Share

Bab 2

Penulis: Ungu
Kasur pemeriksaan yang terasa dingin menempel di paha bagian dalamku.

Aku merangkak naik dengan agak canggung, rokku tergulung hingga ke pinggang.

Dari punggungku terasa tatapannya yang intens, aku tidak bisa menahan diri dan bergemetar.

Jakun Dokter Samuel sedikit bergerak, dada di balik jas putihnya terlihat jelas bergerak cepat.

Kemudian, dengan tenang dia memakai stetoskop.

Ujung logam stetoskop yang dingin menempel di dadaku, aku hampir mengeluarkan suara karena kaget.

Alat itu masuk dari atas tank topku, tepat berhenti di atas jantungku.

Aku menahan napas, dia pasti sudah menyadari, di balik tank top tipis ini sudah tidak ada penghalang lain.

Jari Dokter Samuel sedikit bergemetar, telinganya seketika memerah.

Menyadari ini membuatku diam-diam merasa bangga, ternyata seorang dokter yang dewasa dan tenang pun bisa tersipu karena wanita sepertiku.

“Detak jantung sedikit cepat, tapi ritmenya normal.” Dia menarik kembali stetoskopnya, suaranya lebih tenang dari sebelumnya, “Kamu merasa tidak nyaman di bagian mana?”

Aku memainkan jariku, sengaja membuat suaraku sedikit bergetar, “Dokter, aku selalu merasa … ada sesuatu yang bergejolak di dalam diriku.”

Bulu mataku sedikit bergetar saat mendongak dan langsung menatap ke matanya, “Terutama di malam hari, aku akan bermimpi tentang … hal-hal yang sulit diungkapkan.”

Ini adalah yang sebenarnya.

Mimpi-mimpi itu benar-benar menakutkan, saat terbangun seprai selalu basah, rasa pegal dan nyeri terasa di seluruh tubuhku.

Tatapan mata dokter menjadi rumit.

Dia memintaku berbaring di kasur pemeriksaan, tangannya yang hangat tiba-tiba menempel di perut bagian bawahku.

Seluruh tubuhku bergemetar, otot pantatku secara tidak terkendali menegang dan rileks.

“Apakah di sini sakit?” Ibu jarinya membuat lingkaran di bawah pusarku.

“Ah!” Aku mengeluarkan suara karena terkejut, suaraku terdengar manis, bahkan aku sendiri pun terkejut.

Di mana yang sakit? Itu jelas adalah kenikmatan yang membuat orang bergemetar, seperti arus listrik yang menyambar ke seluruh tubuh.

Tangan dokter terus memeriksa ke bawah, kulit yang disentuhnya terasa panas.

Aku menggigit bibir bawahku untuk mencegah diriku mengeluarkan suara yang lebih memalukan, jari kakiku melengkung di tepi kasur pemeriksaan.

“Punya pacar tetap?” Dia tiba-tiba bertanya.

Aku menggelengkan kepala, rambutku tersebar di sarung bantal seputih salju itu.

“Kapan terakhir kali berhubungan?”

Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya membuatku malu, tapi saat ini malah seperti bahan pemicu yang membuat api di dalam tubuhku semakin membara.

Aku menjawab dengan tidak jelas, menyadari tatapan dokter sesekali beralih ke arah kakiku.

Kakiku memang indah, halus dan putih, sepuluh jari kakiku dicat dengan cat kuku berwarna ceri, seperti deretan kerang kecil.

Pernah ada pria yang berkata, kakiku membuatnya teringat dengan giok yang disimpan di museum.

“Kakimu ….” Suara Dokter Samuel tegang. “Sangat cantik.”

Gelombang panas mengalir ke perut bagian bawahku.

Aku tanpa sadar berkata, “Mau … Mau menyentuhnya?”

Setelah mengatakannya aku langsung menyesal.

Terlalu terang-terangan, sama sekali tidak seperti perkataan yang seharusnya dikatakan oleh seorang mahasiswi yang polos, namun karena sudah terlanjur, malah membuatku menantikan reaksinya.

Tapi Dokter Samuel tampak sangat tenang, dia seolah tidak mendengar dan melanjutkan pemeriksaannya.

Tangannya yang hangat perlahan bergerak ke bawah perut bagian bawahku, ketika ujung jarinya menyentuh area intim tertentu, aku tanpa sadar melengkungkan punggungku.

Sangat nyaman ….

Seluruh tubuhku terasa panas, kesadaranku perlahan memudar, tubuhku seolah tidak lagi di bawah kendaliku, setiap sel tubuhku berteriak penuh keinginan, tatapanku begitu intens.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 10

    Pintu dibuka, di tengah cahaya yang menyilaukan mata, Dokter Samuel terlihat seperti utusan dari neraka.Dia berjongkok, meraih daguku dan memaksaku untuk mendongak.“Apa kamu tahu, Marina?” Suaranya lembut tapi begitu menakutkan. “Yang kamu minum selama satu bulan ini bukanlah obat sifilis, melainkan obat khusus yang digunakan untuk menjinakkan wanita yang sulit diatur. Obat itu akan membuatmu ... mendambakan pria, tidak bisa mengendalikan diri.”Aku membelalak, rasa mual muncul karena jijik.“Kenapa, kenapa melakukan ini padaku?” Aku menatap Dokter Samuel dengan terkejut, air mata menggenang di mataku.“Adik laki-lakiku, Yohanes Prawira.” Jari-jarinya mengencang, rasa sakit membuat air mataku mengalir. “Tiga tahun lalu karena kamu menolak untuk rujuk, dalam perjalanannya mengejarmu dia tertabrak truk dan hancur. Kamu tahu berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk menyatukan kembali mayatnya?”Ingatanku tiba-tiba kembali ke hari hujan itu, ketika Yohanes berlutut di tengah hujan memohon

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 9

    Huh!Siapa sangka aku yang hanya seorang mahasiswi muda, bisa tertular penyakit sifilis begini?Dulu memang pernah punya tidak sedikit pacar, sekarang juga tidak bisa menyalahkan siapa pun.Selama minggu berikutnya, aku setiap hari lewati dalam kecemasan dan ketakutan.Aku merasa tubuhku menjadi botol obat, tidak hanya George yang mendesakku untuk minum obat sifilisku, Dokter Samuel juga setiap hari mengawasiku untuk minum obat tepat waktu, untuk mengobati penyakit aneh yang membuat tubuhku gatal. Tetesan hujan di luar jendela mengetuk kaca, aku menatap pil putih di tanganku, tenggorokanku tercekat.Akhirnya, tetap tidak bisa menelan pil itu.Tiba-tiba ponselku bergetar, itu adalah pesan dari Dokter Samuel: [Hari ini bagaimana rasanya? Ingat minum obat tepat waktu, kondisimu sedang membaik.]Aku sambil menatap layar, tanpa sadar tersenyum.Sejak bertemu Dokter Samuel, kehidupan bagai mimpi buruk ini akhirnya muncul secercah cahaya.Dia dengan dokter lain tidak sama, tidak menatapku de

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 8

    Empat hari berlalu, secara tidak terduga haid selesai lebih cepat.Biasanya berlangsung selama seminggu, kali ini malah begitu singkat dan mengejutkan.Ponselku bergetar tepat waktu, itu adalah pesan dari George: [Marina, beberapa hari ini pikiranku dipenuhi denganmu, setiap kali menutup mata terlihat sosokmu yang menggoda, aku hampir gila karenanya.]Kata-kata ini membuat perutku mual.Dasar tidak tahu diri!Tapi aku tidak punya pilihan lain.Yang lebih keterlaluan adalah, dia merintahku memakai pakaian seksi dan terbuka untuk bertemu.Aku berusaha menahan rasa jijik, memakai gaun pink transparan, dengan bagian punggung yang terbuka sehingga kulit terlihat.Gaun bergoyang lembut seiring langkahku, menonjolkan lekuk tubuhku.Di bawah pohon paulownia di pintu masuk kampus, George sudah menunggu di sana.Ketika melihatku, wajahnya memerah, napasnya menjadi berat, seperti banteng yang sedang birahi.Dia menarikku naik sepeda motornya, panas tangannya menembus gaun tipisku.“Aku akan memba

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 7

    Cengkeramannya pada pergelangan tanganku seperti penjepit besi, sangat kuat hingga membuatku menangis karena kesakitan.Aku berusaha keras melawan tetapi tidak bisa melepaskannya, rasa takut menerpaku seperti gelombang air, orang gila ini tidak akan memaksaku di sini, kan?Ketika ditarik lebih dalam ke dalam hutan, punggungku sudah basah dengan keringat dingin.Ini adalah tempat pasangan mahasiswa untuk berpacaran di malam hari, tapi siang hari justru sangat sepi. Kulit kayu yang kasar menggores lenganku, terasa panas dan menyakitkan.“George, kamu menyakitiku!” Aku berteriak sambil menangis, mataku perih.Pria berwajah menyeramkan di depanku ini, mana mungkin masih kakak laki-laki tetangga yang patuh padaku?“Dasar jalang!” Makiannya yang secara tiba-tiba membuat seluruh tubuhku bergemetar.Detik berikutnya, kepalan tangan sebesar panci dengan keras menghantam batang pohon di sampingku.Dedaunan yang terguncang berjatuhan, bahkan tanah pun sedikit bergetar.Aku menciut dan mundur sete

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 6

    Setelah mengatakan ini, aku menggigit bibir bawahku, saat mendongak untuk melihatnya, bulu mataku sedikit bergetar.Napas Dokter Samuel jelas menjadi lebih berat.Aku memanfaatkan kesempatan dan berdiri, berpura-pura pusing dan menopang diriku pada lengannya, aku bisa merasakan ototnya yang menegang melalui jas putihnya.“Berdasarkan pengamatan klinis ….” Suaranya tiba-tiba menjadi serak, “Ini adalah reaksi normal obat yang mulai bekerja. Pertama, obat ini meningkatkan produksi hormon progesteron, setelah hormon dalam tubuh mencapai puncaknya ....”Dia tiba-tiba berhenti ketika menjelaskan dengan istilah profesionalnya, karena jariku sudah menyentuh jakunnya.Dari sudut ini tepat bisa tercium aroma samar disinfektan di kerah bajunya, bercampur dengan aroma parfum pria.“Dokter.” Aku berjinjit, napasku berhembus di dagunya. “Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Aku hanya tahu ... Hanya kamu yang bisa membantuku sekarang.” Udara di dalam klinik tiba-tiba menjadi lebih pekat.Aku me

  • Rahasia Bunga Kampus   Bab 5

    Sudahlah, George memang bukan tipeku, untuk apa terlalu dipikirkan.Di malam yang sunyi, di dalam asrama hanya terdengar suara AC yang pelan.Aku meringkuk di kasur, jari-jariku tanpa sadar mencengkeram selimut dengan erat.Yang tidak bisa hilang dari pikiranku adalah kehangatan ujung jari Dokter Samuel di ruang pemeriksaan hari itu.Perasaan digoda tetapi tidak menemukan kelegaan seperti itu, lebih menyiksa daripada hukuman apa pun.“Sungguh gila ….” Aku menggigit sudut sarung bantal, tanpa sadar kedua kakiku menyilang dan saling menggesek.Kasur di asrama sedikit berdecit, membuatku terkejut dan langsung membeku.Teman sekamar yang kasurnya di sebelah membalikkan badan, aku pun menahan napas, sampai memastikan dia tidak kaget dan terbangun, baru aku melanjutkan gerakan.Perasaan diam-diam seperti ini justru semakin meningkatkan kenikmatan.Cahaya bulan di luar jendela bersinar seperti air, menyinari dahiku yang berkeringat.Aku menatap foto kerja Dokter Samuel yang diam-diam kuambil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status