LOGINSpesialis : Angst | Dark Romance Ribuan pembaca sudah baper... kamu kapan? Silahkan mampir ke *** @kezhiazhou
ZZZTTT…!!!Elyon tersentak bangun.Napasnya terputus sesaat, seolah udara di sekelilingnya mendadak menolak masuk ke paru-parunya. Matanya terbuka lebar—dan kilau itu kembali muncul. Silver kebiruan, dingin, tajam, bukan milik manusia.“Lucan…” gumamnya lirih.Denyut itu masih terasa. Halus, tapi nyata. Seperti benang cahaya yang ditarik paksa dari jarak jauh, bergetar tepat di pusat dadanya.“Kau mengaktifkan sigil seraphine mu…” ucap Elyon pelan, senyumnya perlahan terbentuk.Ia kini sepenuhnya berada dalam tubuh manusia—kulit fana, napas fana, denyut jantung yang seharusnya rapuh. Namun kesadarannya tetap sama. Seraphine yang kehilangan separuh hidupnya.Ketika Lucan mengaktifkan lambang di tengkuknya—meski hanya sesaat—resonansi itu menyebar. Tidak h
Seira menuangkan mi ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih. Uap panas langsung mengepul, mengembun di udara dapur yang sempit.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.“Kau sedang membuat apa?” suara Leo muncul bersamaan dengan sosoknya yang terlihat dari balik anak tangga.Posturnya tidak setinggi Lucan.“Ramyeon, Kak,” jawab Seira tanpa menoleh.“Aku buatkan satu untukmu juga.”Leo mengangguk singkat, lalu berjalan ke kursi dekat dapur dan duduk dengan malas. Tak lama, Lucan ikut duduk di seberangnya. Tubuh tinggi itu tampak sedikit kaku, seperti seseorang yang masih belum sepenuhnya terbiasa berada di ruang kecil bersama orang lain.Seira sesekali menoleh, matanya tanpa sadar memandangi punggung lebar Lucan. Cara ia duduk, cara bahunya bergerak pelan saat bernapas—semuanya terasa asing tapi entah kenapa menarik.Leo menangkap tatapan itu.Sorot matanya berpindah dari adiknya ke Lucan. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya—bukan lagi rasa tidak suka yang tajam,
Seira tampak semakin gugup. Gerakannya kikuk, langkahnya tanpa sadar mundur menjauh dari tubuh Lucan, seolah jarak adalah satu-satunya cara untuk menenangkan jantungnya yang belum juga mau berhenti berdebar.TING TONG!Bunyi bel rumah memecah suasana.Seira tersentak kecil. Dengan cepat ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum yang terasa kaku.“Ah, itu pasti Kak Leo sudah pulang,” katanya tergesa.“Biar aku yang membukanya.”Lucan hanya diam, menatap punggung Seira yang melangkah cepat menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berubah canggung. Namun ia bisa merasakannya—sesuatu di udar
Jam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.“Seira, hati-hati di jalan!” seru Mia ketika Seira sudah berdiri di tepi trotoar.Mereka baru saja berpisah di depan kampus.“Hei, Seira,” lanjut Mia, membuka jendela mobilnya.“Kau benar-benar tidak mau kuantar pulang?”Untuk kesekian kalinya.Seira menoleh sambil tersenyum kecil. Tanpa menjawab, ia justru berlari menyeberang jalan, lalu melambaikan tangan tinggi-tinggi, member
“Ahhh… aku ini kenapa, sih?” gumam Seira kesal sambil berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.“Tiap kali matanya menatapku, aku selalu terlihat bodoh.”Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang masih tersisa di wajahnya.Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya berhenti di tepi jalan. Dengan langkah tergesa, Seira naik dan duduk di bangku tengah. Bus kembali melaju, meninggalkan deretan rumah kontrakan di belakang.Seira menoleh ke jendela yang terbuka. Angin siang itu menerpa wajahnya, mengibarkan rambut panjangnya yang sudah dikuncir satu. Udara kota terasa lebih padat dibanding desa—ramai, bergerak, dan tak pernah benar-benar diam.Namun justru di situlah bayangan itu muncul.Lucan.Pagi tadi. Cara pria itu membuka jendela bus di sampingnya. Rambut pendeknya yang tertiup angin. Garis wajahnya yang terlalu sempurna untuk disebut biasa.Seira mengernyit, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala.“Tidak. Jangan dipikirkan,” gumamnya, menoleh lurus ke depan.“Dia cuma
Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Jangan berbeda.Ia tahu, selama berada di antara Seira dan Leo, ia aman. Untuk sementara. Dunia manusia menuntut hal-hal sederhana yang tak pernah ia butuhkan di Lumeris: tempat tinggal, makanan, pakaian, identitas. Ia akan mempelajarinya. Ia harus melakukannya.Seira yang duduk di sampingnya menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Lucan yang memandang lurus ke depan.“Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, suaranya sedikit menurun, khawatir.Lucan mengangguk.“Ya. Aku baik baik saja.”Ia lalu menoleh dan membuka jendela bus lebih lebar. Angin menerobos masuk, mengibaskan rambut pendeknya. Udara kota yang asing mengisi paru-parunya—hangat, berdebu, dan terasa lebih hidup. Ia menutup mata sejenak, memb







