Share

Bab 7

Penulis: Sangkarachan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 19:34:02

Salsa yang kesal karena merasa jika yang dimaksud Sheza adalah Zello langsung pergi mencari Sheza. Tapi ternyata Sheza sudah lebih dahulu melakukan pemotretan. Salsa menghentakkan kakinya keras. Dia mencari cara bagaimana bisa membalas Sheza kali ini.

Kemudian seringai jahat muncul di wajah Salsa. Dia mendekat ke arah beberapa lampu yang menyorot ke arah Sheza. Dengan tatapan yang jahat, Salsa mendorong lampu lampu itu ke arah Sheza.

"Mati kamu cewek sialan!" gumam Salsa lirih.

Raka yang ingin mengantar makanan yang di pesan Zello untuk Sheza membelalakkan matanya saat tahu ada bahaya di dekat Sheza.

"Nyonya awas!!!" Raka berteriak keras. Dia juga melempar makanan yang dia bawa.

Raka berlari dengan cepat lalu menarik tangan Sheza agar tak sampai terkena beberapa tiang lampu yang terjatuh.

Sheza yang sempat menoleh semakin kaget saat tangannya di tarik keras oleh Raka. Tak hanya itu terdengar bunyi besi yang jatuh dan teriakan dari para kru yang lain. Napas Raka memburu karena hampir saja dia terlambat menyelamatkan Sheza.

"Nyonya, nyonya tidak apa apa?" tanya Raka panik.

Sheza mengerjapkan matanya karena masih syok, lalu dia mengambil napas panjang untuk mengontrol dirinya sendiri yang kaget.

"Raka, terima kasih aku nggak apa apa." jawab Sheza lirih.

Para kru berkerumun ke arah Sheza, lalu memeriksa keadaan Sheza saat ini. Tapi raut wajah Sheza kembali dingin seolah rasa takut tadi menghilang begitu saja.

"Kenapa bisa tiang lampu itu jatuh bersamaan? Kalian ingin membunuhku?" tanya Sheza dingin. Matanya memindai semua orang yang ada disana. Pasalnya mereka juga sama sama terkejut karena kejadian ini. Di tambah tak hanya satu tiang yang jatuh tapi lebih dari satu tiang.

Raka yang geram ingin menghajar mereka tapi Sheza menahan tangan Raka saat ini.

"Apa kalian memang ingin mencelakakan nyonyaku? Kenapa hal keamanan saja kalian tak bisa menjaganya?"

Semua orang menunduk, lalu tak sengaja ekor mata Sheza melihat Salsa tak jauh dari sana sedang melihat ke arah mereka.

Sheza menarik tangan Raka agar mundur ke belakang dan membisikan sesuatu pada Raka.

"Lakukan sekarang, kalau benar dia yang melakukannya aku sendiri yang akan membalasnya!!"

Raka mengangguk mengerti, lalu pergi dari sana. Tak lupa juga Raka mengabari Zello tentang insiden saat ini.

#

Zello yang sedang melakukan rapat online reflek menggebrak mejanya. Hal itu membuat partner rapat Zello ketakutan.

"Rapat selesai!"

Zello mematikan sambungan rapat itu sepihak. Dan semua orang yang sudah hapal dengan watak Zello memilih untuk diam tak protes tentang apapun.

Zello bergegas menyusul Sheza ke tempat pemotretan. Dia menghubungi Raka yang sedang mencari rekaman CCTV di tempat kejadian itu.

"Raka, apa kamu sudah menemukan siapa orang itu?" tanya Zello marah.

"Aku kirim videonya ke tuan!"

Zello memeriksa video yang di kirim Raka kepadanya. Matanya menyipit saat tahu siapa dalang di balik jatuhnya semua lampu itu.

"Berengsek, beraninya wanita itu!"

"Tuan, tapi nyonya berpesan agar tak ikut campur. Kata nyonya, biar nyonya sendiri yang membalasnya."

Mata Zello terpejam erat mendengar itu, ingin sekali menghabisi perempuan itu saat ini juga.

"Antarkan Sheza ke vila. Aku tunggu disana!"

Zello mematikan sambungan telfonnya dengan Raka.

Dia memutar haluan mobilnya dan pergi ke vila yang ada di puncak. Dia ingin meredam semua emosinya saat ini.

#

Sheza sudah mendapatkan rekaman CCTV itu dari Raka. Dia juga sudah memberi peringatan pada semua kru untuk lebih berhati hati lagi. Tak hanya itu saja, Sheza mengancam mereka semua akan membatalkan kerja sama jika ada kelalaian kerja seperti saat ini.

"Jadi nyonya, apa yang ingin nyonya lakukan kepada perempuan itu? Bukannya dia juga saudara nyonya?" pancing Raka.

Saat ini ponsel Raka tersambung dengan Zello.

Di seberang telfon itu, Zello menunggu apa jawaban Sheza saat ini.

"Tidak, biarkan dia menikmati hidupnya sampai dia merasa menang. Setelah itu dia akan merasakan sakit yang sesungguhnya!"

Jawaban Sheza membuat Zello tertegun, seberapa sakit sebenarnya yang di rasakan Sheza sampai dia menjadi seperti ini.

Raka terdiam, dia tak menyahut apapun karena dia juga tak tahu harus menjawab apalagi. Terlebih melihat wajah murung Sheza yang tiba tiba.

"Raka, kita mau pergi kemana?"

Sheza menatap jalanan yang mereka lewati berbeda dengan jalan pulang ke rumah Zello.

Raka tak menjawab karena Zello berpesan agar Raka tak mengatakan apa apa pada Sheza tentang kemana dia di bawa.

"Apa Zello yang menyuruhmu?"

Sheza belum mendapatkan jawaban dari Raka, mereka sudah sampai di Vila yang di maksud oleh Zello.

" Nyonya, tuan muda sudah menunggu di dalam. Silahkan nyonya masuk, aku akan menyusul setelah ini."

Sheza menatap Raka bingung tapi dia tetap menurut dan berjalan masuk ke dalam Villa itu.

Ternyata saat Sheza membuka pintu beberapa pelayan sudah berjejer rapi disana.

"Nyonya, silahkan ikut kami untuk bersiap. Tuan sudah menunggu di taman belakang."

Sheza bingung, tapi entah kenapa langkah kakinya memilih untuk mengikuti para pelayan itu.

"Apa yang akan dia lakukan disini?"

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 49

    Salsa menggeleng keras karena melihat Nana sedang di siksa oleh Sheza. Tak hanya menampar, Sheza juga menendang Nana berkali kali. Meskipun Nana meminta ampun tapi Sheza tak melepaskan nya begitu saja. Mengingat semua yang terjadi membuatnya gelap mata. Mata Raka membola saat Sheza mengambil sebuah pisau dan ingin menusuk Nana. Tapi dari belakang Raka muncul seorang yang berlari dengan cepat ke arah Sheza. Memeluk tubuh Sheza dengan kuat. Mencegah Sheza melakukan hal keji dengan tenaganya. "Sayang..... jangan....." Tubuh Sheza mematung saat mendengar suara yang sangat di kenali. Raka yang melihat Zello ada disana menghela napas lega. Meskipun dia bingung kenapa tiba tiba Zello sudah ada disana. Zello yang sudah sadar mencari keberadaan istrinya, awalnya Moza dan Farhan ingin menutupinya tapi ternyata Zello memaksa ingin tahu kemana Sheza. Zello sadar di saat Sheza baru saja berangkat bersama Raka. Untuk itulah akhirnya Zello bisa menyusul Sheza meskipun dia belum b

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 48

    Akhirnya identitas Raka di buka di depan Nana. Awalnya Sheza dan Raka tak ingin membuka semua itu tapi terpaksa karena mereka menuduhnya berselingkuh. Tubuh Nana ambruk ke lantai begitu juga dengan yang lainnya. Raka memang selama ini terkenal sebagai asisten Zello. Kemanapun Zello berada, sudah pasti ada Raka disana. Dan ternyata, inilah alasan kenapa Raka selalu bersama Zello. "Wajah kalian kenapa? Nggak mungkin kan kalian nggak tahu siapa Raka?" ejek Sheza pada Nana. Tora menggeleng pelan, dia melihat Sheza kali ini berbeda dengan Sheza sebelumnya meksipun masih sama arogannya. "Sheza kenapa kamu sampai seperti ini? Apalagi yang Salsa lakukan? Kenapa kamu harus membuatnya terluka seperti ini? Bukannya dengan membuat dia kehilangan karirnya sudah cukup untukmu?" Sheza menoleh ke arah papanya. Sudah lama dia tak melihat Tora semenjak Sheza bersama dengan Zello Sheza pikir jika Tora aka berubah sedikit, tapi ternyata dia masih sama saja seperti dulu. Tangan Sheza meng

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 47

    Salsa yang sudah lemas karena minuman yang di berikan Sheza mulai meracau. Wajahnya sudah pucat pasi. Kali ini Raka seperti melihat Zello dalam tubuh Sheza. Semua teman teman Salsa sudah sekarat karena semua minuman yang di cekokan kepada mereka. "Raka kirim mereka kembali ke rumah mereka. Boikot mereka dari semua industri. Sebarkan video tentang mereka yang menjadi simpanan para pejabat." Raka mengangguk, dia menyuruh anak buahnya untuk segera bertindak. Jika Sheza sudah melakukan itu semua berarti akan merembet ke arah yang lain. Tapi Farhan dan Moza juga bukan orang sembarangan yang bisa di sentuh seenaknya. Semua teman Sheza di bawa pergi hanya meninggalkan Salsa disana. "Sheza, kamu mau apakan dia?" Sheza menatap tajam ke arah Salsa yang sudah terkulai lemas di depannya. Wajahnya memerah karena terlalu banyak alkohol yang dia minum. "Bawa ke rumahnya. Aku ingin ini semua berakhir!" Raka mengerti, dia menarik tangan Salsa lalu di seretnya pergi dari sana.

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 46

    Hari itu setelah Sheza mulai bangkit, dia sudah bisa makan dengan benar. Moza juga Raka tersenyum lega. Wajah Sheza yang semula pucat sudah mulai berseri kembali. Hanya saja sorot matanya tak akan bisa membohongi orang terdekatnya jika luka itu masih ada. Sheza yang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya pergi ke ruang ICU dimana Zello belum juga mau membuka mata nya. Saat Sheza melihat dari luar ruangan, air mata Sheza kembali terjatuh. "Zello, maafkan aku karena aku nggak bisa jaga anak kita. Maaf udah bikin kamu harus terbaring disana sendirian." ucap Sheza lirih. Moza yang mengantar Sheza ikut terluka dengan takdir yang membuat anak dan menantunya harus menderita seperti ini. Moza menepuk pelan pundak Sheza. Hari ini juga Sheza memutuskan untuk kembali ke Negera asalnya meninggalkan Zello yang masih belum sadarkan diri. Sheza tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menghukum semua orang yang sudah membuatnya kehilangan bayinya bahkan sebelum dia dan Zello tahu kehadira

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 45

    Moza dan Farhan tiba di rumah sakit dimana Sheza juga Zello di rawat. Mereka berbagi tugas untuk menjaga anak dan menantunya. Operasi Zello berjalan lancar tapi Zello belum melewati masa kritisnya. Dia masih di tempatkan di ruangan ICU. Moza yang baru saja masuk ke ruangan Sheza tertegun saat melihat menantunya itu duduk dengan tatapan kosong. Wajah pucat nya tak bisa di ketahui dia sedang memikirkan apa saat ini. "Sayang ... ini mama...." Sheza masih bergeming di tempatnya. Moza semakin mendekat, meraih kepala menantunya dan memeluknya erat. Hati ibu mana yang tak ikut sakit melihat menantunya kehilangan bayi pertama juga anaknya masih belum sadarkan diri. Tak lama terdengar isakan kecil dari Sheza. Dia mencengkeram erat baju Moza yang tengah memeluknya. Tak ada suara, hanya Isak tangisnya yang terdengar. "Maaf ...." Mata Moza melebar mendengar kata maaf dari Sheza. Moza mengurai pelukannya pada Sheza. Moza melihat wajah kehilangan dan ketakutan dari Sheza.

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 44

    Sheza dan Zello sedang dalam perjalanan ke tempat tujuan mereka. Kincir angin yang ingin Sheza lihat saat ini. Di negara itu juga Sheza ingin tahu beberapa macam rasa keju yang terkenal. "Zello, apa nanti kamu bisa membantu ku memeras susu?" Uhuk.... Zello tersedak minuman kaleng yang dia minum. Pikiran Zello saat mendengar itu berbeda dengan pikiran yang ada di otak Sheza. "Bukannya dari semalam sudah?" Sheza mengerutkan keningnya mendengar jawaban Zello yang membingungkan nya. Dan detik berikutnya matanya melotot saat paham dengan apa yang ada di otak Zello. Plak.... Sheza yang kesal, memukul lengan Zello. Tak hanya memukul lengan Zello tapi Sheza juga mencubit perut Zello dengan keras. "Sayang, kenapa di cubit sih?" protes Zello. "Kamu tuh ngeselin banget, masak pikirannya kesana. Aku kan minta tolong buat peras susu sapi. Itu yang mau di bikin keju. Kamu kok mikirnya kemana? Emang punyaku bisa jadi keju?" Zello menggaruk pelipisnya, dia juga salah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status