Share

Rahasia Kepergian Istriku
Rahasia Kepergian Istriku
Author: Loyce

Part 1

Author: Loyce
last update Last Updated: 2025-07-21 17:44:05

“Mas, aku ingin bercerai.”

Levana menatap suaminya dengan tatapan datar tanpa perasaan. Galen yang baru saja menenggak minumannya itu segera menoleh dan menatap istrinya dengan kening mengernyit. Tampak begitu heran.

Tidak ada reaksi yang berlebihan yang diberikan oleh Galen setelah itu kecuali hanya diam. Dia baru saja pulang dari kantor membawa serta tubuh yang lelah luar biasa. Seharusnya dia mendapatkan ketenangan saat berada di rumah, tetapi justru sebaliknya. Namun, Galen tidak menganggap ucapan istrinya itu sebagai hal yang serius.

“Sayang, kalau bercanda jangan keterlaluan. Aku baru pulang lho ini. Di perusahaan sangat tidak terkendali.” Begitu tanggapan Galen dengan lembut.

“Aku nggak sedang bercanda, Mas. Aku udah berpikir panjang dan memutuskan untuk bercerai denganmu.” Levana menjawab dengan tegas tanpa ada gurat keraguan.

Ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan gejolak apa pun. Dia hanya terlihat datar dan tidak berperasaan. Galen yang tadinya mengeluarkan senyumnya itu kini mengerutkan bibirnya. Menatap lebih dalam istrinya yang tiba-tiba berubah.

Dua hari lalu ketika dia meninggalkan Levana pergi ke kantor, semua masih baik-baik saja. Galen menginap di kantor untuk mengurus semua masalah yang terjadi pada perusahaannya. Perusahaan itu sedang dalam ambang pailit dan Galen berupaya untuk menyelamatkannya.

“Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?” Galen masih berbicara lembut. Dia tidak ingin membentak Levana meskipun dia ingin. Galen masih berpikir jika ini hanya sebuah candaan istrinya sekedar untuk bermain-main. “Apa kita ada masalah selama ini?”

“Kita nggak pernah memiliki masalah, Mas. Tapi, kamu yang bermasalah.” Levana menusuk suaminya dengan ucapannya. “Aku pikir perusahaan kamu akan tetap terkontrol dengan baik, ternyata sekarang justru limbung dan hampir bangkrut.”

“Kamu ingin cerai karena perusahaanku bermasalah?” Galen mencoba menebak.

“Iya. Aku tahu kondisi perekonomianmu sedang tidak bagus. Perusahaan sebentar lagi pailit. Lalu, bagaimana denganku dengan anak kita kedepannya? Aku rasa aku nggak bisa bertahan denganmu kalau harus ikut menanggung semua beban ini.”

“Kamu pikir karena perusahaan sekarang bermasalah, lantas kamu menganggap aku nggak bisa menafkahi kalian?”

“Kamu memang bisa menafkahiku, tapi apa bisa memberikanku lebih dari itu?” Levana masih bertahan dengan ekspresi datar yang dimiliki. Dia layaknya tokoh antagonis yang berada di sebuah film. Hal itu mampu menyentil perasaan Galen.

“Sayang.” Galen mendekat pada Levana. Lelaki itu menggengam tangan istrinya dengan kuat menunjukkan jika dia tak ingin kehilangan perempuan yang dicintianya. “Aku tahu sekarang perusahaan sedang dalam masa krisis, tapi kita pasti akan bisa melewati semuanya. Aku sedang berjuang sekarang.”

“Nggak ada jaminan perusahaan itu bangkit tanpa suntikan dana, Mas. Aku tahu mendapatkan dana sebanyak itu nggak mudah. Jadi, aku putuskan untuk mundur. Aku nggak bisa berada di sisimu lagi.”

Galen terdiam tak bisa berkata-kata. Tatapannya mengarah lurus pada mata Levana dan mencari kebohongan dalam sorot mata istrinya. Namun, seperti palu yang memukul hatinya, Galen tidak menemukan sorot lain di sana. Dia hanya melihat keteguhan Levana dengan keputusan yang diambil.

Beranjak, Galen mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa seperti kehilangan setengah dari jiwanya. Apa benar, perempuan yang ada di depannya itu adalah Levana-nya. Apa benar yang sekarang dihadapi adalah istrinya? Perempuan yang selalu bersikap lembut dan mencintainya? Itulah pertanyaan yang bercokol di dalam kepala Galen saat ini.

“Lev, tunggulah sebentar lagi. Benar-benar sebentar lagi. Aku janji akan menyelesaikan semuanya dengan benar dan kita bisa hidup seperti sebelumnya.” Galen mengatakan itu dengan sungguh-sungguh tanpa ada keraguan sedikitpun. “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku akan menganggap kamu nggak pernah mengatakan apa pun sebelumnya, tetaplah di sini, di sisiku.”

Levana menggeleng. “Mulai sekarang Mas harus bisa mencoba untuk hidup tanpa aku. Akan ada perempuan yang lebih baik yang akan menggantikanku. Yang pasti, dia lebih tulus dariku.”

“Tapi aku nggak mau sama siapa pun selain kamu, Lev. Kamu lupa kalau perpisahan kita akan berdampak pada anak kita? Kamu istriku, Lev. Kamu yang seharusnya ada bersamaku dan mendampingiku bagaimanapun keadaannya! Ingat, Birru masih bayi dan dia butuh kita.”

“Dia hanya butuh aku, Mas. Dia nggak butuh kamu.” Kalimat itu sepergi godam yang menghantam nurani. “Sorry, Mas. Aku benar-benar nggak bisa melanjutkan hidup sama kamu.”

“Apa kamu nggak percaya kalau aku akan mampu melewati semua ini? Aku nggak minta kamu berjuang bersamaku. Aku hanya ingin kamu ada di sini menungguku pulang dan memberiku dukungan. Itu aja.” Galen masih mencoba untuk mempertahankan istrinya di sisinya.

Galen menatap Levana yang masih tampak begitu tenang. Lelaki itu terlihat sudah mulai tersulut emosi. Wajahnya bahkan sudah memerah karena amarah. Namun, dia masih mencoba untuk tidak berucap kasar kepada perempuan yang sudah memberikannya satu putra tersebut.

“Aku nggak bisa Mas. Aku akan tetap pergi dan tolong segera urus surat perceraiannya.”

“Kenapa kamu harus bersikap seperti ini, Lev. Apa yang kurang aku berikan ke kamu selama ini?” Pada akhirnya, Galen tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak berteriak. “Aku selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik untuk kamu. Untuk kita. Lalu kenapa kamu harus meminta cerai di saat aku berada di titik terendah dalam hidupku, Lev. Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa tetap tinggal?” Galen berdiri dan mondar-mandir tidak tenang.

Kali ini Levana berdiri. Dia mendekati Galen dan menatap suaminya penuh dengan rasa berkecamuk. Sayangnya, dia terlalu mahir mengolah ekspresi wajahnya agar terlihat tetap tenang.

“Percayalah, Mas. Akan ada hal lebih besar di depan sana yang akan bisa kita dapatkan kalau kita berpisah.”

“Omong kosong!” Galen meledak dalam amarah. “Jangan-jangan, kamu menemukan lelaki yang lebih kaya dariku?”

Levana diam tidak menjawab. Dia memilih untuk tidak menjelaskan apa pun kepada Galen dan menelan apa pun sendiri.

“Aku ke atas dulu. Aku akan bersiap untuk pergi.” Levana pergi begitu saja dari hadapan Galen. Setetes air mata tak lagi bisa dibendung yang pada akhirnya meluncur begitu saja. Namun, dia segera menyekanya agar tidak terlihat lemah di depan Galen.

Dengan langkah lebar, Levana menaiki tangga meninggalkan Galen. Mengenakan outernya, menggendong bayinya yang sudah membebatnya menggunakan selimut agar tetap hangat, Levana bergegas untuk mengambil koper yang sudah dipersiapkan. Lantas, dia keluar dari kamar dan kembali memasang wajah datarnya.

Galen sudah menunggu di depan kamar dengan kemarahan yang terlihat di wajahnya. “Sepertinya kamu sudah mempersiapkan semuanya,” ucap Galen. “Kamu bahkan sudah mengepak barang-barangmu sebelum aku pulang. Lalu, Birru ….”

“Tetaplah sehat, Mas.” Levana memutus ucapan Galen cepat. “Jangan lupa makan. Mungkin kita hanya berjodoh sampai di sini. Aku harap setelah ini Mas akan bahagia.”

Levana memberikan tatapan ketegarannya di depan sang suami. Tidak ada jejak kesedihan yang terlihat di wajahnya. Levana berjalan melewati Galen sebelum suara suaminya menghentikan langkahnya.

“Tinggalkan putraku di sini.” Suara Galen begitu dingin dan tajam. “Aku yang berhak atas dia.”

“Dia masih bayi dan dia lebih membutuhkanku. Aku tidak akan meninggalkan Birru di sini bersamamu dengan kondisimu yang masih berantakan. Fokuslah pada perusahaanmu dan tidak perlu memikirkan kami.”

“Aku tidak memikirkan kamu, Leva. Tapi, aku sedang memikirkan putraku. Ke mana kamu akan membawanya!” Galen sedikit meninggikan suaranya.

“Ke mana pun asal tidak di sini.” Levana menggenggam pegangan koper dengan kuat menahan segala gejolak yang muncul di dalam hatinya. Memberikan lontaran kalimat yang membuat Galen akan setengah mati membencinya. “Birru seorang laki-laki, di masa depan, dia tak membutuhkan kamu sebagai wali nikahnya.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Diah Ayu permata
...minta cere kayak lagi beli donat.. enteng bgt
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rahasia Kepergian Istriku   Part 100. End

    Hari masih pagi, Levana turun ke lantai bawah hanya untuk sekedar menghirup udara pagi yang menyejukkan. Hari ini minggu, dan Galen masih bergulung di dalam kasur bersama kedua anaknya. Dia kembali tidur setelah subuh dan Levana membiarkannya.Tak lama para ART muncul untuk mulai bekerja. Ada yang bersih-bersih, ada yang memulai membuat sarapan. Mereka tahu di hari minggu seperti ini sarapan sedikit lebih lambat. Tuan rumah mereka akan bangun telat.“Ibu mau dibuatin sesuatu nggak? Biasanya kan sarapannya agak siangan.” Salah satu Bibi menawarkan kepada Levana.“Nggak perlu, Bik. Makasih. Nanti aku buat sendiri kalau lapar.”Bibi memilih kembali ke dapur setelah itu dan meninggalkan Levana seorang diri. Angin pagi yang segar sebelum matahari muncul menjadi salah satu favorit Levana. Dia bisa berlama-lama di halaman rumah hanya untuk menatap langit dan menikmati aroma pagi yang menenangkan.Tamu datang tak lama setelah itu. Levana sedikit menyipitkan matanya sebelum tamu tersebut masuk

  • Rahasia Kepergian Istriku   Part 99

    Duduk berdua dengan sang istri sambil melihat anak-anak bermain dengan riang adalah salah satu bayangan Galen sejak dulu. Sekarang terealisasi.Di siang hari sebelum makan siang, di weekend yang damai, Galen dan Levana bersantai di halaman belakang sambil ditemani suara tawa Birru dan Ivory. Ivory sudah mulai belajar berjalan dan sudah bisa diajak bermain oleh sang kakak.Birru yang dulu melihat adiknya bisa berdiri dan melangkahkan kakinya, tampak bahagia luar biasa. Tanpa diminta oleh siapa pun, dia langsung mengambil ipad-nya dan merekam adiknya.“Jadi, cukup dua aja atau mau nambah satu lagi?”Melihat dua anaknya yang tampan dan cantik tentulah membuat Galen merasa jika produk yang dihasilkan olehnya dan Levana adalah bibit unggul. Tak masalah kalau dia punya lebih dari dua.“Cukup dua aja. Pabriknya tutup.” Levana menyandarkan tubuhnya pada tubuh Galen masih sambil memantau kedua anaknya.“Bisa dibuka lagi, ‘kan? … pabriknya.” Semilir angin menerbangkan rambut Levana dan mengenai

  • Rahasia Kepergian Istriku   Part 98

    “Birru, kok sendirian?” Birru yang sibuk dengan tabletnya itu menoleh ke arah sumber suara. Dalam satu hari, Birru mendapatkan kesempatan dua jam untuk bermain gadget dan dia sekarang tengah menggunakan kesempatan itu dengan baik.“Iya,” jawabnya singkat sebelum kembali fokus pada tabletnya.Yang bertanya adalah Retno yang baru sampai ke rumahnya. Tidak bersama siapa pun, hanya sendiri. Birru sama sekali tidak peduli dengan neneknya tersebut.Retno duduk di sofa single sambil menatap pada cucunya yang tampak begitu tak acuh. Seperti Retno yang tidak pernah mengakui Birru di masa lalu, sekarang Birru pun melakukan hal yang sama.Waktu sudah berlalu, tetapi tidak ada yang berubah dalam hubungan mereka. Bahkan Birru pun tidak pernah memanggil Retno sama sekali seakan tahu jika hubungan mereka memang tidak bagus.“Om Dante ke mana kok kamu di sini sendirian?” tanya Retno lagi.“Lagi ada urusan sebentar.” Meskipun singkat, tetapi Birru tidak pernah tidak menjawab pertanyaan Retno.“Kamu ma

  • Rahasia Kepergian Istriku   Part 97

    Ivory Leora Wiraguna menjadi penambah kebahagiaan dalam keluarga Galen dan Levana. Setelah drama melahirkan yang berjalan hampir dua puluh empat jam, akhirnya dia lahir bergabung dengan sesaknya dunia.Birru yang melihat adik cantiknya sudah terlahir itu enggan melakukan apa pun. Bahkan untuk pergi ke sekolah pun harus melalu drama panjang.“Mama, Mas mau sama Adek.” Begitu katanya ketika dia diminta untuk bersiap sekolah.“Nanti sepulang sekolah juga kan sama Adek lagi, Mas. Sekarang Mas pergi sekolah dulu. Lagian sekolahnya juga nggak lama.”“Tapi kalau Mas Birru di sekolah suka kepikiran Adek, Ma.”“Mikirin Adek boleh, tapi jangan sampai Mas Birru nggak fokus sekolahnya.”Itulah kira-kira rentetan percakapan antara Birru dan Levana di suatu pagi. Birru yang tak mau sekolah dengan banyak sekali alasan. Ya, mungkin karena masih senang-senangnya dia menjadi seorang kakak.Jarak usia Birru dan Ivory yang cukup jauh membuat Birru sudah paham bagaimana menjadi seorang kakak. Sebelumnya s

  • Rahasia Kepergian Istriku   Part 96

    “Udah berapa lama kira-kira kita udah nggak ketemu, ya, Bu? Terakhir kali sepertinya waktu lahirannya Naka.”“Iya, Bu. Kalau nggak ada acara begini saya milih di rumah aja. Perjalanan jauh begini kasihan papanya Heydar.”Obrolan ibu dan mertua Gia itu kembali terjalin setelah semua orang sudah pamit pulang. Tinggal orang tua Gia dan orang tua Heydar yang tetap ada di sana karena mereka memutuskan untuk menginap.Retno sebenarnya menolak rencana tersebut, tetapi pada akhirnya menyetujuinya. Galen sudah membawa istri dan anaknya pulang karena Levana pun sudah tampak kelelahan. Hamil tua membuat tenaga perempuan itu terasa tersedot habis meskipun tidak ada banyak hal yang dilakukan.“Tapi, udah nggak pernah kumat-kumat lagi ‘kan, Bu, sakitnya papanya Heydar? Waktu saja dikabari kalau waktu itu masuk rumah sakit lagi, saya juga cemas.”“Alhamdulillah, Bu. Ya, sekarang kalau di rumah saya nemani jalan setiap pagi. Yang penting harus dibuat gerak aja tubuhnya biar nggak lemes.”Obrolan itu

  • Rahasia Kepergian Istriku   Part 95

    Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Gia akan menempati rumah barunya sebelum Levana melahirkan. Setelah perabotan rumah tangga sudah terpenuhi di rumah tersebut, saatnya keluarga kecil itu berpindah rumah.Kebahagiaan itu tampak tumpah ruah tidak karuan. Levana yang perutnya sudah membesar itu hanya melihat orang-orang sibuk menyiapkan makanan.“Mbak Leva, Ibu buatkan jamu buat Mbak Leva.” Itu adalah ibu mertua Gia. Perempuan berhijab itu tampak begitu keibuan.Sejak awal mengenal Levana beberapa waktu lalu, perempuan paruh baya itu sangat perhatian dengan Levana. Jika mereka bertemu pun ada banyak sekali wejangan yang diberikan terkait kehamilan.Levana merasa memiliki ibu dan diperhatikan dan itu membuat hatinya menghangat. Andai saja dia memiliki ibu mertua sebaik itu, Levana pasti akan membalasnya tak kalah baiknya.“Terima kasih, ya, Bu. Ibu udah banyak banget buatin saya ini dan itu.” Levana tersenyum tulus ketika menatap perempuan itu.“Nanti sebelum Ibu pulang, Ibu aka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status