FAZER LOGINMas Untung jatuh terduduk di depan teras rumah kostku, tertimpa motor yang dinaikinya sendiri.
“Baguslah tak perlu bogem, wa, maju,” kata Ko Philip sambil memperlihatkan tangan berototnya.
Aku sendiri tak menyangka selain pendek hitam Mas Untung juga memiliki mulut lemes seperti emak-emak berdaster pengangguran yang suka ngerumpi.
“Aduh!”Aku menabrak punggung Akoh yang keras ketika dirinya tiba-tiba berhenti berjalan. Lamunanku buyar seketika.“Kenapa melamun telus?” tanyanya mengerut dahi.Tanpa.menjawab aku melewatinya dan melangkah keluar lebih dulu meninggalkan Akoh yang tergopoh mengejar langkah ini.“Mama! Rosi berangkat!” teriakku sambil meraih flat shoes dan mencangkingnya hingga teras.Akoh masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin sambil menunggu aku yang duduk di kursi plastik teras untuk memakai alas kaki.Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak diam. Sampai kantor aku meneliti, keadaan tempat kerja baru, dan memikirkan bagaimana bisa mengulang kesuksesan gedung lamna.Pertama cek karyawan yang kini masih bertahan. Jumlah yang menyusut hampir setengah total pegawai di C77, sekarang harus diberdayakan dengan maksimal.Tak Mengapa membayar uang lembur mereka.Ketika sedang meneliti catatan keuangan, mataku membelalak melihat deretan angka yang menampilkan jumlah akhir budget bulan ini yang telah dik
Pagi ini aku bangun dengan hati yang yang belum sepenuhnya menerima apa yang telah terjadi kemarin.. Setelah membersihkan diri dan membangunkan Akoh untuk melakukan hal yang sama, aku segera beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk ke pabrik.Semalam kami sepakat untuk tetap tinggal di sini bersama Mama, tapi Akoh berjanji akan tetap berusaha untuk kembali mengambil alih apa yang pernah dimiliki. Bagaimanapun tanah itu warisan keluarga dan sekarang ada ditangan anak-anaknya sendiri. Pasti masih ada jalan untuk memilikinya lagi meski harus memaksa kedua anaknya. Sebagai orang tua, pastilah Akoh akan mampu menghadapi darah dagingnya sendiri. Di mana-mana anak pasti akan patuh pada orang tua. Itu adalah celah terbaik untuk mencari cara nantinya. Dan yang pasti, penghasilan pabrik akan seratus persen ada ditangannya.“Iya. Akoh janji mulai sekarang, semua pemasukan buat Rosi, yang penting buat pabrik tetap berjalan baik seperti sebelumnya karena ini satu-satunya sumber
Foto itu, dan barang Mama yang berserak di kasur kemarin sudah tinggal ujung-ujungnya saja. Habis terbakar. Aku harus melepaskan rasa penasaran tentang foto itu. Tak ada yang bisa diselidiki lagi.“Ke-kenapa Losi? Kau bilang capek? Mama bosan jadi bantu Asep bakalsampah,” katanya tanpa bisa menyembunyikan kegugupannya."Iya, Ma ... tak apa. Rosi masuk dulu ya," kataku berlalu meninggalkannya.Aku memilih masuk dan mengambil benda kotak dalam tas. Memencet tombol-tombolnya dan memeriksa layar yang menjadi terang. Tak ada panggilan atau pesan dari seseorang yang kusebut suami. Sepertinya tak ada kekhawatiran sedikitpun dalam hati lelaki tua itu. Dengan kesal aku menghentakkan kaki melampiaskan rasa kecewa.Perut lapar ditambah keadaan yang sama sekali tak mendukung. Semua orang menuntutku untuk menerima dan memenuhi apapun yang mereka inginkan. Aku seperti tak punya hak atas hidupku sendiri.Betapa beruntungnya Maria yang dengan mudah mendapatkan banyak hal tanpa harus berusaha bers
“Bagaimana bisa, Losi,” tanya Mama pelan tapi menekan.Aku menelan ludah seret ketika menyadari aura dingin dari suara wanita yang kini menatapku tak bersahabat.Mama selalu begitu sejak dulu. Hatiku sudah terbiasa ketakutan saat pekerjaan yang diberikan tak bisa selesai dengan sempurna. Akan ada drama sedih tapi juga marah menakutkan yang ditampilkan wanita tua kesayangan itu.“Pokoknya Losi halus bisa lebut lagi itu lumah ya! Jangan sampai jatuh benalan ke tangan Malia. Mama gak lela, gak lela,” katanya sambil menghentakkan kaki tantrum layaknya bocah berwajah keriput.“Lagi pula kenapa Losi tak ambil seltifikat itu dali dulu? Mobil sama toko aja bisa dengan mudah diambil, halusnya lumah juga kalau Losi selius kelja pasti cincai itu,” katanya sambil cemberut.Aku hanya menarik napas lelah. Harapan terbesarku pulang mendapatkan pelukan menguatkan dan elusan yang mengalirkan ketenangan dari seorang ibu.Aku tahu bahwa itu hal mustahil kudapatkan. Sejak dulu, aku akan selalu mengua
Rupanya anak perempuan yang kini telah menginjak usia tiga puluh tahun itu sedang sedih.Sambil memeluknya aku mengambil gumpalan kertas dalam genggamannya dan melemparkan ke arah ranjang, mengumpulkannya dengan barang lain.Semula Rosi bingung dengan tak berhenti menatap onggokan barang-barang lawas itu.“Itu bukan apa-apa cuma balang longsokan yang gak guna lagi.” Rosi hanya mengangguk ragu.Kali ini aku masih selamat. Jika gumpalan kertas itu dibuka maka akan terpampang wajah seseorang yang, karena ikatan batin akan merasa dia kenali. Habislah aku kalau hal itu terjadi.Aku mengalihkan perhatian dengan membawanya ke sofa ruang keluarga.
Setelah hari pernikahan Rosi, aku diam di rumah selepas menghadiri resepsi mewahnya. Meski aku tersemat sebagai ibu mempelai wanita, tak ada apapun yang kulakukan untuk acara itu.Rosi mengurus semua dengan bantuan wedding organizer yang dia sewa.Rumah kami sepi dari kerumunan orang memasak atau bantu-bantu selayaknya orang tua lain yang akan hajatan menikahkan seorang putri.Kami tak memiliki keluarga.Setelah Achiang mengambilku dari panti, hidup ini hanya seputar menjadi istrinya dan memendam dendam berkepanjangan setelah berpisah.Kehidupan bahagia yang sebentar, terus saja ku hayalkan merasa masih memilikinya.Aku bahkan tak merasa bersalah sedikitpun saat putri Achian







