MasukSaat Daniel dan Stefany menikmati siang yang tenang di bukit belakang sekolah, kebahagiaan mereka terganggu oleh kedatangan dua anak lelaki remaja bernama, Pablo dan Abner. Kedua anak itu dikenal sebagai pengganggu di sekolah, seringkali melakukan tindakan jahil dan mengganggu ketenangan orang lain.
Mereka mendekati Stefany dengan senyum licik di wajah keduanya, Abner dan Pablo berencana untuk mengganggu gadis itu dengan cara yang tidak menyenangkan. "Hei, apa kabar, Stefany?" sapa Pablo dengan nada licik, sementara Abner tertawa di belakangnya. Stefany membalas sapaan keduanya dengan senyuman tipis, namun ada kekhawatiran yang tersembunyi di matanya saat melihat kedua anak lelaki itu mendekat ke arahnya. Dia tahu betul reputasi mereka di sekolah. Daniel, yang sebelumnya sedang duduk bersandar di atas rumput, segera menyadari kehadiran Pablo dan Abner. Dia merasa khawatir dengan niat mereka yang jelas ingin berbuat jahil kepada Stefany. Tanpa ragu, Daniel berdiri dan berjalan mendekati mereka dengan langkah mantap. “Woi, apa yang sedang kalian rencanakan?" hardik Daniel dengan suara tegas, anak lelaki itu mencoba menutupi kekhawatirannya. Pablo dan Abner tertawa dengan nada meremehkan Daniel. “Ha-ha-ha! Kami cuma ingin bersenang-senang sedikit dengan Stefany di sini," jawab Pablo sambil menyeringai. Tapi Daniel segera dapat membaca maksud sebenarnya di balik kata-kata mereka. "Aku tahu betul apa yang kalian sedang rencanakan, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi," tegasnya. Stefany merasa lega melihat Daniel berdiri di sampingnya, siap membela dan melindunginya dari kejahatan kedua anak lelaki itu. Pablo dan Abner, meskipun terkesan oleh keberanian Daniel, namun tidak mau menyerah begitu saja. “Daniel! Jangan menjadi lemah, ayo ikut serta bersama kami!” ajak Abner. Mereka mencoba meyakinkan Daniel untuk bergabung dengan mereka dalam aksi jahilnya, namun Daniel menolak dengan tegas. "Aku tidak akan ikut serta dalam hal-hal seperti itu. Stefany adalah sahabatku. Aku pasti akan melindunginya!" ujar Daniel lagi dengan tegas. "Kalian bisa pergi dan mencari sasaran lain untuk jahilin. Stefany dan aku hanya ingin menikmati siang ini dengan damai." usir Daniel kepada keduanya. “Cih! Hei! Daniel Alexander! Sejak kapan kamu telah menjadi pesuruh Stefany?” kesal Pablo. Lalu keduanya mulai berdiri mendekati Daniel. Sementara Stefany berada di belakang anak lelaki yang berperawakan tinggi itu, mencoba berlindung dari Pablo dan Abner yang ingin mengganggunya. Menyadari akan hal itu, tanpa ragu Daniel juga ikut berdiri menantang keduanya. Anak lelaki itu pun berkata, “Saya bukan pesuruh Stefany. Tapi saya adalah sahabatnya! Jika kalian ingin menjahilinya, maka kalian akan berhadapan denganku!” seru Daniel sambil mulai memasang kuda-kudanya. Pablo dan Abner seketika gentar. Keduanya tahu jika Daniel sangat jago karate. Apalagi anak lelaki berambut coklat itu, lebih tinggi dari mereka. “Dasar kamu, Daniel!” teriak Pablo. “Tunggu saja pembalasan dari kami!” ujar Abner lantang lalu mulai pergi dari bukit hijau itu. Pablo dan Abner, sangat kecewa karena tidak berhasil menjahili Stefany. Akhirnya keduanya menyerah dan pergi dengan perasaan kesal. Stefany tersenyum kepada Daniel, merasa berterima kasih atas dukungan dan perlindungannya. "Terima kasih, Daniel. Aku benar-benar senang kamu melindungiku dari Pablo dan Abner." ucap Stefany dengan nada tulus. Daniel tersenyum kembali kepadanya. “Itu memang kewajibanku, Stefany. Seorang sahabat akan selalu melindungi sahabatnya, bukan? Sekarang mari kita kembali menikmati pemandangan indah di bukit ini." Mereka berdua kembali duduk di bawah pohon, dan menikmati ketenangan dan kebersamaan itu, dengan keyakinan bahwa persahabatan mereka lebih kuat daripada gangguan apapun yang mungkin datang dari luar. Setelah Abner dan Pablo pergi, suasana kembali tenang di atas bukit di belakang sekolah. Daniel dan Stefany merasa lega, bisa melanjutkan hari mereka tanpa gangguan dari kedua anak lelaki tersebut. Mereka terus duduk bersama di bawah sebuah pohon yang rindang, menikmati semilir angin musim panas yang menyegarkan. Daniel tersenyum ke arah Stefany. Sembari berkata, "Phew! Pablo dan Abner selalu saja usil, huh!" Stefany mengangguk setuju. "Iya, aku sangat bersyukur kamu ada di sini, Daniel. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada bersamaku." Daniel menggelengkan kepala. "Tidak perlu berterima kasih, Stefany. Sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu, selalu! Nah … sekarang, mari kita kembali menikmati sisa siang hari ini tanpa gangguan." “Iya, Daniel. Aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersamamu di sini,” sahut Stefany penuh semangat. Tak lama setelah itu, Daniel meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah harmonika kesayangannya dari dalamnya. Harmonika itu adalah hadiah ulang tahun dari Stefany untuknya yang selalu dirinya jaga dan rawat dengan baik. Daniel pun tersenyum ke Stefany sambil memegang alat musik itu dengan lembut. "Bagaimana kalau aku menambahkan sedikit musik untuk menemani pemandangan indah ini?" Stefany tersenyum cerah. "Aku suka ide itu! Ayo mainkan sebuah lagu Daniel!" “Tentu, Stefany! Ask you want, Dear!” Daniel pun mulai memainkan harmonikanya dengan keahlian yang menakjubkan. Melodi yang dimainkan olehnya terdengar indah dan menenangkan, mengikuti irama semilir angin musim panas yang berhembus di sekitar mereka. Stefany merasa hatinya tenang dan pikirannya tentram saat mendengarkan suara harmonika Daniel. Tiba-tiba, Daniel memulai melodi dari grup band Coldplay yang terkenal, di Inggris berjudul ‘Yellow’ Dia melantunkan melodi yang penuh emosi dengan perasaan mendalam, mengalirkan semua aura positifnya kepada Stefany. Daniel menatap mata Stefany dengan tulus saat melanjutkan memainkan lagu itu. Look at the stars Look how they shine for you And everything you do Yeah, they were all yellow I came along I wrote a song for you And all the things you do And it was called Yellow So then I took my turn Oh, what a thing to have done And it was all yellow Your skin, oh yeah, your skin and bones Turn into something beautiful And you know, you know I love you so. Stefany tersenyum lembut, tergerak oleh keindahan musik yang Daniel mainkan untuknya. "Melodinya indah sekali, Daniel. Terima kasih telah membagikan momen ini dengan aku." “Tentu saja, Stefany! Aku akan selalu ada untukmu, itu janji setiaku kepadamu!” ucap Daniel dari kesungguhan hatinya. Daniel tersenyum balik kepadanya, melanjutkan permainannya dengan penuh semangat. Mereka berdua saat ini seolah-olah sedang terperangkap ke dalam dunia musik, melupakan segala kekhawatiran dan gangguan di sekitar mereka. Keduanya terus menikmati saat itu, di atas bukit yang hijau, di bawah sinar matahari yang hangat, dengan musik yang mengisi udara di sekitar mereka. Setelah melodi selesai dimainkan oleh Daniel dan Stefany duduk dalam keheningan, menikmati sisa-sisa kebahagiaan yang terpancar dari harmoni alam dan musik. Keduanya tahu jika tak ada yang lebih baik daripada berbagi momen indah seperti ini, bersama teman terbaiknya. Meskipun ada beberapa orang yang usil dengan persahabatannya namun keduanya akan selalu menemukan cara untuk kembali ke kebahagiaan dan kedamaian yang mereka miliki bersama.Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kepergian Stefany dan keluarganya dari desa Bibury seakan lenyap ditelan bumi. Tidak ada kabar apa pun dari mereka, tak ada satu pun pesan yang ditinggalkan. Nomor ponsel Stefany juga sudah tidak dapat dihubungi lagi. Bagi Daniel, waktu seolah berhenti sejak hari itu. Hari di mana dia terakhir kali berjanji untuk bertemu Stefany di taman desa. Namun gadis itu tidak pernah datang menemuinya di taman desa.Setiap malam sebelum tidur, Daniel selalu teringat senyum manis Stefany, berharap suatu hari gadis itu akan kembali ke pelukannya.“Stefy, Sayang. Kamu sebenarnya berada di mana saat ini? Aku sungguh sangat merindukanmu,” seru Daniel dari kesungguhan hatinya.Marsha dan Caroline, dua sahabat dekat Stefany, juga merasa kehilangan. Mereka sering berkumpul di taman desa bersama Daniel, berbagi cerita tentang Stefany yang mereka rindukan. Namun, rasa rindu itu hanya menyisakan kehampaan tanpa jawaban.“Daniel, kamu harus tabah,” ucap Marsha suatu
Pagi ini, begitu cerah meskipun cuaca masih tetap dingin. Salju yang semalam menutupi desa perlahan berhenti turun, menyisakan pemandangan putih yang membentang sejauh mata memandang. Daniel membuka tirai jendela kamarnya dan tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Udara dingin yang merasuk lewat celah-celah jendela tak mampu mengusik semangatnya. Hari ini adalah hari yang spesial bagi sang pria remaja. Dia akan bertemu Stefany di taman desa, seperti janji mereka tadi malam saat selesai merayakan malam natal.Daniel segera mandi, mengenakan sweater tebal biru tua yang menjadi favoritnya, serta jaket coklat tua yang biasa dipakai olehnya di musim dingin. Setelah itu, dia turun ke dapur untuk sarapan bersama keluarganya.“Pagi, Mommy!” sapa Daniel nada ceria kepada Nyonya Miriam, sang ibu.“Pagi, Dani. Kok kamu ceria sekali pagi-pagi begini?” tanya ibunya sambil menuangkan susu hangat ke gelas.“He-he-he. Hari ini aku mau ketemu Stefany di taman desa. Kami sudah janjian, Mommy.” jawab
Suasana malam semakin sunyi dan tenang. Udara dingin menyelimuti Desa Bibury, dengan salju lembut yang turun dari langit gelap. Lampu-lampu jalanan menerangi jalur setapak yang tertutup salju tipis, memberikan suasana magis khas malam Natal. Di tengah keheningan, langkah-langkah kaki kecil terdengar, menghancurkan keheningan salju di bawahnya. Stefany, seorang gadis remaja cantik dan anggun, sedang melangkah pelan menuju rumahnya. Jaket tebal yang sedang dipakai olehnya melindunginya dari dingin, sementara syal merah melilit lehernya. Stefany baru saja pulang dari acara natal remaja desa setelah menghabiskan waktu mengikuti perayaan natal yang begitu sangat meriah di desa itu l.“Malam yang indah,” gumam Stefany, menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang kecil.Namun, keindahan malam itu seketika berubah ketika sebuah mobil hitam melaju perlahan dari arah berlawanan. Stefany sempat memperhatikan mobil tersebut, merasa ada yang aneh karena jarang ada kendaraan melintas malam-
Desa Bibury yang biasanya tenang kini terasa sunyi, hanya suara angin malam dan salju yang jatuh perlahan menemani kegelapan. Di kediaman keluarga Madison, suasana terasa tegang. Lampu di setiap ruangan menyala terang, namun suasana hati di dalam rumah itu sama sekali tidak mencerminkan damai di malam Natal.Di kamar Stefany, Nyonya Emily Madison tampak sibuk memasukkan baju-baju putrinya ke dalam sebuah koper besar. Tangannya bergerak cepat, akan tetapi hatinya terasa berat. Beberapa kali dia menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.Ternyata Tuan Frank telah mengetahui hubungan percintaan Stefany dan Daniel, atas laporan dari Pablo dan Abner, remaja nakal yang selalu ikut campur urusan orang lain."Emily, kamu sudah selesai berkemas?" suara Tuan Frank tiba-tiba terdengar dari luar pintu kamar.Nyonya Emily mengusap matanya dengan cepat, lalu menjawab, "Sebentar lagi, Frank. Aku hampir selesai mengemasi barang-barang Stefany."“Lebih ce
Semarak malam natal di gereja St. Mary yang berdiri megah di tengah-tengah Desa Bibury masih menggema di udara malam yang dingin. Salju masih turun perlahan, menyelimuti jalanan berbatu yang sudah putih bersih. Di dalam gereja, suasana begitu hangat dan meriah. Puluhan lilin menghiasi altar, memancarkan sinar temaram yang menciptakan suasana damai di malam yang istimewa ini.Daniel dan Stefany berdiri di pojok ruangan bersama beberapa teman mereka, tertawa bahagia sambil menikmati kue Natal dan coklat hangat. Sesekali mereka berbincang serius, lalu tertawa kembali ketika ada yang melontarkan lelucon. Ibadah natal telah usai dari tadi. Kini giliran para remaja desa tersebut yang sedang menikmati malam natal dengan kegiatan pemuda gereja.Mata Daniel tak henti-hentinya memperhatikan Stefany yang tampak begitu anggun dengan mantel putih dan syal merah yang melilit lehernya. Dia pun mendekati kekasihnya, lalu berbisik lembut,"Stefy, kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap Daniel s
Masih di acara malam natal di Desa Bibury,Udara dingin menyelimuti desa Bibury malam itu, akan tetapi suasana tetap hangat oleh kebahagiaan yang terpancar dari Gereja St. Mary. Setelah ibadah malam Natal, para jemaat langsung pulang ke rumah masing-masing. Namun tidak bagi remaja desa itu. Anak-anak remaja, termasuk Daniel, Stefany, Caroline, Marsha, Filbert, Hugo, Abner, dan Pablo, dan teman-teman lainnya, bersama bersama kedua sepupu Daniel yang datang dari kota, berkumpul di halaman gereja.Acara yang telah dipersiapkan oleh para remaja tersebut berlangsung meriah. Aroma daging yang dibakar di atas bara api bercampur dengan gelak tawa yang memenuhi suasana malam itu. Salju turun perlahan, menutupi tanah dengan lapisan putih yang lembut.“Daniel, kamu sudah siap untuk melempar bola salju?” tanya Filbert sambil mengangkat gumpalan salju di tangannya.Daniel tersenyum penuh semangat. “Awas kamu, Filbert! Aku tidak akan kalah kali ini!”Remaja lainnya ikut bergabung, membentuk dua k







