LOGIN"I'm so sorry, Dian. But this is wrong. You're too young. Too weak for someone in my position. The pack needs a strong Luna someday. Dian Drake was rejected by her mate and exiled from Shadowcrest Pack, but what awakened after was a power unknown to her. She reads every emotion and feelings, A mind reader. Can control multitude with her powers. It's a rare gift that should have stayed hidden, because now Draven wants her. The deadly rogue leader who hunts gifted wolves, building an army of the powerful and enslaved, and Dian's abilities make her his perfect weapon. Sheltered by Frostgale Pack, Dian trains under healer Thea while uncovering a deadly conspiracy. Luna Seraphine was murdered for discovering a hidden truth. Dian must master to use her powers to save Shadowcrest. The mate bond might tie her to Kael, she finds love in Frostgale during exile .Will she go back to the traitor or bond with Rowan?
View MoreBaru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.
Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.
Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit.
Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.
“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”
Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”
Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”
Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.
Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!
“T-Tuan…”
Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.
Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.
Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik.
Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?
Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.
“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”
Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.
Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.
Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.
Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.
Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.
"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.
“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.
"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.
Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.
"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.
Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”
Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.
Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.
Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.
“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”
Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”
Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.
Ardan menoleh. “Benar?”
“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”
Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.
Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.
Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.
“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.
Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.
"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.
"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.
Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.
"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.
Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.
Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.
“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”
Prang!
Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.
Two months passed before we held the trial. Two months of healing. Of freed prisoners slowly remembering how to be people. Of wardens learning to live without collars. Of everyone adjusting to a world where Draven was chained instead of controlling.The trial was public. Every pack invited. Every victim given the chance to testify. Every crime detailed for the world to see.They brought Draven in chains. He'd aged in captivity. Lost weight. Lost that aura of invincibility. Now he just looked like what he was. An old wolf who'd hurt too many people for too long.The chamber was packed. Standing room only. Freed prisoners filled the front rows. Their eyes fixed on the monster who'd destroyed them. Some faces showed hate. Some showed fear. Some showed nothing at all.Kira sat beside me. Her hand kept touching her neck. Confirming the collar was gone. That this was real. That Draven was the one in chains now."Are you ready to testify?""No. But I'm doing it anyway." Her voice was steadie
The journey back to Shadowcrest took two weeks instead of the planned one. The freed prisoners couldn't travel fast. Years of imprisonment had weakened them. Made long days on horseback impossible. So we moved slow. Stopped often. Let them rest when needed.Kira rode beside Tor most days. Learning from him. Asking questions about how to live without the collar. How to use her gift without the compulsion forcing it. How to be a person instead of a weapon."I don't remember who I was before." Her voice was quiet. "Sixteen feels like a lifetime ago. Do you remember who you were?""Pieces. Fragments. Like looking at someone else's memories through foggy glass." Tor's hand touched his neck habitually. "But I'm building something new. Someone who remembers the past but isn't defined by it.""Is that possible? Building something new after being broken so completely?""I don't know. But I'm trying. That's all any of us can do."Through my gift I felt Kira's fragile hope. Felt her wanting to b
We made camp outside the compound. No one wanted to stay in that place longer than necessary. The freed prisoners huddled by the fire. Uncertain. Lost. Still not believing freedom was real.Thea set up her workspace under torchlight. Laid out tools that looked more like torture implements than medical equipment. Kira sat in the center. Hands steady. Face blank."This will take all night. Maybe longer. You'll be conscious throughout. I need you to tell me if something feels wrong. If the pain becomes too much. If you feel the magic fighting back harder than you can stand.""I've survived five years of the collar. I can survive this.""The collar kept you alive. This might kill you. There's a difference.""I know. I'm choosing anyway."Tor knelt beside her. "I'll be here the whole time. Holding your hand. Reminding you that you're not alone.""Why? You don't know me. Don't owe me anything.""Because I know exactly what you're going through. Because someone held my hand through my surger
Kira stood. Moved toward me. Her collar pulsed brighter with each step. The compulsion radiating from her was overwhelming. Stronger than Draven's had been. Younger. Rawer. Uncontrolled.My shields went up automatically. Blocking the worst of it. But I felt it pushing. Testing. Trying to find cracks."You don't need to do that." My voice stayed calm. "I'm not here to fight you.""Everyone fights eventually. It's just a question of when."She circled me like a predator. Studying. Assessing. Looking for weakness. Her movements were too precise. Too controlled. Like she'd forgotten how to be casual."My name is Dian. I came to offer you freedom.""Freedom." She said it like a foreign word. "That's what they all say before trying to kill me.""Who's they?""Wolves who think removing the collar is mercy. Who think death is better than this." Her hand touched the metal at her throat. "They're wrong. This is better. This is clarity. This is purpose."Through my gift I felt the lie underneath












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews