ログインZello benar benar melindungi Sheza dalam hal apapun. Terlebih saat Zello tahu jika Aruna berniat mempermalukan Sheza dengan pakaian yang tak layak. "Zello, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya memberinya gaun seperti itu karena cocok dengan image nya." Zello menatap tajam kepada Aruna. Bisa bisanya merendahkan istrinya sampai seperti itu. "Jadi kamu berpikir jika istri yang selalu aku manjakan dengan semua barang mewah bahkan tak pernah ada cacatnya layak mendapatkan pakaian yang tak pantas di pakai? Kamu berniat membuat Sheza malu?" bentak Zello keras. Aruna sampai berjingkat karena kaget dengan nada keras dari Zello. Aruna pucat pasi, pasalnya Aruna tak menyangka jika Zello akan semarah ini. Aruna berpikir jika Zello tak pernah mencintai Sheza dan hanya menjadikannya pelarian dan pengganti. "Ze-zello bukan seperti itu." cicit Aruna takut. "Lalu seperti apa?" Kali ini bukan Zello yang bicara, melainkan Sheza. Sejak tadi dia membiarkan Zello bicara ka
Sheza masih berada di ruang ganti bersama asisten managernya. "Wah, nggak nyangka banget kalau baju jelek tadi bisa jadi cantik dan indah begini." "Nggak ada yang jelek, jika memang seorang designer, dia nggak akan bikin pakaian yang akan merusak citra dan pelanggannya." tegur Sheza pada asisten managernya. Asistennya mengangguk sembari meminta maaf, dia tahu jika Sheza bukan orang yang sembarangan menghina orang lain dan karyanya. Setelah semua selesai, Sheza keluar dari ruang ganti. Ternyata saat ingin masuk ke dalam ruang pemotretan dia melihat Zello ada disana bersama Aruna sang designer yang memberikannya baju tak layak untuk pengambilan gambar. Sheza dan asistennya langsung berhenti, memilih mendengar apa percakapan Aruna juga Zello di dalam sana. "Nona nggak mau kesana? Seperti nya designer baru itu ingin mendekati tuan Zello." Asisten manager itu melihat tak suka pada Aruna. Sementara Sheza hanya diam memperhatikan dari tempatnya. Dia tersenyum samar ket
Waktu berlalu setelah semua kejadian buruk menimpa Sheza dan Zello. Mereka semakin lengket dan semakin bahagia meskipun mereka kehilangan anak yang masih belum di ketahui jenis kelaminnya. Zello dan keluarganya berhasil meyakinkan Sheza jika perjalanannya masih panjang. Moza tak pernah menyalahkan Sheza dan menuntut Sheza untuk segera hamil anak Zello. Saat ini Sheza tengah menunggu gilirannya untuk pemotretan brand fashion baru dimana designer nya dari awal tak pernah senang dengan keberadaannya. Moza sudah memberi pesan jika ada masalah di perusahaan Sheza harus segera memberitahu. Tapi Sheza masih bisa mengatasinya. Jangan lupakan anak buah Zello yang selalu siaga di dekatnya. Meskipun tak terlihat tapi Sheza tahu jika mereka ada di dekat Sheza. Para kru perusahaan juga mengenal Sheza sebagai menantu kesayangan Moza. Meskipun tanpa Moza sekalipun Sheza tetap bisa terkenal dengan kemampuannya. "Sheza, ini pakaian mu yang akan di kenakan untuk pemotretan." Sheza mengerutka
Berita penangkapan Salsa dan Nana tersebar luas di media sosial. Sheza melihatnya di ruangannya. Sejak dia siuman, Sheza hanya diam saja meskipun Zello mengajaknya bicara. Moza juga baru saja kesana untuk mengantar beberapa makanan yang diminta oleh Zello. "Sayang ... kamu mau makan lagi?" Sheza hanya menjawab dengan gelengan kepala. Dia tak bernafsu untuk sekedar makan. Jika bukan karena Moza yang menyuapinya langsung mungkin sampai sekarang Sheza tak akan menyentuh makanan sama sekali. Zello menghela napasnya panjang, dia tak ingin memaksa Sheza untuk sekarang. Beruntung Moza tadi kesana dan itu sedikit membantu. Sheza meraba perutnya yang datar. Zello yang melihat itu ikut merasakan sakit. Mereka bahkan tak tahu jika disana sudah ada malaikat kecil mereka. Tanpa sadar air mata Sheza kembali menetes. "Zello, aku bodoh sekali. Aku tak bisa menjaganya." Zello merengkuh tubuh Sheza yang terlihat kurus saat ini. Dia mengusap punggung Sheza. Tak hanya Sheza yang merasakan
Sheza pergi dari sana dengan perasaan tak karuan. Sementara Nana dan Salsa di bawa pergi tanpa bisa bertemu dengan Tora lagi. Tepat saat Sheza ingin masuk ke dalam mobil, tubuh Sheza limbung. Hampir saja Sheza ambruk ke tanah jika Zello tak langsung menangkapnya. "Sayang ...." Zello berusaha membangunkan Sheza tapi tubuh Sheza semakin dingin. "Bawa ke rumah sakit, yang disini biar aku yang urus." Raka menyuruh Zello membawa Sheza ke rumah sakit. Dia khawatir jika Sheza butuh penanganan khusus setelah dia keguguran. Zello mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Setelah mendapat info jika Sheza nekat kembali bersama Raka untuk membalas dendam saat itu juga Zello meminta orang tuanya membawa Zello kembali menyusul Sheza. "Sayang ... bertahan sebentar ya ... " Zello tak peduli jika banyak orang yang mengklakson dirinya. Dia tetap menerobos beberapa mobil yang menghadang di depannya. Tak berapa lama, Zello sampai di sebuah rumah sakit. Dia membawa Sheza masu
Salsa menggeleng keras karena melihat Nana sedang di siksa oleh Sheza. Tak hanya menampar, Sheza juga menendang Nana berkali kali. Meskipun Nana meminta ampun tapi Sheza tak melepaskan nya begitu saja. Mengingat semua yang terjadi membuatnya gelap mata. Mata Raka membola saat Sheza mengambil sebuah pisau dan ingin menusuk Nana. Tapi dari belakang Raka muncul seorang yang berlari dengan cepat ke arah Sheza. Memeluk tubuh Sheza dengan kuat. Mencegah Sheza melakukan hal keji dengan tenaganya. "Sayang..... jangan....." Tubuh Sheza mematung saat mendengar suara yang sangat di kenali. Raka yang melihat Zello ada disana menghela napas lega. Meskipun dia bingung kenapa tiba tiba Zello sudah ada disana. Zello yang sudah sadar mencari keberadaan istrinya, awalnya Moza dan Farhan ingin menutupinya tapi ternyata Zello memaksa ingin tahu kemana Sheza. Zello sadar di saat Sheza baru saja berangkat bersama Raka. Untuk itulah akhirnya Zello bisa menyusul Sheza meskipun dia belum b







