Mag-log in"Kenapa diam? Ini tawaran yang datang hanya sekali. Kenapa aku memilih kamu, itu karena aku ingin cucuku terlahir dari wanita bersih. Dan kamu wanita yang beruntung itu. Aku memilih kamu untuk menikah dengan anakku! Ingat waktu kamu tidak banyak. Jadi jangan banyak berfikir." Ucap wanita itu, penuh penekanan.
"Nyonya, bagaimana dengan istri pertama putra anda? Apakah ..." "Kamu jangan pikirkan yang lain. Tugas kamu cuma satu, menikah dan mengandung penerus keluarga Prasaja, kamu tidak lupa kan juragan Broto akan datang besok pagi dan kamu akan menjadi istri keempat tua bangka itu." "T-tapi, nyonya ..." "Kamu sudah membuang waktuku. Persiapkan dirimu, besok aku akan menjemputmu! Sebelum itu kamu hubungi nomer ini, pastikan jawabannya sesuai keinginan ku." Suara sepatu high heels beradu dengan lantai yang semakin menjauh dari Hana, tubuh yang sejak tadi menunduk kini luruh ke lantai. Air mata mengalir deras tanpa bisa di bendung lagi. Tangis Hana pecah, lelah dan sesak mengingat kejadian demi kejadian yang datang silih berganti. "Ayah, ibu, kenapa kalian tega meninggalkan aku di sini. Aku takut ayah, ibu, aku butuh kalian di sampingku," lirihnya. __ Di salah satu kamar mewah, tidak jauh berbeda dengan keadaan Hana. Pertengkaran terus terjadi. "Aku cuma butuh anak, tolong mengerti keadaanku. Kamu tahu mama akan terus mendesak aku menikah lagi, kali ini aku pun sangat menginginkan anak bukan hanya untuk mama tapi juga untuk masa depan kita," ucap Arsa, mencoba untuk membujuk istrinya. "Kamu tahu aku kan mas, aku tidak bisa hamil. Kamu tahu aku sakit, hidupku bergantung dengen obat-obatan itu," sahutnya di sela isak tangis yang mengiris hati Arsa. Arsa mendekap tubuh kecil istrinya, rasa bersalah semakin menghimpit perasaannya. "Sayang, maafkan aku, maafkan keegoisan aku dan mama. Tapi, kali ini aku tidak bisa menolak lagi. Pilihan ini begitu sulit untukku, keluarga ku membutuhkan penerus sayang. Entah itu dari rahim kamu atau wanita lain dan itu ..." "Jangan di teruskan, aku tidak ingin mendengarnya. Aku sangat mencintaimu Arsa, mana mungkin aku membiarkan kamu dengan wanita lain, aku tidak sanggup," "Jika begitu, beri aku solusinya. Aku juga lelah harus bertengkar sama kamu sayang, di sisi lain aku tidak abai dengan permintaan mama. Aku anak tunggal, hanya aku yang bisa mewujudkan impian mama," Arsa menangkup wajah sendu wanita yang sangat dicintainya. "Kita adopsi aja mas. Anak yang baru lahir, atau aku pura-pura hamil saat itu juga cari wanita hamil, anak itu akan menjadi milik kita tanpa aku hamil. Aku tahu kamu akan setuju sial ini, walau anak itu bukan dari rahimku. Mas ini cara terbaik dan kita ..." "Untuk kesekian kalinya, kamu memberikan solusi yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk kita ke depannya. Sayang, mama membutuhkan anak dari aku bukan orang lain, aku mohon mengerti aku," Sejenak keadaan hening, kamar mewah nan luas itu senyap hanya suara denting jarum jam seakan mengingatkan tiap detiknya adalah tuntutan untuk mereka berdua. Arsa memecah keheningan, sesaat sebelum beranjak dari duduknya menoleh ke arah samping di mana wanita yang dicintainya memilih berdiri di dekat jendela. "Aku pergi sebentar, aku harap kali ini kamu pikirkan perkataan ku." Arsa berbalik meninggalkan kamar yang tujuh tahun selalu hangat, namun semua hilang sejak setahun lalu, sejak wanita yang melahirkannya meminta penerus kejayaan keluarganya. Davina berbalik, di tatapnya pintu kamar yang tertutup rapat. "Haruskah aku menerimanya? Lalu gimana masa depanku di rumah ini. Tidak, aku tidak bisa diam seperti ini, aku tahu apa yang bisa aku lakukan." Ya, keputusan segara di ambil. Tidak selamanya Arsa akan menuruti keinginannya, mengalah demi sesuatu yang akan tercapai. Dua jam berada di kamar pada akhirnya Devina turun, bukan karena keinginannya tetapi ibu mertua yang memanggilnya. "Mama panggil aku?" tanya Devina, duduk di depan wanita yang terlihat masih cantik meski usianya sudah tidak muda lagi. "Mama mau kamu jangan menghalangi kedinginan kami. Kamu tahu Arsa anak tunggal, kami butuh penerus kamu harus sadar tidak semua bisa mengikuti keinginan kamu. Tujuh tahun kami menunggu nyatanya apa? Sampai sekarang kamu tidak juga memberikan yang kami mau." Cetus Fadya, tanpa basa-basi. Devina menghela napas, mengangkat wajahnya menatap wanita duduk anggun di depannya. Wajah cantik, sikap yang tegas tak terbantahkan. "Berikan waktu untukku dan mas Arsa bicara berdua mah, aku janji sebelum fajar datang aku sudah memutuskan." Sahutnya lirih, walau hati menolak keras ia tetap mengambil keputusan. Walau sebenarnya ia tahu apa yang harus di lakukan. Fadya mengangguk setuju, namun sedetik kemudian. "Terlalu lama. Putuskan sekarang, kami masih menghargai kamu sebagai istri Arsa. Putuskan saat suamimu datang!" Fadya beranjak pergi. "Kamu udah pulang mas?' "Ya, sayang," "Mas, aku setuju kamu menikah lagi. Tapi dengan syarat yang aku berikan, selain itu kamu harus mencari tahu seperti apa wanita itu. Aku tidak mau kamu menikah dengan wanita dari kalangan menengah ke atas, dan juga bukan dari selebriti. Aku melakukan ini demi nama baik kita, lakukan itu untukku. Pergilah cari tahu lebih dulu," ucap Davina. "Sayang kamu yakin melakukan ini?" tanya Arsa tidak percaya, anggukan antusias dan senyum di bibir Davina menyakinkan dirinya. Davina mendekat, "ya, demi kamu. Sampai kapan kamu akan bertahan dalam pernikahan itu?" "Satu tahun, setalah anak itu lahir aku akan menceraikannya. Anak itu kita yang akan mengurusnya," Arsa mengusap lembut rambut Davia, memastikan jika ia akan mengabulkan semua syaratnya. "Aku temui mama dulu, semakin cepat semakin baik. Kita akan memiliki anak tanpa harus menyakitimu sayang," "Ya, mas. Pergilah katakan apa yang kamu dengar dariku." Arsa menghampiri Fadya di kamarnya. Menyampaikan semua yang di katakan istrinya, Arsa melakukan semua itu agar ibunya paham jika istrinya adalah wanita yang baik tidak seperti yang di tuduhkan olehnya. "Bagus, kamu bisa menikah secepatnya. Mama yang akan mengaturnya," "Aku yang mengaturnya, tidak ada pesta dan pernikahan itu cukup mengundang penghulu." "Baiklah, terserah kamu." Sita begitu syok mendengar cerita Hana, namun di sisi lain ada hal yang menurutnya lebih baik meski sebenarnya itu tidak jauh dari kata baik. Lepas dari juragan Broto, Hana harus berhubungan dengan orang lebih berbahaya. "Hana, aku tidak bisa bilang ini baik. Tapi ini akan menjadi jalan kamu bebas dari juragan Broto, terima tawaran itu hanya untuk satu tahun. Setelah itu kamu akan kembali kehidupanmu sebelumnya. Pikirkan perkataan ku Han," "Sit, aku bukan..." Ucapan Hana terhenti, dering ponsel di atas meja mengalihkan mereka bedua. "Angkat," lirih Sita, setelah membaca nama di layar ponsel Hana. "Hal.." "Mulai saat ini juragan Broto tidak akan mengganggumu. Ingat jangan macam-macam, satu minggu lagi pernikahan kamu dengan anakku. Ingat jangan mengatakan apapun pada orang lain, kamu paham?" Suara Fadya terdengar tegas, tanpa basa-basi. Belum sempat Hana menyahut sambungan telepon terputus. "Apa yang di katakan nya? Biar aku yang buka!" Ucap Sita, membuka pintu yang di ketuk berapa kali dari luar. Sita tersentak di depannya berdiri pria tinggi berbaju serba hitam, kaca mata hitam melingkar di atas hidungnya. "Nona, segera tanda tangan. Ini perintah dari nyonyah!"Pengakuan sang dokter membuat Devan terdiam,dunianya seakan berhenti. Kakinya lemas, dadanya terasa sesak. Dalam satu malam, ia hampir kehilangan segalanya, istri yang entah sejak kapan menempati hatinya, dan putri kecil yang bahkan belum sempat ia peluk.Langkah sepatu terdengar tergesa di lorong rumah sakit. Bu Dania muncul, wajahnya justru tampak berseri.“Syukurlah cucu mama lahir,” ucapnya lega, nyaris tanpa empati. “Soal bayinya, pakai fasilitas terbaik. Apa pun biayanya. Tapi perempuan itu…," Ia mendengus. “Sudah tak perlu diurus lagi. Anak sudah lahir, Devan. Fokus saja ke darah dagingmu.”Kepala Devan terangkat perlahan. Sorot matanya gelap, rahangnya mengeras.“Diam, Ma,” ucapnya bergetar, menahan amarah yang mendidih. “Perempuan yang Mama sebut itu adalah istriku. Ibu dari anakku.”Bu Dania terdiam, namun belum sempat bicara lagi.“Pergi. Aku minta mama pergi dari sini." Ucapnya menekan marah yang berkobar dalam dadanya. Bu Dania bergeming, ia ingin melihat wajah cantik cu
Hari berlalu, setelah pertemuan hari itu tidak ada tanda-tanda wanita itu akan datang lagi. Entah apa yang di katakan atau bahkan apa yang di lakukan Devan padanya, sita tidak peduli. Sita menghela nafasnya, waktu begitu cepat dan kini ia hanya bisa menikmati kehamilannya gerakan janinnya yang tidak hentinya di sana. "Kisah Hana dan Tuan Arsa akan terulang lagi denganku," gumam sita. Sita mengusap perutnya yang semakin membesar, merasakan tendangan kecil yang datang silih berganti. Ada senyum tipis di bibirnya, namun matanya justru berkaca-kaca. Semakin dekat hari persalinan, semakin kuat rasa tidak adil itu menghimpit dadanya.Ia tahu, setelah bayi itu lahir, Devan akan mengambil alih segalanya. Anak itu akan menjadi milik keluarga mereka, sementara dirinya perlahan disingkirkan seperti kisah Hana dan Tuan Arsa yang kini seolah menjadi bayang-bayang masa depannya.Ponsel di sampingnya bergetar. Pesan singkat dari Bu Dania. [Jangan terlalu berharap. Setelah melahirkan, kamu tahu tem
"Untuk apa kamu datang ke sini?" Bu Dania, menetralkan detak jantungnya. Wanita paruh baya itu memilih duduk di sofa, tanpa mempersilahkan tamunya duduk."Apa kabar Tante? Masih ingat aku kan?" "Angel? Lama tidak bertemu. Oh, ya. Kabar tente sangat baik." Ujarnya sinis. "Katakan ada apa?" tanyanya tanpa mempedulikan wanita di depannya. "Tante benar, sudah lama kita tidak bertemu. Sebenarnya aku ke sini ingin mengajak kerjasama, pastinya akan menguntungkan kita berdua tan. Bagaimana kalau kesepakatan itu kita sahkan sekarang?" Ujar Angel.Bu Dania terdiam cukup lama, jemarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar.Kerja sama itu menggiurkan terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Lagi pula, Angel bukan orang asing baginya.Ambisius, licik, dan bebas tapi, justru itu yang membuat Angel berbahaya.Jika ia setuju, Angel akan “mengurus” semuanya.Sita akan tersingkir dari kehidupan putranya.Devan akan kembali pada jalur yang ia harapkan tanpa menunggu anak itu lahir. Keuntungan bisnis pun men
Bara yang sama sekali tidak curiga berjalan santai menuju ruang olahraga yang tampak kosong. Ia pikir Arsa ingin membicarakan sesuatu tentang pekerjaan keluarga, bukan sesuatu yang mencurigakan.Begitu pintu tertutup, Arsa langsung menghampirinya dengan wajah gelap.“Sa?” Bara mengernyit, tak sempat melanjutkan kalimatnya karena tinju pertama Arsa sudah mendarat tepat di rahangnya.Bara terhuyung. “Gila! Kamu kenapa—”Pukulan kedua dan ketiga menyusul, lebih keras, penuh amarah yang selama ini ditahan.“Berani kamu sentuh Hana?” desis Arsa, napasnya memburu.Wajah Bara memucat. “Aku, itu, itu sudah lama, dan—”“Diam!” Arsa menarik kerah sepupunya itu. “Aku tahu semua. Kamu coba melecehkan dia saat dia masih jadi istri kedua ku. Dan setelah perceraian, kamu berani tawarkan uang supaya dia ikut kamu?” Suaranya menggema di ruangan, getir dan menyala.Bara mencoba melepaskan diri, tapi tak ada tenaga untuk melawan. “Sa, maafkan aku. Aku, waktu itu hanya..,"Pukulan demi pukulan Arsa laya
Rumah sederhana Bu Ira mulai sepi. Para tamu undangan dan sahabat serta tetangga mulai meninggalkan pesta kecil nan sederhana itu, kini hanya pihak WO yang mulai merapihkan tenda.Devan menatap Sita yang masih duduk di ruang tamu, memegang buket sederhana pemberian tetangganya.“Boleh kita bicara sebentar?” tanyanya pelan.Sita mengangguk. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dibahas hari ini, di antara semua kekacauan dan kebahagiaan, ia tahu Devan masih menyimpan nama sahabatnya Hana. Itu membuat dadanya sedikit mengencang.Namun ketika Devan duduk di depannya, ekspresinya serius.“Aku tahu kamu ragu sama aku. Aku sadar selama ini aku banyak bikin kamu terluka,” ucapnya, suaranya rendah tapi mantap. “Tapi mulai hari ini, aku cuma mau mikirin kamu, rumah tangga kita, dan bayi kita. Nggak ada lagi yang lain.”Sita menunduk, jemarinya meremas buket.“Terserah kamu. Aku tidak memiliki hak untuk melarang kamu berhenti memikirkan orang lain. Pernikahan ini hanya untuk memberikan status pad
Devan ingin buru-buru mendekat, tapi langkahnya tertahan oleh suara ibunya Sita.“Jangan membuatnya terluka lebih dari ini. Jika itu terjadi, aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita seumur hidup. Kamu tahu kan sumpah wanita teraniaya tidak akan pernah melesat?"Devan menahan napas. Matanya hanya fokus pada Sita yang memalingkan wajah, enggan untuk menatapnya.“Sita, maafkan aku. Maaf sudah membuatmu seperti ini. Aku tahu aku salah, izinkan aku..,Dan saat itu, wajah Sita semakin pucat dan keringat dingin membasahi pelipis dan tubuhnya.Perawat yang lewat spontan masuk ke dalam ruang perawatan begitu Devan keluar dari ruang perawatan.“Tolong keluar dulu! Kondisi ibu dan janinnya turun naik! Cepat panggil dokter Erna!" Devan membeku, melihat keadaan Sita yang semakin memperihatinkan. Pintu ditutup tepat di depan wajah Devan oleh perawat.Ia berdiri di koridor, napas tersengal, seluruh jiwanya remuk. Begitu jahat dirinya yang meminta Sita minum obat pencegah kehamilan, bahkan tid







