Share

Bab 5 - Sentuhan Pertama

Penulis: sebuahalkisah_
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 14:30:07

Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.

Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”

“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”

Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”

Anda tidak akan mati.

Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.

Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.

Dan gadis ini, yang entah datang dari mana, berani mengatakan ia tidak akan mati?

Naif, pikirannya. Sekaligus berani.

Ujung bibir Raka terangkat tipis, dan ada cahaya kecil yang menyusup ke matanya. Ia melepaskan cengkeraman dagu Nadira, lalu dengan gerakan lembut menyelipkan sehelai rambut Nadira ke belakang telinganya.

“Kenapa?” tanyanya, seolah benar benar tertarik. “Kau pikir kau bisa menyelamatkanku?”

Nama besar Keluarga Gunawan dikenal luas, bukan cuma di Jakarta, bahkan sampai ke luar negeri. Dokter terkenal pernah datang silih berganti, spesialis dari berbagai tempat, tapi hasilnya selalu sama. Kesimpulannya tegas: penyakitnya tak bisa diubah, usianya seperti sudah ditulis.

Nadira menangkap perubahan halus itu. Raka tidak lagi memandangnya dengan niat bermusuhan.

Dengan serius, ia berkata, “Wajah Anda sudah menunjukkan kondisi kesehatan Anda.”

Raka menatapnya lebih dalam. Sekejap kemudian, sorot matanya menggelap.

Raka menarik tangannya kembali, menatap Nadira seperti menatap mayat yang tinggal menunggu waktu.

Nadira mencondongkan tubuh sedikit, melangkah lebih dekat pada Raka, dan tersenyum dengan cara yang hangat tapi penuh perhitungan.

“Saya bisa membantu Anda.”

“Kau akan membantuku?” Raka mengulang, dengan senyum yang sulit dibaca.

Saat ia menatap mata Nadira yang jernih, ada sesuatu yang mengusik dadanya. Aneh. Ia hampir lupa rasanya dipercaya tanpa syarat, tanpa maksud tersembunyi.

Kalau ia bisa hidup, tentu ia mau. Siapa yang tidak?

Namun ia juga tahu, dokter bukan dewa. Ada penyakit yang tak bisa dipaksa menyerah, sekeras apa pun manusia melawan. Dan ia sudah terlalu lama sakit untuk masih percaya pada harapan yang terlalu mudah.

“Jadi kau membantuku untuk menolong Keluarga Wijaya?” tanyanya, datar.

“Tidak.” Nadira menggeleng.

Ia meraih tangan Raka. Kulitnya dingin, dingin yang tidak wajar, seperti logam yang lama terendam hujan. Raka refleks ingin menarik kembali, namun Nadira menggenggam lebih erat.

“Saya butuh tetap di sini,” katanya, suara lembut namun tegas. “Kalau saya tidak bisa tinggal, keluarga saya akan mengirim saya kembali ke rumah sakit dan mengurung saya.”

Telapak tangan Nadira hangat, hangatnya seperti matahari kecil pada musim hujan Jakarta, ketika langit kelabu tiba tiba membuka celah dan sinarnya jatuh tepat ke kulit. Hangat itu merambat dari jemari Raka, menyusup ke lengan, ke dada, dan untuk sesaat, membuatnya lupa betapa tubuhnya selalu terasa dingin.

Raka mendapati dirinya ingin menahan hangat itu lebih lama.

Ia tetap menjaga wajahnya dingin saat menatap Nadira. Nada suaranya berubah seperti sedang menggoda, tapi tetap tajam.

“Pasien rumah sakit jiwa ini ternyata menarik,” ucap Raka mengejek.

Nadira tersentak kecil. Ia tidak menyangka Raka tahu soal dirinya.

Ia mengangkat pandangannya, namun Raka sudah mengalihkan wajah, menatap ke arah jendela, seolah Jakarta di luar sana lebih layak diperhatikan daripada perasaannya barusan.

Nadira menunduk dan tersenyum tipis pada dirinya sendiri.

Ternyata, Penerus Kedua Gunawan yang katanya kejam tidak sepenuhnya seperti rumor.

Namun tubuh pria itu, dari dingin di tangannya, dari tatapan yang sesekali tampak lelah, benar benar seperti mesin yang kehabisan bahan bakar.

Nadira  melepaskan pergelangan tangan Raka.

Ia tidak melihat bagaimana Raka sempat menahan jarinya sepersekian detik, seolah enggan berpisah. Ekspresi Nadira tetap tenang, serius, seperti dokter yang sudah terlalu sering menatap hal-hal yang tidak menyenangkan.

“Racun di tubuh Anda terserap sejak dalam kandungan,” ucapnya pelan. “Dan sudah memasuki tahap lanjut.”

Tahap lanjut.

Kata-kata itu jatuh di ruangan seperti gerimis yang tiba-tiba berubah jadi hujan deras. Di mata Raka, kilatan tajam menyala sesaat, dingin dan berbahaya, seperti lampu kendaraan yang memotong kabut malam Jakarta.

Ia menarik napas pendek, menahan sesuatu yang jelas tidak ingin ia tunjukkan. Tanpa mengatakan apa-apa, Raka berdiri, seolah hendak pergi begitu saja.

“Pak Raka.” Nadira tidak paham apa yang sedang ia lakukan. Ia ikut berdiri, menatap punggungnya. “Tapi penyakit Anda…”

Belum sempat kalimat itu selesai, tubuh Raka tiba-tiba ambruk seperti boneka yang talinya diputus. Ia jatuh ke sofa dengan berat, kelopak matanya turun, napasnya memburu. Tubuhnya tak lagi patuh pada kehendaknya sendiri.

“Raka!” Nadira bergegas, menolong Raka.

Wajah Raka pucat, dan seluruh tubuhnya seolah dilapisi embun es. Bukan sekadar dingin, melainkan dingin yang terasa seperti merembes dari dalam tulang. Di luar, Jakarta tetap bising, klakson bersahutan dari kejauhan, namun di dalam ruangan itu, suara-suara seperti tertutup kaca tebal.

Pintu terbuka. Shania berlari masuk, napasnya tersengal.

Tadi ia berniat melapor bahwa Si Kecil Kiki pingsan dan sudah dibawa ke rumah sakit, lengkap dengan urusan administrasi yang sempat membuat staf meminta jaminan cukup besar. Namun pemandangan di depannya membuat kata-kata itu tercekat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 53 - Perempuan Arogan

    “Kak, ada yang menggangguku. Bawa beberapa orang ke sini, cepat. Aku di halaman Keluarga Suryanto,” katanya angkuh.Bima mengerutkan kening, lalu mendekat ke Raka dan berbisik, “Tuan Muda Kedua, apa perlu kita mengawal Nyonya keluar?”Raka menatap ke arah Nadira tanpa berkedip. Wajahnya tampak memerah, lebih dari biasanya, seolah menahan sesuatu. “Dia bisa menangani ini.”Bima menatapnya tak percaya. Ia merasa ucapan itu terdengar seperti lelucon.Reza menoleh ke arah Nadira dan berkata dingin, “Perempuan murahan, tunggu saja. Kalau hari ini aku tidak membunuhmu, aku akan mengusirmu dari Singapura. Kau akan hidup di neraka selamanya.”Keributan itu akhirnya menarik perhatian Nyonya Besar Keluarga Suryanto. Ia bergegas datang, wajahnya jelas tidak senang saat melihat Nadira sebagai pusat masalah. Meski begitu, ia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi di rumahnya sendiri. Saat hendak berbicara, suara Nadira lebih dulu terdengar.“Jangan,” ucap Nadira pelan namun tegas. Alisnya sedikit ter

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 52 - Efek Obat Perangsang

    Mudah ditekan?Ia tersenyum balik, menatap Arman dengan tenang. “Pak Arman, saya setuju reputasi Nona Shanti memang tercoreng. Tapi itu bukan karena saya. Alih-alih menyelidiki siapa yang merusak gaunnya, Anda malah menyalahkan saya. Apakah karena Anda mengira saya lemah dan mudah ditekan?”Lemah?Sudut mulut Arman berkedut. Berbagai emosi silih berganti di wajahnya. Tanpa berkata lagi, ia segera membawa Shanti pergi.Nadira pun tak ingin berlama-lama. Ia berpamitan dan melangkah menuju gerbang.Begitu sampai di depan rumah besar itu, seorang pemuda kaya yang tubuhnya menyengat bau alkohol berjalan sempoyongan mendekat. Jam tangan mahal di pergelangan tangannya berkilat, dan dompet kulitnya tampak menggembung, seolah uang ratusan juta rupiah di dalamnya bisa membeli segalanya.Ia menghadang langkah Nadira dan menatapnya tanpa berkedip.“Hai, cantik. Mau jalan bareng?” katanya, senyum mabuk mengembang.Menahan amarah, Nadira berkata dingin, “Tolong minggir.”“Oh, wanginya enak juga,” uj

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 51 - Shanti Meminta Maaf

    Nadira menengadah menatap Raka. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan berbicara sejauh ini demi dirinya.Yanuar, yang berdiri tidak jauh, menangkap tatapan Nadira pada Raka. Ada rasa kecewa yang samar menyelinap di dadanya.Ia tak pernah membayangkan Nadira hadir sebagai pendamping Raka.Aurelia menundukkan kepala sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia sempat mengira Raka benar-benar menyukai Nadira, tetapi melihat jarak halus di antara mereka, hubungan sebagai pasangan suami istri itu tampaknya tidak sehangat yang dibayangkan.Kalau begitu, apakah ia masih punya kesempatan?Pandangan Aurelia melirik ke samping. Ia menarik lengan Yanuar menjauh dari keramaian, menatapnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Yanuar, nada suaranya lembut.Aurelia mengatupkan bibir, matanya dipenuhi kekhawatiran.“Mas Yanuar, ada sesuatu yang aku ragu untuk ceritakan.” Ekspresi ragu itu membuat hati Yanuar melunak.“Apa itu?”“Sebelumnya, Kak Nadira pernah dengar dariku kalau Mas Yanuar juga

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 50 - Shanti yang Tak Tahu Malu

    Shanti tahu, di mata mereka semua, dirinya kini tak lebih dari noda memalukan. Tatapan jijik dan rasa muak mengelilinginya. Namun ia tak peduli. Meski nama baiknya hancur, ia harus menemukan kakaknya. Ia harus menuntut keadilan.Dengan air mata mengalir deras, Shanti berdiri tertatih dan menunjuk Nadira. “Sudah lima tahun. Kakakku dan Lili Hartono menghilang selama lima tahun. Nadira Chandra, kamu kejam. Kalau kamu tidak membunuh mereka, bagaimana mungkin mereka lenyap begitu saja dari dunia ini?”“Kamu membunuh kakakku. Untuk itu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku bersumpah…”Kalimatnya terputus. Pandangannya mengabur, tubuhnya limbung, lalu ia jatuh pingsan ke lantai marmer yang dingin.“Miss Shanti, berbaring di lantai marmer begini tidak dingin?” tanya Nadira Chandra ketika ia melangkah mendekati Shanti. Aula hotel di kawasan Sudirman itu berkilau oleh lampu kristal, AC menyemburkan udara Jakarta yang dingin menusuk.Nadira mengulurkan tangan dan mencubit ringan lekuk di bawa

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 49 - Akankah Kebenaran Terungkap?

    “Di mana Shinta Ayuningtyas?” mata Arman memerah. Napasnya memburu, seolah dadanya dihimpit beban bertahun-tahun. Shinta adalah putri yang paling ia sayangi. Lima tahun lalu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, Shinta menghilang tanpa jejak. Ia telah mengerahkan segala cara, dari laporan polisi hingga menyewa detektif swasta, menghabiskan ratusan juta rupiah, namun hasilnya nihil.“Nona Shanti, saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan,” ujar Nadira tenang. “Saya tidak membunuh siapa pun, dan saya tidak menculik kakak Anda.”Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya. Di layar terpampang sebuah video yang memperlihatkan Juna Gumintang dan Shanti saat mencoba mencelakainya. Keributan di aula mendadak mereda, digantikan keheningan yang tegang.Nadira melirik gaun yang tergeletak tak jauh dari mereka. “Nona Shanti, saya hanya memberi Anda sedikit obat penenang. Efeknya ringan dan singkat. Di bagian luar pakaian Anda memang ada sisa obat itu. Tapi bagian dalam gau

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 48 - Siapa yang Menjebak Shanti?

    Tanpa sadar, Shanti melirik ke arah Aurelia Shinta yang duduk tidak jauh dari sana. Jika bukan karena cerita yang disampaikan Aurelia, ia tidak akan pernah terpikir untuk melawan Nadira. Ia juga tidak akan tahu bahwa Nadira adalah orang yang disebut-sebut telah menyakiti kakaknya.Shanti melihat Aurelia menundukkan kepala, tampak lemah dan diam. Ia kembali menoleh ke arah Nadira.Wajah Nadira tetap tenang, dingin, seolah sedang memberinya satu kesempatan terakhir.Apakah Aurelia sedang mencoba mencelakakannya?Tidak mungkin. Ia adalah Nona Besar Keluarga Suryanto. Ia bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan Aurelia. Untuk apa Aurelia melakukan semua ini?“Nona Shanti.”Saat mendengar Nadira memanggilnya, Shanti menoleh dengan wajah masih kosong.“Nona Shanti, gaun yang Anda kenakan hari ini sangat unik,” lanjut Nadira dengan nada santai. “Dan sepertinya ada bau aneh.”Dengan pola pikir Shanti yang sederhana, Nadira tahu ia tidak akan langsung memahami maksudnya. Ia hanya bisa me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status