LOGINJustin yang masih berjongkok tepat di bawah Violet kembali tersenyum tipis melihat pengantin wanita itu kini tampak ketakutan menatap.
Wajah Violet memerah, tersipu malu mengingat sangat banyak anggota keluarah Morgan yang melihat aktivitas Justin. Aktivitas dimana Justin yang melepaskan kain kecil tepat di paha Violet sebelumnya. "Pipimu semakin memerah, Princess." "Kau tersipu malu setelah aku melakukannya dengan sempurna ritual ini?" Tanya Justin kemudian kepada Violet. Mata Violet berkaca-kaca seketika setelah mengingat bahwa pernikahan gila yang terjadi ini adalah sebatas kontrak, kontrak untuk membayar hutang. Violet semakin merasa takut hingga tanpa sadar mulai meneteskan air matanya, tubuhnya yang masih belum tersentuh siapapun akan menjadi santapan lahap untuk Justin. Santapan serigala besar di atas ranjang dan itu akan terjadi malam ini. "Ritual gila." Jawab Violet pelan. Violet mengusap air matanya kasar begitu saja dengan tatapan tajam mengarah tepat ke mata biru milik Justin. Violet memang takut dengan Justin, namun di sisi lain wanita itu menyadari bahwa dirinya dan Justin memiliki posisi yang sama di dalam keluarga Morgan. Justin sebagai suami Violet, Violet sebagai istri Justin. "Kau tidak akan faham, Justin." "Aku sekarang benar-benar malu berada di dalam pesta pernikahan ini." "Ritual yang kau anggap menyenangkan itu bagiku adalah ritual gila, tidak senonoh sekaligus menjijikkan." Ucap Violet lagi kepada Justin. Violet kemudian berdiri dari duduknya dengan cepat, kedua tangan wanita tersebut mengangkat gaun pernikahan mewah itu lalu melangkahkan kakinya pergi begitu saja. Disinilah Violet menghentikan kakinya, sebuah ruang dengan dominan foto keluarga dimana wanita tersebut menyimpulkan jika itu adalah tempat keluarga Morgan bercengkerama. "Kau sungguh nekat, Vio." "Kau sungguh berani melemparkan dirimu yang seperti domba kecil ini kepada serigala besar seperti Justin." "Astaga, ingin sekali rasanya aku pergi dari tempat ini." "Namun jika kau pergi bagaimana dengan nasih Ibu?" "Ya Tuhan, mengapa harus Justin Morgan yang memberi pinjaman uang kepada keluargaku?" "Mengapa bukan pria normal pada umumnya, bukan pria kejam sekaligus pria yang sudah tidur dengan wanita manapun itu seperti Justin." Begitulah kalimat yang Violet ucapkan kepada dirinya sendiri. Violet hanya mampu pasrah setelah ini, menjadi istri dari Justin dan akan memberikan pria itu anak. Kontrak selesai. Jalan satu-satunya agar segera lepas dari Justin adalah memberikan keturunan secepat mungkin kepada pria tersebut. Itulah solusi yang Violet dapatkan setelah menghela nafas penuh rasa putus asa sebelumnya. "Violet.." Panggil seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut. Violet seketika mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memanggil dirinya itu. "Ternyata kau Liam, ada apa?" Tanya Violet kepada Liam. Liam tersenyum tipis bersamaan dengan kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah Violet. Liam Kennedy, seorang pria yang memiliki kekuasaan wilayah barat dan masih berada di bawah Justin. Benar, Liam adalah rekan bisnis Justin dimana Violet memang sudah mengenal pria tersebut sebelumnya tepat sebelum mengenal Justin. "Kau sedang apa disini?" Tanya Liam kepada Violet. Violet tersenyum tipis kemudian mengendikkan bahunya singkat sebagai jawaban atas pertanyaan Liam. "Entahlah, Liam. Menenangkan diri mungkin." Jawab Violet kemudian. Liam menyukai Violet dan itu sudah berlangsung sejak lama. Violet tidak mengetahui hal tersebut mengingat wanita itu dengan Liam hanya saling menyapa, tidak begitu dekat satu sama lain. "Kau baik-baik saja menikah dengan Justin?" Tanya Liam lagi kepada Violet. "Baik-baik saja, Liam. Memangnya aku harus tidak baik-baik saja setelah menikah dengan Justin?" Jawab Violet bertanya kepada Liam. Liam tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya, "Aku melihat kau tidak baik-baik saja setelah menikah dengan Justin." "Perasaanmu saja, Liam. Aku baik-baik saja bersama Justin." Di tempat lain, Justin sedang berdiri bersama kedua wanita di sisinya. "Kau sekarang benar-benar sudah menikah, Justin?" Tanya salah satu wanita itu. "Kau akan jarang main ke Club ataupun Kasino setelah menikah." Sahut wanita lainnya. "Justin, aku belum terima kau menikah." Justin hanya tersenyum tipis menanggapi semua kalimat wanita yang ada di depannya saat ini, merengek seperti anak kecil yang penuh rasa tidak terima. Tidak terima jika Justin sepanjang malam akan tidur dengan Violet, istri barunya. "Kemarilah, Justin.. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadamu." Ucap Angela, wanita panggilan Justin untuk bermain ranjang setiap saat. Kembali kepada Liam dan Violet yang berada di ruang keluarga Morgan. Liam mengeluarkan sesuati dari dalam saku celananya, mengangkatnya tinggi-tinggi tepat di depan Violet. "Aku mendapatkan ini, Vi. Apa hadiah untukku darimu?" Tanya Liam kepada Violet dengan tersenyum penuh arti. Mata Violet terkejut bukan main setelah melihat apa yang ada di tangan Liam, kain kecil yang awalnya berada di paha wanita tersebut dan di lempar oleh Justin. Benar, Liam yang menangkapn kain itu. "Aku sangat mengetahui jika kau masih perawan, Vi." "Bercintalah denganku dan aku akan bersikap lembut." "Dan setelah denganku, bercinta dengan Justin tidak akan kau merasakan sakit." Ucap Liam kemudian kepada Violet. Bahkan Violet dengan kasar menepis tangan Liam yang akan menyentuh tubuhnya. "Dalam mimpimu, Brengsek!" "Wow, kau ternyata kasar juga.. Yang kasar-kasar memang menantang." Sahut Liam cepat dengan mengerlingkan matanya. Violet berjalan mundur, semakin mundur mengingat Liam terus saja berjalan maju mendesak wanita tersebut. "Jika kau berani menyentuhku, kau akan habis di tangan Justin." Peringat Violet kepada Liam dengam suara yang bergetar, ketakutan. Liam tertawa, "Justin akan menghabisiku? Tidak mungkin, Babe. Aku adalah orang kepercayaan Justin." "Pernikahan kau dan Justin terlihat jelas terjadi karena terpaksan." "Justin akan sangat rela berbagi wanita denganku." Violet menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut, percaya atau tidak namun wanita itu sangat yakin jika Justin akan selalu berada di pihaknya. Liam mulai mengeluarka pistol dari dalam sakunya, mendekatkan pistol tersebut tepat di leher Violet hingga wanita tersebut hanya mampu mendongakkan kepalanya penuh ketakutan. "Justin!! Justin!!" "Tolong aku!! Justin!!" "Justin, tolong aku!!" Begitulah teriak Violet sangat keras sebelum Liam membungkan bibir wanita tersebut menggunakan tangannya. Justin yang awalnya berbincang dengan Angela, wanita panggilan itu seketika berlari begitu saja mencari Violet. BRUGH!! "Siapa kau yang berani menyentuh istriku?!!" Teriak Justin setelah menarik tubuh Liam kemudian mendorongnya dengan kasar ke dasar lantai. Keributan yang terjadi di ruang tengah sukses membuat anggota keluarga Morgan berlari menuju ruangan tersebut. Justin mengamuk seperti singa yang ingin membunuh musuhnya. Tangan Justin melayangkan pukulan meras berkali-kali tepat di wajah Liam hingga wajah pria tersebut penuh darah. Dengan penuh emosi, Justin mengalihkan pandangan matanya ke arah Violet yang berdir lemas menempel di tembok. "Katakan kepadaku, sayang.." "Tangan kanan atau tangan kiri yang digunakan bajingan ini untu menyentuhmu?" Lanjut ucap Justin bertanya kepada Violet. Violet seketika mendongakkan kepalanya menatap Justin, menggeleng pelan karena wanita tersebut masih dalam keadaan ketakutan. "Istriku adalah bidadari, Liam.. Dan dia sangat baik." "Kau beruntung karena aku tidak memotong tanganku setelah berani menyentuh tubuhnya." "Kau tahu, Liam? Violet adalah istriku, Violet Morgan." "Jika kau atau orang lain berani menyentuh milikku, aku tidak segan-segan memotong tangannya tanpa ragu." "BERLAKU UNTUK SEMUANYA!! TIDAK ADA YANG BOLEH MENYENTUH ISTRIKU, VIOLET MORGAN!!" Tariak Justin keras, menggema di seluruh ruangan sebagai peringatan untuk semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. "Arghh!!! Jangan kau potong jariku, Justin. Aku mohon." "Aku bersumpah tidak akan mengganggu istrimu lagi." Ucap Liam lagi, memohon kepada Justin. Terlambat, Justin tidak terima pengampunan dari siapapun itu. "Anggap saja ini adalah pertunjukkan menarik di pesta pernikahanku yang tidak akan kalian lupakan selamanya." "Bukankah sebuah pesta pernikahan harus ada pertujukan? Nikmatilah pertunjukan ini." Ucap Justin kemudian tepat setelah salah satu jari Liam terputus begitu saja. Justin berjalan mendekat ke arah Violet, memeluk wanita tersebut. Tubuh Violet sendiri yang berada di pelukan Justin masih bergetar hebat, sangat takut. "Semuanya akan baik-baik saja, Princess." "Mari kita pergi dari sini." Ucap Justin lagi bersamaan dengan mengangkat tubuh Violet, membawanya keluar dari ruang keluarga. "Justin.. " Panggil Violet tiba-tiba. "Kau sungguh akan membagiku dengan pria lain?" ---"Kau wanita yang bernama Violet itu?" Suara wanita yang datang tiba-tiba menghampiri Violet. Violet yang sedang duduk di teras samping mansion seketika memalingkan wajahnya, menatap wanita tersebut. Wanita cantik dengan pakaian seksi, tubuh berisi sekaligus rambut hitam panjang kini berdiri tegap di depan Violet. Kedua tangan wanita itu terlipat rapat di depan dada, wajah menampilkan kesombongan dan bibir yang menunjukkan ekspresi penuh remeh. "Kau siapa?" Tanya Violet kemudian. Daripada bertanya-tanya penasaran kepada dirinya sendiri, Violet lebih memilih memberanikan bertanya begitu saja tanpa ragu. "Gracia Holland." Jawab wanita tersebut, memperkenalkan diri kepada Violet. Violet mengerutkan keningnya menatap kebingungan siapa wanita yang bernama Gracia itu. "Kau pasti ingin mengetahui siapa aku, bukan?" Tanya Gracia, terdengar sombong seperti sebelumnya.Gracia kemudian mengibaskan rambut panjangnya penuh percaya diri kemudian menatap remeh ke arah Violet. "Aku adalah sat
"Eughhh.." Erang Violet bersamaan dengan membuka matanya perlahan. Sinar matahari berhasil masuk ke dalam kamar Justin dimana Violet terpaksa harus membuka matanya.Mata Violet melotot terkejut saat melihat tangannya sendiri memeluk tubuh Justin dengan hangat."Astaga, aku benar-benar menyentuhnya." Gumam Violet kepada dirinya sendiri.Violet segera mengubah posisinya menjadi duduk kemudian melihat tubuhnya sendiri di bawah selimut tebal itu."Tidak ternyata." Ucap Violet pelan dengan bernafas lega setelah menyadari bahwa wanita tersebut belum bercinta dengan Justin.Benar, Violet tidak akan melepas keperawanannya sebelum wanita tersebut benar-benar siap menerima Justin. Tidak peduli dengan waktu yang telah ditentukan oleh Justin, Violet hanya ingin bercinta dalam keadaan siap dan tentunya berani.Malam pertama dan penuh perbincangan sebelumnya telah Violet lewati, tanpa rasa takut dan tegang seperti sebelumnya. Malam yang harusnya Justin bercinta dengan Violet, berubah menjadi mal
"Mengapa kau selalu menegang saat aku menyentuhmu, Princess?" Tanya Justin, menatap Violet yang sedang duduk di pinggir ranjang itu. Desahan serta erangan palsu yang keluar dari bibir Violet sebelumnya sukses membuat Keluarga Morgan percaya jika mereka berdua telah bercinta. Bercinta dengan brutal, saling menikmati satu sama lain hingga saling memiliki. "Aku sedang bertanya kepada kau?" "Kau tidak akan menjawabnya?" Lanjut ucap Justin bertanya kepada Violet.Violet dengan perlahan mendongakkan kepala menatat Justin, mencoba untuk tidak takut lagi dengan pria tersebut."Tidak." Jawab Violet singkat kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Tidak menatap kedua mata tajam Justin adalah pilihan yang tepat saat ini.Violet sadar jika Justin mungkin saja marah kepadanya mengingat wanita tersebut belum siap untuk melakukan hal itu.Melakukan adegan ranjang yang panas sekaligus penuh kenikmatan di malam pertama mereka.Justin berjalan mendekat ke arah Violet dan duduk tepat di
"Akhirnya kita ada di puncak acara malam ini.." "Puncak acara yang sudah lama kita nantikan sejak pagi sebelumnya." "Puncak acara kita malam ini adalah.." "Melihat Justin bercinta dengan Violet, di dalam kamar mereka." "Violet yang terdengar masih perawan akan mengerang nikmat di bawah tubuh Justin." Violet yang memiliki tubuh lebih pendek dari Justin seketika mendongakkan kepalanya menatap pria tersebut dengan mata melotot. Para tamu sendiri yang mendengar hal tersebut seketika bersorak riang sekaligus senang bukan main. "Ini tradisi keluarga Morgan." Ucap Justin menundukkan kepalanya menatap Violet. Violet menelan ludahnya kasara setelah mendengar kalimat pernyataan Justin sebelumnya. Tradisi, katanya? Bagi Violet itu adalah tradisi gila yang benar-benar menjijikkan. Demi apapun itu, Violet sudah merasa gila belum ada satu hari penuh menjadi istri seorang Justin Morgan. "Semuanya keluar, aku akan membuat Violet mendesah malam ini di dalam kamar ini.
Justin yang masih berjongkok tepat di bawah Violet kembali tersenyum tipis melihat pengantin wanita itu kini tampak ketakutan menatap. Wajah Violet memerah, tersipu malu mengingat sangat banyak anggota keluarah Morgan yang melihat aktivitas Justin. Aktivitas dimana Justin yang melepaskan kain kecil tepat di paha Violet sebelumnya. "Pipimu semakin memerah, Princess." "Kau tersipu malu setelah aku melakukannya dengan sempurna ritual ini?" Tanya Justin kemudian kepada Violet. Mata Violet berkaca-kaca seketika setelah mengingat bahwa pernikahan gila yang terjadi ini adalah sebatas kontrak, kontrak untuk membayar hutang. Violet semakin merasa takut hingga tanpa sadar mulai meneteskan air matanya, tubuhnya yang masih belum tersentuh siapapun akan menjadi santapan lahap untuk Justin. Santapan serigala besar di atas ranjang dan itu akan terjadi malam ini. "Ritual gila." Jawab Violet pelan. Violet mengusap air matanya kasar begitu saja dengan tatapan tajam mengarah tepat ke mata biru
Tatapan Violet sungguh kosong dengan gaun pernikahan sederhana yang sudah menutupi seluruh tubuh kecilnya. Menikah dengan ketua mafia yang kejam sama sekali tidak pernah terlintas di dalam angan-angan Violet sedikit pun. Dan kini, pernikahan tersebut akan berlangsung dalam waktu dekat ini. "Ya Tuhan, aku benar-benar terlihat seperti domba kecil yang sedang ketakutan." Gumam Violet pelan, mengambil nafas dalam-dalam lagi kemudian menghembuskan perlahan. Suasana gereja sudah ramai, beberapa orang tersebut adalah anggota mafia Keluarga Morgan. Tidak ada keluarga Violet maupun teman dekat wanita tersebut di dalam gereja megah itu. BRAK!! Pintu gereja terbuka dengan kasar tiba-tiba dimana Justin muncul, masuk ke dalam gereja dengan kemeja putih yang sudah bernoda darah. Bibir Violet memucat seketika saat Justin sudah berdiri di depannya. Tangan yang ada sisa darah beserta kemejanya, tidak membuat orang yang ada di dalam gereja ketakutan. Benar, semua orang yang ada di da







