LOGIN
Daniel Alexander dan Stefany Madison adalah dua orang anak remaja yang tinggal di desa Bibury, Cotswolds, Inggris. Persahabatan mereka telah tumbuh sejak keduanya masih balita, dan ikatan diantara mereka semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Desa Bibury, terletak di jantung Cotswolds, dikenal karena keindahan alamnya yang menakjubkan. Rumah-rumah batu tradisional yang cantik berseliweran di sepanjang sungai yang mengalir tenang melalui desa. Pepohonan hijau menjulang tinggi di sekitar desa, memberikan tempat yang sempurna untuk petualangan Daniel dan Stefany. Daniel, seorang anak lelaki remaja yang ceria dan penuh energi, senang menjelajahi alam di sekitar desa itu. Dia gemar bermain di hutan yang rimbun atau mengikuti sungai kecil yang meliuk-liuk di padang rumput hijau. Stefany, di sisi lain, adalah anak remaja perempuan yang kreatif dan penuh imajinasi. Dia sering kali membawa buku catatan dan pensilnya ke tepi sungai atau ke bawah pohon rindang untuk menggambar alam sekitar atau mencatat pengamatan tentang flora dan fauna yang tumbuh di sana. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, menjelajahi setiap sudut desa dengan rasa keingintahuan yang besar. Mereka sering berpetualang ke Bukit Arlington yang menjulang tinggi di luar desa, menantang diri mereka sendiri untuk mencapai puncaknya dan menikmati pemandangan spektakuler Cotswolds yang terbentang di bawah mereka. Pada hari-hari yang cerah, keduanya sering membawa bekal dan piknik di tepi sungai, sambil menikmati hangatnya matahari dan suara gemericik air yang tenang. Namun, persahabatan mereka tidak hanya tentang petualangan di alam. Keduanya juga saling mendukung dan menghibur satu sama lain di saat-saat sulit. Ketika Daniel merasa sedih karena kucing peliharaannya hilang, Stefany selalu ada di sana untuk menghiburnya dengan cerita lucu atau permainan yang menyenangkan. Begitu pula sebaliknya, ketika Stefany merasa cemas karena ujian di sekolah, Daniel dengan sabar membantunya belajar dan memberikan semangat. Desa Bibury sendiri adalah tempat yang indah dan damai. Dikelilingi oleh perbukitan yang hijau dan padang rumput yang luas, desa ini menawarkan kedamaian dan ketenangan yang jarang ditemukan di tempat lain. Rumah-rumah batu yang klasik dan jalan-jalan kecil yang terpaving menambah pesona desa ini. Setiap sudut desa memiliki kecantikan tersendiri, mulai dari gereja kuno yang megah hingga toko-toko kecil yang menjual barang-barang kerajinan tangan lokal. Daniel dan Stefany dilahirkan dan dibesarkan di desa ini, dan keduanya sangat mencintai tempat kelahiran mereka. Daniel dan Stefany merasa beruntung bisa tinggal di desa Bibury sebagai rumah mereka, tempat di mana petualangan tak terbatas menanti keduanya di sepanjang sungai yang mengalir tenang dan di bawah langit yang biru. Dan persahabatan mereka, yang tumbuh subur di tengah keindahan alam dan kedamaian desa, akan terus berkembang menjadi sebuah ikatan yang tak tergoyahkan, mengikuti mereka dalam setiap langkah petualangan yang keduanya jalani. Di suatu siang saat pulang sekolah, Matahari bersinar terang di langit biru, menandakan jika musim panas masih merajai tempat itu. Daniel dan Stefany keluar dari pintu sekolah dengan tas punggung mereka yang tergantung santai di bahu. Langkah Keduanya penuh semangat, siap untuk menikmati sisa-sisa siang setelah hari yang panjang di sekolah. Daniel yang baru saja keluar dari kelasnya sedang menunggu sang sahabat diantara kerumunan anak-anak yang mulai meninggalkan gerbang sekolah. “Stefany ke mana ya? Kok nggak kelihatan dari tadi?” Anak lelaki tampan itu, terus mencari-cari Stefany. Akhirnya Daniel merasa sangat lega saat melihat sahabatnya sedang berjalan bersama teman-teman wanitanya, Caroline dan Marsha. Senyum Daniel terlukis jelas di sudut bibirnya. Dari kejauhan Marsha yang melihat Daniel yang sedang menunggu-nunggu Stefany di samping gerbang sekolah. Segera berkata, “Wow, Stefany. Lihat siapa yang ada di samping gerbang sekolah!” “Cie-cie yang ditunggui pacar ciliknya?” celetuk Caroline mencoba menggoda Stefany. “Ih … kalian ini! Aku dan Daniel adalah sahabat dekat. Dia sudah seperti saudara bagiku,” sahut Stefany kepada keduanya. “Oh .. yeah? Kok aku nggak percaya, ya?” sergah Marsha. “Sama, Sha! Aku juga nggak percaya.” Caroline juga ikut berpendapat. “Idih! Kalian ini. Mau aku jewer dulu telinga kalian berdua. Baru kalian percaya dengan omonganku?” ketus Stefany pura-pura marah. “Ha-ha-ha! Ampun Stefany … kami percaya, kok!” sergah Marsha mencari aman dan dibalas anggukan oleh Caroline. Ketiga gadis itu semakin mendekati Daniel yang sedang berdiri dengan sabar menanti kedatangan Stefany. Anak lelaki remaja itu pun menyapa ketiganya dengan wajah riang gembira. "Hai, Stefany, Caroline, Marsha!" seru Daniel dengan senyum cerahnya. “Hai juga, Daniel!” sahut ketiganya serentak. “Baiklah, karena tuan putri telah menemukan sang pangeran, maka tiba saatnya aku dan Caroline akan pulang ke rumah masing-masing,” ujar Marsha. “Benar kata Marsha. Kami permisi pulang dulu. Daniel, ingat! Jaga Stefany baik-baik, awas saja kamu menyakitinya! Kamu akan berhadapan dengan kami berdua!” ultimatum dari Caroline. “Ha-ha-ha. Kalian tidak perlu khawatir begitu. Stefany adalah sahabat terbaikku. Tentunya aku akan selalu menjaga dan melindunginya,” tegas Daniel. Setelah Caroline dan Marsha pulang ke rumahnya. Daniel pun tersenyum manis ke arah Stefany. Dia pun berkata, “Stefany, bagaimana kabarmu hari ini? Maaf tadi pagi aku telat masuk sekolah dan banyak tugas-tugas sekolah yang harus aku kerjakan jadi aku tidak bisa menghampiri dan menyapamu. Oh ya, apakah siang ini kamu sibuk?” tanya Daniel. Stefany tersenyum balik kepadanya. "Hai, Daniel! Aku baik-baik saja, kok. Hmm, aku belum punya rencana apa pun siang ini. Memangnya apa yang kamu pikirkan?" Daniel mengedipkan sebelah matanya kepada Stefany dengan penuh semangat. "Aku punya ide cemerlang! Bagaimana kalau kita pergi ke bukit di belakang sekolah? Aku membawa beberapa potong kue pie yang dibuat oleh Mommy. Pasti enak sekali!" Wajah Stefany seketika berbinar penuh suka cita. "Wow, kedengarannya sungguh seru dan mengasyikkan! Aku selalu suka kue pie buatan Aunty Miriam. Ayo kita segera pergi ke sana, Daniel!" Mereka berdua pun berjalan menuju bukit itu dengan langkah yang penuh semangat, bercerita dan tertawa di sepanjang jalan. Setibanya di puncak bukit, keduanya melepas tas mereka dan duduk di bawah pohon rindang yang memberikan naungan menyenangkan. Daniel segera membuka tasnya dan mengeluarkan potongan-potongan kue pie yang terlihat menggiurkan. "Silakan, ambil satu," ucap Daniel sambil tersenyum lebar. Stefany dengan cepat mengambil sepotong kue pie dan memperhatikan dengan penuh kekaguman. "Ini terlihat luar biasa! Terima kasih, Daniel. Aunty Miriam memang selalu sungguh jago memasak!" Mereka berdua memulai santapannya dengan penuh kelezatan, menikmati setiap gigitan dari kue pie yang renyah. "Pie ini sungguh enak, Daniel. Aunty Miriam benar-benar ahli dalam membuat kue," puji Stefany sambil mengunyah dengan nikmat. Daniel tersenyum bangga. "Iya, Mommy memang tak pernah gagal dalam memasak. Aku senang jika kamu juga suka!" Daniel dan Stefany melanjutkan makan kue pie itu, sambil terus berbincang-bincang tentang rencana petualangan keduanya di akhir pekan dan hal-hal menarik yang mereka temui di sekolah hari ini. Suasana santai di bawah naungan pohon di puncak bukit membuat kedua anak remaja itu merasa bahagia dan tenang. Setelah selesai makan, mereka duduk bersandar di atas rumput hijau, menikmati udara segar dan pemandangan indah yang terbentang di depan mata. Keduanya menikmati kebersamaan itu sambil merencanakan petualangan berikutnya. Keduanya sadar tak ada yang lebih baik daripada memiliki teman seperti satu sama lain untuk menemani mereka di setiap langkah perjalanan hidupnya. Namun tiba-tiba dari arah belakang bukit ….Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kepergian Stefany dan keluarganya dari desa Bibury seakan lenyap ditelan bumi. Tidak ada kabar apa pun dari mereka, tak ada satu pun pesan yang ditinggalkan. Nomor ponsel Stefany juga sudah tidak dapat dihubungi lagi. Bagi Daniel, waktu seolah berhenti sejak hari itu. Hari di mana dia terakhir kali berjanji untuk bertemu Stefany di taman desa. Namun gadis itu tidak pernah datang menemuinya di taman desa.Setiap malam sebelum tidur, Daniel selalu teringat senyum manis Stefany, berharap suatu hari gadis itu akan kembali ke pelukannya.“Stefy, Sayang. Kamu sebenarnya berada di mana saat ini? Aku sungguh sangat merindukanmu,” seru Daniel dari kesungguhan hatinya.Marsha dan Caroline, dua sahabat dekat Stefany, juga merasa kehilangan. Mereka sering berkumpul di taman desa bersama Daniel, berbagi cerita tentang Stefany yang mereka rindukan. Namun, rasa rindu itu hanya menyisakan kehampaan tanpa jawaban.“Daniel, kamu harus tabah,” ucap Marsha suatu
Pagi ini, begitu cerah meskipun cuaca masih tetap dingin. Salju yang semalam menutupi desa perlahan berhenti turun, menyisakan pemandangan putih yang membentang sejauh mata memandang. Daniel membuka tirai jendela kamarnya dan tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Udara dingin yang merasuk lewat celah-celah jendela tak mampu mengusik semangatnya. Hari ini adalah hari yang spesial bagi sang pria remaja. Dia akan bertemu Stefany di taman desa, seperti janji mereka tadi malam saat selesai merayakan malam natal.Daniel segera mandi, mengenakan sweater tebal biru tua yang menjadi favoritnya, serta jaket coklat tua yang biasa dipakai olehnya di musim dingin. Setelah itu, dia turun ke dapur untuk sarapan bersama keluarganya.“Pagi, Mommy!” sapa Daniel nada ceria kepada Nyonya Miriam, sang ibu.“Pagi, Dani. Kok kamu ceria sekali pagi-pagi begini?” tanya ibunya sambil menuangkan susu hangat ke gelas.“He-he-he. Hari ini aku mau ketemu Stefany di taman desa. Kami sudah janjian, Mommy.” jawab
Suasana malam semakin sunyi dan tenang. Udara dingin menyelimuti Desa Bibury, dengan salju lembut yang turun dari langit gelap. Lampu-lampu jalanan menerangi jalur setapak yang tertutup salju tipis, memberikan suasana magis khas malam Natal. Di tengah keheningan, langkah-langkah kaki kecil terdengar, menghancurkan keheningan salju di bawahnya. Stefany, seorang gadis remaja cantik dan anggun, sedang melangkah pelan menuju rumahnya. Jaket tebal yang sedang dipakai olehnya melindunginya dari dingin, sementara syal merah melilit lehernya. Stefany baru saja pulang dari acara natal remaja desa setelah menghabiskan waktu mengikuti perayaan natal yang begitu sangat meriah di desa itu l.“Malam yang indah,” gumam Stefany, menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang kecil.Namun, keindahan malam itu seketika berubah ketika sebuah mobil hitam melaju perlahan dari arah berlawanan. Stefany sempat memperhatikan mobil tersebut, merasa ada yang aneh karena jarang ada kendaraan melintas malam-
Desa Bibury yang biasanya tenang kini terasa sunyi, hanya suara angin malam dan salju yang jatuh perlahan menemani kegelapan. Di kediaman keluarga Madison, suasana terasa tegang. Lampu di setiap ruangan menyala terang, namun suasana hati di dalam rumah itu sama sekali tidak mencerminkan damai di malam Natal.Di kamar Stefany, Nyonya Emily Madison tampak sibuk memasukkan baju-baju putrinya ke dalam sebuah koper besar. Tangannya bergerak cepat, akan tetapi hatinya terasa berat. Beberapa kali dia menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.Ternyata Tuan Frank telah mengetahui hubungan percintaan Stefany dan Daniel, atas laporan dari Pablo dan Abner, remaja nakal yang selalu ikut campur urusan orang lain."Emily, kamu sudah selesai berkemas?" suara Tuan Frank tiba-tiba terdengar dari luar pintu kamar.Nyonya Emily mengusap matanya dengan cepat, lalu menjawab, "Sebentar lagi, Frank. Aku hampir selesai mengemasi barang-barang Stefany."“Lebih ce
Semarak malam natal di gereja St. Mary yang berdiri megah di tengah-tengah Desa Bibury masih menggema di udara malam yang dingin. Salju masih turun perlahan, menyelimuti jalanan berbatu yang sudah putih bersih. Di dalam gereja, suasana begitu hangat dan meriah. Puluhan lilin menghiasi altar, memancarkan sinar temaram yang menciptakan suasana damai di malam yang istimewa ini.Daniel dan Stefany berdiri di pojok ruangan bersama beberapa teman mereka, tertawa bahagia sambil menikmati kue Natal dan coklat hangat. Sesekali mereka berbincang serius, lalu tertawa kembali ketika ada yang melontarkan lelucon. Ibadah natal telah usai dari tadi. Kini giliran para remaja desa tersebut yang sedang menikmati malam natal dengan kegiatan pemuda gereja.Mata Daniel tak henti-hentinya memperhatikan Stefany yang tampak begitu anggun dengan mantel putih dan syal merah yang melilit lehernya. Dia pun mendekati kekasihnya, lalu berbisik lembut,"Stefy, kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap Daniel s
Masih di acara malam natal di Desa Bibury,Udara dingin menyelimuti desa Bibury malam itu, akan tetapi suasana tetap hangat oleh kebahagiaan yang terpancar dari Gereja St. Mary. Setelah ibadah malam Natal, para jemaat langsung pulang ke rumah masing-masing. Namun tidak bagi remaja desa itu. Anak-anak remaja, termasuk Daniel, Stefany, Caroline, Marsha, Filbert, Hugo, Abner, dan Pablo, dan teman-teman lainnya, bersama bersama kedua sepupu Daniel yang datang dari kota, berkumpul di halaman gereja.Acara yang telah dipersiapkan oleh para remaja tersebut berlangsung meriah. Aroma daging yang dibakar di atas bara api bercampur dengan gelak tawa yang memenuhi suasana malam itu. Salju turun perlahan, menutupi tanah dengan lapisan putih yang lembut.“Daniel, kamu sudah siap untuk melempar bola salju?” tanya Filbert sambil mengangkat gumpalan salju di tangannya.Daniel tersenyum penuh semangat. “Awas kamu, Filbert! Aku tidak akan kalah kali ini!”Remaja lainnya ikut bergabung, membentuk dua k







