Home / Romansa / Rahasia Besar Istri Seorang CEO / Bab 4 - Pertemuan Pertama

Share

Bab 4 - Pertemuan Pertama

last update Last Updated: 2026-01-15 14:30:01

Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.

Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.

Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.

Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.

Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, ornamen berkilau. Cahaya matahari menembus kaca dan jatuh seperti lembaran emas di lantai, membuat ruangan itu indah sekaligus terasa jauh, seperti museum yang terlalu sunyi untuk disebut rumah.

“Nona Nadira, mohon tunggu sebentar. Saya akan memanggil Tuan Muda Kedua,” kata seorang pelayan.

Nadira mengangguk.

Begitu pelayan itu pergi, Nadira duduk di sofa, bersandar dengan anggun, dagu bertumpu pada tangan kirinya. Di kepalanya, pertanyaan berputar seperti kipas tua yang pelan namun tak berhenti: apa sebenarnya yang diinginkan keluarga Gunawan dari keluarga Wijaya?

Benarkah hanya soal menolak sial, seperti bisik-bisik yang beredar? 

Jika Aurelia tahu keluarga Gunawan bahkan tidak berniat menggelar upacara pernikahan, Aurelia mungkin akan menangis sampai sesak.

Di keluarga Wijaya, hanya Nadira yang terkenal bisa tetap tenang dalam situasi apa pun.

Dalam lamunannya, ada sesuatu yang terasa ganjil di belakangnya. Seperti ada yang bergerak mengamati gelagatnya.

Nadira bergerak refleks, tubuhnya bergeser sedikit. 

Lalu, ia menoleh sedikit. Dilihatnya seorang pria berdiri di belakangnya. Entah dari kapan. Yang pasti, Nadira baru menyadarinya. 

”Sejak kapan pria itu di belakangku? Jangan-jangan dia melihatku sedari tadi,” ucap Nadira dalam hati.

Lelaki itu memakai kemeja putih bersih yang menegaskan tubuhnya yang tinggi. Dua kancing teratas terbuka, memberi kesan santai yang justru makin memukau. Wajahnya tampan, garis rahangnya tegas, alisnya tajam, dan matanya seperti bintang, berkilau namun tidak memantulkan kehangatan.

“Siapa kamu?” tanya Nadira, alisnya terangkat sedikit. 

Nadira sebenarnya bisa menebak pria itu. Siapa lagi kalau bukan, pria yang terkenal sakit-sakitan dan katanya tidak akan hidup lama, Raka Gunawan.

”Wajahnya tidak seburuk yang orang bilang. Dia cukup tampan. Badannya juga tampak kekar, tidak seperti orang penyakitan.” ucap Nadira lagi dalam hati.

Raka membalas tatapan Nadira, lalu alisnya ikut terangkat. Tekanannya seperti dinding yang didorong maju.

“Kamu bukan Aurelia. Siapa kamu?” tanya Raka tegas. 

Kalimat itu datar, namun jelas mengandung bahaya.

Nadira tersenyum, seolah tidak merasa terancam sama sekali. “Aku kakaknya. Nadira. Kenapa? Apa menurutmu aku kurang pantas menggantikan adikku sebagai seorang pengantin?”

Raka tersenyum tipis dengan sadis. 

Raka mengamati Nadira dari ujung rambut sampai ujung gaun. Nadira tidak tinggi, tetapi raut wajahnya halus, proporsinya pas, dan keberadaannya punya semacam ketegasan yang tidak perlu ditunjukkan dengan suara keras.

Ia melangkah ke arah sofa. Di bawah cahaya temaram ruang tamu, gaun pengantin Nadira tergeletak rapi, putihnya mencolok di antara suasana rumah yang dingin dan sunyi. 

Ekspresi Raka tetap datar.

“Keluarga Wijaya memang punya nyali,” ucapnya, santai tapi menekan. “Berani-berani mengirim pengantin pengganti.”

Kalimatnya terdengar biasa, namun Nadira merasakan hawa menindih yang menyertai tiap katanya. Raka seperti memancarkan udara dingin, tajam, membuat ruangan terasa lebih sempit.

Raka mendekat. Langkahnya tak tergesa, namun cukup membuat ruang di antara mereka menyusut. Nadira menahan napas ketika pria itu berhenti tepat di depannya, menatapnya dengan dingin.

Entah kenapa, ingatan Nadira melompat ke satu malam lima tahun lalu. Ada seorang pria asing, dalam gelap, dengan aura yang serupa. Wajahnya tak sama persis, tapi sesuatu pada cara pria ini memandang membuat dadanya menegang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 53 - Perempuan Arogan

    “Kak, ada yang menggangguku. Bawa beberapa orang ke sini, cepat. Aku di halaman Keluarga Suryanto,” katanya angkuh.Bima mengerutkan kening, lalu mendekat ke Raka dan berbisik, “Tuan Muda Kedua, apa perlu kita mengawal Nyonya keluar?”Raka menatap ke arah Nadira tanpa berkedip. Wajahnya tampak memerah, lebih dari biasanya, seolah menahan sesuatu. “Dia bisa menangani ini.”Bima menatapnya tak percaya. Ia merasa ucapan itu terdengar seperti lelucon.Reza menoleh ke arah Nadira dan berkata dingin, “Perempuan murahan, tunggu saja. Kalau hari ini aku tidak membunuhmu, aku akan mengusirmu dari Singapura. Kau akan hidup di neraka selamanya.”Keributan itu akhirnya menarik perhatian Nyonya Besar Keluarga Suryanto. Ia bergegas datang, wajahnya jelas tidak senang saat melihat Nadira sebagai pusat masalah. Meski begitu, ia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi di rumahnya sendiri. Saat hendak berbicara, suara Nadira lebih dulu terdengar.“Jangan,” ucap Nadira pelan namun tegas. Alisnya sedikit ter

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 52 - Efek Obat Perangsang

    Mudah ditekan?Ia tersenyum balik, menatap Arman dengan tenang. “Pak Arman, saya setuju reputasi Nona Shanti memang tercoreng. Tapi itu bukan karena saya. Alih-alih menyelidiki siapa yang merusak gaunnya, Anda malah menyalahkan saya. Apakah karena Anda mengira saya lemah dan mudah ditekan?”Lemah?Sudut mulut Arman berkedut. Berbagai emosi silih berganti di wajahnya. Tanpa berkata lagi, ia segera membawa Shanti pergi.Nadira pun tak ingin berlama-lama. Ia berpamitan dan melangkah menuju gerbang.Begitu sampai di depan rumah besar itu, seorang pemuda kaya yang tubuhnya menyengat bau alkohol berjalan sempoyongan mendekat. Jam tangan mahal di pergelangan tangannya berkilat, dan dompet kulitnya tampak menggembung, seolah uang ratusan juta rupiah di dalamnya bisa membeli segalanya.Ia menghadang langkah Nadira dan menatapnya tanpa berkedip.“Hai, cantik. Mau jalan bareng?” katanya, senyum mabuk mengembang.Menahan amarah, Nadira berkata dingin, “Tolong minggir.”“Oh, wanginya enak juga,” uj

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 51 - Shanti Meminta Maaf

    Nadira menengadah menatap Raka. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan berbicara sejauh ini demi dirinya.Yanuar, yang berdiri tidak jauh, menangkap tatapan Nadira pada Raka. Ada rasa kecewa yang samar menyelinap di dadanya.Ia tak pernah membayangkan Nadira hadir sebagai pendamping Raka.Aurelia menundukkan kepala sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia sempat mengira Raka benar-benar menyukai Nadira, tetapi melihat jarak halus di antara mereka, hubungan sebagai pasangan suami istri itu tampaknya tidak sehangat yang dibayangkan.Kalau begitu, apakah ia masih punya kesempatan?Pandangan Aurelia melirik ke samping. Ia menarik lengan Yanuar menjauh dari keramaian, menatapnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Yanuar, nada suaranya lembut.Aurelia mengatupkan bibir, matanya dipenuhi kekhawatiran.“Mas Yanuar, ada sesuatu yang aku ragu untuk ceritakan.” Ekspresi ragu itu membuat hati Yanuar melunak.“Apa itu?”“Sebelumnya, Kak Nadira pernah dengar dariku kalau Mas Yanuar juga

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 50 - Shanti yang Tak Tahu Malu

    Shanti tahu, di mata mereka semua, dirinya kini tak lebih dari noda memalukan. Tatapan jijik dan rasa muak mengelilinginya. Namun ia tak peduli. Meski nama baiknya hancur, ia harus menemukan kakaknya. Ia harus menuntut keadilan.Dengan air mata mengalir deras, Shanti berdiri tertatih dan menunjuk Nadira. “Sudah lima tahun. Kakakku dan Lili Hartono menghilang selama lima tahun. Nadira Chandra, kamu kejam. Kalau kamu tidak membunuh mereka, bagaimana mungkin mereka lenyap begitu saja dari dunia ini?”“Kamu membunuh kakakku. Untuk itu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku bersumpah…”Kalimatnya terputus. Pandangannya mengabur, tubuhnya limbung, lalu ia jatuh pingsan ke lantai marmer yang dingin.“Miss Shanti, berbaring di lantai marmer begini tidak dingin?” tanya Nadira Chandra ketika ia melangkah mendekati Shanti. Aula hotel di kawasan Sudirman itu berkilau oleh lampu kristal, AC menyemburkan udara Jakarta yang dingin menusuk.Nadira mengulurkan tangan dan mencubit ringan lekuk di bawa

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 49 - Akankah Kebenaran Terungkap?

    “Di mana Shinta Ayuningtyas?” mata Arman memerah. Napasnya memburu, seolah dadanya dihimpit beban bertahun-tahun. Shinta adalah putri yang paling ia sayangi. Lima tahun lalu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, Shinta menghilang tanpa jejak. Ia telah mengerahkan segala cara, dari laporan polisi hingga menyewa detektif swasta, menghabiskan ratusan juta rupiah, namun hasilnya nihil.“Nona Shanti, saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan,” ujar Nadira tenang. “Saya tidak membunuh siapa pun, dan saya tidak menculik kakak Anda.”Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya. Di layar terpampang sebuah video yang memperlihatkan Juna Gumintang dan Shanti saat mencoba mencelakainya. Keributan di aula mendadak mereda, digantikan keheningan yang tegang.Nadira melirik gaun yang tergeletak tak jauh dari mereka. “Nona Shanti, saya hanya memberi Anda sedikit obat penenang. Efeknya ringan dan singkat. Di bagian luar pakaian Anda memang ada sisa obat itu. Tapi bagian dalam gau

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 48 - Siapa yang Menjebak Shanti?

    Tanpa sadar, Shanti melirik ke arah Aurelia Shinta yang duduk tidak jauh dari sana. Jika bukan karena cerita yang disampaikan Aurelia, ia tidak akan pernah terpikir untuk melawan Nadira. Ia juga tidak akan tahu bahwa Nadira adalah orang yang disebut-sebut telah menyakiti kakaknya.Shanti melihat Aurelia menundukkan kepala, tampak lemah dan diam. Ia kembali menoleh ke arah Nadira.Wajah Nadira tetap tenang, dingin, seolah sedang memberinya satu kesempatan terakhir.Apakah Aurelia sedang mencoba mencelakakannya?Tidak mungkin. Ia adalah Nona Besar Keluarga Suryanto. Ia bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan Aurelia. Untuk apa Aurelia melakukan semua ini?“Nona Shanti.”Saat mendengar Nadira memanggilnya, Shanti menoleh dengan wajah masih kosong.“Nona Shanti, gaun yang Anda kenakan hari ini sangat unik,” lanjut Nadira dengan nada santai. “Dan sepertinya ada bau aneh.”Dengan pola pikir Shanti yang sederhana, Nadira tahu ia tidak akan langsung memahami maksudnya. Ia hanya bisa me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status