Beranda / Romansa / Rahasia Di Balik Tatapan CEO / Bab 2. Luka Yang Belum Sembuh

Share

Bab 2. Luka Yang Belum Sembuh

Penulis: Miarosa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-10 04:58:24

Napasnya masih tersengal meski ia mencoba mengendalikan dirinya. Semuanya terlalu mendadak dan terlalu tuba-tiba bagi hatinya yang selama ini ia coba lupakan.

Ia bersandar di dinding lorong eksekutif dan kembali mencoba menenangkan detak jantung yang masih berdegup kencang. Lima tahun berlalu sejak perpisahan mereka, tapi pertemuan ini langsung merobek luka lama yang belum benar-benar sembuh.

"Elena."

Sebuah suara lembut menariknya kembali ke kenyataan. Elena menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depannya.

"Oh! Maaf!" Elena buru-buru menegakkan tubuhnya.

Wanita itu tersenyum ramah. "Saya Erika, kepala sekretaris di sini. Maaf, saya belum memperkenalkan diri tadi."

Elena berusaha tersenyum meskipun emosinya masih kacau. "Senang bertemu dengan Anda, Bu Erika."

Erika mengangguk, lalu menurunkan suaranya sedikit. "Kamu baik-baik saja?"

Elena terdiam. "Apakah wajahnya terlihat begitu kacau sampai-sampai Erika bisa menyadarinya?" pikir Elena.

"Ah aku hanya sedikit terkejut, karena tidak menyangka CEO baru adalah seseorang yang aku kenal," jawabnya mencoba terdengar tenang.

Erika menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum kecil. "Pak Alexander memang bisa membuat siapa pun merasa tidak nyaman di pertemuan pertama, tapi sebenarnya dia ...." Wanita itu berhenti sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Lupakan! Ayo, saya akan menunjukkan meja kerjamu."

Elena mengerjap. Ada sesuatu dalam cara Erika berbicara tentang Alexander yang terasa ganjil. Seakan wanita itu tahu sesuatu, tapi Elena tidak punya tenaga untuk memikirkan itu sekarang. Ia hanya ingin bekerja, bertahan, dan menghindari Alexander sejauh mungkin, tapi tentu saja hidup tidak pernah semudah itu.

***

Hari itu berjalan seperti mimpi buruk. Elena sudah bekerja sebagai asisten eksekutif sebelumnya, tapi tidak pernah untuk seseorang seperti Alexander. Pria itu menuntut kesempurnaan dalam setiap detail, bahkan pada hal-hal yang terasa sepele.

"Ini tidak cukup rapi," katanya sambil meletakkan berkas yang baru saja Elena cetak di mejanya. "Ulangi!"

Elena menekan rahangnya. "Tapi isinya sudah sesuai permintaan Anda, Pak Alexander."

Alexander mendongak dan menatapnya dengan ekspresi yang membuatnya merinding. "Aku tidak hanya bicara tentang isi, Elena. Aku bicara tentang keseluruhan presentasi."

Elena menelan amarahnya. Ia mengambil kembali berkas itu dan kembali ke mejanya, lalu mengulanginya dan menyempurnakannya, kemudian mencetak ulang lagi, tapi ketika ia kembali dan menyerahkannya, Alexander hanya melihat sekilas sebelum meletakkannya lagi di meja.

"Masih kurang."

Elena mengepalkan tangannya. Ia tahu pria itu sengaja menyulitkannya dan sedang mengujinya, tapi ia tidak akan menyerah. Ia kembali ke meja, mengulang lagi, dan menyempurnakan lagi. Kali ini saat ia menyerahkan berkas itu, Alexander tidak langsung melihatnya. Ia malah menatap Elena lebih lama.

"Kamu masih keras kepala seperti dulu," gumamnya.

Elena mengangkat dagunya. "Aku hanya melakukan pekerjaanku, Pak Alexander."

Alexander menahan senyum tipis. "Bagus."

Elena tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau justru lebih kesal, tapi satu hal yang ia pelajari setelah bekerja satu hari penuh bersama Alexander, pria itu bukan lagi seseorang yang ia kenal dulu.

Dulu Alexander adalah pria hangat, penuh ambisi, tetapi masih memiliki sisi lembut yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang tertentu, tapi sekarang pria di hadapannya sekarang adalah orang yang dingin, tajam, dan penuh kontrol, bahkan ketika mata mereka bertemu, Elena merasa seperti menatap seseorang yang benar-benar asing dan itu lebih menyakitkan daripada yang ia perkirakan sebelumnya.

Saat jam kerja berakhir, Elena langsung merapikan mejanya dan bersiap pergi, tapi sebelum ia bisa mencapai pintu keluar, suara Alexander menghentikannya.

"Elena."

Langkahnya terhenti. Ia menghela napas panjang sebelum berbalik.

"Ya, Pak Alexander?"

Pria itu menutup laptopnya, lalu berdiri. Langkahnya pelan saat ia berjalan mendekati Lana. Detik berikutnya, ia sudah berdiri di hadapannya begitu dekat hingga Elena bisa merasakan hawa hangat tubuhnya. Alexander menatapnya sejenak, lalu berkata dengan suara rendah, "Kamu masih membenciku?"

Elena terpaku dan jantungnya berdetak kencang. "Saya tidak tahu apa yang Anda maksud," katanya dengan nada suaranya yang datar.

Alexander menyipitkan matanya. "Lima tahun, Elena dan kamu masih tidak ingin membicarakannya?"

Elena tersenyum kecil. "Tidak ada yang perlu dibicarakan, Pak Alexander. Anda memilih pergi dan saya memilih melanjutkan hidup."

Alexander menegang. Elena melihat ekspresi itu untuk pertama kali sejak mereka berdua bertemu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar sikap dingin dan arogan yang selalu pria itu tunjukkan, tapi itu hanya sedetik, karena setelahnya Alexander tersenyum miring.

"Baiklah. Kalau begitu kita mulai dari awal, Nona Elena."

Elena menggigit bibirnya. Ada sesuatu dalam caranya mengatakan itu yang membuat hatinya berdebar tidak nyaman.

"Mulai dari awal?" tanyanya pelan.

Alexander memasukkan tangannya ke saku celana. "Sebagai atasan dan bawahan."

Elena menahan napas. "Tentu saja, Pak Alexander."

Alexander menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Bagus. Sampai jumpa besok!"

Elena tidak membuang waktu. Ia langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Di Balik Tatapan CEO   Bab 11. Rahasia Di Dalam Sistem

    Mobil Alexander menyatu dengan arus pagi hari di kota. Dari luar segalanya tampak normal, suara klakson mobil, lampu lalu lintas, dan wajah-wajah lelah yang mengejar rutinitas. Gedung Quantum Vale Corporation menjulang di hadapan mereka dengan menara kaca dan logo berbentuk heliks terbelah dua, simbol riset kehidupan dan batas yang berani mereka langgar. Perusahaan itu bergerak di bidang teknologi eksperimental rekayasa sel, simulasi jaringan saraf makhluk hidup, dan terapi regeneratif yang masih berada di wilayah abu-abu etika. Di sinilah harapan penyakit langka diuji dan di sinilah pula rahasia-rahasia disimpan terlalu rapi. Alexander memarkirkan mobilnya di area khusus dan begitu mereka turun, pintu kaca terbuka secara otomatis. Sensor retina memindai Alexander ada sepersekian detik jeda yang membuat Elena menahan napas, lalu lampu hijau menyala. Sistem masih mengenalinya. Ia belum benar-benar dihapus dari dunia ini. Lobi dipenuhi cahaya putih. Beberapa karyawan menoleh dan memb

  • Rahasia Di Balik Tatapan CEO   Bab 10. Tidak Pernah Aman

    Elena mengangguk, lalu menatap serbet itu seolah sedang melihat peta menuju bencana. "Kita mencari siapa yang diuntungkan saat kamu kehilangan segalanya dan saat aku menghilang," lanjut Alexander. Elena melipat serbet itu perlahan-lahan dan menyimpannya di dalam tasnya seolah menyimpan rahasia yang bisa membunuh. "Kalau begitu aku akan mulai dari orang yang paling aku percaya." Alexander menatapnya lama, lalu mengangguk sekali. Ia berdiri lebih dulu dan meraih mantel Elena dari sandaran kursi, lalu menyampirkannya ke pundaknya dengan gerakan pelan seolah takut mengejutkannya. "Kita tidak akan mendapatkan jawaban malam ini, tapi ada satu orang yang tahu lebih banyak dari yang ia akui." Elena menatapnya. " Maksudmu Victor Langley?" Alexander mengangguk dan rahangnya mengeras. "Besok pagi kita temui dia sebelum dia sempat mengatur cerita." Elena menarik napas panjang, lalu mengangguk dengan mantap. "Baik. Kita temui dia dulu." Mereka keluar dari kafe dan hujan sudah berubah menj

  • Rahasia Di Balik Tatapan CEO   Bab 9. Ancaman Dari Dalam

    Audrey menegang. Matanya beralih ke Elena, lalu kembali ke Alexander. Ada sesuatu di wajahnya, ketakutan yang tidak berhasil ia sembunyikan. "Audrey," kata Elena tegas, "Kamu terkejut dan lebih terkejut daripada yang seharusnya." Audrey menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya kaget. Siapa pun akan kaget melihat seseorang yang menghilang begitu saja tiba-tiba muncul lagi." Alexander menyandarkan satu tangan di sandaran kursi di hadapan Audrey dan tubuhnya condong sedikit ke depan. "Biasanya iya, tapi tidak semua orang tahu bahwa aku seharusnya masih menghilang." Jari Audrey mencengkeram tepi meja. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud." Elena menarik kursi dan duduk di hadapannya. Tatapannya lembut, tapi sorot matanya tajam. "Lima tahun lalu, kamu yang menyuruhku berhenti mencari Alexander. Kamu bilang aku harus percaya bahwa dia pergi atas pilihannya sendiri." Audrey terdiam. "Dan sekarang," lanjut Elena, suaranya sedikit bergetar, "Kamu bahkan tidak bertanya bagaimana dia bisa kem

  • Rahasia Di Balik Tatapan CEO   Bab 8. Lingkaran Terdekat

    Pintu menutup pelan di belakang Ethan hanya menyisakan keheningan diantara mereka. Alexander akhirnya menjauh dan menurunkan tangannya dari dinding. Senyumnya memudar, lalu berganti dengan ekspresi serius. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan. Elena mengangguk, meskipun jemarinya saling menggenggam tanpa sadar. "Aku hanya masih mencoba memahami semuanya. Lima tahun lalu kamu pergi tanpa penjelasan dan sekarang muncul nama Lucedra, seseorang yang ingin memisahkan kita . Hidupku ternyata jauh lebih dramatis daripada yang kukira." Alexander melangkah mendekat lagi dan kali ini tanpa nada menggoda. Ia meraih tangan Elena dengan lembut seolah memastikan wanita itu benar-benar ada di hadapannya. "Itulah sebabnya aku kembali. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupmu atau hidup kita lagi," kata Alexander serius. Elena menatap tangan mereka yang saling bertaut. Jantungnya berdebar oleh ketakutan yang nyata. "Bagaimana kalau Lucedra tidak berhenti, Alexander? Bagaimana kalau

  • Rahasia Di Balik Tatapan CEO   Bab 7. Siapa Dia?

    Alexander berbalik pada Elena. "Namanya Ethan. Dia adalah orang yang membantuku lima tahun lalu."Elena merasakan dadanya menegang. "Membantumu dalam hal apa?"Ethan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Membantunya menghilang."Elena terkejut. "Apa?"Ethan mengabaikan keterkejutannya dan melanjutkan, "Lima tahun lalu, seseorang menginginkan Alexander pergi. Mereka tidak hanya mengancammu, Elena, tapi mereka juga menginginkan dia mati."Mata Elena membelalak. "Apa maksudmu?"Alexander mengepalkan tangannya. "Elena aku tidak hanya pergi, karena ancaman padamu. Aku pergi karena ada seseorang yang ingin menyingkirkanku juga."Elena merasa kepalanya berputar tiba-tiba semuanya menjadi semakin rumit."Siapa mereka?" tanyanya pelan.Ethan menghela napas panjang. "Aku belum tahu pasti, tapi aku bisa memberitahumu satu hal."Elena menelan ludah dan menunggu. Ethan menatapnya tajam, lalu berkata dengan suara rendah, "Orang yang mengancammu adalah Lucedra."Elena merasakan tubuhnya menegan

  • Rahasia Di Balik Tatapan CEO   Bab 6. Dalam Dekapan Bahaya

    Alexander berdiri dan ekspresinya mengeras. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."Elena mengangkat wajahnya dan menatap mata pria itu yang penuh dengan tekad.Dulu Alexander memilih untuk pergi, tapi kali ini, ia memilih untuk bertahan.Elena hanya berharap bahwa itu bukan sebuah kesalahan. Ia masih menatap foto di layar ponsel Alexander dan tubuhnya masih membeku. Seseorang benar-benar mengawasinya.Ia merasakan tengkuknya meremang. Tadi malam ia pikir itu hanya paranoia, tapi sekarang bukti nyata ada di hadapannya."Elena," suara Alexander lebih lembut dari sebelumnya, "Kenapa kamu tidak meneleponku?"Elena menelan ludah. "Aku aku tidak ingin merepotkanmu."Alexander mengepalkan rahangnya. "Merepotkanku?"Nada suaranya meninggi dan berbahaya membuat Elena sedikit mundur, karena pria itu terdengar benar-benar marah."Ada seseorang yang mungkin mengincarmu, mengirimiku foto ini sebagai peringatan, dan kamu berpikir itu bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan?"Elena menggi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status