Share

Rahasia Gelap Suamiku
Rahasia Gelap Suamiku
Penulis: Lavien Wu

Awal Pertemuan

"Ya ampun, ibu!" Odelyn yang baru saja ingin berjalan menuju kos nya sangat terkejut mendapati salah satu dosen yang dia kenal terjatuh di sudut kampus yang tersembunyi dan kesulitan untuk berdiri lagi.

Dengan segera Odelyn menghampiri dosennya dan kemudian membantunya untuk berdiri. Hah? Tunggu dulu. Apakah membangunkan orang yang terjatuh memang sekaku dan sesulit ini?

"Ibu mohon maaf. Ini karena saya gak bisa membangunkan ibu, saya panggil bantuan ya. Gak akan lama kok." Jujur saja saat ini firasat Odelyn sudah tidak baik. Dosennya itu sepertinya tidak jatuh biasa. Masalah akibat terjatuh ini sepertinya akan berjalan terlalu jauh.

"Kamu siapa namanya?" Tiba-tiba saja dosen Odelyn bersuara. Odelyn pikir karena sakit sulitnya menahan rasa sakit makanya dosennya hanya diam saja.

"Saya Odelyn, bu. Odelyn Prameswari Purnama." Duh, ayo dong jangan tanya-tanya dulu. Tolong biarkan Odelyn mencari bantuan dulu agar dosennya ini bisa ditangani dengan baik.

"Odelyn, coba kamu telpon anak saya saja. Ini nomornya. Bilang saja kalau saya jatuh di lokasi ini." Dosen Odelyn kemudian memberikan sebuah ponsel kepada Odelyn.

Odelyn menerima pesan itu tapi resah di hatinya tidak kunjung hilang. "Ibu, mohon maaf. Tapi apa gak sebaiknya saya carikan bantuan di sekitar sini saja? Kondisi ibu kelihatan sangat tidak baik. Saya takut kalau anak ibu ternyata butuh waktu lama untuk datang kesini dan membuat semuanya jadi tambah buruk." Ayolah, Bukannya dosennya ini adalah orang yang cerdas. Masa sih tidak tahu bahwa cedera yang dia alami itu termasuk parah sehingga bisa sangat sulit untuk dibangunkan seperti ini. Kenapa sih dosennya ini sulit sekali untuk mengerti? Padahal setahu Odelyn dosennya ini adalah orang yang menyenangkan dan lagi-lagi perlu digaris bawahi adalah orang yang cerdas.

"Nak, percaya sama ibu. Kalau kamu telpon anak ibu sekarang juga, ibu akan baik-baik saja. Kamu gak mau sesuatu yang buruk terjadi ke ibu kan? Kalau begitu tolong telepon saja anak saya sekarang ya." Wajah dosennya itu terlihat lembut sekaligus tegas. Wajahnya memberikan kesan bahwa apa yang diucapkan itu harus dipatuhi.

Odelyn yang mendengar dosennya bicara seperti itu pun dengan cepat langsung menelpon nomor ponsel yang dimaksud. Odelyn sebenarnya merasa sangat ragu dan menganggap bahwa apa yang dia lakukan saat ini tidaklah benar. Tapi kalau dosennya sudah seyakin itu berarti sudah seharusnya kan tidak akan terjadi apa-apa? Atau bagaimana ya? Odelyn bingung dan sangat ketakutan untuk saat ini.

{Ya, halo, ma. Ada apa, ma?} Terdengar suara pria dibalik telpon itu. Oh, anak dosennya ini berjenis kelamin laki-laki ya.

"Maaf, mas. Ini ibu Rieta nya jatuh dan minta untuk menghubungi mas. Mas anaknya bu Rieta kan?" Odelyn benar-benar ingin memastikan apakah orang dibalik telpon ini memang sungguhan anaknya bu Rieta atau bukan.

{Ah, iya. Ya sudah saya akan segera kesana. Tolong kamu share lock ya.} Dengan segera telpon itu pun mati.

Odelyn kemudian dengan segera melakukan share lock kepada nomor ponsel itu dan tiba-tiba saja bu Rieta bersuara. "Terima kasih ya, Odelyn. Terima kasih sudah peduli dan menolong saya." Wajah teduh itu kemudian muncul lagi di wajah bu Rieta.

"Saya belum memanggil bantuan apapun, ibu. Jadi saya gak membantu apa-apa. Lalu apa benar ibu gak perlu saya panggilkan bantuan di sekitar sini?" Odelyn khawatir sekali dengan dosennya ini. Bagaimana kalau dengan menunggu kedatangan anaknya malah akan berdampak buruk? Bagaimana Odelyn akan bisa menanggung rasa bersalah apabila terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya?

"Nak, ini bukan hanya terjadi kali ini. Kamu percaya saja pada ibu. Kalau anak ibu datang maka semua akan baik-baik saja. Kamu paham kan?" Rupanya bu Rieta juga belum lelah untuk terus mengingatkan Odelyn bahwa semua akan baik-baik saja. Selain dari ucapannya, tingkah laku Odelyn juga menunjukkan bahwa saat ini dia sedang ketakutan setengah mati.

Setelah akhirnya menunggu sekitar sepuluh menit yang mana bagi Odelyn seperti bertahun-tahun lamanya, anak bu Rieta datang menghampiri bu Rieta dan Odelyn. Odelyn yang melihat kehadiran pria itu langsung bernafas lega. Akhirnya penyelamat bu Rieta yang telah ditunggu-tunggu datang juga.

"Ibu! Harusnya ibu nggak usah nungguin aku! Kenapa sih ibu keras kepala gini?" Suara dan raut wajah pria itu langsung membuat Odelyn tersentak. Jadi benar kan bahwa seharusnya Odelyn memanggil bantuan terlebih dahulu untuk bu Rieta? Astaga, jadi bu Rieta bahkan tidak paham dengan keadaannya sendiri dan Odelyn seperti orang yang tidak punya akal dan hanya menurut pada bu Rieta? Bagaimana kalau Odelyn akan turut disalahkan? Apalagi sekarang wajah putra dosennya ini kelihatan seperti ingin mengamuk.

"Michael, kamu ini seperti tidak mengenal ibumu saja. Sudah ayo bantu ibu duduk di kursi roda dan kita ke rumah sakit. Odelyn, ayo ikut ibu ke rumah sakit ya. Tolong temani ibu." Berbeda dengan Michael yang wajahnya sudah panik setengah mati, wajah bu Rieta terlihat sangat santai.

Michael yang mendengar ada nama asing yang disebut ibunya langsung menoleh ke arah Odelyn. "Oh ya ampun, maafkan saya ya. Maaf saya gak menyapa terlebih dulu." Kemudian dengan segera Michael juga membantu ibunya untuk duduk di kursi roda.

Odelyn yang masih panik dan juga ketakutan pun akhirnya menjawab seadanya saja. "Iya, gakpapa. " Selanjutnya Odelyn pun fokus pada bu Rieta dan ikut membantu untuk mendudukkan di kursi roda.

Setelah semuanya selesai akhirnya mereka bertiga pun menuju mobil dan berangkat ke rumah sakit. Lagi-lagi Odelyn tidak menolak permintaan bu Rieta yang mengajaknya itu dan akhirnya berkutat dengan kecanggungan di dalam mobil.

*

"Ibu saya sakit. Belum diketahui sakit apa tapi kalau ibu telat minum obat dan terlalu lelah ya beliau akan langsung jatuh seperti itu. Untuk bangun jelas butuh bantuan orang lain dan memang gak semua orang bisa membangunkan ibu karena memang sekaku dan sekeras itu badan ibu saat terjatuh dan hendak dibangunkan." Michael tiba-tiba mengajak Odelyn bicara.

Odelyn yang sedari tadi fokus mengamati orang yang berlalu lalang di rumah sakit kemudian memfokuskan dirinya pada Michael. "Terus kenapa tadi bu Rieta kekeuh mau nunggu mas Michael?" Odelyn juga punya pikiran kok kalau dia akan memanggil bantuan dengan jumlah yang cukup untuk bisa membantu bu Rieta. Apakah bu Rieta tidak percaya pada Odelyn?

"Kan kalian tadi masih di lingkungan kampus. Ibu saya itu punya harga diri yang tinggi dan gak mau ketahuan kalau punya penyakit. Oh, ya Odelyn. Bisa kasih nomor hp kamu? Saya rasa kita bisa berkomunikasi lebih lanjut ke depannya."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status