แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Lalacolla
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-09 20:08:30

“Aduh.” Chandani mengaduh - sebal, saat melihat rantai sepedanya putus. “Udah laper, bubur ayam tutup, ini malah rantai sepeda ikutan putus. Gimana pulangnya ini.”

Chandani mencoba memperbaiki sepedanya dan tidak berhasil. Rantai sepedanya benar-benar putus. 

“Arrgghh.” Chandani berteriak frustasi. “Tahu gini aku tadi masak telur aja di apartemen.”

Noval memperhatikan smartwatch yang terpasang di tangan kirinya. Angka di sana sudah menunjukkan 5 KM. Dia mengistirahatkan kakinya sejenak sebelum kembali berjalan ke parkiran mobil. Dari kejauhan matanya menangkap seorang wanita yang dia kenal. Wanita itu terlihat sedang memperbaiki sepeda yang rusak.

"Mbak Chandani, butuh bantuan?" 

Wanita itu menoleh ke arah Noval. "Lho, pak Noval. Ini pak, rantainya putus."

“Bawa masuk ke mobil saya aja mbak. Saya antar ke bengkel.”

"Eh, nggak perlu pak. Apartemen saya di dekat sini kok."

Noval ikut jongkok disebelah Chandani. “Nggak papa, saya antar saja."

“Merepotkan pak Noval nanti.”

“Tidak, tenang saja. Keburu siang nanti mbak.”

Chandani akhirnya mengiakan permintaan Noval. Noval membantu Chandani menuntun sepedanya. Dari dekat, wajah Noval terlihat sangat tampan. Badan bagus, wajah tampan dan pekerjaan mapan. Sebuah kombinasi yang menggetarkan jiwa. 

Mikirin apa sih Chandani. Chandani segera menepis pikiran-pikiran anehnya. 

"Setiap hari sepedahan ya mbak?" 

"Iya pak. Cuma hari ini agak apes aja sih. Sudah bubur ayam langganan tutup, rantai sepedanya pakai putus segala. Mana klinik hari ini buka lebih pagi."

"Ada acara?"

"Ada pasien yang nanti siang mau berangkat ke Jepang pak. Sebelum berangkat, mau cek kondisi lututnya dulu. Tiga tahun yang lalu pernah operasi meniscus. Jadi rutin fisioterapi, dan ini maraton pertama kalinya setelah tiga tahun."

Noval memperlambat jalannya. Dia melihat Chandani mulai berjalan jauh di belakangnya. "Mbak Chandani suka ikut marathon?" 

"Saya?" Chandani menunjuk dirinya sendiri.

Noval mengangguk. 

Chandani menggelengkan kepala. "Tidak mampu saya pak." 

"Kalau jogging?" 

"Jogging masih bisa, tapi nggak bisa terlalu lama juga. Pak Noval suka maraton?”

“Beberapa kali ikut event marathon.”

“Wah, keren sekali.”

Kini Chandani tahu dari mana tubuh bugar itu berasal. Chandani tersenyum, sepertinya Noval adalah orang yang hobi olahraga. Sedangkan dirinya, sedikit kurus dan tampak tak bertenaga. 

"Mbak Chandani ini nanti langsung ke bengkel sepeda saja ya?" 

"Ke apartemen saya saja pak. Dekat kok dari sini. Nanti saya antar sendiri ke bengkel sepedanya."

"Malah bolak-balik ntar. Langsung ke bengkel saja ya?" 

“Saya makin merepotkan pak Noval.”

“Mbak, kecuali kamu minta saya bawa sepeda ini ke puncak gunung Merapi. Baru itu merepotkan.”

Chandani tertawa pelan. Sebenarnya ucapan Noval tidak lucu, tapi anehnya dia malah tertawa. 

“Terima kasih ya pak Noval. Maaf merepotkan.”

“Bilang merepotkan sekali lagi saya bawa kabur sepedanya.”

Meskipun dengan perasaan tidak enak. Chandani akhirnya menuruti permintaan Noval. Noval benar, kalau ke apartemen dulu, Chandani hanya akan membuang-buang waktu karena harus bolak-balik. Mobil Toyota Land Cruiser melaju menuju bengkel sepeda yang berjarak 2 KM dari taman kota. 

Hanya dalam waktu lima menit, rantai sepeda milik Chandani sudah berhasil di ganti. Chandani melihat Noval yang sedang memainkan handphone. Bahkan dari samping, laki-laki itu terlihat sangat tampan. 

"Pak Noval, terima kasih ya sudah di antar ke bengkel."

Noval membuka pintu bagasi. "Masukin lagi sepedanya. Saya antar ke apartemen."

"Saya naikin saja pak sedenya. Ngerepotin pak Noval terus dari tadi."

"Saya santai kok. Yuk, keburu siang." Tanpa aba-aba Noval segera memasukkan sepeda lipat milik Chandani ke bagasi. Dia lalu membukakan pintu mobil untuk Chandani.

Jujur saja, perhatian Noval hari ini membuat jantung Chandani berdebar kencang. Setelah putus dari Aduna, Chandani mengurangi kontak dengan lawan jenis. Selama ini laki-laki yang sering menghubunginya hanyalah kakak dan ayahnya. Setiap kali dia didekati lawan jenis, dia akan menghindar. Tapi dengan Noval, perasaannya berbeda.

“Beli bubur ayam dulu ya? Buat sarapan kamu.”

Chandani terdiam, masih mencoba memproses kata-kata Noval barusan. Untuknya? 

“Tadi katanya bubur langganan kamu tutup. Aku tahu bubur ayam yang enak dekat sini.” Noval menepikan mobilnya di dekat bundaran.

“Serius saya nggak enak sama pak Noval. Karena merepotkan terus dari tadi.”

“Bubur ayamnya mau pakai daun bawang dan kacang nggak?”

“Tanpa daun bawang.” jawab Chandani spontan. Dia langsung menutup mulutnya. Bisa-bisanya dia langsung menjawab seperti itu.

“Oke, tunggu sebentar ya.”

Laki-laki bertubuh tinggi itu berlari menyeberangi jalan. Jalanan Jogja sudah mulai ramai dengan anak-anak berangkat sekolah. Chandani hanya bisa terdiam di dalam mobil sambil melihat punggung Noval dari kejauhan. Sebenarnya, dia masih bingung. Kenapa Noval begitu baik kepadanya? Apakah Noval memang sosok yang baik dengan semua orang? 

Noval membawa dua kantong plastik bubur ayam. Satu untuknya dan satu untuk Chandani. “Selera kita sama. Saya juga kurang suka daun bawang mentah.”

“Buat saya, rasanya aneh. Gimana ya, kayak tertinggal di mulut. Sudah minum pun tetap tertinggal di mulut.”

Noval mengacungkan dua jempol. “Betul sekali. Tapi kalau daun bawangnya dimasak saya tidak masalah. Oh iya, kamu suka makan daun kucai mentah tidak?”

Chandani menggelengkan kepala. 

“Akhirnya ketemu orang yang satu frekuensi.” Noval mengajak Chandani adu kepalan tangan. Chandani menyambut dengan senyuman. 

Mobil Noval berhenti di depan gedung delapan lantai. Chandani tinggal di apartemen studio dengan luas 21 M. Meskipun tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tinggal sendiri.

Chandani segera melepas sabuk pengaman ya. “Terima kasih pak Noval. Maaf merepotkan." 

"Tidak kok. Santai aja." Noval ikut keluar dari mobil. 

Noval mengeluarkan sepeda milik Chandani dari dalam bagasi. Setelah berpamitan pulang, Noval memastikan Chandani masuk ke lobi apartemen sebelum beranjak pergi. Setelah Chandani tak terlihat lagi dari luar, Noval akhirnya mulai meninggalkan gedung delapan lantai tersebut.

Sampai ketemu lagi Chandani. Ucapnya dalam hati.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 80

    “Makanan dari siapa?” tanya Cahya setelah menyelesaikan satu pasien post operasi ACL.“Dari Duna.”“Apa? Ngapain si sialan itu ke sini?” nada bicara Cahya meninggi karena emosi.Chandani mencubit paha Cahya. “Di dengerin pasien kamu itu.” ucapnya sambil setengah berbisik.“Sudah biasa mbak. Kalau Cahya nggak mengumpat malah aneh rasanya.” jawab pasien laki-laki itu sambil tertawa.Pasien itu bernama Raymond, teman SMA Cahya. Mereka berdua cukup akrab satu sama lain. Raymon adalah pemain sepak bola, yang saat ini harus menghentikan aktivitasnya karena cedera ACL. Tapi, menurut Cahya, bulan depan Raymond sudah bisa kembali latihan.Cahya menyeringai. Lalu memukul pelan lengan Raymond. “Dah, cepetan pulang sana.”“Iya ini mau pulang.” Raymon lalu melihat ke arah Chandani. “Mari, mbak Chandani.”“Mari, mas Raymond.”Akhirnya, mereka bisa beristirahat. Sebelum datang pasien yang sudah reservasi jam dua siang. Hari ini, klinik cukup ramai. Chandani yang niat awalnya hanya duduk, berakhir de

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 79

    “Mbak Chandaniii……..” Rika berlari dan memeluk Chandani erat. “Gimana kakinya?”“Udah sembuh kok.” jawab Chandani.“Belum sembuh.” Noval membantah ucapan Chandani. “Karena belum sembuh, tolong hari ini jangan boleh pegang pasien ya?”“Siap, pak Noval.” Rika memberikan hormat. Noval mengusap pelan kepada Chandani. “Chan, aku ke kantor dulu ya? Ingat kalau ada apa-apa, hubungi aku.”“Iya mas Noval.”“Rika, titip Chandani, ya?”“Tenang saja.” Rika lalu menggandeng lengan Chandani. “Nanti aku marahin kalau mbak Chandani bandel pegang pasien.”Noval mengacungkan jempol tangan kanannya. Sepertinya, dia bisa mempercayai ucapan Rika. Noval lalu melambaikan tangan kepada Chandani dan Rika. Dia harus ke kantor, sekarang. Zaidan sudah menunggunya di kantor.“Hati-hati, mas Noval.” Chandani berteriak sekuat tenaga. Suara hujan yang deras, membuat suaranya tak begitu terdengar.Tapi untungnya, Noval mendengarnya. Laki-laki itu berhenti berjalan. Membalikkan badannya. Tersenyum, lalu melambaikan t

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 78

    Di dalam lift, tiga orang itu saling terdiam. Hanya beberapa kali saling beradu pandang. Mereka semua terlihat canggung. Noval tidak membiarkan Chandani berada di dekat Duna. Dan Duna tidak memaksa mendekati Chandani, seperti biasanya. Membuat Noval merasa - sedikit aneh.Pintu lift terbuka, Duna langsung pergi meninggalkan Noval dan Chandani tanpa berkata apapun.“Dia aneh, nggak sih?” Noval membicarakan tentang kejanggalan sifat Duna. “Kok tumben, nggak maksa-maksa deket kamu?”Chandani hanya mengangguk sekali lalu tersenyum canggung. Tidak mungkin dia menceritakan kepada Noval kalau, kemarin Duna menemuinya. Dan berjanji akan berubah. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Lalu meletakkan tangannya di atas kepala Chandani agar tidak terbentur door seal.Mobil Land Cruiser melaju pelan di jalanan Jogja. Pagi ini, Jogja kembali mendung. Rintikan air hujan mulai turun. Noval menaikkan suhu AC agar Chandani tidak kedinginan.Perubahan sikap Duna membuat Chandani sedikit kepikira

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 77

    Seseorang mengetuk pintu apartemen Chandani. Chandani yang sedang duduk di depan meja rias, segera berdiri. Kakinya masih terasa sedikit sakit, jadi dia berjalan dengan pelan.“Loh, mas Noval. Kan sudah tahu passwordnya. Kok nggak masuk?”Noval tengah berdiri sambil menatap Chandani, alisnya sedikit berkerut. “Kamu mau kerja?"Work jacket berwarna coklat tua yang tidak di kancingkan, kaos polo berwarna coklat muda, dan celana chino warna cream membuat Noval terlihat sangat tampan. Rambut laki-laki itu terlihat sangat rapi dengan pomade.Chandani menganggukkan kepalanya. Hari ini dia berniat bekerja. Berada di rumah, membuatnya sedikit bosan.“Memangnya kaki kamu sudah sembuh?” Ekspresi wajah Noval terlihat sedikit kesal. Noval bukannya marah, dia hanya khawatir dengan kaki Chandani.“Nanti aku cuma duduk di pendaftaran kok mas. Nggak pegang pasien.”Chandani menarik tangan Noval memasuki apartemennya. “Masuk dulu, yuk.”Noval mengikuti Chandani dari belakang. “Kamu yakin masuk kerja?”

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 76

    Saat sampai rumah, Noval langsung menuju kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang terasa lelah dengan air hangat. Setiap tetesan air hangat di tubuhnya, membuat terasa lebih rileks. Setelah selesai mandi, dia berdiri di depan cermin. Memperlihatkan raut wajahnya yang sedikit menua, tapi tetap tampan. Rambutnya mulai memanjang, entah kapan terakhir kali dia potong rambut.Tiga helai rambut putih yang muncul di samping telinganya, membuat Noval menyadari jika dirinya sudah semakin menua. Tapi dia harus tetap sehat untuk menjaga Nadel, dan juga Chandani. Dua wanita yang membuat hidup Noval terasa lebih berwarna.Satu tablet magnesium Noval keluarkan dari wadah berwarna hijau. Dengan segera dia menelannya bersama air putih.Noval berjalan pelan menuju kamar Nadel. Dia sedikit mengguncang tubuh bude Ita, agar terbangun. “Bude…” kata Noval lirih. Takut menganggu tidur Nadel.Mata bude Ita perlahan terbuka.“Tidur di kamar bude saja.”“Iya pak Noval.” dengan perlahan bude Ita terbangun dan berja

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 75

    Kecupan Noval di puncak kepala membuat Chandani terdiam mematung. Chandani menahan senyum di bibirnya. Jika tidak ada Noval, mungkin sekarang, dia sedang berteriak kencang. Noval kembali duduk di kursi setelah mencuci piring. Noval menatap Chandani, ekspresi gadis itu sedikit susah Noval tebak.“Kenapa?” tanya Noval penasaran. Chandani menggelengkan kepalanya. Dia lalu berdehem beberapa kali, mencoba membuat ekspresi wajahnya se-biasa mungkin.Tapi perubahan ekspresi Chandani membuat Noval bertanya-tanya. Apa tindakannya barusah sedikit kelewatan?“Kamu….. marah?” tanya Noval sedikit ragu-ragu.“Eh.” Chandani terkejut. “Marah kenapa?”Jari Noval menunjuk kepala Chandani. Lalu Chandani balas dengan isyarat tangan - tidak.“Aku tidak marah kok.” Chandani membulatkan kedua matanya. “Aku cuma…” Chandani sedikit ragu. “Bahagia.” ucapnya dengan suara lirih. Tapi Noval sepertinya mendengarnya.Dada Noval mengembang seiring rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Noval tersenyum bahagia. Asalka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status