เข้าสู่ระบบbab 20 Pov Melati
Aruna menarik-narik baju yang kupakai. Tingkah bocah yang berumur hampir dua tahun itu begitu menggemaskan.
Hari ini, rencananya aku akan mengajak Aruna menghadiri sidang ke pengadilan.
Beberapa hari setelah Ibu dan perempuan itu hampir mempermalukanku di toko.
Seorang pegawai berseragam hijau mengantarkan sepucuk surat.
Mas Agung benar-benar menepati perkataannya.
Putri kecilku sudah kudandani dengan rapi.
Rambutnya yang mulai tumbuh, kukuncir dua. Lucu sekali, jika ia berlari maka kuncir itu akam ikut bergerak.
"Nah, anak ibu sudah cantik. Tunggu di sini dulu, ya!" Aku memintanya duduk di tempat tidur sementara aku bersiap-siap.
"Alan-alan," bocah itu bertepuk tangan dengan semangat.
Aku tersenyum dibuatnya. Aruna mengira kami akan pergi jalan-jalan.
Andai Aruna besar nanti, apa dia akan mengerti perpisahan ini?
Sebuah dres berwarna biru dengan potongan di bawah lutut, kupakai untuk menghadapi hari yang berat ini.
Tak perlu dandan berlebih, aku hanya memoles bedak tipis dan lipstik berwarna nude pada bibir ini.
Setidaknya, aku tidak boleh terlihat lesu di hadapan mereka.
Meskipun saat ini kurasakan hatiku remuk redam.
Siapa yang menyangka aku akan menjadi janda di umurku yang sekarang.
"Ayo, sayang kita berangkat!"
Kugandeng tangan kecil itu lalu melangkah ringan.
"Kamu beneran mau pergi, Nduk?" tanya Bu Ratmi begitu melihatku keluar kamar sudah dalam keadaan rapi.
Nada suara itu terdengar khawatir, aku memang meminta beliau untuk tinggal di rumah saja.
"Insyaallah, Bu! Aku berangkat dulu! Doakan Melati ya, Bu!"
Sesaat kami berpelukan erat, kuhapus titik air sudut mata ibu.
Terima kasih, Bu. Sudah menyalurkan energi positif kepadaku.
Kalau bukan Bu Ratmi, siapalah lagi?
Aruna tidak sabar begitu melihat taksi yang kupesan sudah siap di depan rumah.
Bismillah....Lindungi dan lancarkan urusanku, Ya Allah!
Sepanjang perjalanan, Aruna sibuk berceloteh saat melihat gedung-gedung seolah berlari mengejarnya.
"Ta gi aik obing. Hole...." Bahasa planet yang keluar dari bibir mungilnya sungguh menggemaskan.
Gegas kucubit pipinya sampai Aruna geli.
Tidak lama, taksi yang kami tumpangi memasuki pelataran.
Sebuah gedung berdiri tegak di hadapanku, entah mengapa banyak orang berjubel di tempat yang membuat orang berpisah ini.
Kuhela napas berkali-kali, bahkan tangan ini memerah gara-gara aku mencubitnya sendiri, sengaja.
Namun, tetap saja ini bukan mimpi.
Mataku bergerak liar mencari ruangan yang sesuai pada surat undangan.
"Runa, mainan yang anteng dulu, ya!" Kukeluarkan boneka kesukaannya yang kubawa, berjaga kalau ia mulai rewel.
Mas Agung belum juga muncul padahal sidang di mulai 15menit lagi.
Hari ini agenda putusan, kami masih punya waktu untuk mencabut perkara, sebelum hakim mengetuk palu.
Apa mungkin Mas Agung berubah pikiran?
Tiba-tiba Aruna melorot dari kursi tempat duduknya.
Lalu kaki kecil itu melangkah mendekati seseorang di depan sana.
Aku tertegun, netra ini mengabut ketika melihat pemandangan di depanku.
Aruna menghampiri Mas Agung yang berjalan dari kejauhan.
Gadis kecil itu merentangkan tangan pada ayahnya.
"Ya...aya...ya...." celutuknya terdengar sampai ke telinga.
Namun, Mas Agung hanya menjawil pipi itu pelan, tanpa berniat menyambut pelukan sang anak.
Dada ini serasa diremas kuat, napasku naik turun memendam emosi.
'Bisa-bisanya dia mengacuhkan anaknya sendiri?'
Tak sepatah katapun keluar dari mulut itu.
Bahkan ketika Aruna menarik tangannya, Mas Agung terus melenggang.
Bu Sri yang berjalan di sampingnya, tak kalah acuh.
Wanita bersanggul tinggi itu sudah mau pergi ke kondangan saja dengan perhiasan yang melekat di tubuhnya.
"Ayo, Gung, kita duduk di sana saja!" tangannya bergegas menarik Mas Agung.
Sengaja, agar laki-laki yang masih sah suamiku itu tidak duduk di dekatku.
Mereka melewati Aruna yang masih berdiri, begitu saja.
Apa pantas perlakuan seorang ayah dan nenek seperti itu? Bahkan pada anak yang belum mengerti apa-apa.
"Aruna, kok deket-deket sama orang jahat?" seruku dengan nada sedikit keras sambil berjongkok di dekatnya.
Masih bisa kulihat, Ibu mendelik ke arahku.
Biarkan saja! Aku tidak peduli! Sakit hati ini Aruna diacuhkan ayah dan neneknya sendiri.
"Perkara no 3, silahkan masuk ruang 1"
Begitu nomor perkaraku dipanggil, gegas aku masuk ke ruang yang di maksud sambil menggendong Aruna tentunya.
Aku tidak mungkin meninggalkannya di luar, bersama orang tidak tahu diri itu.
Meski ada Mbak Eka, tapi aku tidak yakin kakak iparku itu mampu melindungi Aruna dari Ibu.
Mas Agung menyusul di belakang, setelah berbicara pada ibunya.
"Silahkan, Pak Agung mengucap talak di depan majelis Hakim," perintah Hakim Ketua setelah Mas Agung menolak pencabutan perkara.
Itu artinya, dia tetap menginginkan perceraian ini.
Kami saling menatap untuk terakhir kalinya sebagai suami istri.
Aku masih berusaha mencari sisa cinta itu di matanya, tapi nihil.
Dia bukan lagi suamiku yang dulu.
Aku nyaris tak mengenal lelaki yang berdiri dihadapanku saat ini.
Aruna ikut meronta dalam gendonganku, seakan gelisah.
Anakku menangis keras sesaat setelah Mas Agung mengucap kata sakral itu.
Mantan suamiku itu buru-buru membuang muka, lalu duduk kembali di kursinya.
Inikah akhirnya, Ya Allah?
Sebuah senyum kuulas pada para Hakim yang terus membacakan putusannya
Otakku seakan membeku, begitupun hati ini.
Airmata yang coba kutahan lolos satu persatu.
Tak kupedulikan lagi kata-kata mereka selanjutnya.
Aku sudah lelah!
Bahkan ketika hakim menanyakan kesanggupan Mas Agung untuk menafkahi Aruna tiap bulan, aku tidak menuntutnya sama sekali.
Ayah dari anakku itu menjawab, "Saya hanya sanggup memberikan nafkah sebesar 300ribu setiap bulan,"
Seketika aku menoleh, sambil menarik sebelah bibirku.
"Hanya segitu kemampuanmu, Mas? Apa sebanding dengan harta yang kau punya?" lirihku.
Namun, dari awal suamiku dan keluarganya mengaku orang biasa demi lepas dari tanggung jawab.
Begitu yang diucapkan ibu mertuaku berkali-kali saat dia menjadi saksi sidang.
"Bagaimana, Bu Mela? Apa anda menerima atau akan mengajukan banding?" tanya hakim kemudian.
Aku mengangguk begitu saja.
"Sudah cukup! Akan kubuktikan aku masih mampu menafkahi Aruna!" batinku.
"Baiklah, perkara ini resmi saya tutup!"
Tok...tok...tok....
Suara palu diketuk itu terdengar merdu di telinga.
Aku meninggalkan ruang sidang dengan kepala tegak, kuciumi berkali-kali wajah Aruna hingga anak itu tergelak.
Ternyata di luar ruang sidang, sudah ramai.
Netraku menyipit ketika Ibu menghampiri Mas Agung yang berjalan di belakangku.
Mantan ibu mertuaku itu menggandeng tangan seorang wanita.
Wanita itu? Wanita yang datang bersama ibu ke toko tempo hari.
Wajahnya melengos saat melewatiku.
Apa wanita itu datang untuk menyemangati Mas Agung yang nampak lesu setelah keluar dari ruang sidang?
"Tunggu, Mel! Mas mau bicara!" Suara bariton itu keluar juga dari bibirnya.
bab 23 Pov MelatiAku meraih paket itu dengan penasaran."Paket apa ini? Seingatku, aku tidak pernah memesan barang apapun," Kugoncang-goncangkan kardus itu sedikit keras.Aneh....Tidak ada suara apapun, tapi paket itu terasa berat."Paket dari siapa, Bu? Wah, ibu habis belanja, ya?" Eni menghampiriku yang masih terdiam.Aku hanya mengedikkan bahu."Nggak tahu, En! Seingatku, aku tidak membeli apa-apa!""Tapi paket ini ada nama ibu dan juga alamat toko kita, Bu!" Eni membolak-balikkan paket itu.Daripada kami semakin penasaran, gegas kuambil gunting, lalu membukanya hati-hati.Takut isinya barang penting.Aku meletakkan kardus itu di meja lalu membukanya.Eni yang duduk di sampingku, nampak tidak sabar juga.Begitu kubuka kardus itu...."Astagfirullah...." pekik kami bersamaan.Eni bahkan sampai meloncat dan menjauh.Karyawan yang lain ikut mengerumuni kami, sambil mencari tahu."Ada apa, sih?" tanya Seli."Iya...iya....kenapa?" bisik yang lain."Apaan tu? Paket ya? Jangan-jangan isin
bab 22 Pov Liana"Ah....Kurang ajar!" Umpatku dalam hati.Lalu menghempaskan bobot tubuh ini di kursi ruang tamu dengan sedikit keras.Berharap laki-laki di sebelahku akan memperhatikan, tapi nihil dia menoleh pun, tidak.Mas Agung malah seperti orang melamun.Sedari perjalanan pulang, mukanya tertekuk, dengan tangan memijit pelipis sesekali."Benar-benar si Melati!" Bu Sri angkat suara begitu kami tiba di rumah."Bagaimana bisa dia merayumu, Gung? Wanita tidak tahu malu! Setelah perbuatannya, masih berani dia mendekatimu? Cckkk...."Calon mertuaku itu berdecih."Gung....Agung!" Dengan nada tinggi, dia menegur Mas Agung, yang masih melamun saja."Sudahlah, Bu! Melati tidak menggodaku! Aku hanya mengucapkan salam perpisahan pada Aruna tadi!" kilah laki-laki itu tanpa menatap ibunya."Yang benar saja, kau! Jelas-jelas tadi ibu lihat dia berusaha memelukmu. Tidak tahu malu!" sembur tante Sri lagi.Napasnya naik turun menahan emosi.Gegas Mbak Eka memberikan segelas air putih padanya."Mu
"Ada apalagi?"Melati membalikkan badan, menatap malas orang-orang di depannya."Yang sopan kalau bicara sama sua-" Sahut Sri cepat, tapi ia buru-buru menutup mulutnya lagi.Wanita itu mengernyitkan dahi ketika Sri menghentikan ucapannya."Apa ibu lupa? Kalau aku bukan istri Mas Agung lagi?"Agung berusaha meraih tangan mantan istrinya itu, tapi wanita di sampingnya buru-buru mencegahnya.Liana mengapit erat lengan Agung, seakan takut laki-laki itu berubah pikiran."Kamu tidak perlu takut begitu!" Melati menatap tajam pada Agung dan Liana yang nampak slah tingkah."Siapa juga yang takut? Jelas-jelas Mas Agung sudah menentukan pilihannya!" Ujar Liana sambil mengibaskan rambut."Dan dia memilihku! Paham kamu?"Walaupun sesak di dadanya kian menyeruak, tapi Melati berusaha tegar.Bersedih, hanya akan membuatnya lemah."Silahkan saja! Kalau dia memang benar memilihmu! Tidak ada lagi urusannya denganku!"Melihat Melati mendekat, gadis itu mundur selangkah, tangannya kian erat merangkul len
bab 20 Pov MelatiAruna menarik-narik baju yang kupakai. Tingkah bocah yang berumur hampir dua tahun itu begitu menggemaskan.Hari ini, rencananya aku akan mengajak Aruna menghadiri sidang ke pengadilan.Beberapa hari setelah Ibu dan perempuan itu hampir mempermalukanku di toko.Seorang pegawai berseragam hijau mengantarkan sepucuk surat.Mas Agung benar-benar menepati perkataannya.Putri kecilku sudah kudandani dengan rapi.Rambutnya yang mulai tumbuh, kukuncir dua. Lucu sekali, jika ia berlari maka kuncir itu akam ikut bergerak."Nah, anak ibu sudah cantik. Tunggu di sini dulu, ya!" Aku memintanya duduk di tempat tidur sementara aku bersiap-siap."Alan-alan," bocah itu bertepuk tangan dengan semangat.Aku tersenyum dibuatnya. Aruna mengira kami akan pergi jalan-jalan.Andai Aruna besar nanti, apa dia akan mengerti perpisahan ini?Sebuah dres berwarna biru dengan potongan di bawah lutut, kupakai untuk menghadapi hari yang berat ini.Tak perlu dandan berlebih, aku hanya memoles bedak t
Sri berdiri lalu mengapit lengan Liana yang masih terheran-heran."Kenapa ibu malah mengajakku kesini?" batinnya."Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" seorang pegawai mendatangi pengunjung yang baru saja memasuki toko itu.Sri mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang."Sore. Saya mau beli kue. Apa kue yang paling mahal di sini?" Wanita yang berdiri bersama Liana itu sengaja mengeraskan suaranya.Pengunjung toko yang sedang ramai sampai menoleh ke arah mereka.Liana menjadi sedikit sungkan."Besar juga toko ini! Tidak mungkin kalau Melati pemiliknya!" batin Sri."Mari, Bu! Silahkan! Kami mempunyai red velvet cake yang sedang menjadi favorit!" Eni-pegawai toko itu menunjukkan beberapa cake yang nampak menggoda.Sri sebenarnya tidak terlalu menyukai kudapan manis itu.Dia datang hanya untuk membuktikan perkataan Agung tempo hari."Ya, sudah Mbak. Kami pesan itu saja 2 ya!"Liana yang menjawab pertanyaan itu.Mereka lalu duduk di kursi yang sudah pegawai itu tunjukkan.Lia
"Kenapa perempuan itu masih saja berkeliaran di sekitar Agung? Apa dia tidak kapok bermain-main denganku?"Aku mencengkeram gagang telepon dalam genggaman. Otakku terus berpikir bagaimana caranya mempercepat perceraian mereka?Dulu, aku sudah menentang saat Agung akan menikahinya.Namun, anak laki-lakiku itu memang keras kepala.Bahkan dia mengancam akan pergi kalau tidak merestuinya.Terpaksa pernikahan itu terjadi juga, gagal sudah rencanaku untuk menjodohkan Agung dengan Liana, putri sahabat baikku dulu.Sekarang, aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak rencanaku lagi."Halo, Liana. Apa kabar, Nak?" sapaku pada seseorang di ujung telepon."Halo, Bu! Alhamdulillah, Liana baik. Ibu apa kabar? Mbak Eka?" suara itu terdengar ramah."Baik, semua baik. Kamu tidak menanyakan kabar Agung?" aku terkekeh membayangkan wajahnya yang pasti sudah memerah."Ah iya, Bu. Mas Agung dan istrinya." Telingaku bisa mendengar helaan napasnya."Bagaimana kabar mereka? Aku dengar mereka baru saja dik







