เข้าสู่ระบบSaat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.
Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”
“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”
Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”
Anda tidak akan mati.
Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.
Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.
Dan gadis ini, yang entah datang dari mana, berani mengatakan ia tidak akan mati?
Naif, pikirannya. Sekaligus berani.
Ujung bibir Raka terangkat tipis, dan ada cahaya kecil yang menyusup ke matanya. Ia melepaskan cengkeraman dagu Nadira, lalu dengan gerakan lembut menyelipkan sehelai rambut Nadira ke belakang telinganya.
“Kenapa?” tanyanya, seolah benar benar tertarik. “Kau pikir kau bisa menyelamatkanku?”
Nama besar Keluarga Gunawan dikenal luas, bukan cuma di Jakarta, bahkan sampai ke luar negeri. Dokter terkenal pernah datang silih berganti, spesialis dari berbagai tempat, tapi hasilnya selalu sama. Kesimpulannya tegas: penyakitnya tak bisa diubah, usianya seperti sudah ditulis.
Nadira menangkap perubahan halus itu. Raka tidak lagi memandangnya dengan niat bermusuhan.
Dengan serius, ia berkata, “Wajah Anda sudah menunjukkan kondisi kesehatan Anda.”
Raka menatapnya lebih dalam. Sekejap kemudian, sorot matanya menggelap.
Raka menarik tangannya kembali, menatap Nadira seperti menatap mayat yang tinggal menunggu waktu.
Nadira mencondongkan tubuh sedikit, melangkah lebih dekat pada Raka, dan tersenyum dengan cara yang hangat tapi penuh perhitungan.
“Saya bisa membantu Anda.”
“Kau akan membantuku?” Raka mengulang, dengan senyum yang sulit dibaca.
Saat ia menatap mata Nadira yang jernih, ada sesuatu yang mengusik dadanya. Aneh. Ia hampir lupa rasanya dipercaya tanpa syarat, tanpa maksud tersembunyi.
Kalau ia bisa hidup, tentu ia mau. Siapa yang tidak?
Namun ia juga tahu, dokter bukan dewa. Ada penyakit yang tak bisa dipaksa menyerah, sekeras apa pun manusia melawan. Dan ia sudah terlalu lama sakit untuk masih percaya pada harapan yang terlalu mudah.
“Jadi kau membantuku untuk menolong Keluarga Wijaya?” tanyanya, datar.
“Tidak.” Nadira menggeleng.
Ia meraih tangan Raka. Kulitnya dingin, dingin yang tidak wajar, seperti logam yang lama terendam hujan. Raka refleks ingin menarik kembali, namun Nadira menggenggam lebih erat.
“Saya butuh tetap di sini,” katanya, suara lembut namun tegas. “Kalau saya tidak bisa tinggal, keluarga saya akan mengirim saya kembali ke rumah sakit dan mengurung saya.”
Telapak tangan Nadira hangat, hangatnya seperti matahari kecil pada musim hujan Jakarta, ketika langit kelabu tiba tiba membuka celah dan sinarnya jatuh tepat ke kulit. Hangat itu merambat dari jemari Raka, menyusup ke lengan, ke dada, dan untuk sesaat, membuatnya lupa betapa tubuhnya selalu terasa dingin.
Raka mendapati dirinya ingin menahan hangat itu lebih lama.
Ia tetap menjaga wajahnya dingin saat menatap Nadira. Nada suaranya berubah seperti sedang menggoda, tapi tetap tajam.
“Pasien rumah sakit jiwa ini ternyata menarik,” ucap Raka mengejek.
Nadira tersentak kecil. Ia tidak menyangka Raka tahu soal dirinya.
Ia mengangkat pandangannya, namun Raka sudah mengalihkan wajah, menatap ke arah jendela, seolah Jakarta di luar sana lebih layak diperhatikan daripada perasaannya barusan.
Nadira menunduk dan tersenyum tipis pada dirinya sendiri.
Ternyata, Penerus Kedua Gunawan yang katanya kejam tidak sepenuhnya seperti rumor.
Namun tubuh pria itu, dari dingin di tangannya, dari tatapan yang sesekali tampak lelah, benar benar seperti mesin yang kehabisan bahan bakar.
Nadira melepaskan pergelangan tangan Raka.
Ia tidak melihat bagaimana Raka sempat menahan jarinya sepersekian detik, seolah enggan berpisah. Ekspresi Nadira tetap tenang, serius, seperti dokter yang sudah terlalu sering menatap hal-hal yang tidak menyenangkan.
“Racun di tubuh Anda terserap sejak dalam kandungan,” ucapnya pelan. “Dan sudah memasuki tahap lanjut.”
Tahap lanjut.
Kata-kata itu jatuh di ruangan seperti gerimis yang tiba-tiba berubah jadi hujan deras. Di mata Raka, kilatan tajam menyala sesaat, dingin dan berbahaya, seperti lampu kendaraan yang memotong kabut malam Jakarta.
Ia menarik napas pendek, menahan sesuatu yang jelas tidak ingin ia tunjukkan. Tanpa mengatakan apa-apa, Raka berdiri, seolah hendak pergi begitu saja.
“Pak Raka.” Nadira tidak paham apa yang sedang ia lakukan. Ia ikut berdiri, menatap punggungnya. “Tapi penyakit Anda…”
Belum sempat kalimat itu selesai, tubuh Raka tiba-tiba ambruk seperti boneka yang talinya diputus. Ia jatuh ke sofa dengan berat, kelopak matanya turun, napasnya memburu. Tubuhnya tak lagi patuh pada kehendaknya sendiri.
“Raka!” Nadira bergegas, menolong Raka.
Wajah Raka pucat, dan seluruh tubuhnya seolah dilapisi embun es. Bukan sekadar dingin, melainkan dingin yang terasa seperti merembes dari dalam tulang. Di luar, Jakarta tetap bising, klakson bersahutan dari kejauhan, namun di dalam ruangan itu, suara-suara seperti tertutup kaca tebal.
Pintu terbuka. Shania berlari masuk, napasnya tersengal.
Tadi ia berniat melapor bahwa Si Kecil Kiki pingsan dan sudah dibawa ke rumah sakit, lengkap dengan urusan administrasi yang sempat membuat staf meminta jaminan cukup besar. Namun pemandangan di depannya membuat kata-kata itu tercekat.
Dalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.Raka terpaku sesaat.Nadira.Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.Dan entah kenapa, Raka le
Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.Nadira.Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.“Lo nggak akan mati!”Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.Dering ponsel memotong benang pikirannya.Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,”
“Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdeba
Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”Anda tidak akan mati.Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.Dan gadis ini, yang entah da
Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, orna
Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang. “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke a







