LOGINSeeyana terbangun oleh suara pintu yang dibuka tergesa. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Ia menatap langit-langit kamar, lalu duduk perlahan. Langkah kaki Ravent terdengar berat di ruang tamu, disusul bunyi tas yang diletakkan sembarangan.
Ia keluar kamar. Lampu ruang tengah masih redup. Ravent berdiri membelakangi, membuka kancing kemejanya dengan gerakan kasar. Wajahnya tampak lelah, rambutnya sedikit basah oleh hujan. “Kamu baru pulang?” tanya Seeyana pelan, meski jawabannya sudah jelas. “Iya.” “Aku masakin sup. Masih ada kalau kamu mau.” Ravent tidak langsung menjawab. Ia menaruh ponsel di meja, layar sempat menyala sebelum ia membaliknya. Nama yang muncul hanya sekilas, tapi cukup membuat dada Seeyana mengencang—bukan nama yang ia kenal. “Aku capek, Yan,” katanya akhirnya. “Besok aja.” Seeyana menelan ludah. “Kamu selalu bilang besok.” Ravent menoleh. Tatapannya dingin. “Terus aku harus gimana? Kamu mau aku langsung manis tiap kali pulang?” “Aku cuma mau kamu jujur,” jawab Seeyana, suaranya bergetar. “Akhir-akhir ini kamu berubah.” Ravent tertawa kecil, tanpa humor. “Berubah? Aku kerja lebih keras. Itu salah?” “Bukan soal kerja,” balas Seeyana cepat. “Soal pulang. Soal kamu yang makin jauh. Soal aku yang selalu nunggu.” “Yan,” Ravent mengusap wajahnya. “Kamu terlalu banyak mikir. Jangan cari-cari masalah.” Masalah. Kata itu lagi. Seeyana menarik napas dalam-dalam. “Kalau aku nggak ngomong, aku dianggap nggak ngerti. Kalau aku ngomong, aku dibilang bikin masalah. Jadi aku harus gimana, Ven?” Hening sejenak. Hujan di luar terdengar semakin deras. Ravent melangkah mendekat. “Kamu harus bersyukur. Banyak perempuan di luar sana yang suaminya bahkan nggak pulang.” Kalimat itu menghantam tepat di dadanya. “Jadi sekarang aku harus bersyukur karena kamu pulang larut?” tanya Seeyana lirih, nyaris tak percaya. Ravent mendengus. “Kamu ini nggak pernah puas.” Seeyana menggeleng, matanya berkaca. “Aku nggak minta lebih. Aku cuma minta ditemani. Didengerin. Sekali aja.” “Dan aku bilang aku capek!” suara Ravent meninggi. “Kamu di rumah. Kamu nggak tahu rasanya ditekan, dikejar target, dihina atasan.” “Aku juga capek, Ven,” balas Seeyana, kali ini suaranya lebih tegas. “Capek ngerasa sendirian di rumah sendiri.” Ravent terdiam. Matanya menatap Seeyana lama, lalu tertawa pendek. “Kamu lebay.” Satu kata itu cukup. Seeyana merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh. “Lebay?” ulangnya pelan. “Perasaanku lebay?” “Kamu kebanyakan drama,” lanjut Ravent tanpa sadar. “Makanya aku males ngobrol.” Kata males itu seperti pisau. Air mata Seeyana jatuh, tapi ia tak lagi menyekanya. “Jadi selama ini kamu pulang larut karena males ketemu aku?” Ravent memalingkan wajah. “Aku nggak bilang gitu.” “Tapi itu yang kamu maksud,” bisik Seeyana. Hening kembali menggantung, lebih berat dari sebelumnya. Ravent menghela napas panjang. “Yan, aku nggak selingkuh. Kalau itu yang ada di kepalamu.” Seeyana menatapnya cepat. “Aku nggak pernah bilang kamu selingkuh.” “Tapi tatapan kamu bilang begitu,” balas Ravent tajam. Dadanya berdegup kencang. “Aku lihat kamu sama perempuan lain.” Kata-kata itu akhirnya keluar. Ravent membeku sesaat, lalu tertawa kecil. “Kamu ngintipin aku sekarang?” “Aku nggak ngintip. Aku lihat.” “Teman kantor,” jawab Ravent cepat. “Jangan lebay.” “Teman kantor nggak pegangan tangan,” suara Seeyana bergetar hebat. Ravent terdiam. Tatapannya berubah dingin. “Kamu salah lihat.” “Kamu bohong,” Seeyana akhirnya berkata, hampir tanpa suara. Itu pertama kalinya ia berani mengatakan itu. Ravent menegang. “Hati-hati ngomong.” “Aku cuma pengin jujur,” balas Seeyana, dadanya naik turun. “Aku nggak bisa terus pura-pura.” Ravent melangkah mundur. “Aku pulang ke rumah buat istirahat, bukan buat diinterogasi.” “Kalau rumah ini tempat istirahat, kenapa aku selalu sendirian?” tanya Seeyana lirih. Ravent tak menjawab. Ia mengambil kemeja lain dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup keras. Seeyana berdiri di ruang tengah, tubuhnya gemetar. Ia merasa seperti orang asing yang baru saja diusir dari hidup suaminya sendiri. Malam itu, mereka tidur membelakangi. Tak ada sentuhan. Tak ada kata. Pagi harinya, Ravent berangkat lebih awal dari biasanya. Seeyana mendengar pintu tertutup tanpa pamit. Ia bangun terlambat, dengan mata sembab dan kepala berat. Di meja makan, sarapan yang ia siapkan tetap utuh. Ia duduk lama, menatap kursi kosong. Retakan itu kini nyata. Tidak lagi bisa disembunyikan dengan senyum atau sabar. Dan Seeyana tahu setelah malam itu, tidak ada lagi jalan kembali ke keadaan semula.Ada fase dalam hidup ketika keputusan tidak lagi terasa berat, justru karena ia telah dipikirkan terlalu matang. Seeyana memasuki fase itu tanpa upacara.Mandat barunya mulai berjalan minggu itu. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada perubahan jabatan di kartu nama. Tapi arah kerjanya berubah signifikan. Ia tidak lagi diminta hadir di semua rapat, hanya yang menentukan. Ia tidak lagi mengoreksi detail kecil, melainkan menyusun garis besar yang akan diikuti banyak orang.Pagi-paginya kini lebih sunyi. Ia tiba lebih awal, membuka jendela ruang kerja, dan membiarkan udara masuk sebelum menyalakan layar. Ia membaca laporan tanpa terburu, mencatat bukan apa yang salah melainkan apa yang berisiko jika dibiarkan.Beberapa rekan merasa kikuk dengan gaya barunya.“Kamu jadi dingin,” celetuk seseorang setengah bercanda.Seeyana menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku jadi jelas.”Tidak semua orang menyukai kejelasan. Ia tahu itu. T
Tidak semua konsekuensi datang dengan suara keras. Sebagian hadir diam-diam, menetap, lalu mengubah lanskap tanpa meminta izin.Seeyana merasakannya pada minggu berikutnya. Setelah jeda yang ia pilih dengan sadar, ritme kerjanya tidak kembali seperti semula dan ia tidak memaksanya. Ia bekerja lebih fokus, tetapi juga lebih selektif. Setiap “ya” yang ia ucapkan kini melewati satu pertanyaan sederhana “apakah ini selaras, atau hanya kebiasaan lama? “Pagi itu, sebuah email dari manajemen pusat masuk. Subjeknya singkat, nyaris formal. Permintaan pertemuan lanjutan, tertutup, dengan agenda yang tidak dijabarkan.Dulu, pesan semacam itu akan membuat dadanya mengencang. Sekarang, ia membaca ulang dengan kepala dingin.Ia membalas setuju, menetapkan waktu, lalu menutup laptop tanpa spekulasi berlebih.Ravent menghadapi konsekuensi yang berbeda. Bukan dari pekerjaan, melainkan dari lingkaran sosial yang mulai menyempit dengan sendirinya. Beberapa
Ada jeda yang tercipta karena ragu, dan ada jeda yang dipilih dengan sadar. Seeyana mulai membedakan keduanya dengan sangat jelas.Pagi itu ia menunda satu rapat internal bukan karena tidak siap, melainkan karena ia ingin memberi ruang pada pikirannya sendiri. Jadwalnya tetap penuh, tanggung jawab tidak berkurang, tetapi ia belajar satu hal penting: bergerak terus-menerus tidak selalu berarti maju.Ia duduk di kafe kecil dekat kantor, memesan kopi yang sama seperti biasanya. Tidak membuka laptop. Tidak menatap ponsel. Hanya mengamati orang-orang yang datang dan pergi. Ada yang tergesa, ada yang santai, ada yang terlihat seolah membawa beban tak terlihat.Seeyana menyadari: ia pernah berada di semua posisi itu.Pesan masuk dari timnya muncul satu per satu. Ia membaca tanpa membalas. Semua masih bisa menunggu satu jam.Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, ia membiarkan dirinya tidak responsif tanpa rasa bersalah.***
Tidak semua tekanan datang dalam bentuk konflik. Sebagian hadir sebagai pertanyaan yang terdengar wajar, bahkan peduli namun menuntut jawaban yang tidak selalu ingin kita berikan.Seeyana mengalaminya pada sebuah forum profesional yang awalnya terasa rutin. Diskusi berjalan lancar, presentasi disambut baik, dan jaringan baru terbuka. Hingga seseorang mengajukan pertanyaan di sesi penutup.“Dengan peran sebesar ini,” kata seorang panelis, “apa rencana jangka panjangmu? Stabil di sini, atau mengikuti arah personal tertentu?”Pertanyaan itu netral. Tapi ruangnya publik. Dan Seeyana tahu, banyak mata menunggu jawaban yang bisa dikutip.Ia tersenyum tipis sebelum menjawab. “Saya membangun sistem yang bisa berjalan dengan atau tanpa saya. Soal arah personal itu bukan sesuatu yang saya jadikan strategi profesional.”Beberapa orang mencatat. Beberapa tersenyum. Beberapa tampak kecewa karena tidak mendapatkan narasi yang bisa dibingkai.S
Komitmen sering disalahartikan sebagai genggaman. Padahal, bagi mereka yang telah belajar menjaga diri, komitmen justru berarti memberi ruang tanpa kehilangan arah.Seeyana menyadarinya pada awal minggu ketika ia menerima satu pertanyaan sederhana dari timnya.“Kalau nanti kamu pindah,” tanya seorang staf dengan nada hati-hati, “siapa yang akan menggantikanmu?”Pertanyaan itu tidak menyerang. Tidak juga mendesak. Tapi cukup untuk membuat Seeyana berhenti sejenak.“Akan ada transisi,” jawabnya tenang. “Dan aku akan memastikan sistemnya berdiri, bukan bergantung padaku.”Ia mengatakan itu tanpa drama. Namun setelah rapat usai, ia duduk sendiri lebih lama dari biasanya. Bukan karena ragu pada pilihannya, melainkan karena ia menyadari: hidupnya kini benar-benar bergerak tanpa jaminan kelekatan apa pun.Dan anehnya, itu tidak menakutkan.Di meja kerjanya, ia membuka kembali catatan lama bukan yang penuh emosi, melainkan daftar prinsip yang ia tulis setelah periode tergelap hidupnya. Salah
Ada perbedaan besar antara jarak yang terjadi dan jarak yang dipilih. Yang pertama bisa diterima dengan sabar. Yang kedua menuntut kejujuran.Seeyana menyadarinya pada Selasa pagi, saat ia menolak satu undangan makan malam yang sebenarnya tidak memberatkannya. Alasannya bukan jadwal melainkan intuisi. Ia tidak ingin mengisi malam dengan sesuatu yang tidak ia pilih sepenuh hati.Ia menutup kalender, mematikan notifikasi, lalu kembali ke laporan di depannya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak hanya mengatur waktu, tapi juga kedekatan.Di kantor, proyek memasuki fase validasi. Semua keputusan sebelumnya diuji oleh hasil nyata. Tidak ada ruang untuk improvisasi emosional. Seeyana berdiri di depan tim dengan nada yang tetap tenang.“Kita akan bertahan di jalur ini,” katanya. “Bukan karena ini paling aman, tapi karena ini paling jujur.”Tidak semua orang terlihat yakin. Tapi tidak ada yang mundur.Usai rapat, Livia menghamp







