เข้าสู่ระบบNadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.
Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.
Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.
Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.
Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, ornamen berkilau. Cahaya matahari menembus kaca dan jatuh seperti lembaran emas di lantai, membuat ruangan itu indah sekaligus terasa jauh, seperti museum yang terlalu sunyi untuk disebut rumah.
“Nona Nadira, mohon tunggu sebentar. Saya akan memanggil Tuan Muda Kedua,” kata seorang pelayan.
Nadira mengangguk.
Begitu pelayan itu pergi, Nadira duduk di sofa, bersandar dengan anggun, dagu bertumpu pada tangan kirinya. Di kepalanya, pertanyaan berputar seperti kipas tua yang pelan namun tak berhenti: apa sebenarnya yang diinginkan keluarga Gunawan dari keluarga Wijaya?
Benarkah hanya soal menolak sial, seperti bisik-bisik yang beredar?
Jika Aurelia tahu keluarga Gunawan bahkan tidak berniat menggelar upacara pernikahan, Aurelia mungkin akan menangis sampai sesak.
Di keluarga Wijaya, hanya Nadira yang terkenal bisa tetap tenang dalam situasi apa pun.
Dalam lamunannya, ada sesuatu yang terasa ganjil di belakangnya. Seperti ada yang bergerak mengamati gelagatnya.
Nadira bergerak refleks, tubuhnya bergeser sedikit.
Lalu, ia menoleh sedikit. Dilihatnya seorang pria berdiri di belakangnya. Entah dari kapan. Yang pasti, Nadira baru menyadarinya.
”Sejak kapan pria itu di belakangku? Jangan-jangan dia melihatku sedari tadi,” ucap Nadira dalam hati.
Lelaki itu memakai kemeja putih bersih yang menegaskan tubuhnya yang tinggi. Dua kancing teratas terbuka, memberi kesan santai yang justru makin memukau. Wajahnya tampan, garis rahangnya tegas, alisnya tajam, dan matanya seperti bintang, berkilau namun tidak memantulkan kehangatan.
“Siapa kamu?” tanya Nadira, alisnya terangkat sedikit.
Nadira sebenarnya bisa menebak pria itu. Siapa lagi kalau bukan, pria yang terkenal sakit-sakitan dan katanya tidak akan hidup lama, Raka Gunawan.
”Wajahnya tidak seburuk yang orang bilang. Dia cukup tampan. Badannya juga tampak kekar, tidak seperti orang penyakitan.” ucap Nadira lagi dalam hati.
Raka membalas tatapan Nadira, lalu alisnya ikut terangkat. Tekanannya seperti dinding yang didorong maju.
“Kamu bukan Aurelia. Siapa kamu?” tanya Raka tegas.
Kalimat itu datar, namun jelas mengandung bahaya.
Nadira tersenyum, seolah tidak merasa terancam sama sekali. “Aku kakaknya. Nadira. Kenapa? Apa menurutmu aku kurang pantas menggantikan adikku sebagai seorang pengantin?”
Raka tersenyum tipis dengan sadis.
Raka mengamati Nadira dari ujung rambut sampai ujung gaun. Nadira tidak tinggi, tetapi raut wajahnya halus, proporsinya pas, dan keberadaannya punya semacam ketegasan yang tidak perlu ditunjukkan dengan suara keras.
Ia melangkah ke arah sofa. Di bawah cahaya temaram ruang tamu, gaun pengantin Nadira tergeletak rapi, putihnya mencolok di antara suasana rumah yang dingin dan sunyi.
Ekspresi Raka tetap datar.
“Keluarga Wijaya memang punya nyali,” ucapnya, santai tapi menekan. “Berani-berani mengirim pengantin pengganti.”
Kalimatnya terdengar biasa, namun Nadira merasakan hawa menindih yang menyertai tiap katanya. Raka seperti memancarkan udara dingin, tajam, membuat ruangan terasa lebih sempit.
Raka mendekat. Langkahnya tak tergesa, namun cukup membuat ruang di antara mereka menyusut. Nadira menahan napas ketika pria itu berhenti tepat di depannya, menatapnya dengan dingin.
Entah kenapa, ingatan Nadira melompat ke satu malam lima tahun lalu. Ada seorang pria asing, dalam gelap, dengan aura yang serupa. Wajahnya tak sama persis, tapi sesuatu pada cara pria ini memandang membuat dadanya menegang.
Dalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.Raka terpaku sesaat.Nadira.Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.Dan entah kenapa, Raka le
Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.Nadira.Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.“Lo nggak akan mati!”Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.Dering ponsel memotong benang pikirannya.Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,”
“Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdeba
Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”Anda tidak akan mati.Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.Dan gadis ini, yang entah da
Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, orna
Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang. “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke a







