로그인Di villa pribadi Max, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Setelah pemakaman Peony, Max memilih membawa seluruh dokumen yang selama ini dikumpulkan dirinya dan Peony ke tempat tersebut.Elio berdiri di depan meja panjang dengan beberapa map tebal yang terbuka. Foto, laporan lama, bukti transaksi, rekaman komunikasi, hingga dokumen perusahaan tersebar di atas permukaannya.Athena duduk di sofa dengan wajah muram. “Mulai dari awal,” perintahnya singkat.Elio mengangguk. “Baik, Nyonya.”Dia mengambil satu berkas paling lama. “Semua bermula dari insiden penculikan serta kebakaran yang Nyonya alami dulu.”Athena menatap dokumen itu. “Selama ini keluarga Anda menganggap keluarga Gregory berada di balik insiden tersebut karena mereka memang terlibat. Tetapi setelah kami mencocokkan seluruh bukti...” Elio berhenti sejenak. “Ada pihak ketiga yang sengaja membuat keluarga Harrington percaya bahwa keluarga Gregory adalah dalangnya.”“Rosetta,” tebak Athena.“Benar.” Elio me
Langit mendung seolah ikut berduka. Hujan turun tipis sejak pagi, membasahi tanah pemakaman yang masih baru. Udara terasa dingin, tetapi tidak ada seorang pun yang mengeluh. Semua orang berdiri dalam diam, mengenakan pakaian hitam dengan wajah yang dipenuhi kesedihan.Di hadapan mereka, sebuah peti telah diturunkan perlahan ke dalam liang lahat. Nama Peony Gregory terukir di atasnya.Max berdiri paling depan, sejak tadi dia tidak bergerak. Tatapannya hanya tertuju pada peti yang perlahan menghilang dari pandangannya. Wajahnya tampak tenang, tetapi kedua matanya menyimpan luka yang begitu dalam.Dia tidak menangis. Setidaknya tidak di depan orang lain. Namun jemarinya yang terkepal kuat menunjukkan bahwa pria itu sedang berusaha sekuat tenaga menahan kehancuran di dalam dirinya.Peony adalah adiknya. Satu-satunya keluarga yang selama ini masih dia miliki. Dan sekarang, dia harus menyaksikan sendiri kepergian wanita itu.Max menundukkan kepala, rahangnya mengeras. Peony bahkan masi
Max masih berdiri tanpa senjata, sementara Rosetta mengarahkan pistol kepadanya. Athena berada di dekat Rosetta, tubuhnya masih menegang karena ancaman yang diarahkan kepadanya dan Hans.Namun tiba-tiba, gerakan Peony begitu cepat. Dia menarik tangan Athena dan membawa tubuh wanita itu menjauh dari Rosetta. Athena sempat terkejut, tetapi Peony tidak memberinya kesempatan untuk bertanya.“Ayo!” Peony kian menarik tangannya.Max yang melihat kesempatan itu langsung bergerak. Dalam sepersekian detik, dia mengambil senjata di saku belakang dan mengarahkannya kepada Rosetta.Dor!Tembakan terdengar, Rosetta terhuyung dan jatuh ke lantai tapi tembakan tidak mengenainya. Namun keadaan tidak serta-merta menjadi tenang, dari berbagai sisi ruangan, anak buah Rosetta bermunculan.“Lindungi Nyonya!”Beberapa pria mengangkat senjata dan langsung menyerang Max.Max bergerak cepat menghindari tembakan pertama, kemudian membalas. Suara tembakan bertubi-tubi menggema di seluruh ruangan. Elio datang me
Semua orang seketika terdiam. Max yang baru saja hendak melangkah maju langsung berhenti. Tatapannya jatuh pada pistol yang diarahkan tepat ke perut Athena, lalu berpindah kepada wanita yang berdiri kaku di hadapan Rosetta.Athena.Dan di balik perut itu ada anak mereka. Max mengepalkan tangan. Dia tidak berani mengambil risiko sedikit pun. Satu gerakan yang salah bisa membuat Rosetta menarik pelatuk.Rosetta tersenyum melihat Max akhirnya berhenti. “Kenapa diam saja?” serunya mengejek. “Tembak saja, bukankah kau benci pengkhianat?”Max menatap Rosetta dengan sorot mata dingin, tetapi tidak bergerak.Athena justru menatap Rosetta dengan kemarahan yang sulit disembunyikan. “Kau melanggar perjanjian kita!” serunya.Rosetta tertawa. “Dan kau pikir aku bodoh melepaskanmu begitu saja?”Dia menggelengkan kepala. “Tidak.”Athena mengepalkan tangannya. Rosetta tidak pernah benar-benar berniat menepati janjinya.Dia memang sudah menduga kemungkinan itu, tetapi tetap saja kenyataan ter
Max tidak menjawab. Rosetta berjalan perlahan mendekat, seolah ingin memastikan setiap perkataannya benar-benar sampai kepada Max.“Wanita yang selama ini kau lindungi ternyata memilihku.”Tatapan Rosetta penuh kemenangan. “Dia memberikan apa yang kubutuhkan. Dia membawa informasi tentang keluargamu. Dia bahkan mengambil sesuatu yang sangat penting dari Gregory untukku.”Rosetta terkekeh. “Dan sekarang dia ada di sini.”Max tetap diam, namun tangannya semakin mengepal. Rosetta memperhatikan itu dan tersenyum puas.“Dia memang pantas ditinggalkan.”Kalimat itu membuat sorot mata Max berubah.Perlahan, Max mengangkat wajahnya. “Apa katamu?”Rosetta tidak gentar. “Athena,” ulangnya. “Kau memang pantas ditinggalkan.”Rosetta tertawa kecil.“Bukankah itu kenyataannya? Dia mengkhianatimu. Dia memilih pergi bersamaku. Bahkan ketika kau masih berusaha mempertahankannya, dia sudah merencanakan untuk meninggalkanmu.”Max menatap Rosetta tanpa berkedip. Untuk beberapa saat, tidak ada
Ledakan keras terdengar dari luar. Tubuh Athena tersentak, tangannya refleks berpegangan pada sisi pintu. Getaran kecil menjalar melalui lantai, disusul suara kepanikan dari kejauhan.Athena menatap pintu dengan wajah tegang. “Rosetta...”Ia mulai menyadari ada sesuatu yang salah.Seharusnya ia sudah berada dalam perjalanan bersama Hans. Seharusnya mereka sedang bersiap meninggalkan kota dan memulai kehidupan baru. Namun kini ia justru berada di tempat yang menjadi pusat konflik keluarga Gregory.“Aku harus keluar dari sini.”Athena kembali mencoba membuka pintu. Ia tidak tahu siapa yang membawanya kemari, tetapi satu hal yang pasti... ia tidak boleh terus berada di gedung ini.Di sisi lain, Peony masih belum menemukan keberadaan Athena.Ia telah mencari ke berbagai tempat, menghubungi orang-orang yang mungkin mengetahui keberadaannya, bahkan memeriksa beberapa lokasi yang menurutnya masuk akal. Namun semuanya berakhir buntu.Peony berhenti sejenak di depan layar monitor perus
Celine mulai gelisah, Max biasanya tak pernah menanyakan apa pun tentang apa yang ia lakukan. Tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda saja, seolah Max tengah curiga padanya.“Tentu saja aku di Kamar, Sayang. Memang mau ke mana lagi coba? Lihatlah wajahku seperti ini, mana mungkin aku berani berk
Max pulang lebih awal dari biasanya, ia turun dari mobil dan terlihat mobil Athena pun memasuki gerbang. Ia berniat menunggu, dan keluarlah Athena bersama dengan Norah. “Kau menungguku?” tanya Athena asal. “Tidak,” bantah Max. “Lalu apa yang kau lakukan di luar sini?” Athena menatap Max yan
Wajah Athena basah, ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Kali ini ia tak akan diam saja, ia menyeka air di wajahnya dengan pelan. Lalu perlahan ia bangkit, menghampiri Celine yang tengah dikuasai emosi.Tanpa Celine duga, Athena menamparnya. Tak hanya sekali, tapi dua kali.“Kurang ajar, b
Athena tertawa pelan, “kau akan tahu setelah ini, Athala.”“Sepertinya akan ada sedikit drama malam ini,” tambahnya pelan.“Sepertinya drama yang cukup menarik,” sahut Athala menebak, dan Athena tersenyum tipis untuk itu.“Apa yang aku minta sudah kau lakukan?” tanya Athena pelan.“Sudah, saya







