Share

Bab 174

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-10-30 22:20:21

“Chandani, duduk!” suara Profesor Ifanus terdengar tegas ketika melihat putrinya masih berdiri.

Suasana restoran yang semula terasa nyaman mendadak berubah tegang. Di salah satu meja yang berada agak jauh dari keramaian, Profesor Ifanus duduk dengan wajah serius. Di hadapannya terdapat segelas air mineral yang sejak tadi tidak disentuh. Sementara itu, istrinya duduk di sampingnya dengan ekspresi tidak kalah kecewa.

Chandani duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Sesekali ia melirik Duna ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
nah itu dah dijelasin chandani gimana Duna dunk itu memperlakukan anak gadis kalian???trus masih dimaklumi? sakit sih ortunya... gila, aku kalo diposisi chandani mending kabur deh. kawin lari Ama Noval. ortunya sok paling sempurna ih... hihhh. mksh updatenya kakak syng:)
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 179

    “You have no idea how much those words mean to me. Thank you for seeing me beyond my past and accepting me for who I am. I never expected someone to understand me this way, but I'm grateful that it's you. And I hope you know that choosing you is something I would never regret.” jawab Noval sambil tersenyum. (Kamu tidak tahu betapa berartinya kata-kata itu bagiku. Terima kasih karena melihat diriku lebih dari sekadar masa laluku dan menerimaku apa adanya. Aku tidak pernah menyangka seseorang akan memahamiku seperti ini, tetapi aku bersyukur orang itu adalah kamu. Dan aku harap kamu tahu bahwa memilihmu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kusesali.) “Tapi Sayang, kayaknya jalan kita lebih terjal di banding orang lain. Kamu tidak keberatan?” “Mas mau jalan kita nanti berliku-liku, naik turun, mendaki gunung, lewati lembah, juga aku nggak peduli. Asal aku sama kamu.” jawab Chandani dengan mantap. Noval tidak menyangka jika Chandani yang terlihat kalem, manis akan mengatakan ka

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 178

    Chandani menundukkan kepala. Sejak tadi, perempuan itu tampak sibuk memainkan jemarinya di atas pangkuan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi ia seperti kesulitan menemukan kalimat yang tepat.Noval yang duduk di sampingnya tidak terburu-buru bertanya. Ia membiarkan Chandani mengumpulkan keberanian untuk bercerita."Ibu dan Bapak mengundang Duna," ujar Chandani akhirnya."Mereka ingin aku baikan sama Duna. Intinya, mereka berharap aku dan Duna bisa kembali seperti dulu. Mungkin mereka berpikir kalau aku dan Duna kembali bersama, hubunganku dengan Mas Noval juga akan berakhir."Ada sesuatu yang mengganjal di dada Noval mendengar nama itu. Laki-laki yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Chandani dan rupanya masih memiliki tempat dalam pertimbangan kedua orang tuanya.Namun, Noval tidak ingin buru-buru bereaksi. Ia tahu, kecemburuan sering kali membuat seseorang mengambil kesimpulan tanpa memahami keadaan sebenarnya. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang membuat Chandani meras

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 177

    Pagi itu, udara di taman kota masih terasa sejuk. Embun membasahi rerumputan, sementara beberapa orang tampak sibuk melakukan aktivitas olahraga. Ada yang berjalan santai, bersepeda, dan sebagian lainnya berlari mengelilingi jalur pedestrian yang membelah taman.Noval sudah berlari hampir empat puluh menit.Kaos olahraga berwarna hitam yang dikenakannya mulai sedikit basah oleh keringat. Napasnya teratur, langkah kakinya mantap, dan sesekali ia mengusap keringat di pelipisnya.Namun, ada satu hal yang mengganggu konsentrasinya sejak tadi..Noval menghembuskan napas panjang. Sialnya, berlari ternyata tidak cukup ampuh untuk membuatnya berhenti memikirkan Chandani.Justru semakin lama ia berlari, semakin banyak hal yang muncul dalam pikirannya. Terutama sikap Chandani semalam. Noval tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan Chandani.Noval memperlambat langkah, kemudian berhenti di dekat bangku taman. Ia duduk sambil mengatur napas. Tangannya meraih botol air mineral berukuran kecil yang

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 176

    Malam semakin larut. Jam dinding di kamar Chandani menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Sejak mengakhiri panggilan dengan Noval, perempuan itu belum juga bisa memejamkan mata.Ia berbaring terlentang dengan kedua mata menatap langit-langit kamar. Ponselnya tergeletak di samping bantal, sesekali menyala karena notifikasi yang masuk.Pikirannya masih dipenuhi kejadian di restoran sore tadi.Perkataan ibunya. Sikap ayahnya. Kehadiran Duna. Semuanya berputar-putar di kepalanya.Chandani membalikkan tubuh, kemudian menarik selimut hingga sebatas dada.Ia sebenarnya ingin menghubungi Noval lagi. Ingin mendengar suara laki-laki itu, bercerita tentang hari yang melelahkan, dan membiarkan dirinya mengeluh seperti biasanya.Namun, ada sesuatu yang menahannya. Chandani teringat bagaimana Noval sempat bertanya apakah pertemuannya hanya dihadiri kedua orang tuanya.Chandani lalu menyesal, mengapa ia tadi berbohong?Sejujurnya, Chandani tidak ingin menambah beban pikiran Noval. Belakan

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 175

    Chandani melangkah cepat meninggalkan restoran. Wajahnya tampak masam, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Pertemuan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk berbicara baik-baik dengan kedua orang tuanya justru berubah menjadi sesuatu yang membuat emosinya terkuras.Ia masih tidak habis pikir bagaimana ibunya dan ayahnya bisa dengan mudah membandingkan Noval dengan Duna. Seolah-olah hubungan masa lalunya dengan laki-laki itu merupakan sesuatu yang harus kembali dipertimbangkan.Padahal, Chandani sudah mengambil keputusan. Ia tidak ingin kembali ke masa lalu."Ichan!"Suara Duna terdengar dari belakang.Chandani tidak menoleh. Ia terus berjalan melewati deretan kendaraan yang terparkir di depan restoran. Namun, beberapa detik kemudian, Duna berhasil menyusulnya dan meraih lengan perempuan itu."Chan, tunggu dulu."Chandani menghentikan langkah. Ia langsung menghempaskan tangan Duna dari lengannya."Jangan pegang-pegang aku."Duna terdiam sesaat. Ia menghembuskan napas p

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 174

    “Chandani, duduk!” suara Profesor Ifanus terdengar tegas ketika melihat putrinya masih berdiri.Suasana restoran yang semula terasa nyaman mendadak berubah tegang. Di salah satu meja yang berada agak jauh dari keramaian, Profesor Ifanus duduk dengan wajah serius. Di hadapannya terdapat segelas air mineral yang sejak tadi tidak disentuh. Sementara itu, istrinya duduk di sampingnya dengan ekspresi tidak kalah kecewa.Chandani duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Sesekali ia melirik Duna yang berada di sampingnya. Sejak beberapa menit terakhir, pembicaraan mereka semakin jauh dari tujuan awal makan malam itu.Chandani menghembuskan napas panjang, berusaha menahan kekesalan."Kamu sekarang sudah pintar melawan, ya?" Profesor Ifanus menatap putrinya tajam. "Apa karena terlalu banyak bergaul dengan Noval?"Chandani mengernyit. "Kenapa Bapak jadi bawa-bawa Mas Noval?""Karena sejak mengenal laki-laki itu, kamu jadi sulit dinasihati!""Bapak tahu apa tentang Mas Noval?" Chandani membal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status