Share

Bab 3

Penulis: Ungu
Ketika aku menunggu perawatan lebih mendalam dari Dokter Samuel, dia malah tiba-tiba menarik kembali tangannya.

“Sudah.” Dia berkata dengan suara serak.

Sentuhannya yang tiba-tiba berhenti membuatku seluruh tubuhku merasa hampa.

Gelombang panas yang tersulut bukan hanya tidak mereda, justru malah menyebar ke seluruh tubuh seperti api yang menjalar. Aku menginginkan kenyamanan, ingin dipenuhi dan ditaklukkan.

“Menurut pemeriksaan, kamu mengalami ketidakseimbangan hormon.”

Dia mendorong kacamatanya yang melorot, lengan jas putihnya sedikit basah. “Kadar estrogen yang tinggi dapat menyebabkan … peningkatan hasrat seksual.”

Aku terdiam.

Jadi keinginan yang sulit diungkapkan itu, malam-malam yang penuh kegelisahan itu, benar-benar adalah sebuah penyakit?

Pantas saja wanita lain di asrama ketika membahas tentang pacaran begitu kalem, hanya aku yang otaknya dipenuhi gambaran cinta yang penuh gairah.

“Lalu … Dokter Samuel, bagaimana aku harus mengobati penyakitku?” Aku sangat malu hingga tidak berani mendongak dan menatapnya.

“Bisa melalui perpaduan pijat dan obat-obatan.” Suaranya tiba-tiba sangat dekat, napas hangatnya menghembus di belakang telingaku. “Sekarang akan mulai pengobatannya.”

“Hah?”

Aku mendongak dengan panik, bibirku malah tidak sengaja menyentuh pahanya.

Dibatasi kain celananya, bisa terasa otot-ototnya yang kuat.

Aroma maskulinnya yang kuat membuatku pusing, di kedua kakiku muncul rasa gatal yang sulit ditahan.

Napas Dokter Samuel jelas menjadi lebih berat.

Sepasang tangan besar tiba-tiba mencengkeram pinggangku, menekan tubuhku ke kasur pemeriksaan, seprai mengeluarkan suara gesekan karena menahan beban.

“Jangan sembarangan bergerak.” Nada suaranya sangat rendah dan menakutkan. “Pengobatan membutuhkan kerja sama pasien.”

Aku mendengar bunyi lembut resleting rok yang dibuka.

Angin sejuk menerpa punggungku, kemudian segera digantikan oleh sentuhan yang panas.

Telapak tangannya sangat panas seperti besi panas, perlahan bergerak naik dari punggung, berhenti di tulang belikat.

“Kulitmu sungguh putih.” Dia bergumam, ujung jarinya tiba-tiba menekan. “Seperti krim segar yang baru diperas.”

Metafora ini membuat telingaku panas.

Ketika tangannya bergerak sampai titik akupunktur, sebuah arus kuat tiba-tiba mengalir melalui tulang belakangku, aku tidak bisa menahan diri dan bergemetar.

Sentuhan hangat dan basah tiba-tiba menyentuh leher bagian belakang.

Lidahnya seperti ular yang lincah, menyusuri sepanjang punggungku, lalu berputar di area pinggang.

Ketika giginya dengan lembut menggigit cuping telinga, aku mengeluarkan suara rintihan yang tidak terdengar seperti diriku.

Hmm, seru banget ….

“Rileks.” Suaranya terdengar menggoda, “Serahkan tubuhmu padaku.”

Ini pengobatan apanya? Ini jelas adalah penaklukkan yang dirancang dengan baik.

Tangan dan kakiku lemas seperti mie yang sudah direbus, pikiranku kosong.

Saat dia duduk di atas, kasur pemeriksaan berdecit karena menahan beban berat.

Memang seperti yang dia katakan, “teknik pengobatan” ini memberikan kenyamanan yang belum pernah ada sebelumnya.

Namun seiring kenikmatan menumpuk, kebutuhan yang lebih memalukan mulai muncul.

Gatal!

Gatal yang tidak tertahankan, seperti semut yang tidak terhitung jumlahnya sedang merayap.

Aku menjepit erat kedua kakiku, tetapi tidak bisa menghentikan rasa panas itu.

“Dokter ….” Suaraku sangat bergetar, “Aku merasa sangat tidak nyaman …..”

Dokter Samuel tidak menjawab, tapi tekanan pada titik akupunktur tiba-tiba bertambah kuat.

Aku mendongak dan terengah-engah, melihat mata di balik kacamatanya memerah, seolah menjadi orang yang berbeda.

Dia tersenyum tipis. “Begini saja sudah tidak tahan?”

Sambil mengatakan itu tiba-tiba dia mencengkeram daguku, tiga jarinya tiba-tiba masuk ke mulut. “Tidak bisa begini, kita harus meningkatkan intensitasnya.”

Air liurku tidak terkendali dan mengalir dari sudut mulutku, lalu dijilatnya, tindakan ini membuatku meringkukkan kakiku.

“Mau bagaimana melakukannya …?”

“Kalau begitu kamu harus patuh.” Dia berbisik di dekat telingaku, jarinya berputar di dalam mulutku yang hangat dan basah. “Aku akan menyelamatkanmu.”

Aroma disinfektan di ruang pemeriksaan bercampur dengan aroma yang tajam.

Di luar tidak tahu sejak kapan hujan mulai turun, suara tetesan hujan yang mengenai jendela seperti hitungan mundur.

Jas putihnya menggesek bagian dalam pahaku, di sana sudah sangat becek sejak tadi.

Ketika tangannya akhirnya menyentuh titik terpanas, aku mengeluarkan suara rintihan seperti sekarat.

Ini bukan hubungan yang seharusnya dimiliki antara dokter dan pasien, tetapi kami tidak berhenti.

“… Aku sudah mau mulai.”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 10

    Pintu dibuka, di tengah cahaya yang menyilaukan mata, Dokter Samuel terlihat seperti utusan dari neraka.Dia berjongkok, meraih daguku dan memaksaku untuk mendongak.“Apa kamu tahu, Marina?” Suaranya lembut tapi begitu menakutkan. “Yang kamu minum selama satu bulan ini bukanlah obat sifilis, melainkan obat khusus yang digunakan untuk menjinakkan wanita yang sulit diatur. Obat itu akan membuatmu ... mendambakan pria, tidak bisa mengendalikan diri.”Aku membelalak, rasa mual muncul karena jijik.“Kenapa, kenapa melakukan ini padaku?” Aku menatap Dokter Samuel dengan terkejut, air mata menggenang di mataku.“Adik laki-lakiku, Yohanes Prawira.” Jari-jarinya mengencang, rasa sakit membuat air mataku mengalir. “Tiga tahun lalu karena kamu menolak untuk rujuk, dalam perjalanannya mengejarmu dia tertabrak truk dan hancur. Kamu tahu berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk menyatukan kembali mayatnya?”Ingatanku tiba-tiba kembali ke hari hujan itu, ketika Yohanes berlutut di tengah hujan memohon

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 9

    Huh!Siapa sangka aku yang hanya seorang mahasiswi muda, bisa tertular penyakit sifilis begini?Dulu memang pernah punya tidak sedikit pacar, sekarang juga tidak bisa menyalahkan siapa pun.Selama minggu berikutnya, aku setiap hari lewati dalam kecemasan dan ketakutan.Aku merasa tubuhku menjadi botol obat, tidak hanya George yang mendesakku untuk minum obat sifilisku, Dokter Samuel juga setiap hari mengawasiku untuk minum obat tepat waktu, untuk mengobati penyakit aneh yang membuat tubuhku gatal. Tetesan hujan di luar jendela mengetuk kaca, aku menatap pil putih di tanganku, tenggorokanku tercekat.Akhirnya, tetap tidak bisa menelan pil itu.Tiba-tiba ponselku bergetar, itu adalah pesan dari Dokter Samuel: [Hari ini bagaimana rasanya? Ingat minum obat tepat waktu, kondisimu sedang membaik.]Aku sambil menatap layar, tanpa sadar tersenyum.Sejak bertemu Dokter Samuel, kehidupan bagai mimpi buruk ini akhirnya muncul secercah cahaya.Dia dengan dokter lain tidak sama, tidak menatapku de

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 8

    Empat hari berlalu, secara tidak terduga haid selesai lebih cepat.Biasanya berlangsung selama seminggu, kali ini malah begitu singkat dan mengejutkan.Ponselku bergetar tepat waktu, itu adalah pesan dari George: [Marina, beberapa hari ini pikiranku dipenuhi denganmu, setiap kali menutup mata terlihat sosokmu yang menggoda, aku hampir gila karenanya.]Kata-kata ini membuat perutku mual.Dasar tidak tahu diri!Tapi aku tidak punya pilihan lain.Yang lebih keterlaluan adalah, dia merintahku memakai pakaian seksi dan terbuka untuk bertemu.Aku berusaha menahan rasa jijik, memakai gaun pink transparan, dengan bagian punggung yang terbuka sehingga kulit terlihat.Gaun bergoyang lembut seiring langkahku, menonjolkan lekuk tubuhku.Di bawah pohon paulownia di pintu masuk kampus, George sudah menunggu di sana.Ketika melihatku, wajahnya memerah, napasnya menjadi berat, seperti banteng yang sedang birahi.Dia menarikku naik sepeda motornya, panas tangannya menembus gaun tipisku.“Aku akan memba

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 7

    Cengkeramannya pada pergelangan tanganku seperti penjepit besi, sangat kuat hingga membuatku menangis karena kesakitan.Aku berusaha keras melawan tetapi tidak bisa melepaskannya, rasa takut menerpaku seperti gelombang air, orang gila ini tidak akan memaksaku di sini, kan?Ketika ditarik lebih dalam ke dalam hutan, punggungku sudah basah dengan keringat dingin.Ini adalah tempat pasangan mahasiswa untuk berpacaran di malam hari, tapi siang hari justru sangat sepi. Kulit kayu yang kasar menggores lenganku, terasa panas dan menyakitkan.“George, kamu menyakitiku!” Aku berteriak sambil menangis, mataku perih.Pria berwajah menyeramkan di depanku ini, mana mungkin masih kakak laki-laki tetangga yang patuh padaku?“Dasar jalang!” Makiannya yang secara tiba-tiba membuat seluruh tubuhku bergemetar.Detik berikutnya, kepalan tangan sebesar panci dengan keras menghantam batang pohon di sampingku.Dedaunan yang terguncang berjatuhan, bahkan tanah pun sedikit bergetar.Aku menciut dan mundur sete

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 6

    Setelah mengatakan ini, aku menggigit bibir bawahku, saat mendongak untuk melihatnya, bulu mataku sedikit bergetar.Napas Dokter Samuel jelas menjadi lebih berat.Aku memanfaatkan kesempatan dan berdiri, berpura-pura pusing dan menopang diriku pada lengannya, aku bisa merasakan ototnya yang menegang melalui jas putihnya.“Berdasarkan pengamatan klinis ….” Suaranya tiba-tiba menjadi serak, “Ini adalah reaksi normal obat yang mulai bekerja. Pertama, obat ini meningkatkan produksi hormon progesteron, setelah hormon dalam tubuh mencapai puncaknya ....”Dia tiba-tiba berhenti ketika menjelaskan dengan istilah profesionalnya, karena jariku sudah menyentuh jakunnya.Dari sudut ini tepat bisa tercium aroma samar disinfektan di kerah bajunya, bercampur dengan aroma parfum pria.“Dokter.” Aku berjinjit, napasku berhembus di dagunya. “Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Aku hanya tahu ... Hanya kamu yang bisa membantuku sekarang.” Udara di dalam klinik tiba-tiba menjadi lebih pekat.Aku me

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 5

    Sudahlah, George memang bukan tipeku, untuk apa terlalu dipikirkan.Di malam yang sunyi, di dalam asrama hanya terdengar suara AC yang pelan.Aku meringkuk di kasur, jari-jariku tanpa sadar mencengkeram selimut dengan erat.Yang tidak bisa hilang dari pikiranku adalah kehangatan ujung jari Dokter Samuel di ruang pemeriksaan hari itu.Perasaan digoda tetapi tidak menemukan kelegaan seperti itu, lebih menyiksa daripada hukuman apa pun.“Sungguh gila ….” Aku menggigit sudut sarung bantal, tanpa sadar kedua kakiku menyilang dan saling menggesek.Kasur di asrama sedikit berdecit, membuatku terkejut dan langsung membeku.Teman sekamar yang kasurnya di sebelah membalikkan badan, aku pun menahan napas, sampai memastikan dia tidak kaget dan terbangun, baru aku melanjutkan gerakan.Perasaan diam-diam seperti ini justru semakin meningkatkan kenikmatan.Cahaya bulan di luar jendela bersinar seperti air, menyinari dahiku yang berkeringat.Aku menatap foto kerja Dokter Samuel yang diam-diam kuambil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status