LOGIN“Ko Adrian …”
“Maria, wa ….”
Keadaan kami begitu canggung seolah orang lain yang tinggal berjauhan dan bertahun-tahun baru bertemu.
“Apa wa boleh masuk?”
Ini rumahku tetapi entah mengapa baru kali ini reflek ber
Wanita itu berdecak sambil bergumam, “Petugas kebersihan paling.”Tak mau mencari masalah Karlina bergegas keluar begitu pintu lift terbuka kembali. Perusahaan ini jelas memiliki seragam petugas kebersihan berwarna oranye yang mencolok.Karlina mengayunkan langkah lebar ke arah kanan. Tertulis ruang direktur utama di atas pintu. Tak jauh dari pintu seorang wanita dewasa berwajah ramah berdiri menyambut sambil tersenyum.“Ada perlu dengan direktur?” tanyanya ramah sambil sedikit membungkuk.Belum lagi Karlina menjawab, wanita itu telah melewati tubuhnya dan mempersilahkan seseorang di belakang Karlina untuk menuju ruangan bos.Karlina yang kebingungan berbalik dengan mulut melongo memperhatikan interaksi dua orang wanita di hadapannya.“Apa sudah buat janji, Nona?”“Tak usah. Mas Mahdi suka kejutan kalau aku datang tiba-tiba,” kata wanita yang cantik karena make-up tebal itu sambil menyeringai sinis pada Karlina.“Karlina! Sedang apa disini?” Sebuah suara yang familiar terdengar di te
Mahdi melangkah tergesa memasuki kantornya di sebuah gedung yang cukup mewah. Fasilitas kantor di perusahaan keluarga Chiang itu sangat lengkap dan mumpuni. Sehingga siapa saja yang menjadi bagian perusahaan itu merasa bangga meski berada pada bagian bawah sekalipun.Para pegawai yang sudah paham siapa pria dengan busana formal yang tampak gagah itu sebagai petinggi dalam perusahaan segera membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai penghormatan.“Selamat pagi, Pak,” sapa Karlina yang kini juga bagian dari bawahan Mahdi.Lelaki yang biasanya acuh dan sekedar menganggukkan kepala sedikit tanpa menatap itu tertegun sejenak lalu berhenti dan mengarahkan tubuh menghadap Karlina yang tiba-tiba menjadi gugup.“A-apa ada yang bisa saya bantu, Pak?”“ Tidak. Hanya kamu kok, ….” Tuan muda keluarga Chiang itu tak menyelesaikan ucapannya.Melirik sekitar yang begitu banyak mata mengarah padanya membuat lelaki tiga puluhan tahun tahun itu berbalik dan melangkah menuju lift untuk menuju ruangannya set
Pasangan yang sudah tak lagi muda itu saling memperbaiki hubungan agar tak kembali saling menyakiti. Penyesalan sang tuan membuatnya sangat mengistimewakan sang istri dan benar-benar menjaganya agar tak lagi membuat luka. Usaha membalutnya tak pernah sempurna menutup lubang itu hingga sedikit saja pemicu membuat hubungan mereka menjadi terancam.Itu membuat Tuan Chiang ketakutan.“Ayo masuk. Sebentar lagi waktunya makan siang,” kata Tuan Chiang sambil menarik Reva bangun dan memeluk pinggangnya membawa memasuki rumah melalui pintu samping.Sekelebat bayangan segera menghilang dari balik pintu kaca tampak terang dari dalam dan gelap dari luar.Tanpa mereka sadari seseorang mengamati pergerakan dan pembicaraan itu sambil mengepalkan buku tangan hingga memutih.“Jadi masih hidup. Teganya mengatakan beliau sudah meninggal.”Sepatu pantofel seorang pria berusia tiga puluh tahun lewat itu bergema menyentuh granit yang terpasang di ruangan tengah mengarah ruang makan.Dua pasang mata menata
Di sebuah rumah mewah dengan halaman yang sangat luas namun sepi, Sang Nyonya duduk menyendiri di sebuah Gazebo yang terletak di halaman belakang. Cukup jauh dari rumah utama. Bangunan mini yang dilengkapi perabotan yang juga mini, termasuk lemari pendingin yang terdapat beberapa minuman di dalamnya.Desah lelah berulang kali terdengar dari mulut meski dirinya tampak sedang bersantai. Duduk setengah berbaring di kursi malas. Matanya terpejam dengan tangan menjuntai ke arah meja memegang sekaleng minuman dingin. Cuaca memang sedang panas dan terasa gerah karena angin bertiup.Tuang Chiang yang memperhatikan tingkah sang istri juga hanya bisa mendesah lelah.“Sampai kapan kau akan begitu, Sayang…,” gumamnya pelan.Lelaki paruh baya yang masih tampan di usia sangat matang itu berkembang dari depan jendela ruangan di lantai dua yang mengarah ke taman belakang tempat Reva merebahkan diri. Saat seperti itu sang istri tak akan mau diganggu.Kepala keluarga di kediaman itu menuruni tangga de
“Aduh!”Aku menabrak punggung Akoh yang keras ketika dirinya tiba-tiba berhenti berjalan. Lamunanku buyar seketika.“Kenapa melamun telus?” tanyanya mengerut dahi.Tanpa.menjawab aku melewatinya dan melangkah keluar lebih dulu meninggalkan Akoh yang tergopoh mengejar langkah ini.“Mama! Rosi berangkat!” teriakku sambil meraih flat shoes dan mencangkingnya hingga teras.Akoh masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin sambil menunggu aku yang duduk di kursi plastik teras untuk memakai alas kaki.Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak diam. Sampai kantor aku meneliti, keadaan tempat kerja baru, dan memikirkan bagaimana bisa mengulang kesuksesan gedung lamna.Pertama cek karyawan yang kini masih bertahan. Jumlah yang menyusut hampir setengah total pegawai di C77, sekarang harus diberdayakan dengan maksimal.Tak Mengapa membayar uang lembur mereka.Ketika sedang meneliti catatan keuangan, mataku membelalak melihat deretan angka yang menampilkan jumlah akhir budget bulan ini yang telah dik
Pagi ini aku bangun dengan hati yang yang belum sepenuhnya menerima apa yang telah terjadi kemarin.. Setelah membersihkan diri dan membangunkan Akoh untuk melakukan hal yang sama, aku segera beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk ke pabrik.Semalam kami sepakat untuk tetap tinggal di sini bersama Mama, tapi Akoh berjanji akan tetap berusaha untuk kembali mengambil alih apa yang pernah dimiliki. Bagaimanapun tanah itu warisan keluarga dan sekarang ada ditangan anak-anaknya sendiri. Pasti masih ada jalan untuk memilikinya lagi meski harus memaksa kedua anaknya. Sebagai orang tua, pastilah Akoh akan mampu menghadapi darah dagingnya sendiri. Di mana-mana anak pasti akan patuh pada orang tua. Itu adalah celah terbaik untuk mencari cara nantinya. Dan yang pasti, penghasilan pabrik akan seratus persen ada ditangannya.“Iya. Akoh janji mulai sekarang, semua pemasukan buat Rosi, yang penting buat pabrik tetap berjalan baik seperti sebelumnya karena ini satu-satunya sumber







