LOGINSeeyana terbangun dengan tubuh terasa berat, seolah semalaman ia memikul beban yang tak terlihat. Tempat di sebelahnya kosong. Seprai sudah dingin, rapi, seakan tak pernah disentuh. Ia duduk perlahan, menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
Tidak ada suara. Tidak ada aroma kopi. Tidak ada sapaan pagi. Di meja rias, secarik kertas kembali menunggu. Aku berangkat lebih dulu. Banyak kerjaan. Tulisan Ravent selalu sama—ringkas, tanpa emosi. Seeyana meremas kertas itu pelan, lalu meletakkannya kembali. Ia berdiri, berjalan ke dapur, dan menyalakan kompor dengan gerakan mekanis. Minyak mendesis, telur dipecahkan, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Pertengkaran semalam belum benar-benar selesai. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan. Hanya keheningan yang dibiarkan mengendap, seperti debu yang tak pernah dibersihkan. Ia makan sendiri. Lagi. Di seberang meja, kursi Ravent kosong, tapi bayangannya terasa memenuhi ruangan. Setiap kata yang ia ucapkan semalam kembali terngiang lebay, drama, bikin capek. Seeyana menelan ludah, memaksa makanan turun meski tenggorokannya sempit. Setelah membereskan dapur, ia memutuskan keluar rumah. Persediaan dapur kembali menipis. Ia mengambil tas kain, mengunci pintu, lalu berjalan menyusuri jalan kecil di kompleks. Udara pagi terasa lembap, sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan di beberapa sudut. Di minimarket kecil dekat ujung jalan, Seeyana berdiri di rak sembako, menimbang-nimbang harga. Tangannya terulur, lalu ragu, lalu kembali menarik diri. Ia menghela napas panjang. “Seeyana?” Suara itu membuatnya menoleh. Victor berdiri beberapa langkah darinya, membawa keranjang belanja berisi kopi dan roti. Senyumnya hangat, tapi tidak berlebihan. “Oh,” Seeyana terkejut kecil. “Mas Victor.” “Kita sering ketemu di sini, ya,” katanya ringan. “Belanja pagi juga?” “Iya,” jawab Seeyana singkat. Victor melirik rak di depannya, lalu kembali menatap Seeyana. “Kamu kelihatan capek.” Kalimat itu sederhana. Tidak menghakimi. Tidak memaksa. Tapi dada Seeyana mendadak terasa penuh. Ia tersenyum tipis, lebih seperti refleks. “Biasa aja.” Victor tidak membantah. Ia hanya mengangguk, lalu membayar belanjaannya. Saat Seeyana masih menghitung uang di dompet, Victor sudah kembali berdiri di sampingnya. “Aku antar sampai rumah?” tawarnya. “Kelihatannya berat.” Seeyana ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. “Terima kasih.” Mereka berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Langkah mereka pelan, disertai suara burung dan motor yang lalu-lalang. Di tengah diam itu, Seeyana menyadari sesuatu ia tidak merasa tertekan. Tidak perlu memilih kata. Tidak perlu berhati-hati. Di depan rumah, Victor menyerahkan tas belanja itu. “Kalau butuh apa-apa… atau cuma mau ngobrol, aku ada.” Seeyana menatapnya sesaat. “Terima kasih, Mas.” Victor tersenyum, lalu pergi. Seeyana berdiri lama di depan pintu, memegang gagang yang dingin. Ia tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak hanya karena perhatian sekecil itu. *** Malam turun dengan hujan rintik. Seeyana duduk di ruang tamu, lampu sengaja diredupkan. Ponselnya tergeletak di meja. Sejak pagi, tidak ada kabar dari Ravent. Hampir pukul sembilan, layar ponsel menyala. Pesan masuk. Nomor tak dikenal. Kamu mau lihat sendiri, atau terus pura-pura? Jantung Seeyana berdegup kencang. Ia menggenggam ponsel itu erat. Maksud kamu apa? balasnya akhirnya. Beberapa detik berlalu. Lalu pesan berikutnya muncul. Kafe Jalan Melati. Jam sembilan lewat. Seeyana menatap jam di dinding. Waktu terasa berjalan terlalu cepat, tapi juga terlalu lambat. Ia menutup mata sejenak. Separuh dirinya ingin mengabaikan pesan itu, berpura-pura tak pernah membaca. Tapi separuh lainnya yang sudah terlalu lelah ingin tahu kebenaran, apa pun risikonya. Saat hampir pukul sembilan, suara motor berhenti di depan rumah. Seeyana berdiri, mengintip lewat jendela. Ravent turun dari motor, mengenakan kemeja rapi. Ia tidak masuk. Ia mengecek ponselnya sebentar, lalu kembali menyalakan mesin dan pergi. Seeyana mengambil tas kecil dan jaket tipis. Tangannya gemetar saat mengunci pintu. Ia mengikuti dari jarak jauh, menjaga agar tidak terlihat. Hujan mulai turun lebih deras, memburamkan pandangan. Motor Ravent berhenti di depan sebuah kafe kecil dengan lampu temaram. Seeyana memarkir sedikit jauh, jantungnya terasa hendak meloncat keluar. Ia berdiri di balik kaca mobil, menatap ke dalam. Ravent duduk di salah satu meja. Tidak sendirian. Perempuan itu datang beberapa menit kemudian. Rambutnya panjang, senyumnya lebar. Ia duduk berhadapan dengan Ravent, lalu tertawa kecil. Ravent ikut tersenyum—senyum yang sudah lama tidak Seeyana lihat di rumah. Mereka berbicara. Dekat. Terlalu dekat. Lalu tangan Ravent terulur, menggenggam tangan perempuan itu di atas meja. Napas Seeyana tercekat. Dunia di sekitarnya seolah mengecil, menyisakan pemandangan itu saja. Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal. Tidak ada lagi alasan yang bisa ia buat-buat. Air mata jatuh, tapi ia tidak menghapusnya. Ia mundur perlahan, kaki terasa lemas. Hujan membasahi rambut dan jaketnya, tapi ia tak peduli. Saat hendak kembali ke mobil, sebuah suara memanggilnya. “Seeyana?” Ia menoleh. Victor berdiri beberapa langkah darinya, memegang payung. Wajahnya terkejut, lalu berubah paham saat melihat arah pandang Seeyana. Ia tidak bertanya. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya melangkah mendekat, lalu menyampirkan jaketnya ke bahu Seeyana. “Yuk,” katanya pelan. “Kamu nggak perlu lihat lagi.” Seeyana tak membantah. Ia berjalan di samping Victor, hujan semakin deras. Di belakang mereka, kafe itu tetap menyala, menyimpan tawa yang bukan lagi miliknya. Di dalam mobil, Seeyana menunduk. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar, napasnya tersengal. Victor menyalakan mesin, lalu berkata pelan, “Kamu nggak salah.” Kalimat itu membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya. Malam itu, Seeyana duduk sendirian di ruang tamu rumahnya. Jam menunjukkan hampir tengah malam ketika pintu terbuka. Ravent masuk dengan langkah biasa, seolah tak terjadi apa-apa. “Kamu belum tidur?” tanyanya. Seeyana berdiri. Suaranya tenang, terlalu tenang. “Kamu dari kafe Jalan Melati.” Ravent membeku sesaat. “Kamu ngikutin aku?” “Aku lihat,” jawab Seeyana. “Semuanya.” Hening jatuh di antara mereka. Untuk pertama kalinya, Ravent tak langsung menyangkal. Dan di detik itu, Seeyana tahu bukan hanya cintanya yang diuji, tapi keberaniannya untuk memilih dirinya sendiri.“Aku ingin namanya.”Suara Arkan tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Raka berhenti bernapas sesaat.Pak Surya memandang anaknya lama. Api di belakang mereka tinggal bara merah yang sesekali berderak pelan.“Kau sudah tahu jawabannya,” katanya akhirnya.“Tidak. Aku ingin kau yang mengatakannya.”Sunyi beberapa detik. Lalu ada nama yang ia ingat ‘Leonard Adipratama’. Nama itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang sudah lama tenang.Clarisa mengerutkan kening. “Bukankah dia....”“......mantan komisaris utama,” potong Raka pelan. “Yang ‘mengundurkan diri’ tiga tahun lalu.”Pak Surya tersenyum tipis. “Mengundurkan diri adalah kata yang lebih halus dari dipaksa keluar.”Arkan tidak bereaksi.“Tiga tahun lalu,” lanjut Pak Surya, “Leonard kehilangan pengaruhnya karena keputusan dewan. Tapi jaringan yang ia bangun tidak pernah benar-benar hilang.”“Dan proyek itu?” tanya Clarisa.Pak Surya menghemb
“Kau sudah tahu.”Kalimat itu keluar lebih dulu dari mulut Pak Surya sebelum Arkan sempat berbicara.Mereka berdiri berhadapan di trotoar depan gedung yang masih berasap. Bau hangus dan logam terbakar bercampur dalam udara dini hari.Clarisa berdiri beberapa langkah di belakang Arkan. Raka di sisi lain, selalu tetap waspada.Arkan tidak menjawab langsung. Sorot matanya tajam, tapi suaranya tetap rendah. “IP dari rumah keluarga.”Pak Surya mengangguk pelan. Tidak menyangkal. “Itu bukan hal sulit untuk diatur,” katanya tenang. “Rumah itu punya banyak akses lama.”“Jangan bermain kata-kata,” potong Arkan.Sunyi menegang.Lampu ambulans memantul di wajah mereka.“Aku menghapus sesuatu,” lanjut Pak Surya akhirnya. “Tapi bukan untuk menyelamatkan diriku.”Clarisa menatap pria tua itu.“Lalu untuk siapa?” tanyanya.Tatapan Pak Surya beralih padanya.“Untukmu.”Kata itu menggantung aneh di udar
“Berapa lantai yang terbakar?”Suara Arkan terdengar lebih dingin dari biasanya.Petugas itu menelan ludah. “Api mulai dari lantai arsip. Menyebar cepat ke dua lantai di atasnya. Sistem pemadam otomatis tidak aktif.”“Tidak aktif?” ulang Raka tajam.“Kami masih menyelidiki.”Arkan sudah berjalan menuju mobil sebelum kalimat itu selesai. Clarisa mengikuti tanpa diminta. Disisi lain Pak Surya tidak menahan mereka kali ini. Ia hanya berkata pelan, “Jika ini memang direncanakan… maka kita semua terlambat satu langkah.”Sirene mobil polisi mengiringi mereka menuju pusat kota. Dari kejauhan, cahaya oranye memantul di langit malam. Asap tebal membumbung tinggi. Gedung Wirawan Group berdiri seperti obor raksasa.Clarisa menahan napas saat mobil berhenti. Karyawan yang dievakuasi berdiri berkelompok di seberang jalan, wajah-wajah mereka panik dan bingung.Arkan turun. La
Dor!Kaca kedua pecah. Pecahannya berhamburan ke lantai marmer. Salah satu penjaga berteriak dari luar, lalu terdengar suara tubuh jatuh menghantam tanah. Arkan refleks menarik Clarisa ke belakang sofa besar. “Jangan bergerak,” bisiknya tegas.Pak Surya tetap berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya—seolah menimbang situasi dengan kepala dingin yang mengerikan sebelum akhirnya mundur selangkah.“Berapa orang?” tanyanya pada Raka tanpa menoleh.“Minimal enam. Mungkin lebih. Mereka datang dari dua sisi.”“Direktur lama?” tanya Arkan.Raka mengangguk singkat. “Aku lihat dia turun dari mobil paling belakang.”Arkan menghela napas pelan.“Dia nekat.”“Dia putus asa,” koreksi Pak Surya tenang.Tembakan kembali terdengar.Dor! Dor!Peluru menghantam dinding luar. Lampu gantung bergoyang
“Lepaskan dia!”Suara Arkan membelah gelap. Ia tidak peduli darah yang terus mengalir dari bahunya. Tangannya masih menggenggam pistol, meski cengkeramannya mulai melemah.Lampu kawasan industri menyala kembali satu per satu. Dan dalam cahaya yang berkedip itu—Clarisa sudah tidak ada. Hanya Dimas yang tergeletak setengah sadar di depan pintu pabrik.Raka berlari menghampiri Arkan. “Kita harus mundur! Mereka bukan cuma satu tim!”Arkan menepisnya. “Ke mana dia dibawa?”“Ada mobil lain tadi dari sisi timur!” teriak Raka. “SUV gelap!”Arkan menoleh tajam ke arah jalan samping. Ban mobil baru saja meninggalkan bekas panjang di aspal. Tanpa ragu, ia berjalan menuju mobilnya.“Kau terluka!” bentak Raka.“Aku belum mati,” jawab Arkan dingin.Ia masuk ke kursi penumpang. Raka mengemudi kali ini tanpa banyak bicara. Mesin meraung. Mobil mele
Pesan itu belum sempat terbuka ketika salah satu pria bersenjata menendang ponsel itu menjauh.“Tak ada siapa pun!” teriaknya.Gudang kosong. Bau oli menyengat. Hanya kursi terbalik dan tali yang tergeletak di lantai.Pemimpin mereka mengambil ponsel itu, membaca nama di layar.Arkan.Ia menyeringai tipis. “Jadi ini benar.”Di luar, dua mobil hitam masih menyala mesinnya. Mereka datang bukan untuk menyelamatkan Clarisa. Mereka datang untuk mengambil sesuatu yang lebih berharga. Sementara itu Arkan menatap layar laptop di mobilnya. Titik kecil berkedip di peta digital.“Dia menjatuhkan ponselnya,” gumam Raka yang duduk di kursi kemudi.“Bukan menjatuhkan,” jawab Arkan tenang. “Dia meninggalkannya.”“Untukmu?”Arkan tidak menjawab. Tapi tatapannya berubah.Clarisa tidak panik.Itu berarti dia masih berpikir jernih. Dan itu berarti ia sedang memberi petunjuk.“Belok kiri di perempatan berikutnya,







