LOGINPunggung Nadia yang menjauh di ujung lorong itu seolah memanggil keinginan untuk membiarkannya pergi begitu saja, membiarkan segalanya selesai seketika. Namun di balik langkahnya yang terburu-buru itu, Arkana bisa merasakan getaran kebencian yang masih tersisa kuat di hati wanita itu. Ia tahu, jika dibiarkan pergi dalam keadaan masih penuh prasangka dan kemarahan yang salah arah, benih-benih masalah baru pasti akan tumbuh dan mengancam ketenangan Alika serta Arka nanti. Ia tak mau lagi ada kesalahpahaman yang berlarut-larut, tak mau lagi Alika terus-menerus menanggung tuduhan yang tidak berdasar hanya karena kebohongan yang selama ini ditutup rapat. "Nadia, tunggu!" panggil Arkana dengan suara lantang namun tidak berteriak, cukup terdengar jelas hingga membuat langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti tepat di tengah lorong rumah sakit yang sepi itu. Perlahan namun pasti, Arkana melangkah mendekat, langkahnya tenang dan mantap. Wajahnya tidak lag
Keheningan yang baru saja terbangun di ruangan itu belum sempat terasa menenangkan, tiba-tiba dipecah oleh suara langkah kaki yang dihentakkan keras, cepat, dan penuh kemarahan dari ujung lorong rumah sakit yang sepi. Semakin lama suara itu semakin mendekat, seolah setiap langkah membawa badai yang siap meluluhlantakkan segalanya. Belum sempat Alika atau Arkana saling bertukar pandang lebih lama, pintu ruang rawat itu terbuka tiba-tiba dengan bantingan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi brakk yang menggetarkan dinding.BRAK Alika dan Arkana serentak menoleh ke arah pintu. Di sana sudah berdiri seorang wanitq yang tak lain Nadia, dadanya naik turun hebat menahan napas yang memburu, wajahnya yang biasanya selalu tampil rapi dan manis kini merah padam terbakar amarah yang meluap-luap tak terkendali. Manik matanya yang indah kini menatap tajam, berkilat penuh kebencian, melirik bergantian dari wajah Alika, lalu berhenti lama menatap Arkana, hingga akhir
Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama, begitu pekat hingga seolah suara detak jam dinding saja terdengar begitu nyaring dan berat. Arkana berdiri diam mematung di tempatnya, seolah dipukul bongkahan batu besar yang menghantam dadanya berkali-kali, membuat napasnya tersendat-sendat. Kata-kata tajam namun penuh kepedihan yang baru saja meluncur dari mulut Alika terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya, menampar keras setiap sisi hati yang dulu tertutup rapat oleh ego buta dan penyangkalan yang konyol. Dia baru benar-benar sadar sekarang selama ini, selama bertahun-tahun lamanya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya memikirkan betapa perihnya hatinya saat melihat bayang-bayang masa lalu, betapa rindunya dia pada sosok yang salah dia letakkan di hati, betapa sakitnya melihat Alika begitu dekat dengan Satria, betapa menyesalnya dia telah melewatkan hari-hari tumbuh kembang putra kandungnya sendiri. Namun dalam keegoisan itu, dia lupa satu hal yan
Suasana hangat yang tadi sempat terasa di ruangan itu perlahan mendingin kembali, berganti dengan kekakuan yang masih tersisa di antara mereka berdua. Arkana melepaskan cengkeramannya pelan dari bahu Alika, lalu mundur selangkah. Tatapannya yang tadi penuh bahagia dan takjub kini berubah tajam, menyimpan amarah yang tertahan lama—bukan pada Alika, melainkan pada kenyataan yang terasa begitu menyakitkan. Napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan napas menyisakan luka baru di dadanya. "Tiga tahun, Alika..." suaranya rendah namun bergetar hebat, setiap kata terasa tertahan di kerongkongan, keluar dengan susah payah. "Tiga tahun lebih kamu menyembunyikan dia dariku. Kamu tahu kan berapa lama waktu itu berlalu? Empat tahun, Alika. Empat tahun aku hidup dalam ketidaktahuan, tanpa pernah menyangka bahwa di luar sana sudah ada darah dagingku sendiri yang tumbuh sehat dan lucu. Empat tahun ibuku yang setiap malam berdoa dengan air mata semoga aku segera diberi ketu
Pelukan hangat itu terasa begitu nyata, begitu menenangkan, namun di dalamnya tersimpan ribuan luka lama yang belum sempat benar-benar kering. Arkana tak melepaskan rangkulan pada tubuh Alika sedetik pun, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu dan segala kebahagiaan barunya akan lenyap kembali bagaikan kabut pagi yang hilang tertiup angin. Hatinya bergejolak hebat, tak menentu,separuh jiwanya terasa hancur lebur menjadi debu menyadari betapa bodoh dan butanya ia selama ini, sementara separuh sisanya meledak dalam kebahagiaan luar biasa yang tak terlukiskan karena menyadari bahwa takdir ternyata masih menyisakan keajaiban terindah dalam hidupnya. "Arka... anakku..." bisiknya berulang kali dengan suara parau dan bergetar, matanya tak lepas dari pintu ruang rawat tempat anak itu berbaring tenang. "Dia ada di sana... darahku baru saja mengalir di tubuhnya... dia benar-benar darah dagingku sendiri..." Ia perlahan melepaskan pelukann
Suasana di dalam ruang rawat inap sementara itu hening, hanya terdengar suara teratur dari alat pemantau jantung yang kini berdetak tenang.menjadi bukti bahwa kondisi Arka perlahan namun pasti semakin membaik. Arkana masih duduk diam di kursi dekat ranjang, tangannya masih menekan sedikit kapas di bekas pengambilan darah tadi, namun sorot matanya tak pernah beralih sedetik pun dari wajah Alika yang berdiri kaku tak jauh dari situ. Wanita itu tampak gugup, matanya terus menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menembus masuk hingga ke dalam jiwanya. Tak lama berselang, pintu ruang terbuka perlahan. Dokter yang menangani Arka masuk sambil membawa berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Wajahnya tampak lega bercampur senyum hangat melihat perkembangan kondisi pasiennya yang sangat positif. "Boleh saya masuk?" sapa dokter itu lembut sambil melangkah mendekat ke tengah ruangan. "Silakan, Dok," jawab Arkana pelan, suaranya terdengar masih







