تسجيل الدخول# Nama yang DilupakanSuara Naga Api masih bergema di seluruh penjuru gua ketika keheningan perlahan mengambil alih suasana. Tidak ada seorang pun yang berani bergerak ataupun mengucapkan sepatah kata setelah makhluk raksasa itu menyebut namaku dengan begitu jelas, seolah kami memang pernah saling mengenal sebelumnya.Aku berdiri terpaku di tempat sambil menatap sepasang mata emas yang menyala dari balik kegelapan. Cahaya merah yang berasal dari aliran magma di dasar gua memantulkan kilau pada sisik-sisik raksasa yang menutupi tubuhnya, membuat sosok itu terlihat seperti gunung hidup yang sedang beristirahat. Namun yang membuatku sulit mengalihkan pandangan bukanlah ukuran tubuhnya ataupun tekanan mengerikan yang terpancar dari keberadaannya, melainkan kenyataan bahwa ia mengetahui siapa diriku.Setelah berhasil mengendalikan keterkejutanku, aku akhirnya membuka suara."Apa kau baru saja menyebut namaku?"Naga Api tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku cukup lama, seolah sedang
#Penjaga NagaSetelah menemukan peta menuju Kawah Merah, kami tidak membuang waktu terlalu lama di reruntuhan Kota Langit. Jalur kuno yang tergambar di dalam gulungan peninggalan Ras Langit langsung menjadi tujuan berikutnya karena itulah satu-satunya petunjuk yang kami miliki untuk menemukan Naga Api.Perjalanan menuju lokasi tersebut memakan waktu hampir dua hari penuh. Semakin jauh kami meninggalkan Gurun Abu, semakin jelas perubahan yang terjadi pada lingkungan di sekitar. Hamparan pasir kelabu perlahan menghilang, digantikan oleh tanah merah gelap yang dipenuhi retakan panjang seperti bekas aliran lava purba. Udara terasa semakin panas dari waktu ke waktu, sementara energi api yang samar mulai memenuhi atmosfer hingga bahkan aku yang tidak memiliki Batu Api pun bisa merasakannya.Damar menjadi orang pertama yang menyadari perubahan itu.Sejak pagi, ia beberapa kali menempelkan tangan ke dadanya sambil mengernyit seolah sedang merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan."Batu Api
#Kota yang Jatuh dari LangitNama Jacob masih terus terngiang di kepalaku bahkan setelah Ras Langit menghilang dari langit Gurun Abu.Ini bukan pertama kalinya aku mendengar nama itu. Sejak mendapatkan Batu Waktu, sosok misterius tersebut terus muncul dalam berbagai petunjuk yang kutemukan. Mulai dari penglihatan aneh yang muncul saat menggunakan kekuatan waktu, peringatan yang tersimpan dalam ingatan Batu Waktu, hingga pengakuan Lira yang mengaku pernah bertemu langsung dengannya.Dan sekarang Ras Langit juga mengenalnya.Namun perjalanan kembali berlanjut setelah Ras Langit menghilang dari langit Gurun Abu. Meski ancaman untuk sementara menjauh, pikiranku justru semakin dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Nama Jacob kembali muncul dari mulut orang asing yang seharusnya tidak mengenalku, menambah daftar panjang misteri yang sejak awal mengelilingi Batu Waktu.Semakin banyak petunjuk yang kutemukan, semakin sulit menganggap semua ini sebagai kebetulan. Jacob seolah meninggalkan
#Sayap di Atas GurunNama itu terdengar asing, tetapi cara Lira mengucapkannya membuat suasana di sekitar kami berubah seketika. Tidak ada penjelasan tambahan maupun peringatan panjang, namun aku langsung memahami bahwa makhluk-makhluk tersebut bukanlah monster biasa yang bisa ditemukan di wilayah lain Bonua Toru.Ketika kawanan bersayap itu mulai membentuk lingkaran di atas kerangka naga raksasa yang terkubur di tengah Gurun Abu, firasat buruk yang sejak tadi menggangguku perlahan berubah menjadi keyakinan. Mereka datang ke tempat ini dengan tujuan tertentu, dan semakin lama aku memperhatikan pergerakan mereka, semakin sulit menganggap kemunculan itu sebagai kebetulan. Jumlah mereka terlalu banyak, sementara pola terbang mereka menunjukkan bahwa mereka sudah mengetahui lokasi ini jauh sebelum kami tiba.Entah apa yang mereka cari di tengah gurun tandus tersebut, tetapi ada sesuatu yang membuatku yakin bahwa tujuan mereka berkaitan dengan naga yang sedang kami buru. Jika dugaan itu be
#Jejak NagaMeninggalkan Kota Mati ternyata tidak membuat perjalanan kami menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya, semakin jauh kami memasuki wilayah Gurun Abu, semakin aneh keadaan di sekitar kami. Hamparan pasir kelabu yang sebelumnya hanya terlihat tandus kini terasa seperti dunia yang benar-benar telah ditinggalkan kehidupan.Tidak ada lagi kawanan monster kecil yang biasanya berkeliaran mencari mangsa. Tidak ada serangga gurun. Tidak ada suara hewan. Bahkan angin yang bertiup pun terasa enggan melewati wilayah itu, menyisakan keheningan panjang yang membuat setiap langkah kaki terdengar lebih jelas daripada seharusnya.Di kejauhan, tulang naga raksasa yang kami lihat sehari sebelumnya semakin terlihat jelas. Semakin dekat kami mendekatinya, semakin sulit mempercayai bahwa makhluk sebesar itu pernah hidup. Tulang rusuknya menjulang seperti menara batu yang tumbuh dari dalam gurun, sementara sebagian besar rangkanya masih terkubur oleh pasir yang telah menelannya selama entah berapa
#Gadis yang Mengenal JacobAku tidak langsung memotong penjelasan Lira. Ada sesuatu dalam cara gadis itu berbicara yang membuatku merasa bahwa kenangan ini sudah terlalu lama ia simpan sendirian. Nyala api unggun memantulkan cahaya kemerahan ke dinding bangunan tua yang kami tempati, sementara angin malam sesekali menyusup melalui celah-celah batu dan membawa hawa dingin khas Gurun Abu."Aku tidak tahu siapa dia saat itu," lanjut Lira sambil memandangi nyala api yang menari pelan di hadapannya. "Yang kulihat hanyalah seorang pria yang hampir mati."Tidak ada yang menyela. Bahkan Damar yang biasanya selalu punya komentar untuk setiap pembicaraan memilih diam dan mendengarkan.Lira melanjutkan bahwa ia menemukan pria itu di dekat sebuah retakan langit, sebuah istilah yang langsung membuat pikiranku kembali waspada. Sejak tiba di Bonua Toru, terlalu banyak kejadian aneh yang tampaknya berhubungan dengan retakan tersebut, seolah semua jalan pada akhirnya akan kembali menuju tempat yang sa







