MasukTatapan Violet sungguh kosong dengan gaun pernikahan sederhana yang sudah menutupi seluruh tubuh kecilnya.
Menikah dengan ketua mafia yang kejam sama sekali tidak pernah terlintas di dalam angan-angan Violet sedikit pun. Dan kini, pernikahan tersebut akan berlangsung dalam waktu dekat ini. "Ya Tuhan, aku benar-benar terlihat seperti domba kecil yang sedang ketakutan." Gumam Violet pelan, mengambil nafas dalam-dalam lagi kemudian menghembuskan perlahan. Suasana gereja sudah ramai, beberapa orang tersebut adalah anggota mafia Keluarga Morgan. Tidak ada keluarga Violet maupun teman dekat wanita tersebut di dalam gereja megah itu. BRAK!! Pintu gereja terbuka dengan kasar tiba-tiba dimana Justin muncul, masuk ke dalam gereja dengan kemeja putih yang sudah bernoda darah. Bibir Violet memucat seketika saat Justin sudah berdiri di depannya. Tangan yang ada sisa darah beserta kemejanya, tidak membuat orang yang ada di dalam gereja ketakutan. Benar, semua orang yang ada di dalam gejera tersebut sudah mengetahui bagaimana kejamnya seorang Justin. Penuh luka ataupun darah sangat umum di dalam kehidupan mafia. "Kemeja kau berdarah." Ucap Violet pelan. Justin tersenyum tipis, "Bukan darahku, tenang saja." "Sebelum aku menikah hari ini, ada sesuatu yang harus aku urus." Lanjut jawab Justin kemudian. Setelah mengucap sumpah pernikahan di depan pendeta, tangan Justin meraih tangan Violet dengan cepat. "Kau harus mengetahui apa prinsip seseorang yang sudah masuk ke dalam Keluarga Morgan, Princess." Ucap Justin menatap Violet. Violet mendongakkan kepalanya, menatap kedua mata Justin begitu saja tanpa ragu. "Katakan, Princess. Apa prinsip itu?" Ucap Juatin lagi, bertanya kepada Violet. Violet menelan ludahnya kasar, memalingkan wajah singkat menatap semua orang yang ada di dalam gereja tersebut. Tidak ada manusia lain yang Violet kenal di dalam gereje tersebut selain Justin. Violet ingin mundur dari pernikahannya bersama Justin, tidak bisa. Mereka berdua tepatnya Justin dan Violet sudah mengucap janji pernikahan, mereka kini sah menjadi pasangan suami istri secara resmi. "Aku bersumpah, aku akan masuk ke dalam Keluarga Morgan dalam keadaan hidup dan akan keluar dari Keluarga Morgan dalam keadaan mati." Itulah sumpah untuk masuk ke dalam marga Morgan. Violet Anderson telah berubah menjadi Violet Morgan. "Bagus." Jawab Justin pelan, tersenyum tipis bersamaan dengan tangan yang mendorong cincin ke jari manis Violet. Pendeta menatap Justin dan Violet bergantian, tersenyum penuh arti kemudian mengangguk singkat menatap pria tersebut. "Sekarang kau boleh mencium pengantinmu." Ucap Pendeta kepada Justin. Justin menatap singkat cincin berlian yang berhasil pria itu pasangkan tepat di jari manis milik Violet. "Entah ini ciuman pertamamu atau bukan, namun yang jelas untuk malam ini aku akan mengambil semua yang ada di dalam dirimu." "Aku aku membuat ciuman di pernikahan kita ini tampak manis, Princess." Ucap Justin lagi kepada Violet. Tidak menunggu jawaban Violet, Justin segera menempelakan bibirnya tepat di bibir Violet. Mereka berdua berciuman sekaligus saling melumat singkat beberapa detik. Para tamu bersorak senang melihat Justin dan Violet berciuman intim di atas altar, benar-benar sumpah pernikahan yang meriah untuk Justin Morgan sebagai ketua mereka. "Resmi sudah.. Aku resmi menikah dengan Justin, Justin Morgan." "Ketua mafia seperti dewa pencabut nyawa yang kejam, seorang raja sekaligus seorang monster." "Kau adalah Violet Morgan sekarang ini, seorang persembahan untuk raja mafia malam ini." Begitulah jeritan batin Violet saat wanita tersebut sudah berada di dalam mobil yang sama dengan Justin. Upacara pernikahan telah selesai. Mereka berdua tepatnya Violet dan Justin kini melakukan perjalanan pulang bersama dengan tujuan mansion Morgan. "Wow, pengantin Justin sangat cantik." Ucap seoranga wanita yang tiba-tiba menyambut kedatangan mereka. Tangan Violet ditarik oleh dua orang wanita begitu saja, masuk ke dalam mansion tersebut kemudian mendorong wanita tersebut agar duduk di salah satu kursi kosong. Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut menatap Violet. Acara lemparan penahan gerter telah tiba. Justin akan melepaskan sebuah ikatan kecil yang melingkar di paha Violet menggunakan giginya. Wow, acara yanh sungguh menegangkan untuk Violet. "Justin sungguh seksi, Violet benar-benar beruntung bisa mendapatkan Justin." "Justis memang tampak sekaligus seksi." "Semua wanita mengakuinya." "Tapi Violet tidak akan beruntung atas pernikahan ini." "Violet tidak akan merasa beruntung setelah Justin selesai menaklukkannya malam ini." "Terlihat seperti domba yang menikah dengan serigala besar." "Violet tidak akan selamat dari ranjang Justin." Kalimat itulah yang mampu masuk ke dalam indra pendengaran Violet hingga wanita tersebut hanya terdiam kaku, menatap Justin yang berjalan mendekat ke arah dirinya. Justin menatap Violet, berjongkok dengan perlahan dan mulai membuka gaun pernikahan tersebut tanpa ragu. Dengan santai dan penuh keyakinan, gigi Justin berhasil menarik turun kain yang melingkar di paha Violet tersebut hingga terlepas. Justin melempar kain tersebut entah kemana, pria tersebut tidak peduli. Bagaimana dengan Violet? Detak jantung Violet berdegup kencang bukan main dengan mata yang menatap Justin, menurunkan kain itu dengan santai. "Kakimu bergetar hebat, Princess." Ucap Justin menatap Violet bersamaan dengan tangan yang berada di kaki wanita tersebut, menghentikan getaran itu. Justin dan Violet saling menatap satu sama lain, mata mereka saling memandang hingga pria tersebut tersenyum tipis begitu saja. Justin masih tidak menyangka jika pria tersebut akan menikah dengan sembarang wanita mengingat Justin sendiri sudah tidur dengan banyak wanita di luar sana. Semua wanita dengan senang menawarkan tubuhnya sendiri hanya untuk tidur dengan Justin. Memohon kepada Justin tanpa ragu dan tanpa malu. Tidur dalam artian lain, berhubungan ranjang yang panas tepatnya. "Kaki kau bergetar karena takut denganku.." "Atau kau tidak sabar melewati malam yang bersemangat denganku di atas ranjang kita, Princess?" Ucap Justin kemudian bertanya kepada Violet. Dengan nafas menderu karena takut sekaligus panik menjadi satu, Violet tetap memberanikan diri untuk membalas tatapan Justin. "Justin.." Panggil Violet pelan, berusaha menarik kakinya dari tangan Justin. Tangan Justin berada di paha Violet semakin rapat, bibir pria tersebut lagi dan lagi tersenyum tipis menatap Violet. Wajah Violet benar-benar terlihat ketakutan sekaligus gugup menjadi satu. "Mungkin aku bisa membuat kakimu tidak bergetar lagi seperti sebelumnya, Princess." Ucap Justin pelan kepada Violet. Justin kemudian mendekatkan bibirnya tepat di samping telingan Violet. "Tapi aku akan membuat kau tidak bisa turun dari ranjang kita, Princess.. Tidak bisa berjalan apalagi." "Itu sangat mudah untuk aku lakukan malam ini." "Diatas ranjang kita, kau akan mengerang nikmat di bawah tubuhku." "Kau akan memohon kepadaku, Violet. Kau akan memohon kepadaku agar aku segera memasuki tubuhmu." "Ingat itu, Violet." --"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanya Justin kepada Dokter yang menangani Violet sebelumnya. "Darah yang keluar dari bagian kepala cukup deras, untung saja anda cepat membawanya ke rumah sakit." "Istri anda benar-benar mengalami benturan sekaligus pukulan yang keras sebelumnya." Lanjut ucap Dokter tersebut menjawab pertanyaan Justin. Justi menghembuskan nafas pelan, merasa gagal melindungi Violet hingga wanita tersebut mengalami hal buruk seperti ini. Tangan Dokter tersebut membuka sedikit seragam pasien yang saat ini Violet gunakan tepat di bagian leher, menunjukkan kepada Justin."Anda bisa melihatnya sendiri Tuan Morgan, sangat jelas bahwa istri anda mengalami kekerasan." "Bekas luka yang ada di leher istri anda ini adalah bekas cekikan tangan, sangat keras hingga memerah bahkan membiru." Ucap Dokter tersebut, lagi. Justin meraih tangan Violet, mengecupnya lama tepat setelah sang Dokter berpamitan keluar dari ruangan tempat Violet menginap. "Maaf, aku benar-benar min
Justin melihat singkat jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya itu, sudah lewat beberapa menit lamanya namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Violet. "William mengatakan bahwa kau datang bersama istrimu." Ucap Chales yang tiba-tiba duduk di samping Justin. "Lantas, mengapa kau duduk disini sendirian? Istrimu yanh dimaksud William itu kau kemanakan?" Lanjut ucap Charles kemudian, celingukan ke arah sekitar mencari sosok istri seorang Justin Morgan. Justin sendiri sedang menunggu kedatangan Violet yang sebelumnya telah berpamitan untuk pergi ke toilet. Benar-benar lama mengingat beberapa menit telah berlalu. "Sedang di toilet, aku juga sedang menunggunya untuk kembali." Jawab Justin. Charles mengangguk pelan bersamaan dengan menepuk bahu Justin, pria tua itu sungguh tidak menyangka jika Justin sudah menikah dan kini telah menjadi seorang suami. Charles dan William adalah sahabat baik ayah Justin, kedua orang tua tersebut benar-benar menyayangi pria itu sep
"Kau datang kemari juga, Vi?" Suara seorang pria yang bertanya kepada Violet tepat di dalam pesta tersebut. Edward Smith. Dokter bedah yang bekerja di rumah sakit dimana tempat itu adalah tempat Elle dirawat sekaligus menjalankan operasi. Violet mengalihkan pandangan matanya, "Dokter Edward, kau datang kemari juga ternyata." Sahutnya. "Keluarga Smith diundang untuk acara pesta ini, aku datang kemari mewakili keluarga." Ucap Edward. Violet merasa sedikit lega setelah kedatangan Edward mengingat dari sekian banyak manusia di pesta yang sedang berlangsung itu, wanita tersebut tidak mengenal siapapun. "Kau terlihat cantik malam ini." Ucap Edward tiba-tiba kepada Violet. Bibir Violet tersenyum manis, mengambil segelas minuman anggur yang ditawarkan oleh seorang pelayan kepadanya tanpa ragu. Edward sudah menyukai Violet sejak lama, pria tersebut belum berani mengakui perasaannya sendiri. "Bagaimana keadaan Ibuku?" Tanya Violet kepada Edward. Edward mengangguk singkat, "O
Justin melongo saat kedua matanya menatap kagum ke arah Violet yang sedang berjalan pelan menuruni tangga. Benar-benar cantik. Dres berwarna merah dengan syal di area leher itu sungguh cocok dengan tubuh Violet. Justin tidak salah pilih kali ini. "Kedipkan mata kau itu, Jusa.." Ucqp Violet tiba-tiba setelah tiba di depan Justin. Justin mengerjapkan matanya pelan kemudian tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak terlihat jika Violet tidak benar-benar memperhatikan bibir itu. Tangan Justin bersiap menerima tangan Violet, wanita tersebut menatap pria itu untuk memastikan. "Kau istriku, Princess." Ucap Justin singkat. Violet segera melingkarkan tangannya tepat di lengan Justin lalu mereka berjalan bersama menuju mobil. Malam ini adalah pesta perjamuan untuk penggalangan amal dilaksanakan. Untuk pertama kalinya Violet datang ke sebuah pesta yang benar-benar mewah sekaligus banyak orang penting di dalam acara tersebut. "Justin.." Suara Gracia tiba-tiba memanggil nama Justin. J
Violet mendongakkan kepalanya, menatap Justin yang berdiri di samping wanita tersebut dan mengedipkan mata kebingungan. Di depan Violet banyak sekali pilihan warna, model sekaligus bentuk pakaian untuk sebuah pesta. Pesta perjamuan untuk amal yang sudah dikatakan oleh Justin sebelumnya. Violet kebingungan, harus menggunakan pakaian seperti apa sekaligus bagaimana agar tidak membuat Justin malu nantinya. "Mengapa kau diam saja, Princess?" Tanya Justin dengan tangan kekar pria tersebut mengusap lengan Violet. Justin sudah menyiapkan semuanya, tugas Violet hanya mencoba kemudian memilih dengan senang hati. "Aku akan mencoba seluruh pakaian ini, Jusa?" Tanya Violet kepada Justin. Justin mengangguk, "Tentu, Princess. Kau akan mencobanya satu persatu." Jawabnya kemudian. Pegawai toko tersebut dengan senang hati membantu Violet untuk mencoba semua pilihan Justin hari ini. Toko pakaian mewah dengan merek ternama, salah satu milik keluarga Morgan alias Justin Morgan adalah pilih
"Besok ada pesta perjamuan untuk amal, banyak orang yang akan hadir di pesta itu dan aku memutuskan untuk mengajak kau." Ucap Justin tiba-tiba. Violet yang sedang sibuk melipat beberapa pakaian, merapikan pakaiannya sendiri sekaligus Justin seketika mendongakkan kepalanya. "Mengajak aku?" Tanya Violet bertanya kepada Justin, memastikan apa yang telah wanita itu dengarkan sebelumnya. Kepala Justin mengangguk singkat sebagai jawaban kemudian fokus kembali dengan ponsel yang ada di tangannya. Violet memutuskan untuk diam dalam keadaan kebingungan, tidak pernah datang ke pesta dan harus menggunakan pakaian macam apa agar tidak membuat Justin malu nantinya. "Bagaimana jika kau pergi sendiri saja, Justin?" Ucap Violet tiba-tiba. "Atau biasanya kau pergi dengan siapa jika ada pesta? Kau pergi dengannga saja, Justin."' "Aku akan di rumah saja, tidak akan kabur dan aku berjanji." Lanjut ucap Violet kemudian. Violet lebih memilih untuk bersikap berani mengingat ingin bagai







