LOGINNadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang.
“Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”
“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.
Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”
Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.
Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke akun Nadira Chandra. Notifikasi masuk. Nadira menekan “Setuju” tanpa ragu.
Ia mengangguk puas pada Arman, lalu menatap Aurelia lagi, kali ini seperti orang yang baru ingat satu urusan yang belum selesai.
“Aurelia,” ucapnya ringan, “kamu masih punya utang ke aku, kan?”
Aurelia mengusap air mata dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menengadah, suaranya serak. “Kak... maksudnya apa?”
Nadira melangkah mendekat. Di sudut matanya, ada getaran kecil, dan dingin yang tiba tiba muncul seperti hujan deras yang jatuh tanpa peringatan.
Ia menatap mata Aurelia Shinta yang gelisah, lalu bertanya pelan, tapi menekan.
“Liontin batu zamrud yang aku bawa pulang lima tahun lalu, sekarang di mana?”
Liontin itu bukan sekadar perhiasan. Itu tanda. Satu-satunya petunjuk yang bisa membawanya kembali pada pemberinya, seorang pria.
Wajah Aurelia membeku. Air mata masih turun, tetapi kali ini bukan cuma karena rasa sakit. Ada ketakutan, ada keserakahan yang disembunyikan. Batu zamrud itu kualitasnya luar biasa, jauh lebih indah daripada perhiasan ratusan juta rupiah yang pernah ia beli buat pamer. Dari benda itu saja, Aurelia sudah yakin pemiliknya bukan orang biasa.
“A... aku tidak tahu,” jawabnya cepat.
Ia tidak akan mengembalikannya. Tidak mungkin. Benda itu terasa seperti tiket ke dunia yang lebih tinggi.
“Plak!”
“Plak!”Dua tamparan lagi. Sudut bibir Aurelia sampai berdarah.
Nadira mengangkat alis. “Kalau dua hari lagi itu belum kembali ke aku, kamu mungkin tidak akan bisa jalan seenaknya seperti sekarang.”
Aurelia menatap Nadira dengan mata membesar, tubuhnya gemetar. Kata-kata itu menggantung seperti ancaman yang terdengar menusuk telinga.
Ia menelan napas, lalu tiba tiba memutar mata dan menjatuhkan diri, pura pura pingsan, berharap drama bisa menyelamatkannya.
Nadira tidak peduli. Ia berbalik dan naik ke lantai atas.
Lorong atas lebih sunyi, tapi juga lebih menusuk. Bau pewangi ruangan bercampur lembap AC yang bekerja semalaman. Nadira berhenti di depan pintu kamar lamanya, lalu menyadari satu hal yang membuat dadanya seperti ditusuk pelan.
Pintu itu sudah tidak ada.
Ia melangkah ke kamar Aurelia yang letaknya persis di sebelah. Ia membuka pintu, dan baru sadar, Keluarga Wijaya sudah merobohkan dinding pemisah kedua kamar itu.
Kamar Nadira kini berubah jadi walk in closet milik Aurelia.
Rak rak penuh tas bermerek, sepatu berbaris rapi, perhiasan berkilau dalam kotak kaca. Semua tampak mewah dan mengkilap. Sementara ruang yang dulu jadi tempatnya tidur, menangis diam-diam, dan menahan mimpi, sudah dijadikan gudang kemewahan orang lain.
Cahaya di mata Nadira meredup.
Ia keluar. Di ujung lorong, Ratna berlari menghampiri, wajahnya tegang.
“Periasnya sudah datang,” katanya tajam. “Turun. Dandan.”
Nadira tetap diam, lalu berjalan turun tanpa banyak ekspresi.
Begitu melihat pakaian Nadira yang masih seperti baju pasien, Ratna mengernyit. “Ganti.”
Ratna masuk ke kamar Aurelia, lalu melemparkan satu set pakaian dengan label yang masih menempel ke tangan Nadira.
“Pakai ini.”
Nadira juga tidak ingin terus mengenakan baju rumah sakit. Ia mengganti pakaian, lalu turun dan duduk menghadapi perias. Kuas menyapu wajahnya, bedak menutupi pucat, lipstik menghiasi bibirnya dalam warna yang tampak hidup, walau matanya tetap tenang seperti genangan air gelap.
Ketika semuanya selesai, suara klakson dan riuh kecil terdengar dari depan rumah.
Mobil pengantin Keluarga Gunawan tiba.
Di luar, Jakarta mulai bergerak. Udara subuh membawa sisa dingin, tapi keramaian sudah tumbuh. Lampu jalan masih menyala, motor melintas satu dua, suara kota perlahan bangun.
Nadira melangkah ke karpet merah yang dibentangkan di halaman. Kain gaun pengantinnya menyapu pelan, mengikuti setiap langkah.
Saat ia hampir masuk mobil, matanya menangkap sesuatu di kerumunan.
Seorang anak kecil jatuh pingsan. Wajahnya pucat sekali, bibirnya nyaris tidak berwarna.
“Bikin sial,” gerutu Ratna dari samping. “Jelas mau nipu.”
Ratna menarik Arman menjauh, seolah pingsannya anak itu adalah noda yang bisa menular.
Nadira menoleh lagi. Pakaian anak itu bukan pakaian murahan. Bahannya bagus, rapi, potongannya pas, seperti baju yang dijahit khusus.
Nadira berjalan mendekat, gaun pengantin mengikuti langkahnya. Pada saat itu, tidak ada orang di sekitar anak itu. Tak seorang pun mau membantu. Mereka takut salah langkah, takut disalahkan, takut terseret masalah, seperti kebiasaan kota besar yang mengajarkan orang untuk menutup mata demi aman..
Nadira melangkah mendekati bocah kecil itu. Ia berjongkok, dua jarinya menempel di pergelangan tangan si bocah, meraba denyut nadi dengan tenang.
Orang-orang yang mengerubungi mereka langsung ramai berkomentar, suaranya bersahut-sahutan di bawah terik Jakarta yang memantul di aspal.
“Nona, mending segera naik mobil pengantin. Masa ketemu begini pas hari nikah. Pamali, lho!”
“Iya, anak ini apes banget. Anak siapa, sih?”
“Kalau orang tuanya nanti malah minta duit, repot kita!”
Nadira tidak menanggapi. Nadi bocah itu teratur, tidak ada yang mengkhawatirkan. Wajahnya saja yang pucat, bibirnya nyaris tak berwarna, dan keringat dingin membasahi pelipis serta tengkuknya. Dari gejalanya, Nadira langsung menangkap kemungkinan yang paling sederhana.
Ia menoleh setengah badan ke arah Ratna, “Tolong ambilkan semangkuk air gula.”
Ratna menatapnya tajam, seperti hendak menancapkan kata-kata. Namun ia tetap memalingkan wajah dan memberi isyarat pada pembantu di sampingnya. Tak lama, semangkuk air gula dibawa.
Nadira menahan kepala bocah itu pelan, membantunya meneguk sedikit demi sedikit. Setelah itu, ia meminta seseorang menghubungi ambulans. Ratna mengatupkan rahang, jelas kesal, tetapi tetap menyuruh orang memanggil ambulans, lalu memerintahkan kursi dikeluarkan supaya bocah itu tidak lagi terduduk di trotoar yang panas.
“Siapa sebenarnya anak ini? Kasihan sekali dia,“ ucap Nadira lirih sembari membantu anak kecil itu.
Lalu, Ratna mendekati Nadira, suaranya dibuat serendah mungkin, namun terdengar sangat jelas.
“Jangan macam-macam. Cepat naik mobil keluarga Gunawan.”
Ratna benar-benar khawatir Nadira memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur. Ia tidak ingin putri kesayangannya, Aurelia, sampai harus menikah dengan lelaki itu.
“Kak, ada yang menggangguku. Bawa beberapa orang ke sini, cepat. Aku di halaman Keluarga Suryanto,” katanya angkuh.Bima mengerutkan kening, lalu mendekat ke Raka dan berbisik, “Tuan Muda Kedua, apa perlu kita mengawal Nyonya keluar?”Raka menatap ke arah Nadira tanpa berkedip. Wajahnya tampak memerah, lebih dari biasanya, seolah menahan sesuatu. “Dia bisa menangani ini.”Bima menatapnya tak percaya. Ia merasa ucapan itu terdengar seperti lelucon.Reza menoleh ke arah Nadira dan berkata dingin, “Perempuan murahan, tunggu saja. Kalau hari ini aku tidak membunuhmu, aku akan mengusirmu dari Singapura. Kau akan hidup di neraka selamanya.”Keributan itu akhirnya menarik perhatian Nyonya Besar Keluarga Suryanto. Ia bergegas datang, wajahnya jelas tidak senang saat melihat Nadira sebagai pusat masalah. Meski begitu, ia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi di rumahnya sendiri. Saat hendak berbicara, suara Nadira lebih dulu terdengar.“Jangan,” ucap Nadira pelan namun tegas. Alisnya sedikit ter
Mudah ditekan?Ia tersenyum balik, menatap Arman dengan tenang. “Pak Arman, saya setuju reputasi Nona Shanti memang tercoreng. Tapi itu bukan karena saya. Alih-alih menyelidiki siapa yang merusak gaunnya, Anda malah menyalahkan saya. Apakah karena Anda mengira saya lemah dan mudah ditekan?”Lemah?Sudut mulut Arman berkedut. Berbagai emosi silih berganti di wajahnya. Tanpa berkata lagi, ia segera membawa Shanti pergi.Nadira pun tak ingin berlama-lama. Ia berpamitan dan melangkah menuju gerbang.Begitu sampai di depan rumah besar itu, seorang pemuda kaya yang tubuhnya menyengat bau alkohol berjalan sempoyongan mendekat. Jam tangan mahal di pergelangan tangannya berkilat, dan dompet kulitnya tampak menggembung, seolah uang ratusan juta rupiah di dalamnya bisa membeli segalanya.Ia menghadang langkah Nadira dan menatapnya tanpa berkedip.“Hai, cantik. Mau jalan bareng?” katanya, senyum mabuk mengembang.Menahan amarah, Nadira berkata dingin, “Tolong minggir.”“Oh, wanginya enak juga,” uj
Nadira menengadah menatap Raka. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan berbicara sejauh ini demi dirinya.Yanuar, yang berdiri tidak jauh, menangkap tatapan Nadira pada Raka. Ada rasa kecewa yang samar menyelinap di dadanya.Ia tak pernah membayangkan Nadira hadir sebagai pendamping Raka.Aurelia menundukkan kepala sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia sempat mengira Raka benar-benar menyukai Nadira, tetapi melihat jarak halus di antara mereka, hubungan sebagai pasangan suami istri itu tampaknya tidak sehangat yang dibayangkan.Kalau begitu, apakah ia masih punya kesempatan?Pandangan Aurelia melirik ke samping. Ia menarik lengan Yanuar menjauh dari keramaian, menatapnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Yanuar, nada suaranya lembut.Aurelia mengatupkan bibir, matanya dipenuhi kekhawatiran.“Mas Yanuar, ada sesuatu yang aku ragu untuk ceritakan.” Ekspresi ragu itu membuat hati Yanuar melunak.“Apa itu?”“Sebelumnya, Kak Nadira pernah dengar dariku kalau Mas Yanuar juga
Shanti tahu, di mata mereka semua, dirinya kini tak lebih dari noda memalukan. Tatapan jijik dan rasa muak mengelilinginya. Namun ia tak peduli. Meski nama baiknya hancur, ia harus menemukan kakaknya. Ia harus menuntut keadilan.Dengan air mata mengalir deras, Shanti berdiri tertatih dan menunjuk Nadira. “Sudah lima tahun. Kakakku dan Lili Hartono menghilang selama lima tahun. Nadira Chandra, kamu kejam. Kalau kamu tidak membunuh mereka, bagaimana mungkin mereka lenyap begitu saja dari dunia ini?”“Kamu membunuh kakakku. Untuk itu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku bersumpah…”Kalimatnya terputus. Pandangannya mengabur, tubuhnya limbung, lalu ia jatuh pingsan ke lantai marmer yang dingin.“Miss Shanti, berbaring di lantai marmer begini tidak dingin?” tanya Nadira Chandra ketika ia melangkah mendekati Shanti. Aula hotel di kawasan Sudirman itu berkilau oleh lampu kristal, AC menyemburkan udara Jakarta yang dingin menusuk.Nadira mengulurkan tangan dan mencubit ringan lekuk di bawa
“Di mana Shinta Ayuningtyas?” mata Arman memerah. Napasnya memburu, seolah dadanya dihimpit beban bertahun-tahun. Shinta adalah putri yang paling ia sayangi. Lima tahun lalu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, Shinta menghilang tanpa jejak. Ia telah mengerahkan segala cara, dari laporan polisi hingga menyewa detektif swasta, menghabiskan ratusan juta rupiah, namun hasilnya nihil.“Nona Shanti, saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan,” ujar Nadira tenang. “Saya tidak membunuh siapa pun, dan saya tidak menculik kakak Anda.”Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya. Di layar terpampang sebuah video yang memperlihatkan Juna Gumintang dan Shanti saat mencoba mencelakainya. Keributan di aula mendadak mereda, digantikan keheningan yang tegang.Nadira melirik gaun yang tergeletak tak jauh dari mereka. “Nona Shanti, saya hanya memberi Anda sedikit obat penenang. Efeknya ringan dan singkat. Di bagian luar pakaian Anda memang ada sisa obat itu. Tapi bagian dalam gau
Tanpa sadar, Shanti melirik ke arah Aurelia Shinta yang duduk tidak jauh dari sana. Jika bukan karena cerita yang disampaikan Aurelia, ia tidak akan pernah terpikir untuk melawan Nadira. Ia juga tidak akan tahu bahwa Nadira adalah orang yang disebut-sebut telah menyakiti kakaknya.Shanti melihat Aurelia menundukkan kepala, tampak lemah dan diam. Ia kembali menoleh ke arah Nadira.Wajah Nadira tetap tenang, dingin, seolah sedang memberinya satu kesempatan terakhir.Apakah Aurelia sedang mencoba mencelakakannya?Tidak mungkin. Ia adalah Nona Besar Keluarga Suryanto. Ia bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan Aurelia. Untuk apa Aurelia melakukan semua ini?“Nona Shanti.”Saat mendengar Nadira memanggilnya, Shanti menoleh dengan wajah masih kosong.“Nona Shanti, gaun yang Anda kenakan hari ini sangat unik,” lanjut Nadira dengan nada santai. “Dan sepertinya ada bau aneh.”Dengan pola pikir Shanti yang sederhana, Nadira tahu ia tidak akan langsung memahami maksudnya. Ia hanya bisa me







