Home / Romansa / Rahasia Besar Istri Seorang CEO / Bab 3 - Sesuatu yang Hilang

Share

Bab 3 - Sesuatu yang Hilang

last update Last Updated: 2026-01-15 14:29:53

Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang.

 “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”

“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.

Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”

Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.

Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke akun Nadira Chandra. Notifikasi masuk. Nadira menekan “Setuju” tanpa ragu.

Ia mengangguk puas pada Arman, lalu menatap Aurelia lagi, kali ini seperti orang yang baru ingat satu urusan yang belum selesai.

“Aurelia,” ucapnya ringan, “kamu masih punya utang ke aku, kan?”

Aurelia mengusap air mata dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menengadah, suaranya serak. “Kak... maksudnya apa?”

Nadira melangkah mendekat. Di sudut matanya, ada getaran kecil, dan dingin yang tiba tiba muncul seperti hujan deras yang jatuh tanpa peringatan.

Ia menatap mata Aurelia Shinta yang gelisah, lalu bertanya pelan, tapi menekan.

“Liontin batu zamrud yang aku bawa pulang lima tahun lalu, sekarang di mana?”

Liontin itu bukan sekadar perhiasan. Itu tanda. Satu-satunya petunjuk yang bisa membawanya kembali pada pemberinya, seorang pria.

Wajah Aurelia membeku. Air mata masih turun, tetapi kali ini bukan cuma karena rasa sakit. Ada ketakutan, ada keserakahan yang disembunyikan. Batu zamrud itu kualitasnya luar biasa, jauh lebih indah daripada perhiasan ratusan juta rupiah yang pernah ia beli buat pamer. Dari benda itu saja, Aurelia sudah yakin pemiliknya bukan orang biasa.

“A... aku tidak tahu,” jawabnya cepat.

Ia tidak akan mengembalikannya. Tidak mungkin. Benda itu terasa seperti tiket ke dunia yang lebih tinggi.

“Plak!”

“Plak!”

Dua tamparan lagi. Sudut bibir Aurelia sampai berdarah.

Nadira mengangkat alis. “Kalau dua hari lagi itu belum kembali ke aku, kamu mungkin tidak akan bisa jalan seenaknya seperti sekarang.”

Aurelia menatap Nadira dengan mata membesar, tubuhnya gemetar. Kata-kata itu menggantung seperti ancaman yang terdengar menusuk telinga.

Ia menelan napas, lalu tiba tiba memutar mata dan menjatuhkan diri, pura pura pingsan, berharap drama bisa menyelamatkannya.

Nadira tidak peduli. Ia berbalik dan naik ke lantai atas.

Lorong atas lebih sunyi, tapi juga lebih menusuk. Bau pewangi ruangan bercampur lembap AC yang bekerja semalaman. Nadira berhenti di depan pintu kamar lamanya, lalu menyadari satu hal yang membuat dadanya seperti ditusuk pelan.

Pintu itu sudah tidak ada.

Ia melangkah ke kamar Aurelia yang letaknya persis di sebelah. Ia membuka pintu, dan baru sadar, Keluarga Wijaya sudah merobohkan dinding pemisah kedua kamar itu.

Kamar Nadira kini berubah jadi walk in closet milik Aurelia.

Rak rak penuh tas bermerek, sepatu berbaris rapi, perhiasan berkilau dalam kotak kaca. Semua tampak mewah dan  mengkilap. Sementara ruang yang dulu jadi tempatnya tidur, menangis diam-diam, dan menahan mimpi, sudah dijadikan gudang kemewahan orang lain.

Cahaya di mata Nadira meredup.

Ia keluar. Di ujung lorong, Ratna berlari menghampiri, wajahnya tegang.

“Periasnya sudah datang,” katanya tajam. “Turun. Dandan.”

Nadira tetap diam, lalu berjalan turun tanpa banyak ekspresi.

Begitu melihat pakaian Nadira yang masih seperti baju pasien, Ratna mengernyit. “Ganti.”

Ratna masuk ke kamar Aurelia, lalu melemparkan satu set pakaian dengan label yang masih menempel ke tangan Nadira.

“Pakai ini.”

Nadira juga tidak ingin terus mengenakan baju rumah sakit. Ia mengganti pakaian, lalu turun dan duduk menghadapi perias. Kuas menyapu wajahnya, bedak menutupi pucat, lipstik menghiasi bibirnya dalam warna yang tampak hidup, walau matanya tetap tenang seperti genangan air gelap.

Ketika semuanya selesai, suara klakson dan riuh kecil terdengar dari depan rumah.

Mobil pengantin Keluarga Gunawan tiba.

Di luar, Jakarta mulai bergerak. Udara subuh membawa sisa dingin, tapi keramaian sudah tumbuh. Lampu jalan masih menyala, motor melintas satu dua, suara kota perlahan bangun.

Nadira melangkah ke karpet merah yang dibentangkan di halaman. Kain gaun pengantinnya menyapu pelan, mengikuti setiap langkah.

Saat ia hampir masuk mobil, matanya menangkap sesuatu di kerumunan.

Seorang anak kecil jatuh pingsan. Wajahnya pucat sekali, bibirnya nyaris tidak berwarna.

“Bikin sial,” gerutu Ratna dari samping. “Jelas mau nipu.”

Ratna menarik Arman menjauh, seolah pingsannya anak itu adalah noda yang bisa menular.

Nadira menoleh lagi. Pakaian anak itu bukan pakaian murahan. Bahannya bagus, rapi, potongannya pas, seperti baju yang dijahit khusus.

Nadira berjalan mendekat, gaun pengantin mengikuti langkahnya. Pada saat itu, tidak ada orang di sekitar anak itu. Tak seorang pun mau membantu. Mereka takut salah langkah, takut disalahkan, takut terseret masalah, seperti kebiasaan kota besar yang mengajarkan orang untuk menutup mata demi aman..

Nadira melangkah mendekati bocah kecil itu. Ia berjongkok, dua jarinya menempel di pergelangan tangan si bocah, meraba denyut nadi dengan tenang.

Orang-orang yang mengerubungi mereka langsung ramai berkomentar, suaranya bersahut-sahutan di bawah terik Jakarta yang memantul di aspal.

“Nona, mending segera naik mobil pengantin. Masa ketemu begini pas hari nikah. Pamali, lho!”

“Iya, anak ini apes banget. Anak siapa, sih?”

“Kalau orang tuanya nanti malah minta duit, repot kita!”

Nadira tidak menanggapi. Nadi bocah itu teratur, tidak ada yang mengkhawatirkan. Wajahnya saja yang pucat, bibirnya nyaris tak berwarna, dan keringat dingin membasahi pelipis serta tengkuknya. Dari gejalanya, Nadira langsung menangkap kemungkinan yang paling sederhana.

Ia menoleh setengah badan ke arah Ratna, “Tolong ambilkan semangkuk air gula.”

Ratna menatapnya tajam, seperti hendak menancapkan kata-kata. Namun ia tetap memalingkan wajah dan memberi isyarat pada pembantu di sampingnya. Tak lama, semangkuk air gula dibawa.

Nadira menahan kepala bocah itu pelan, membantunya meneguk sedikit demi sedikit. Setelah itu, ia meminta seseorang menghubungi ambulans. Ratna mengatupkan rahang, jelas kesal, tetapi tetap menyuruh orang memanggil ambulans, lalu memerintahkan kursi dikeluarkan supaya bocah itu tidak lagi terduduk di trotoar yang panas.

“Siapa sebenarnya anak ini? Kasihan sekali dia,“ ucap Nadira lirih sembari membantu anak kecil itu.

Lalu, Ratna mendekati Nadira, suaranya dibuat serendah mungkin, namun terdengar sangat jelas.

“Jangan macam-macam. Cepat naik mobil keluarga Gunawan.”

Ratna benar-benar khawatir Nadira memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur. Ia tidak ingin putri kesayangannya, Aurelia, sampai harus menikah dengan lelaki itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 8 - Ibu Baru yang Baik

    Dalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.Raka terpaku sesaat.Nadira.Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.Dan entah kenapa, Raka le

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 7 - Kamu Nggak Akan Mati

    Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.Nadira.Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.“Lo nggak akan mati!”Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.Dering ponsel memotong benang pikirannya.Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,”

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 6 - Terasa Hangat

    “Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdeba

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 5 - Sentuhan Pertama

    Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”Anda tidak akan mati.Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.Dan gadis ini, yang entah da

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 4 - Pertemuan Pertama

    Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, orna

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 3 - Sesuatu yang Hilang

    Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang. “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status