Share

Bab 3

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-07-09 20:00:10

Tawa Rika pecah saat mendengar ucapan Noval tadi. Rika tahu sekali jika Chandani memang ceroboh. Terakhir kali, Chandani jatuh ke got gara-gara mengejar bapak lotis. 

“Diem nggak.” Chandani mencubit pelan lengan Rika.

“Maaf mbak, maaf.” Rika mengatupkan bibirnya agar tawanya tidak keluar. 

Chandani mengantar Rika menuju kos. Rika berasal dari Kebumen. Waktu itu Rika baru menyelesaikan profesi fisioterapi dan melamar kerja di kliniknya. Karena kepribadian yang ramah dan sedikit cerewet, Chandani langsung tertarik dengan Rika. Walaupun setiap hari, telinga Chandani sedikit panas karena ocehan gadis itu.

"Kamu mau mampir cari makan dulu nggak?"

"Ke warteg depan aja mbak."

Chandani menepikan mobilnya di pinggir jalan. Warung tegal langganan Rika itu terlihat ramai dengan anak-anak kuliah. Memang, harga makanan di jogja cukup ramah dikantong pelajar. 

Rika membawa dua bungkus nasi dari warung tegal. Dia meletakkan satu bungkus nasi di kursi belakang. 

"Buat mbak Chandani satu. Nasi lauk ayam balado ekstra sambal. Bayaran tadi udah nemenin aku."

"Terima kasih loh ya."

"Mbak, selanjutnya mbak Chandani aja ya yang homecare?"

"Kok aku?"

"Aku nggak berani mbak. Masalahnya kan kita harus pantau heart rate dan saturasi oksigennya Nadel juga. Takut kalau tiba-tiba drop. Mbak juga lebih luwes dikasus pediatri.".

Chandani masih belum menjawab dan fokus menyetir mobil. Sore hari, jogja cukup macet. Karena bersamaan dengan kepulangan para pekerja kantor dan pabrik. 

"Aku tahu mbak Chandani nggak butuh uang, tapi please ya mbak." Rika memohon dengan wajah memelas. 

"Manusia di belahan dunia mana yang nggak butuh uang, Rik?" 

Rika malah tertawa pelan. "Jadi mbak Chandani mau ya lanjut home care? Aku konfirmasi ke pak Noval dulu. Anggap aja cari kesibukan.”

“Aku udah sibuk banget loh.”

“Sibuk mengagumi cowok-cowok fiksi itu.”

Setelah pulang dari klinik, Chandani menghabiskan waktunya dengan membaca novel atau w*****n. Tumpukan novel di apartemennya adalah saksi betapa dirinya sangat menyukai membaca.

“Mbak Chandani aja ya yang lanjut. Please….” Rika memohon dan terus menempel di lengan Chandani. 

"Iya deh." meskipun keberatan, Chandani tidak mungkin membiarkan Rika melanjutkan home care jika gadis itu tidak percaya diri.

🌑 

Malam ini, Chandani tengah asik berselancar di sosial media. Dia membaca curhatan seorang wanita yang baru saja diselingkuhi oleh kekasihnya. Membaca tentang perselingkuhan entah kenapa, sedikit membuat Chandani mengingat masa lalu yang cukup menyakitkan saat dirinya berada di Australia. Waktu itu, dunianya seakan-akan runtuh begitu saja. 

Layar handphone Chandani menyala. Ada satu email masuk. 

adunaorel@g***l.com: [Hai Ican, apa kabar?]

Chandani tidak segera membalas dan memilih untuk mengabaikan pesan itu. Setelah semua rasa sakit yang dia terima, laki-laki itu malah menghubunginya lagi, menyebalkan. 

adunaorel@g***l.com : [Aku sudah pulang ke Indonesia]

"Lah, bodo amat. Kamu masih di Australia atau di Indonesia juga peduli apa aku."

Dua email masuk itu langsung Chandani hapus. Sejujurnya, dia tidak ingin berkomunikasi dengan media apapun dengan Aduna. Sudah cukup segala rasa sakit yang dia terima. Sudah cukup semua air matanya. Dia tidak ingin berhubungan lagi dengan orang yang menaruh luka paling dalam untuknya. 

adunaorel@g***l.com : [Bisa kita ketemu sebentar Chan?]

“Dih, ogah banget.”

Ting....

Handphone Chandani kembali berbunyi. Meskipun malas dia segera mengambil handphone yang terletak di meja. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal. Jantung Chandani berdetak kencang, takut jika Aduna lah yang menghubunginya. 

+62822xxxxxxx : [Hai mbak Chandani, ini saya Novalleo. Saya dapat nomer mbak Chandani dari mbak Rika. Mbak Rika tadi menghubungi saya, dan mengatakan jika fisioterapi selanjutnya dengan mbak Chandani.]

Chandani : [Baik pak Noval. Saya jadwalkan setiap senin, rabu dan sabtu ya pak?]

+62822xxxxxxx : [Baik mbak Chandani. Terima kasih]

+62822xxxxxxx : [Mengirim foto]

+62822xxxxxxx : [Jepit rambut mbak Chandani terjatuh di kamar mandi.]

"Aduh, Jepit rambutku."

Dua hari yang lalu, Chandani nekat memotong poninya dan berakhir kependekan. Akhirnya dengan terpaksa dia harus menjepit poninya itu. Sedikit memalukan karena jepit rambutnya berwarna pink dan bergambar beruang. Dia iseng membeli jepit rambut itu di online karena terlihat lucu.

🌑

Noval masih memandangi layar handphonenya yang perlahan mati. Tidak ada balasan dari Chandani. Sejujurnya dia sedikit merasa kecewa. Tapi perasaan itu segera dia tepis. Dalam pikiran Noval, wanita cantik seperti Chandani pasti sudah punya pacar, atau bahkan suami. 

Matanya kembali fokus ke layar tablet, memperhatikan desain rumah Joglo yang belum selesai. Noval adalah lulusan Master of Architecture di UCL. Setelah lulus, Noval bekerja di perusahaan arsitek London selama tiga tahun. Lalu bekerja di perusahaan arsitek di Jakarta. Dia memilih untuk mendirikan perusahaannya sendiri di Jogja. N and N Architect telah berdiri selama lima tahun.  

Sebuah notifikasi pesan masuk. Ada setumpuk pesan yang belum sempat dia baca. Pesan dari karyawan, teman dan orang tuanya. Tapi sebuah nama menarik perhatian Noval. 

Angkasa Chandani Fisioterapis :[Buang saja nggak papa pak Noval japit rambutnya.]

Pesan singkat itu entah kenapa membuat Noval tersenyum. Ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya. Noval segera membalas pesan itu. 

Noval : [Saya simpan ya? ]

Angkasa Chandani Fisioterapis : [Buat apa?]

Noval : [Kenang-kenangan.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 146

    Hari Sabtu akhirnya datang. Sudah sepuluh hari Chandani tidak bertemu Noval. Rasanya, hari-hari berlalu sangat lambat saat dia tidak bisa bertemu Noval. Bagi Chandani, sepuluh hari terasa jauh lebih panjang daripada yang seharusnya.Pria itu sedang berada di Bali untuk mengerjakan sebuah proyek besar yang menyita hampir seluruh waktunya. Dalam sehari, Noval bahkan hanya bisa menghubunginya ketika pekerjaannya sedang memberikan sedikit ruang untuk bernapas.Kadang hanya sebuah pesan singkat.Mas Noval ❤ [Sudah makan?]Atau sebuah panggilan selama beberapa menit menjelang tengah malam. Dan setiap kali layar ponselnya menyala dengan nama Noval, tanpa sadar senyum Chandani akan muncul. Meskipun hanya sebentar. Meskipun setelah panggilan berakhir, rasa rindu itu justru semakin terasa.Siang ini, Chandani berada di rumah Noval. Bukan untuk bertemu pria itu. Melainkan untuk melakukan Home Care kepada Nadel.Anak kecil itu sedang berada di ruang khusus yang Noval buat untuk terapi, Nadel ber

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 145

    Basement apartemen malam itu cukup ramai. Beberapa mobil baru saja masuk dan suara mesin terdengar bergema di antara deretan kendaraan yang terparkir.Noval berjalan di samping Chandani menuju lift. Di tangan kanannya ada dua kantong plastik besar berisi bahan makanan yang baru saja mereka beli. Tangan kirinya menggenggam tangan Chandani.Langkah mereka tidak terlalu cepat.Noval bahkan beberapa kali memperlambat langkah ketika menyadari Chandani berjalan sedikit di belakangnya."Berat?" tanya Chandani sambil melirik kantong belanjaan."Enggak kok sayang.”"Aku bantu bawain ya?”"Enggak usah sayang.""Serius?""Iya, sayang." Noval tersenyum.Mereka telah sampai di depan lift. Noval menekan tombol berbentuk bulat, kemudian berdiri sambil tetap menggenggam tangan Chandani.Beberapa detik kemudian, suara mobil terdengar dari belakang. Chandani menoleh ke belakang. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat mobil berwarna putih yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka. Noval mengikut

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 143

    Sore itu, suasana di ruang kerja Noval terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Chandani duduk di sofa panjang di sudut ruangan, dengan kedua tangan menggenggam gelas air putih yang sejak tadi belum banyak disentuh. Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika berada di rumah sakit, tetapi Noval masih memperlakukannya seolah-olah, Chandani masih sakit. Di atas meja, di hadapan Chandani terdapat beberapa berkas milik Noval, laptop yang sedang terbuka, serta satu kotak kecil berisi biskuit.Noval yang duduk dibalik meja sedang berbicara dengan Zaidan mengenai pekerjaan.“Kalau struktur bagian belakang tetap seperti gambar terakhir, kita harus mengubah posisi kolomnya.” ujar Zaidan sambil menunjuk layar laptop.Noval mengangguk. “Geser dua puluh sentimeter. Jangan mengorbankan luas ruang keluarga hanya karena kita mempertahankan posisi kolom.”“Anggarannya?”“Aku hitung ulang malam ini.”Chandani hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesekali matany

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 142

    Sudah dua hari. Dua hari tanpa pesan dari Noval. Dua hari pula Chandani tidak berani menghubungi laki-laki itu.Awalnya Chandani mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Noval mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan. N and N Architect sedang menangani beberapa proyek sekaligus, dan Chandani tahu betul betapa padatnya jadwal laki-laki itu.Namun, semakin lama, rasa tenang itu justru berubah menjadi kegelisahan. Pagi itu Chandani duduk di dapur klinik sambil menatap layar ponselnya. Percakapan terakhir mereka masih berada di sana. Tidak ada pesan baru.Jarinya sempat bergerak membuka ruang percakapan Noval. Mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya dengan cepat. Chandani menghela napas panjang.“Kenapa cuma mau mengirim pesan saja susah sekali?” gumamnya.Chandani takut. Bukan takut Noval marah, melainkan takut dirinya mengganggu.Bagaimana kalau Noval sedang rapat? Bagaimana kalau pekerjaannya sedang berantakan? Bagaimana kalau pesan darinya justru membuat Noval mer

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 141

    Pagi itu, Chandani terbangun dengan tubuh yang terasa sedikit lelah. Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai apartemen, jatuh membentuk garis-garis keemasan di lantai kamar. Untuk beberapa detik, Chandani hanya memandangi langit-langit sambil berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.Percakapannya dengan Noval. Wajah laki-laki itu. Dan kalimat yang sampai sekarang masih terasa berat di kepalanya."Chandani, can we take a break from this relationship?"Chandani menghela napas panjang. Dia tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa kehadiran Noval. Ia bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan keluar kamar. Saat melewati ruang tengah, langkahnya berhenti.Di atas meja makan, terdapat sebuah kantong plastik putih. Chandani mengernyitkan kening. Tidak mungkin Cahya bangun pagi dan membeli sarapan. Ia mendekat dan membuka sedikit bagian atasnya.Aroma bubur ayam yang masih hangat langsung menyeruak. Ada dua dua bungkus di sana. Chandani terdiam. Di atas kantong itu terdapat seca

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 140

    Cahya berdiri cukup lama di depan pintu apartemen Chandani, lalu memasukkan kode sandi. Cahya sedang menyiapkan diri agar tidak mengumpat kepada Chandani. Kemarin, saat Duna datang ke rumah sakit. Atau bahkan saat Duna mengantar Chandani ke rumah sakit, Noval masih terlihat tenang. Tapi malam ini, Noval menghubungi Cahya dengan nada yang tenang tapi juga sedikit — kesal. Temani Chandani. Hanya dua kata itu yang terus terngiang di kepalanya. Noval tidak menjelaskan banyak. Suaranya terdengar tenang, tetapi Cahya bisa menangkap sesuatu yang berat di baliknya. Seolah laki-laki itu sedang berusaha menahan perasaannya sendiri. "Chan?" Tidak ada jawaban. Apartemen itu begitu sunyi. "Chandani?" Chandani sedang meringkuk di atas kasur. Wajahnya menghadap bantal, sementara kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya naik turun menahan tangis. Cahya terdiam. Dia tidak langsung bertanya. Dia hanya berjalan mendekat, duduk di tepi kasur, lalu menepuk pelan bahu Chandani. "Chan..."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status