bibir Akuna sesat lalu menghubungi Radit dan Kapten Polisi yang menangani kasus Kayla dan Alvian.​Raka menggunakan pengaruh dan koneksinya, menekankan kondisi psikologis Alvian yang membutuhkan konfirmasi langsung dari kembarannya dan menyatakan bahwa kondisi Aluna aman. Ia juga meyakinkan Kapten Polisi bahwa Alvian akan segera bebas dan akan bergabung dengan Wijaya Global, menjamin bahwa Alvian tidak akan melarikan diri.​Setelah negosiasi yang cukup sulit, Kapten Polisi setuju karena Radit juga akhirnya menghubungi dan menunjukkan jaminan atas kebebasan Alvian yang sedang dalam proses hukum. Mereka akhirnya setuju membawa Alvian ke rumah sakit dengan pengawala

  • Putri Terbuang itu Istri Sah CEO   Bab 196 Bagaimana kondisi Aluna? 

    ​Raka tiba di rumah sakit terdekat dengan mobil polisi, membopong Aluna erat-erat ke dadanya. Petugas medis segera menyambut mereka, dan Aluna langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Raka, dengan wajah panik dan tegang, berusaha mengikuti.​"Maaf, Pak, Anda tunggu di luar saja," kata seorang perawat.​"Saya suaminya! Saya harus di sana!" bentak Raka, suaranya dipenuhi otoritas dan kecemasan. Kekhawatiran akan kondisi Aluna, terutama keempat janin mereka, mengalahkan segalanya.​Dokter yang akan memeriksa Aluna melihat ketegasan dan kepanikan di mata Raka dan menghela napas. "Baiklah, tapi Anda harus tenang dan tidak membuat gaduh di dalam. Kami perlu fokus."​"Saya janji, Dok," jawab Raka cepat, mengikuti langkah brankar Aluna.​Raka mendampingi Aluna, menggenggam erat tangan wanita itu. Di tengah kepanikan dan rasa sakit yang menusuk, genggaman Raka adalah satu-satunya jangkar yang menahan Aluna. Dokter mulai memeriksa, memastikan tidak ada cedera fisik yang serius, dan yang paling pen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status