MasukSalsa yang kesal karena merasa jika yang dimaksud Sheza adalah Zello langsung pergi mencari Sheza. Tapi ternyata Sheza sudah lebih dahulu melakukan pemotretan. Salsa menghentakkan kakinya keras. Dia mencari cara bagaimana bisa membalas Sheza kali ini.
Kemudian seringai jahat muncul di wajah Salsa. Dia mendekat ke arah beberapa lampu yang menyorot ke arah Sheza. Dengan tatapan yang jahat, Salsa mendorong lampu lampu itu ke arah Sheza. "Mati kamu cewek sialan!" gumam Salsa lirih. Raka yang ingin mengantar makanan yang di pesan Zello untuk Sheza membelalakkan matanya saat tahu ada bahaya di dekat Sheza. "Nyonya awas!!!" Raka berteriak keras. Dia juga melempar makanan yang dia bawa. Raka berlari dengan cepat lalu menarik tangan Sheza agar tak sampai terkena beberapa tiang lampu yang terjatuh. Sheza yang sempat menoleh semakin kaget saat tangannya di tarik keras oleh Raka. Tak hanya itu terdengar bunyi besi yang jatuh dan teriakan dari para kru yang lain. Napas Raka memburu karena hampir saja dia terlambat menyelamatkan Sheza. "Nyonya, nyonya tidak apa apa?" tanya Raka panik. Sheza mengerjapkan matanya karena masih syok, lalu dia mengambil napas panjang untuk mengontrol dirinya sendiri yang kaget. "Raka, terima kasih aku nggak apa apa." jawab Sheza lirih. Para kru berkerumun ke arah Sheza, lalu memeriksa keadaan Sheza saat ini. Tapi raut wajah Sheza kembali dingin seolah rasa takut tadi menghilang begitu saja. "Kenapa bisa tiang lampu itu jatuh bersamaan? Kalian ingin membunuhku?" tanya Sheza dingin. Matanya memindai semua orang yang ada disana. Pasalnya mereka juga sama sama terkejut karena kejadian ini. Di tambah tak hanya satu tiang yang jatuh tapi lebih dari satu tiang. Raka yang geram ingin menghajar mereka tapi Sheza menahan tangan Raka saat ini. "Apa kalian memang ingin mencelakakan nyonyaku? Kenapa hal keamanan saja kalian tak bisa menjaganya?" Semua orang menunduk, lalu tak sengaja ekor mata Sheza melihat Salsa tak jauh dari sana sedang melihat ke arah mereka. Sheza menarik tangan Raka agar mundur ke belakang dan membisikan sesuatu pada Raka. "Lakukan sekarang, kalau benar dia yang melakukannya aku sendiri yang akan membalasnya!!" Raka mengangguk mengerti, lalu pergi dari sana. Tak lupa juga Raka mengabari Zello tentang insiden saat ini. # Zello yang sedang melakukan rapat online reflek menggebrak mejanya. Hal itu membuat partner rapat Zello ketakutan. "Rapat selesai!" Zello mematikan sambungan rapat itu sepihak. Dan semua orang yang sudah hapal dengan watak Zello memilih untuk diam tak protes tentang apapun. Zello bergegas menyusul Sheza ke tempat pemotretan. Dia menghubungi Raka yang sedang mencari rekaman CCTV di tempat kejadian itu. "Raka, apa kamu sudah menemukan siapa orang itu?" tanya Zello marah. "Aku kirim videonya ke tuan!" Zello memeriksa video yang di kirim Raka kepadanya. Matanya menyipit saat tahu siapa dalang di balik jatuhnya semua lampu itu. "Berengsek, beraninya wanita itu!" "Tuan, tapi nyonya berpesan agar tak ikut campur. Kata nyonya, biar nyonya sendiri yang membalasnya." Mata Zello terpejam erat mendengar itu, ingin sekali menghabisi perempuan itu saat ini juga. "Antarkan Sheza ke vila. Aku tunggu disana!" Zello mematikan sambungan telfonnya dengan Raka. Dia memutar haluan mobilnya dan pergi ke vila yang ada di puncak. Dia ingin meredam semua emosinya saat ini. # Sheza sudah mendapatkan rekaman CCTV itu dari Raka. Dia juga sudah memberi peringatan pada semua kru untuk lebih berhati hati lagi. Tak hanya itu saja, Sheza mengancam mereka semua akan membatalkan kerja sama jika ada kelalaian kerja seperti saat ini. "Jadi nyonya, apa yang ingin nyonya lakukan kepada perempuan itu? Bukannya dia juga saudara nyonya?" pancing Raka. Saat ini ponsel Raka tersambung dengan Zello. Di seberang telfon itu, Zello menunggu apa jawaban Sheza saat ini. "Tidak, biarkan dia menikmati hidupnya sampai dia merasa menang. Setelah itu dia akan merasakan sakit yang sesungguhnya!" Jawaban Sheza membuat Zello tertegun, seberapa sakit sebenarnya yang di rasakan Sheza sampai dia menjadi seperti ini. Raka terdiam, dia tak menyahut apapun karena dia juga tak tahu harus menjawab apalagi. Terlebih melihat wajah murung Sheza yang tiba tiba. "Raka, kita mau pergi kemana?" Sheza menatap jalanan yang mereka lewati berbeda dengan jalan pulang ke rumah Zello. Raka tak menjawab karena Zello berpesan agar Raka tak mengatakan apa apa pada Sheza tentang kemana dia di bawa. "Apa Zello yang menyuruhmu?" Sheza belum mendapatkan jawaban dari Raka, mereka sudah sampai di Vila yang di maksud oleh Zello. " Nyonya, tuan muda sudah menunggu di dalam. Silahkan nyonya masuk, aku akan menyusul setelah ini." Sheza menatap Raka bingung tapi dia tetap menurut dan berjalan masuk ke dalam Villa itu. Ternyata saat Sheza membuka pintu beberapa pelayan sudah berjejer rapi disana. "Nyonya, silahkan ikut kami untuk bersiap. Tuan sudah menunggu di taman belakang." Sheza bingung, tapi entah kenapa langkah kakinya memilih untuk mengikuti para pelayan itu. "Apa yang akan dia lakukan disini?" to be continuedSheza yang mendengar perkataan Aruna terkekeh, bisa bisanya Aruna semakin tak tahu malu seperti itu. "Zello, sepertinya dia mulai gila." ujar Sheza santai. Aruna yang mendengar Sheza mengatakan jika dia gila kembali marah. Dia maju ke depan Sheza ingin meraih gaun milik Sheza, tapi tangan Zello lebih dahulu menahan nya lalu mencengkeram nya erat. Setelah itu, Zello menghempaskan tangan Aruna sampai Aruna terjengkang ke belakang "Argh...... Aw....." Aruna berteriak kesakitan tapi Zello tak peduli. Zello beralih pada Sheza, memeriksa tubuh Sheza takut jika ada yang terluka dari istrinya itu. Zello memutar tubuh Sheza berkali kali yang membuat kepala Sheza berputar. "Zello, stop!" "Aku pusing!" Zello yang tersadar langsung berhenti. Dia mencium seluruh wajah Sheza di depan banyak orang. Tak peduli jika mereka semua melihat. Sedangkan Raka menepuk pelan keningnya karena ulah Zello. "Sayang, maaf. Tadi aku panik, takut dia nyakitin kamu." ucap Zello penuh sesal..
"Kenapa diam? Kamu nggak bisa jawab?" Aruna gelagapan, dia tak menyangka jika Sheza akan mengatakan hal seperti itu. "Kalau kamu yang nolong aku, tentu saja kamu akan jadi saudara ku!" jawab Aruna yakin. Tapi terlihat sekali jika bola matanya bergerak liar, Sheza tahu jika Aruna mulai gelisah dan tak tenang. "Dia pikir dia siapa mau mempermalukan ku?" batin Sheza. "Jadi kamu masih kekeuh dengan pemikiran konyolmu itu? Ingin sekali aku tertawa. Terlebih Zello dan Raka nggak kenal sama kamu tapi kamu masih ngeyel jika kamu di tolong mereka. Terutama Zello." Sheza lalu berbalik ke arah Raka dan mengangguk sekilas. Aruna bingung kenapa Sheza tak lagi menyerangnya. Ternyata dari arah pintu masuk datang seorang laki laki lagi yang perawakannya mirip dengan Zello. "Aruna, sebenarnya aku nggak mau kayak gini. Tapi kamu usik seseorang yang emang seharusnya nggak kamu usik." Raka menunjuk laki laki itu, lalu dia berhadapan dengan Aruna. "Ingat dia? Laki laki yang sebenarn
Zello benar benar melindungi Sheza dalam hal apapun. Terlebih saat Zello tahu jika Aruna berniat mempermalukan Sheza dengan pakaian yang tak layak. "Zello, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya memberinya gaun seperti itu karena cocok dengan image nya." Zello menatap tajam kepada Aruna. Bisa bisanya merendahkan istrinya sampai seperti itu. "Jadi kamu berpikir jika istri yang selalu aku manjakan dengan semua barang mewah bahkan tak pernah ada cacatnya layak mendapatkan pakaian yang tak pantas di pakai? Kamu berniat membuat Sheza malu?" bentak Zello keras. Aruna sampai berjingkat karena kaget dengan nada keras dari Zello. Aruna pucat pasi, pasalnya Aruna tak menyangka jika Zello akan semarah ini. Aruna berpikir jika Zello tak pernah mencintai Sheza dan hanya menjadikannya pelarian dan pengganti. "Ze-zello bukan seperti itu." cicit Aruna takut. "Lalu seperti apa?" Kali ini bukan Zello yang bicara, melainkan Sheza. Sejak tadi dia membiarkan Zello bicara ka
Sheza masih berada di ruang ganti bersama asisten managernya. "Wah, nggak nyangka banget kalau baju jelek tadi bisa jadi cantik dan indah begini." "Nggak ada yang jelek, jika memang seorang designer, dia nggak akan bikin pakaian yang akan merusak citra dan pelanggannya." tegur Sheza pada asisten managernya. Asistennya mengangguk sembari meminta maaf, dia tahu jika Sheza bukan orang yang sembarangan menghina orang lain dan karyanya. Setelah semua selesai, Sheza keluar dari ruang ganti. Ternyata saat ingin masuk ke dalam ruang pemotretan dia melihat Zello ada disana bersama Aruna sang designer yang memberikannya baju tak layak untuk pengambilan gambar. Sheza dan asistennya langsung berhenti, memilih mendengar apa percakapan Aruna juga Zello di dalam sana. "Nona nggak mau kesana? Seperti nya designer baru itu ingin mendekati tuan Zello." Asisten manager itu melihat tak suka pada Aruna. Sementara Sheza hanya diam memperhatikan dari tempatnya. Dia tersenyum samar ket
Waktu berlalu setelah semua kejadian buruk menimpa Sheza dan Zello. Mereka semakin lengket dan semakin bahagia meskipun mereka kehilangan anak yang masih belum di ketahui jenis kelaminnya. Zello dan keluarganya berhasil meyakinkan Sheza jika perjalanannya masih panjang. Moza tak pernah menyalahkan Sheza dan menuntut Sheza untuk segera hamil anak Zello. Saat ini Sheza tengah menunggu gilirannya untuk pemotretan brand fashion baru dimana designer nya dari awal tak pernah senang dengan keberadaannya. Moza sudah memberi pesan jika ada masalah di perusahaan Sheza harus segera memberitahu. Tapi Sheza masih bisa mengatasinya. Jangan lupakan anak buah Zello yang selalu siaga di dekatnya. Meskipun tak terlihat tapi Sheza tahu jika mereka ada di dekat Sheza. Para kru perusahaan juga mengenal Sheza sebagai menantu kesayangan Moza. Meskipun tanpa Moza sekalipun Sheza tetap bisa terkenal dengan kemampuannya. "Sheza, ini pakaian mu yang akan di kenakan untuk pemotretan." Sheza mengerutka
Berita penangkapan Salsa dan Nana tersebar luas di media sosial. Sheza melihatnya di ruangannya. Sejak dia siuman, Sheza hanya diam saja meskipun Zello mengajaknya bicara. Moza juga baru saja kesana untuk mengantar beberapa makanan yang diminta oleh Zello. "Sayang ... kamu mau makan lagi?" Sheza hanya menjawab dengan gelengan kepala. Dia tak bernafsu untuk sekedar makan. Jika bukan karena Moza yang menyuapinya langsung mungkin sampai sekarang Sheza tak akan menyentuh makanan sama sekali. Zello menghela napasnya panjang, dia tak ingin memaksa Sheza untuk sekarang. Beruntung Moza tadi kesana dan itu sedikit membantu. Sheza meraba perutnya yang datar. Zello yang melihat itu ikut merasakan sakit. Mereka bahkan tak tahu jika disana sudah ada malaikat kecil mereka. Tanpa sadar air mata Sheza kembali menetes. "Zello, aku bodoh sekali. Aku tak bisa menjaganya." Zello merengkuh tubuh Sheza yang terlihat kurus saat ini. Dia mengusap punggung Sheza. Tak hanya Sheza yang merasakan





![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

