LOGIN“Aduh.” Chandani mengaduh - sebal, saat melihat rantai sepedanya putus. “Udah laper, bubur ayam tutup, ini malah rantai sepeda ikutan putus. Gimana pulangnya ini.”
Chandani mencoba memperbaiki sepedanya dan tidak berhasil. Rantai sepedanya benar-benar putus. “Arrgghh.” Chandani berteriak frustasi. “Tahu gini aku tadi masak telur aja di apartemen.” Noval memperhatikan smartwatch yang terpasang di tangan kirinya. Angka di sana sudah menunjukkan 5 KM. Dia mengistirahatkan kakinya sejenak sebelum kembali berjalan ke parkiran mobil. Dari kejauhan matanya menangkap seorang wanita yang dia kenal. Wanita itu terlihat sedang memperbaiki sepeda yang rusak. "Mbak Chandani, butuh bantuan?" Wanita itu menoleh ke arah Noval. "Lho, pak Noval. Ini pak, rantainya putus." “Bawa masuk ke mobil saya aja mbak. Saya antar ke bengkel.” "Eh, nggak perlu pak. Apartemen saya di dekat sini kok." Noval ikut jongkok disebelah Chandani. “Nggak papa, saya antar saja." “Merepotkan pak Noval nanti.” “Tidak, tenang saja. Keburu siang nanti mbak.” Chandani akhirnya mengiakan permintaan Noval. Noval membantu Chandani menuntun sepedanya. Dari dekat, wajah Noval terlihat sangat tampan. Badan bagus, wajah tampan dan pekerjaan mapan. Sebuah kombinasi yang menggetarkan jiwa. Mikirin apa sih Chandani. Chandani segera menepis pikiran-pikiran anehnya. "Setiap hari sepedahan ya mbak?" "Iya pak. Cuma hari ini agak apes aja sih. Sudah bubur ayam langganan tutup, rantai sepedanya pakai putus segala. Mana klinik hari ini buka lebih pagi." "Ada acara?" "Ada pasien yang nanti siang mau berangkat ke Jepang pak. Sebelum berangkat, mau cek kondisi lututnya dulu. Tiga tahun yang lalu pernah operasi meniscus. Jadi rutin fisioterapi, dan ini maraton pertama kalinya setelah tiga tahun." Noval memperlambat jalannya. Dia melihat Chandani mulai berjalan jauh di belakangnya. "Mbak Chandani suka ikut marathon?" "Saya?" Chandani menunjuk dirinya sendiri. Noval mengangguk. Chandani menggelengkan kepala. "Tidak mampu saya pak." "Kalau jogging?" "Jogging masih bisa, tapi nggak bisa terlalu lama juga. Pak Noval suka maraton?” “Beberapa kali ikut event marathon.” “Wah, keren sekali.” Kini Chandani tahu dari mana tubuh bugar itu berasal. Chandani tersenyum, sepertinya Noval adalah orang yang hobi olahraga. Sedangkan dirinya, sedikit kurus dan tampak tak bertenaga. "Mbak Chandani ini nanti langsung ke bengkel sepeda saja ya?" "Ke apartemen saya saja pak. Dekat kok dari sini. Nanti saya antar sendiri ke bengkel sepedanya." "Malah bolak-balik ntar. Langsung ke bengkel saja ya?" “Saya makin merepotkan pak Noval.” “Mbak, kecuali kamu minta saya bawa sepeda ini ke puncak gunung Merapi. Baru itu merepotkan.” Chandani tertawa pelan. Sebenarnya ucapan Noval tidak lucu, tapi anehnya dia malah tertawa. “Terima kasih ya pak Noval. Maaf merepotkan.” “Bilang merepotkan sekali lagi saya bawa kabur sepedanya.” Meskipun dengan perasaan tidak enak. Chandani akhirnya menuruti permintaan Noval. Noval benar, kalau ke apartemen dulu, Chandani hanya akan membuang-buang waktu karena harus bolak-balik. Mobil Toyota Land Cruiser melaju menuju bengkel sepeda yang berjarak 2 KM dari taman kota. Hanya dalam waktu lima menit, rantai sepeda milik Chandani sudah berhasil di ganti. Chandani melihat Noval yang sedang memainkan handphone. Bahkan dari samping, laki-laki itu terlihat sangat tampan. "Pak Noval, terima kasih ya sudah di antar ke bengkel." Noval membuka pintu bagasi. "Masukin lagi sepedanya. Saya antar ke apartemen." "Saya naikin saja pak sedenya. Ngerepotin pak Noval terus dari tadi." "Saya santai kok. Yuk, keburu siang." Tanpa aba-aba Noval segera memasukkan sepeda lipat milik Chandani ke bagasi. Dia lalu membukakan pintu mobil untuk Chandani. Jujur saja, perhatian Noval hari ini membuat jantung Chandani berdebar kencang. Setelah putus dari Aduna, Chandani mengurangi kontak dengan lawan jenis. Selama ini laki-laki yang sering menghubunginya hanyalah kakak dan ayahnya. Setiap kali dia didekati lawan jenis, dia akan menghindar. Tapi dengan Noval, perasaannya berbeda. “Beli bubur ayam dulu ya? Buat sarapan kamu.” Chandani terdiam, masih mencoba memproses kata-kata Noval barusan. Untuknya? “Tadi katanya bubur langganan kamu tutup. Aku tahu bubur ayam yang enak dekat sini.” Noval menepikan mobilnya di dekat bundaran. “Serius saya nggak enak sama pak Noval. Karena merepotkan terus dari tadi.” “Bubur ayamnya mau pakai daun bawang dan kacang nggak?” “Tanpa daun bawang.” jawab Chandani spontan. Dia langsung menutup mulutnya. Bisa-bisanya dia langsung menjawab seperti itu. “Oke, tunggu sebentar ya.” Laki-laki bertubuh tinggi itu berlari menyeberangi jalan. Jalanan Jogja sudah mulai ramai dengan anak-anak berangkat sekolah. Chandani hanya bisa terdiam di dalam mobil sambil melihat punggung Noval dari kejauhan. Sebenarnya, dia masih bingung. Kenapa Noval begitu baik kepadanya? Apakah Noval memang sosok yang baik dengan semua orang? Noval membawa dua kantong plastik bubur ayam. Satu untuknya dan satu untuk Chandani. “Selera kita sama. Saya juga kurang suka daun bawang mentah.” “Buat saya, rasanya aneh. Gimana ya, kayak tertinggal di mulut. Sudah minum pun tetap tertinggal di mulut.” Noval mengacungkan dua jempol. “Betul sekali. Tapi kalau daun bawangnya dimasak saya tidak masalah. Oh iya, kamu suka makan daun kucai mentah tidak?” Chandani menggelengkan kepala. “Akhirnya ketemu orang yang satu frekuensi.” Noval mengajak Chandani adu kepalan tangan. Chandani menyambut dengan senyuman. Mobil Noval berhenti di depan gedung delapan lantai. Chandani tinggal di apartemen studio dengan luas 21 M. Meskipun tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tinggal sendiri. Chandani segera melepas sabuk pengaman ya. “Terima kasih pak Noval. Maaf merepotkan." "Tidak kok. Santai aja." Noval ikut keluar dari mobil. Noval mengeluarkan sepeda milik Chandani dari dalam bagasi. Setelah berpamitan pulang, Noval memastikan Chandani masuk ke lobi apartemen sebelum beranjak pergi. Setelah Chandani tak terlihat lagi dari luar, Noval akhirnya mulai meninggalkan gedung delapan lantai tersebut. Sampai ketemu lagi Chandani. Ucapnya dalam hati.Hari Sabtu akhirnya datang. Sudah sepuluh hari Chandani tidak bertemu Noval. Rasanya, hari-hari berlalu sangat lambat saat dia tidak bisa bertemu Noval. Bagi Chandani, sepuluh hari terasa jauh lebih panjang daripada yang seharusnya.Pria itu sedang berada di Bali untuk mengerjakan sebuah proyek besar yang menyita hampir seluruh waktunya. Dalam sehari, Noval bahkan hanya bisa menghubunginya ketika pekerjaannya sedang memberikan sedikit ruang untuk bernapas.Kadang hanya sebuah pesan singkat.Mas Noval ❤ [Sudah makan?]Atau sebuah panggilan selama beberapa menit menjelang tengah malam. Dan setiap kali layar ponselnya menyala dengan nama Noval, tanpa sadar senyum Chandani akan muncul. Meskipun hanya sebentar. Meskipun setelah panggilan berakhir, rasa rindu itu justru semakin terasa.Siang ini, Chandani berada di rumah Noval. Bukan untuk bertemu pria itu. Melainkan untuk melakukan Home Care kepada Nadel.Anak kecil itu sedang berada di ruang khusus yang Noval buat untuk terapi, Nadel ber
Basement apartemen malam itu cukup ramai. Beberapa mobil baru saja masuk dan suara mesin terdengar bergema di antara deretan kendaraan yang terparkir.Noval berjalan di samping Chandani menuju lift. Di tangan kanannya ada dua kantong plastik besar berisi bahan makanan yang baru saja mereka beli. Tangan kirinya menggenggam tangan Chandani.Langkah mereka tidak terlalu cepat.Noval bahkan beberapa kali memperlambat langkah ketika menyadari Chandani berjalan sedikit di belakangnya."Berat?" tanya Chandani sambil melirik kantong belanjaan."Enggak kok sayang.”"Aku bantu bawain ya?”"Enggak usah sayang.""Serius?""Iya, sayang." Noval tersenyum.Mereka telah sampai di depan lift. Noval menekan tombol berbentuk bulat, kemudian berdiri sambil tetap menggenggam tangan Chandani.Beberapa detik kemudian, suara mobil terdengar dari belakang. Chandani menoleh ke belakang. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat mobil berwarna putih yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka. Noval mengikut
Sore itu, suasana di ruang kerja Noval terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Chandani duduk di sofa panjang di sudut ruangan, dengan kedua tangan menggenggam gelas air putih yang sejak tadi belum banyak disentuh. Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika berada di rumah sakit, tetapi Noval masih memperlakukannya seolah-olah, Chandani masih sakit. Di atas meja, di hadapan Chandani terdapat beberapa berkas milik Noval, laptop yang sedang terbuka, serta satu kotak kecil berisi biskuit.Noval yang duduk dibalik meja sedang berbicara dengan Zaidan mengenai pekerjaan.“Kalau struktur bagian belakang tetap seperti gambar terakhir, kita harus mengubah posisi kolomnya.” ujar Zaidan sambil menunjuk layar laptop.Noval mengangguk. “Geser dua puluh sentimeter. Jangan mengorbankan luas ruang keluarga hanya karena kita mempertahankan posisi kolom.”“Anggarannya?”“Aku hitung ulang malam ini.”Chandani hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesekali matany
Sudah dua hari. Dua hari tanpa pesan dari Noval. Dua hari pula Chandani tidak berani menghubungi laki-laki itu.Awalnya Chandani mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Noval mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan. N and N Architect sedang menangani beberapa proyek sekaligus, dan Chandani tahu betul betapa padatnya jadwal laki-laki itu.Namun, semakin lama, rasa tenang itu justru berubah menjadi kegelisahan. Pagi itu Chandani duduk di dapur klinik sambil menatap layar ponselnya. Percakapan terakhir mereka masih berada di sana. Tidak ada pesan baru.Jarinya sempat bergerak membuka ruang percakapan Noval. Mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya dengan cepat. Chandani menghela napas panjang.“Kenapa cuma mau mengirim pesan saja susah sekali?” gumamnya.Chandani takut. Bukan takut Noval marah, melainkan takut dirinya mengganggu.Bagaimana kalau Noval sedang rapat? Bagaimana kalau pekerjaannya sedang berantakan? Bagaimana kalau pesan darinya justru membuat Noval mer
Pagi itu, Chandani terbangun dengan tubuh yang terasa sedikit lelah. Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai apartemen, jatuh membentuk garis-garis keemasan di lantai kamar. Untuk beberapa detik, Chandani hanya memandangi langit-langit sambil berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.Percakapannya dengan Noval. Wajah laki-laki itu. Dan kalimat yang sampai sekarang masih terasa berat di kepalanya."Chandani, can we take a break from this relationship?"Chandani menghela napas panjang. Dia tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa kehadiran Noval. Ia bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan keluar kamar. Saat melewati ruang tengah, langkahnya berhenti.Di atas meja makan, terdapat sebuah kantong plastik putih. Chandani mengernyitkan kening. Tidak mungkin Cahya bangun pagi dan membeli sarapan. Ia mendekat dan membuka sedikit bagian atasnya.Aroma bubur ayam yang masih hangat langsung menyeruak. Ada dua dua bungkus di sana. Chandani terdiam. Di atas kantong itu terdapat seca
Cahya berdiri cukup lama di depan pintu apartemen Chandani, lalu memasukkan kode sandi. Cahya sedang menyiapkan diri agar tidak mengumpat kepada Chandani. Kemarin, saat Duna datang ke rumah sakit. Atau bahkan saat Duna mengantar Chandani ke rumah sakit, Noval masih terlihat tenang. Tapi malam ini, Noval menghubungi Cahya dengan nada yang tenang tapi juga sedikit — kesal. Temani Chandani. Hanya dua kata itu yang terus terngiang di kepalanya. Noval tidak menjelaskan banyak. Suaranya terdengar tenang, tetapi Cahya bisa menangkap sesuatu yang berat di baliknya. Seolah laki-laki itu sedang berusaha menahan perasaannya sendiri. "Chan?" Tidak ada jawaban. Apartemen itu begitu sunyi. "Chandani?" Chandani sedang meringkuk di atas kasur. Wajahnya menghadap bantal, sementara kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya naik turun menahan tangis. Cahya terdiam. Dia tidak langsung bertanya. Dia hanya berjalan mendekat, duduk di tepi kasur, lalu menepuk pelan bahu Chandani. "Chan..."







