LOGINRavent berdiri kaku di ambang pintu, seolah rumah itu tiba-tiba bukan lagi miliknya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Seeyana menatapnya tanpa emosi yang meledak-ledak—justru ketenangan itulah yang membuat Ravent gelisah.
“Kamu dari mana?” tanya Seeyana, suaranya datar.
Ravent meletakkan tasnya. “Kerja.”
“Di kafe Jalan Melati?” lanjut Seeyana, tanpa menaikkan nada.
Ravent menghela napas keras. “Aku sudah bilang, itu teman kantor.”
“Teman kantor yang kamu pegang tangannya,” balas Seeyana pelan. “Aku lihat sendiri.”
Hening jatuh. Ravent mengalihkan pandangan, lalu tertawa pendek. “Kamu dramatis. Pegang tangan sebentar doang itu apa? Kamu lebay.”
Kata itu lagi.
Seeyana mengangguk kecil. “Baik. Anggap aku lebay. Tapi kenapa kamu bohong?”
“Aku nggak bohong,” Ravent membalas cepat. “Aku cuma nggak mau ribut.”
“Kamu bohong karena kamu tahu itu salah,” Seeyana menatapnya lurus. “Dan kamu pilih menutupinya.”
Ravent melangkah mendekat, nadanya meninggi. “Yan, jangan bikin cerita sendiri. Aku kerja capek, pulang malah diinterogasi. Kamu tahu nggak rasanya punya istri yang selalu curiga?”
Seeyana tersenyum tipis. “Curiga muncul karena kebohongan, Ven. Bukan sebaliknya.”
Ravent terdiam sejenak, lalu memalingkan wajah. “Aku nggak mau ribut malam ini.”
“Tapi aku mau kejelasan,” jawab Seeyana. “Sekarang.”
“Dan kalau aku bilang nggak ada apa-apa?” tantang Ravent.
“Kalau kamu jujur,” Seeyana menarik napas, “aku masih bisa dengar. Tapi kamu memilih meremehkan perasaanku.”
Ravent mengusap wajahnya. “Kamu berubah, Yan. Dulu kamu nggak gini.”
Seeyana mengangguk lagi. “Iya. Dulu aku diam.”
Kalimat itu membuat Ravent menoleh cepat.
***
Pagi berikutnya, rumah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Ravent berangkat tanpa sarapan. Seeyana tidak menahannya. Ia duduk di meja makan sendirian, memegang cangkir teh yang sudah tak hangat.
Ponselnya bergetar.
Ibu.
Seeyana menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat. “Iya, Bu.”
“Kamu kenapa semalam ribut sama Ravent?” suara Suryani terdengar tajam tanpa pembuka.
Seeyana menarik napas. “Kami cuma bicara.”
“Bicara sampai Ravent pulang dengan kepala pusing?” Suryani mendengus. “Kamu itu istri. Tugasmu bikin suami tenang, bukan nambah masalah.”
“Aku cuma minta jujur,” jawab Seeyana, berusaha tenang.
“Jujur apa?” Suryani tertawa kecil. “Kamu ini kebanyakan curiga. Perempuan kalau di rumah aja pikirannya ke mana-mana.”
Kalimat itu menyengat. “Bu, saya lihat sendiri.”
“Lihat apa?” Suryani memotong. “Kamu jangan suka ngarang. Ravent itu anak baik. Kalau kamu terus begini, kamu sendiri yang bikin rumah tanggamu hancur.”
Seeyana menggenggam ponsel erat. “Bu, saya capek disalahkan terus.”
“Capek?” Suryani meninggi. “Kamu tinggal di rumah, makan dari uang suami. Apa yang kamu capekkan?”
Hening sesaat. Lalu Seeyana menjawab pelan tapi jelas, “Capek tidak didengar.”
Suryani terdiam sejenak, lalu berkata dingin, “Kamu itu harus tahu diri. Jangan sampai menyesal nanti.”
Sambungan terputus.
Seeyana meletakkan ponsel. Tangannya gemetar, tapi kali ini bukan karena takut melainkan karena marah yang selama ini ia tekan.
Siang hari, hujan turun lagi. Seeyana duduk di beranda, menatap jalan yang basah. Ia memikirkan hidupnya hari-hari yang dihabiskan menunggu, mengalah, dan menyimpan luka sendiri.
Langkah kaki terdengar. Victor berhenti di depan pagar, membawa payung.
“Kamu kelihatan pucat,” katanya hati-hati.
Seeyana tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.”
Victor mengangguk, tak memaksa. “Kalau butuh tumpangan ke mana-mana, bilang. Cuacanya lagi nggak bersahabat.”
“Terima kasih,” jawab Seeyana. “Aku cuma… lagi butuh waktu.”
Victor menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Aku di sini kalau kamu perlu.”
Ia pergi. Seeyana menyadari satu hal penting perhatian yang sehat tidak menuntut apa pun.
***
Malamnya, Ravent pulang dengan wajah tegang. Seeyana sedang melipat pakaian di ruang tengah.
“Ibu nelpon aku,” kata Ravent tanpa basa-basi.
Seeyana menatapnya. “Aku tahu.”
“Kamu cerita apa ke ibu?” Ravent menekan.
“Apa adanya,” jawab Seeyana. “Aku lihat kamu dengan perempuan lain.”
Ravent tertawa pahit. “Kamu bikin aku kelihatan seperti penjahat.”
“Kamu bikin dirimu sendiri seperti itu,” balas Seeyana tenang.
Ravent melangkah mendekat. “Yan, jangan kebablasan. Aku masih suamimu.”
Seeyana berdiri. “Dan aku masih istrimu. Tapi itu bukan alasan untuk dibohongi.”
Ravent terdiam. Wajahnya berubah, defensifnya mulai goyah. “Aku cuma butuh teman bicara.”
“Dan aku apa?” tanya Seeyana.
Hening.
Ravent menghela napas panjang. “Kamu terlalu emosional.”
Seeyana mengangguk pelan. “Kalau perasaanku selalu dianggap berlebihan, mungkin memang aku tak punya tempat di sini.”
Ravent terkejut. “Kamu mau ke mana?”
“Aku belum bilang aku pergi,” jawab Seeyana. “Aku bilang aku mulai sadar.”
Ia mengambil tas kecil dari sofa. “Aku mau ke rumah teman sebentar. Aku butuh ruang.”
Ravent menatapnya, tak biasa melihat Seeyana setegas itu. “Jangan lebay.”
Seeyana menoleh. “Kali ini, aku memilih diriku sendiri.”
Ia melangkah keluar, meninggalkan Ravent berdiri di ruang tengah dengan kebingungan yang baru pertama kali muncul di wajahnya.
Di luar, hujan rintik menyambut. Seeyana menarik napas dalam-dalam. Udara terasa dingin, tapi dadanya justru lebih lapang.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menunggu.
Dan di langkah itu, Seeyana tahu—keputusan kecil ini akan mengubah segalanya.
Tidak semua konsekuensi datang dengan suara keras. Sebagian hadir diam-diam, menetap, lalu mengubah lanskap tanpa meminta izin.Seeyana merasakannya pada minggu berikutnya. Setelah jeda yang ia pilih dengan sadar, ritme kerjanya tidak kembali seperti semula dan ia tidak memaksanya. Ia bekerja lebih fokus, tetapi juga lebih selektif. Setiap “ya” yang ia ucapkan kini melewati satu pertanyaan sederhana “apakah ini selaras, atau hanya kebiasaan lama? “Pagi itu, sebuah email dari manajemen pusat masuk. Subjeknya singkat, nyaris formal. Permintaan pertemuan lanjutan, tertutup, dengan agenda yang tidak dijabarkan.Dulu, pesan semacam itu akan membuat dadanya mengencang. Sekarang, ia membaca ulang dengan kepala dingin.Ia membalas setuju, menetapkan waktu, lalu menutup laptop tanpa spekulasi berlebih.Ravent menghadapi konsekuensi yang berbeda. Bukan dari pekerjaan, melainkan dari lingkaran sosial yang mulai menyempit dengan sendirinya. Beberapa
Ada jeda yang tercipta karena ragu, dan ada jeda yang dipilih dengan sadar. Seeyana mulai membedakan keduanya dengan sangat jelas.Pagi itu ia menunda satu rapat internal bukan karena tidak siap, melainkan karena ia ingin memberi ruang pada pikirannya sendiri. Jadwalnya tetap penuh, tanggung jawab tidak berkurang, tetapi ia belajar satu hal penting: bergerak terus-menerus tidak selalu berarti maju.Ia duduk di kafe kecil dekat kantor, memesan kopi yang sama seperti biasanya. Tidak membuka laptop. Tidak menatap ponsel. Hanya mengamati orang-orang yang datang dan pergi. Ada yang tergesa, ada yang santai, ada yang terlihat seolah membawa beban tak terlihat.Seeyana menyadari: ia pernah berada di semua posisi itu.Pesan masuk dari timnya muncul satu per satu. Ia membaca tanpa membalas. Semua masih bisa menunggu satu jam.Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, ia membiarkan dirinya tidak responsif tanpa rasa bersalah.***
Tidak semua tekanan datang dalam bentuk konflik. Sebagian hadir sebagai pertanyaan yang terdengar wajar, bahkan peduli namun menuntut jawaban yang tidak selalu ingin kita berikan.Seeyana mengalaminya pada sebuah forum profesional yang awalnya terasa rutin. Diskusi berjalan lancar, presentasi disambut baik, dan jaringan baru terbuka. Hingga seseorang mengajukan pertanyaan di sesi penutup.“Dengan peran sebesar ini,” kata seorang panelis, “apa rencana jangka panjangmu? Stabil di sini, atau mengikuti arah personal tertentu?”Pertanyaan itu netral. Tapi ruangnya publik. Dan Seeyana tahu, banyak mata menunggu jawaban yang bisa dikutip.Ia tersenyum tipis sebelum menjawab. “Saya membangun sistem yang bisa berjalan dengan atau tanpa saya. Soal arah personal itu bukan sesuatu yang saya jadikan strategi profesional.”Beberapa orang mencatat. Beberapa tersenyum. Beberapa tampak kecewa karena tidak mendapatkan narasi yang bisa dibingkai.S
Komitmen sering disalahartikan sebagai genggaman. Padahal, bagi mereka yang telah belajar menjaga diri, komitmen justru berarti memberi ruang tanpa kehilangan arah.Seeyana menyadarinya pada awal minggu ketika ia menerima satu pertanyaan sederhana dari timnya.“Kalau nanti kamu pindah,” tanya seorang staf dengan nada hati-hati, “siapa yang akan menggantikanmu?”Pertanyaan itu tidak menyerang. Tidak juga mendesak. Tapi cukup untuk membuat Seeyana berhenti sejenak.“Akan ada transisi,” jawabnya tenang. “Dan aku akan memastikan sistemnya berdiri, bukan bergantung padaku.”Ia mengatakan itu tanpa drama. Namun setelah rapat usai, ia duduk sendiri lebih lama dari biasanya. Bukan karena ragu pada pilihannya, melainkan karena ia menyadari: hidupnya kini benar-benar bergerak tanpa jaminan kelekatan apa pun.Dan anehnya, itu tidak menakutkan.Di meja kerjanya, ia membuka kembali catatan lama bukan yang penuh emosi, melainkan daftar prinsip yang ia tulis setelah periode tergelap hidupnya. Salah
Ada perbedaan besar antara jarak yang terjadi dan jarak yang dipilih. Yang pertama bisa diterima dengan sabar. Yang kedua menuntut kejujuran.Seeyana menyadarinya pada Selasa pagi, saat ia menolak satu undangan makan malam yang sebenarnya tidak memberatkannya. Alasannya bukan jadwal melainkan intuisi. Ia tidak ingin mengisi malam dengan sesuatu yang tidak ia pilih sepenuh hati.Ia menutup kalender, mematikan notifikasi, lalu kembali ke laporan di depannya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak hanya mengatur waktu, tapi juga kedekatan.Di kantor, proyek memasuki fase validasi. Semua keputusan sebelumnya diuji oleh hasil nyata. Tidak ada ruang untuk improvisasi emosional. Seeyana berdiri di depan tim dengan nada yang tetap tenang.“Kita akan bertahan di jalur ini,” katanya. “Bukan karena ini paling aman, tapi karena ini paling jujur.”Tidak semua orang terlihat yakin. Tapi tidak ada yang mundur.Usai rapat, Livia menghamp
Jarak tidak selalu hadir sebagai kehilangan. Kadang ia muncul sebagai pengaturan ulang halus, terukur, dan sulit disalahkan.Seeyana merasakannya pada pekan kedua setelah ritme baru berjalan. Bukan karena ia dan Ravent berhenti berbagi kabar, melainkan karena jeda di antara pesan-pesan itu mulai memanjang. Tidak ada kesalahpahaman. Tidak ada pertanyaan. Hanya waktu yang menuntut perhatian penuh di tempat lain.Ia tidak panik. Tapi ia mencatatnya.Di kantor, fase proyek memasuki titik sensitif. Keputusan-keputusan kecil kini berdampak besar. Setiap perubahan jadwal beresonansi ke banyak divisi. Seeyana memimpin rapat dengan presisi yang hampir sunyi tidak meninggikan suara, tidak memotong, tapi menutup setiap celah abu-abu.“Kita tidak akan menyenangkan semua orang,” katanya pada tim inti. “Tapi kita bisa adil pada proses.”Beberapa orang mengangguk. Beberapa terlihat ragu. Tapi tidak ada yang mundur.Usai rapat, seorang rekan lam







