Share

Bab 5

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-07-10 06:05:34

“Jadi gimana pak duda satu itu?” Cahya mendekatkan dirinya ke Chandani yang tengah membereskan kabel TENS. 

Chandani masih sibuk merapikan kabel TENS yang berserakan. “Gimana apanya?”

Cahya mendekat. “Wajahnya? Kata Rika ganteng.”

“Iya ganteng terus tinggi.” jawab Chandani seadanya. 

“Terus-terus, setelah nganterin kamu ke bengkel sepedah kalian ngapain?” Cahya terlihat mengekor Chandani. Mengikuti ke manapun langkah gadis itu.

“Dia beliin aku bubur ayam. Ternyata enak loh bubur ayam yang dekat bundaran itu. Porsinya banyak.”

“Beliin kamu bubur ayam?” Cahya menutup mulutnya - terkejut. 

Chandani menganggukkan kepala dua kali. 

“Kalian baru ketemu sekali tapi kok udah dekat.”

“Dekat gimana?” Chandani duduk di kursi pendaftaran. Merapikan rekam medis pasiennya.

Cahya mendorong kursi mendekat. “Setelah kamu putus sama Duna, kamu kan selalu membatasi diri sama lawan jenis.”

Cahya benar, setelah putus dari Duna, Chandani selalu menghindar dari lawan jenis. Setiap kali ada yang mengajaknya kenalan, Chandani memilih untuk mengabaikan. Bukan hal yang mengejutkan  jika orang menganggapnya sombong dan jutek. Dia hanya takut disakiti lagi. Rasa sakitnya akibat Duna belum sepenuhnya hilang. Dia selalu menarik diri seolah-olah tak tertarik. 

“Chan.”

Chandani masih sibuk menata rekam medis. “Hmmmm..”

“Kalau nanti misalnya pak Noval deketin kamu gimana?”

Chandani terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Biasanya dia akan langsung menghindar ketika didekati laki-laki. Tapi ketika Noval mengantarkannya ke bengkel sepeda dia tidak menolak. Dan ketika Noval membelikannya bubur ayam, dia merasa senang. Apakah hatinya yang tertutup rapat mulai terbuka kembali? 

“Chan, tidak ada salahnya untuk membiarkan orang baru masuk. Di dunia ini memang ada manusia jahat seperti Duna, tapi tidak menutup kemungkinan ada banyak orang baik lainnya.” Cahya mencoba meyakinkan Chandani. 

Ucapan Cahya tidak sepenuhnya salah. Tapi untuk saat ini, Chandani masih belum siap untuk membuka hatinya. Mungkin nanti, secara pelan-pelan. 

“Iya Cahya.” Chandani tersenyum dan menepuk pundak Cahya. 

Cahya membalas dengan memeluk Chandani sangat erat. 

“Kenapa sih kok tiba-tiba meluk?”

“Nggak tahu pengen meluk aja. Pokoknya kamu harus bahagia ya Chan. Kalau ada yang nyakitin kamu lagi, hidupnya bakal aku teror seumur hidup.”

Chandani terkekeh pelan. Dia teringat bagaimana Cahya menghubungi Duna dan mengucapkan sumpah serapah tiga tahun lalu. Bahkan mengirim ribuan email berisi sumpah serapah kepada Duna. Tidak lupa dengan membanjiri direct message semua sosial media milik Duna.

“Mbaakk…” Rika berlari ke arah Chandani dan Cahya.

“Kenapa?” jawab Chandani dan Cahya bersamaan.

“Nggak papa cuma pengen teriak aja, soalnya capek.”

Cahya segera menjewer telinga Rika dengan pelan. “Dasar kamu ini. Bikin kaget aja.”

🌑 

Setelah berperang dengan jadwal pasien yang padat, Chandani melepas penat dengan menikmati es kopi favoritnya. Kini Chandani sedang menunggu pentol bakar super pedas pesanannya jadi. Rasanya sudah tidak sabar menikmati es kopi dan pentol bakar pedas. 

"Ichan."

Chandani mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara yang selama sembilan tahun pernah menghiasi hari-harinya. Chandani menoleh ke arah sumber suara. Laki-laki bertubuh tinggi dan kurus tersenyum ke arahnya.

"Apa kabar?" laki-laki itu mendekat. 

Chandani tidak menjawab, dia memilih fokus melihat handphone. Meskipun laki-laki itu mendekat, Chandani terus mengabaikannya. Demi apapun, jika bukan karena Chandani sudah menunggu pentol bakarnya selama tiga puluh menit dan sebentar lagi sudah matang, dia memilih untuk kabur menjauh dari Duna. 

"Chan, bisa kita bicara sebentar?" wajah Duna terlihat memohon. "Chan..."

Tidak ada jawaban. 

[Cepetan dong pak, cepetan. Pengen kabur aku tu pak.] Batin Chandani. 

"Chan aku pindah kerja di Indonesia." Duna berjalan mendekat. Tapi gadis di sebelahnya malah menjauh. 

[Demi apapun aku tidak peduli. Mau kamu pindah ke gurun pasir pun aku tidak peduli.]

"Tolong maaf kan aku Chan."

[Setelah tiga tahun baru minta maaf.]

"Aku tidak pernah tidur nyenyak karena rasa bersalah ku ke kamu."

[Emang aku pikirin.]

Akhirnya pentol bakar yang Chandani tunggu sudah jadi. Dengan cepat Chandani segera membayar dan langsung pergi. Chandani takut menjadi gila karena lama-lama bersama sang mantan.

"Chan." tangan Chandani berhasil Duna raih. "Lima menit aja. Aku cuma mau berbicara lima menit."

Chandani mendengus kesal dan akhirnya berhenti berjalan. "Duna." Chandani memalingkan wajah. Hanya begini saja dia sudah hampir menangis. "Oke lima menit."

"Maafin aku Chan." Duna memohon.

Mereka berdua masih terdiam. Tenggelam dalam perasaan masing-masing.

"Tiga menit lagi." Chandani menunjukkan detik jam yang terus berjalan. 

"Maafin aku."

"Setelah tiga tahun?"

"Aku tidak tahu harus memulai dari mana, Chan. Harus dari mana aku menjelaskan semuanya ke kamu." Duna terlihat kebingungan. 

"Tidak perlu dijelaskan." ucap Chandani dengan nada datar. Matanya terus melihat sekeliling agar tangisnya tidak meledak. "Aku pulang dulu."

Duna dengan sekuat tenaga menahan tangan Chandani. Dengan harapan gadis itu tidak akan pergi. Satu menit saja, Duna ingin melihat wajah gadis yang sangat dia rindukan.

"Tolong lepasin." Chandani melepaskan pegangan tangan Duna. 

"Aku dan Viola tidak ada hubungan apa-apa."

"Duna, setelah tiga tahun kamu pikir semua penjelasanmu akan berguna? Tidak, tidak sama sekali. Dan akupun sudah tidak peduli. Hati bukan sesuatu yang bisa kamu buang, lalu ambil kembali seenaknya begini.”

Duna berdiri di depan Chandani. Menghalangi langkah gadis itu. "Malam itu aku tidak tidur dengan Viola."

Chandani terdiam. Mencoba mencerna kata-kata Duna barusan.

"Aduna, aku mau pulang. Aku capek."

"Chan...." 

“Kita tidak perlu saling bertemu lagi!” nada suara Chandani terdengar ketus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 146

    Hari Sabtu akhirnya datang. Sudah sepuluh hari Chandani tidak bertemu Noval. Rasanya, hari-hari berlalu sangat lambat saat dia tidak bisa bertemu Noval. Bagi Chandani, sepuluh hari terasa jauh lebih panjang daripada yang seharusnya.Pria itu sedang berada di Bali untuk mengerjakan sebuah proyek besar yang menyita hampir seluruh waktunya. Dalam sehari, Noval bahkan hanya bisa menghubunginya ketika pekerjaannya sedang memberikan sedikit ruang untuk bernapas.Kadang hanya sebuah pesan singkat.Mas Noval ❤ [Sudah makan?]Atau sebuah panggilan selama beberapa menit menjelang tengah malam. Dan setiap kali layar ponselnya menyala dengan nama Noval, tanpa sadar senyum Chandani akan muncul. Meskipun hanya sebentar. Meskipun setelah panggilan berakhir, rasa rindu itu justru semakin terasa.Siang ini, Chandani berada di rumah Noval. Bukan untuk bertemu pria itu. Melainkan untuk melakukan Home Care kepada Nadel.Anak kecil itu sedang berada di ruang khusus yang Noval buat untuk terapi, Nadel ber

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 145

    Basement apartemen malam itu cukup ramai. Beberapa mobil baru saja masuk dan suara mesin terdengar bergema di antara deretan kendaraan yang terparkir.Noval berjalan di samping Chandani menuju lift. Di tangan kanannya ada dua kantong plastik besar berisi bahan makanan yang baru saja mereka beli. Tangan kirinya menggenggam tangan Chandani.Langkah mereka tidak terlalu cepat.Noval bahkan beberapa kali memperlambat langkah ketika menyadari Chandani berjalan sedikit di belakangnya."Berat?" tanya Chandani sambil melirik kantong belanjaan."Enggak kok sayang.”"Aku bantu bawain ya?”"Enggak usah sayang.""Serius?""Iya, sayang." Noval tersenyum.Mereka telah sampai di depan lift. Noval menekan tombol berbentuk bulat, kemudian berdiri sambil tetap menggenggam tangan Chandani.Beberapa detik kemudian, suara mobil terdengar dari belakang. Chandani menoleh ke belakang. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat mobil berwarna putih yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka. Noval mengikut

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 143

    Sore itu, suasana di ruang kerja Noval terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Chandani duduk di sofa panjang di sudut ruangan, dengan kedua tangan menggenggam gelas air putih yang sejak tadi belum banyak disentuh. Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika berada di rumah sakit, tetapi Noval masih memperlakukannya seolah-olah, Chandani masih sakit. Di atas meja, di hadapan Chandani terdapat beberapa berkas milik Noval, laptop yang sedang terbuka, serta satu kotak kecil berisi biskuit.Noval yang duduk dibalik meja sedang berbicara dengan Zaidan mengenai pekerjaan.“Kalau struktur bagian belakang tetap seperti gambar terakhir, kita harus mengubah posisi kolomnya.” ujar Zaidan sambil menunjuk layar laptop.Noval mengangguk. “Geser dua puluh sentimeter. Jangan mengorbankan luas ruang keluarga hanya karena kita mempertahankan posisi kolom.”“Anggarannya?”“Aku hitung ulang malam ini.”Chandani hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesekali matany

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 142

    Sudah dua hari. Dua hari tanpa pesan dari Noval. Dua hari pula Chandani tidak berani menghubungi laki-laki itu.Awalnya Chandani mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Noval mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan. N and N Architect sedang menangani beberapa proyek sekaligus, dan Chandani tahu betul betapa padatnya jadwal laki-laki itu.Namun, semakin lama, rasa tenang itu justru berubah menjadi kegelisahan. Pagi itu Chandani duduk di dapur klinik sambil menatap layar ponselnya. Percakapan terakhir mereka masih berada di sana. Tidak ada pesan baru.Jarinya sempat bergerak membuka ruang percakapan Noval. Mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya dengan cepat. Chandani menghela napas panjang.“Kenapa cuma mau mengirim pesan saja susah sekali?” gumamnya.Chandani takut. Bukan takut Noval marah, melainkan takut dirinya mengganggu.Bagaimana kalau Noval sedang rapat? Bagaimana kalau pekerjaannya sedang berantakan? Bagaimana kalau pesan darinya justru membuat Noval mer

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 141

    Pagi itu, Chandani terbangun dengan tubuh yang terasa sedikit lelah. Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai apartemen, jatuh membentuk garis-garis keemasan di lantai kamar. Untuk beberapa detik, Chandani hanya memandangi langit-langit sambil berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.Percakapannya dengan Noval. Wajah laki-laki itu. Dan kalimat yang sampai sekarang masih terasa berat di kepalanya."Chandani, can we take a break from this relationship?"Chandani menghela napas panjang. Dia tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa kehadiran Noval. Ia bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan keluar kamar. Saat melewati ruang tengah, langkahnya berhenti.Di atas meja makan, terdapat sebuah kantong plastik putih. Chandani mengernyitkan kening. Tidak mungkin Cahya bangun pagi dan membeli sarapan. Ia mendekat dan membuka sedikit bagian atasnya.Aroma bubur ayam yang masih hangat langsung menyeruak. Ada dua dua bungkus di sana. Chandani terdiam. Di atas kantong itu terdapat seca

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 140

    Cahya berdiri cukup lama di depan pintu apartemen Chandani, lalu memasukkan kode sandi. Cahya sedang menyiapkan diri agar tidak mengumpat kepada Chandani. Kemarin, saat Duna datang ke rumah sakit. Atau bahkan saat Duna mengantar Chandani ke rumah sakit, Noval masih terlihat tenang. Tapi malam ini, Noval menghubungi Cahya dengan nada yang tenang tapi juga sedikit — kesal. Temani Chandani. Hanya dua kata itu yang terus terngiang di kepalanya. Noval tidak menjelaskan banyak. Suaranya terdengar tenang, tetapi Cahya bisa menangkap sesuatu yang berat di baliknya. Seolah laki-laki itu sedang berusaha menahan perasaannya sendiri. "Chan?" Tidak ada jawaban. Apartemen itu begitu sunyi. "Chandani?" Chandani sedang meringkuk di atas kasur. Wajahnya menghadap bantal, sementara kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya naik turun menahan tangis. Cahya terdiam. Dia tidak langsung bertanya. Dia hanya berjalan mendekat, duduk di tepi kasur, lalu menepuk pelan bahu Chandani. "Chan..."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status