LOGINPart 6 RKI #6
Levana memijat pelipisnya sedikit keras untuk mengahalau rasa sakit di kepalanya. Dia tak bisa tidur semalaman dan harus bekerja di pagi harinya. Sebenarnya tak ada yang mengharuskan Levana pergi ke restoran untuk memantau pegawainya karena dia sudah memiliki seorang manajer. Namun, dia akan menjadi lebih sinting jika hanya ada di rumah.
Permintaan Birru semalam membuatnya merasakan ada remasan di dalam hatinya. Levana selalu memberi pengertian kepada bocah itu jika ayahnya pergi bekerja di tempat yang jauh dan suatu hari nanti pasti akan pulang. Namun, Birru hanyalah anak-anak yang menginginkan kehadiran seorang ayah di sisinya. Jadi, terkadang permintaan tak masuk akal pun terlontar seperti semalam.
“Ibu sakit?” Namanya Yana dan dialah sang manajer di restoran tersebut.
“Sedikit sakit kepala, Yan. Ada apa?” tanya Leva kemudian. Menyorotkan ekspresi penasaran dalam tatapannya.
“Hanya ingin menyampaikan kepada Ibu kalau kita sudah memiliki tambahan karyawan baru. Di bagian dapur, juga pelayan.”
“Begitu? Oke, kamu urus aja.” Levana kali ini benar-benar tidak memiliki banyak tenaga untuk membahas apa pun dengan Yana. Dia hanya ingin diam di ruangannya tanpa melakukan apa pun.
Ada rasa nyeri di dalam hatinya yang membuatnya tidak berselera untuk melakukan sesuatu. Kemunculan Galen yang tiba-tiba serta permintaan Birru yang tidak masuk akal mampu membuat konfrontasi di dalam kepalanya. Benar-benar membuatnya sakit kepala.
Seharusnya dia tak perlu memikirkan permintaan Birru yang mengada-ada, tetapi percayalah jika itu mampu memengaruhinya. Levana mencoba menenangkan dirinya untuk sesuatu yang tidak seharusnya dia pikirkan. Mensugesti dirinya sendiri agar tidak terbawa pada arus yang tidak semestinya.
“Kamu kenapa, Yan?” Levana mengernyitkan kepalanya ketika perempuan itu masih ada di depannya dan tidak segera pergi dari ruangannya. “Kamu masih mau bicara?”
Yana tampak ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Levana membuat ibu anak satu itu berdecak. “Yan, bicara aja ada apa. Saya sedang nggak mau main tebak-tebakan.”
Yana tampak ragu, tetapi dia memutuskan untuk mengangguk. “Pukul dua belas nanti, seharusnya saya pergi ke tempat klien untuk demo makanan yang akan mereka pakai di acara pernikahan. Tapi, calon mertua saya tiba-tiba saja datang ke Jakarta dan meminta kami bertemu, Bu. Saya ….”
“Saya akan menggantikan kamu,” putus Levana dengan cepat. “Kamu bisa menemui calon mertua kamu.”
“Tapi, Ibu kelihatan nggak sehat.” Yana tampak khawatir. Yana adalah manajer pertama dan sampai sekarang masih nyaman bekerja di restoran tersebut.
Sebenarnya, Levana ingin memisahkan bisnis restoran dan catering, tetapi untuk sementara waktu dia masih menjadikan satu. Usaha cateringnya belum terlalu banyak yang menggunakan. Oleh karena itu dia memilih untuk menggabungkan terlebih dulu. Setelah kateringnya nanti berjalan, barulah dia akan membuat tim katering sendiri.
“Yan, saya hanya sedikit pusing. Hanya membutuhkan istirahat sebentar dan saya akan membaik.” Levana meyakinkan manajernya tersebut.
Ya, Levana tidak boleh memanjakan dirinya untuk memikirkan masa lalu yang sudah terlepas. Dia sudah berjuang selama ini sampai di titik sekarang. Suasana hati yang keruh tak harus membuatnya mengacaukan segalanya.
Yana akhirnya keluar dari ruangan Levana setelah diyakinkan jika Levana bisa. Beberapa customer memang terkadang memilih on site tasting di mana pihak catering yang mendatangi mereka dengan membawa sampel makanan.
Levana keluar dari ruanganya di lantai dua setelah merasa lebih baik. Dia terus menekan perasaanya agar dalam kendalinya. Menyisir lantai bawah yang masih sepi pengunjung itu dengan tatapannya. Restoran buka pukul sepuluh pagi dan masih berjalan setengah jam yang lalu.
“Ibu akan berangkat sekarang?” tanya petugas kasir. “Tasternya masih dibuat, Bu.” Begitu katanya.
“Ya, selesaikan dulu. Supir ada, ‘kan?” tanyanya.
“Ada, Bu.”
Levana memilih menunggu sambil berdiri menghadap dinding kaca untuk bisa melihat lalu lalang kendaraan di jalanan. Dia beberapa kali menarik napasnya panjang untuk mengeluarkan segala sesak yang entah kenapa tiba-tiba saja menggelung hatinya tiada henti.
Sebenarnya apa yang sedang ingin Tuhan tunjukkan kepadanya? Disaat dia merasa kehidupannya sudah tertata dengan baik, kemunculan Galen membuat masa lalu yang pernah mereka jalani seolah merebak tak terkendali.
Ingatan masa-masa muda mereka seakan terus memutar memori kenangan manis yang pernah mereka alami. Demi Tuhan, Levana ingin menangis saja rasanya.
“Bu.” Panggilan itu akhirnya bisa membuatnya mengenyahkan segala keberisikan yang ada di dalam pikirannya.
Memutar tubuhnya, dia langsung mengangguk. “Sudah siap?” tanyanya memastikan.
“Sudah, Bu. Supir sudah ada di depan.”
Levana lagi-lagi hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebelum keluar dari restoran. Memantapkan langkah, dia harus melupakan segala hal yang berbau masa lalu. Masa depannya masih panjang dan dia harus menapakinya dengan hati-hati jika tidak ingin terjerambat jatuh kembali. Hal itu hanya akan menambah luka atau bahkan menyobek luka lama yang sebenarnya tidak benar-benar sembuh.
***
“Kita pergi sekarang, Pak?” tanya itu dilontarkan oleh Fandi untuk Galen. Mereka sudah berada di dalam mobil selama setengah jam dan mengamati tempat di depannya dengan suasana yang beku.
Galen mengetatkan rahangnya. Kedua tangannya pun mengepal dengan kuat seolah dia ingin melampiaskan segala emosi yang berkecamuk di dalam kepalanya itu lewat pukulan. Galen bahkan sudah mengabaikan pertanyaan Fandi sang asisten pribadi.
“Bapak ingin mengikutinya?” tanya Fandi lagi membuat Galen mendengus marah.
“Untuk apa saya mengikutinya. Tidak ada gunanya.” Lelaki itu dengan kasar menarik dasi yang seakan membelit lehernya. “Kita kembali ke kantor,” tegasnya masih dengan mengais kewarasan pada dorongan amarah yang membelenggu dirinya.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Galen tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Isi kepalanya terasa bising luar biasa. Seharusnya dia tak perlu datang ke tempat itu hanya untuk membuat perasaannya hancur lebur seperti sekarang.
Setelah pertemuan tak sengaja terjadi kemarin, Galen tidak bisa tenang. Ada gejolak amarah yang muncul dalam dirinya yang sudah terpendam begitu lama. Levana adalah sebuah bentuk nyata dari hantu masa lalu yang membuatnya harus merasakan patah hati yang paling menyakitkan.
Tanpa pertimbangan, perempuan itu meninggalkannya tanpa menoleh. Membawa serta buah hatinya yang saat itu baru berusia satu bulan. Luka yang diterorehkan di hatinya begitu dalam sampai dia merasa tidak bisa mendeskripsikan rasa benci yang dia punya untuk perempuan itu.
“Bapak mau dibuatkan kopi?” Fandi mengekori Galen yang sekarang sudah masuk ke dalam ruangannya. Aura bosnya itu seakan mengeluarkan asap sehitam pekat dan suasana hatinya jelas sedang berantakan.
“Cancel jadwal hari ini, Fan. Dan jangan ganggu saya.”
“Tidak bisa, Pak.” Fandi dengan santai menolak permintaan Galen yang membuat lelaki itu seketika menoleh dan memberikan tatapan tajam kepada asprinya tersebut. “Kemarin, Bapak sudah menunda beberapa pekerjaan Bapak yang seharusnya Bapak kerjakan. Tapi, hari ini tidak bisa lagi atau semua pekerjaan Bapak akan lebih berantakan.”
“Kamu bisa membuat ulang jadwalnya, Fan.”
Kecuali Fandi, tidak ada manusia di kantor Sekala yang berani melawan Galen. Apa pun yang diminta dan dititahkan oleh Galen harus dilakukan. Namun, Fandi adalah wujud nyata dari pengendali seorang Galen.
Sebenarnya bukannya Galen takut dengan asprinya sendiri. Hanya saja, Fandi bisa mengeluarkan sifat galaknya. Galen terkadang akan bersikap menyebalkan dengan meminta menjadwal ulang semua kegiatannya. Hal itu akan membuat jadwal yang sudah tersusun rapi pun menjadi berantakan.
“Maaf, Pak. Tidak bisa. Bapak tetap harus menjalankan jadwal yang sudah tersusun.”
“Fandi!” Galen mengetatkan rahangnya dengan kuat. Ubun-ubunnya seakan terbakar ketika mendengar ucapan lelaki itu.
“Bapak bisa istirahat sampai jam makan siang. Setelah itu, tepat pukul dua nanti, Bapak memiliki pertemuan dengan Baga Persada untuk pengiriman global mereka.”
Perusahaan Galen bergerak dibidang Logistik pengiriman. Juga memiliki anak perusahaan dibidang Pariwisata dan Perhotelan. Galen tentu selalu menemui klien-klien besar untuk kerja sama tetap berjalan.
“Fandi!”
“Iya, Bapak. Saya di sini.” Fandi sudah bekerja dengan Galen sejak beberapa tahun lalu dan dia tahu betul jika dia harus melakukan ini.
“Kamu ingin menghancurkan perusahaan dengan meminta saya untuk meeting di saat isi kepala saya sekacau ini, Fan?”
“Justru saya tidak ingin perusahaan menjadi hancur dengan membiarkan Bapak melewatkan pertemuan. Kita tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan.” Fandi memberikan senyum kecilnya. “Saya akan membawakan kopi untuk Bapak sebagai teman Bapak menenangkan diri.”
Tidak perlu waktu lama untuk Fandi keluar dari ruangan lelaki itu dan kembali membawakan secangkir kopi untuk bosnya tersebut. Tanpa mengatakan apa pun, dia meletakkan cangkir kopi itu di depan Galen yang sudah duduk manis di kursi kerjanya.
Tatapannya menghunus tajam ke arah Fandi, tetapi Fandi hanya menampilkan ekspresi tidak terganggu sama sekali. Fandi tahu, Galen pasti akan tetap pergi meeting saat waktunya tiba nanti.
Galen melepaskan napasnya kasar ketika Fandi sudah keluar dari ruangannya. Jika dia tak mengingat lelaki itu sudah bekerja bersamanya dalam waktu yang lama, atau mengingatkannya jika hanya Fandi yang mampu mengatasi semua jadwalnya yang terkadang serabutan itu, Galen pasti sudah menendang Fandi keluar dari perusahaannya.
“Levana,” ucapnya menyebut nama sang masa lalu. “Kamu benar-benar sialan. Setelah sekian lama, kamu muncul merobek luka lama yang belum sembuh sempurna.” Menutupnya rapat, sebuah pemikiran terlintas di dalam kepalanya dan dia merasa harus melakukan itu. Ya, dia harus melakukannya untuk membalas Levana.
***
Hari masih pagi, Levana turun ke lantai bawah hanya untuk sekedar menghirup udara pagi yang menyejukkan. Hari ini minggu, dan Galen masih bergulung di dalam kasur bersama kedua anaknya. Dia kembali tidur setelah subuh dan Levana membiarkannya.Tak lama para ART muncul untuk mulai bekerja. Ada yang bersih-bersih, ada yang memulai membuat sarapan. Mereka tahu di hari minggu seperti ini sarapan sedikit lebih lambat. Tuan rumah mereka akan bangun telat.“Ibu mau dibuatin sesuatu nggak? Biasanya kan sarapannya agak siangan.” Salah satu Bibi menawarkan kepada Levana.“Nggak perlu, Bik. Makasih. Nanti aku buat sendiri kalau lapar.”Bibi memilih kembali ke dapur setelah itu dan meninggalkan Levana seorang diri. Angin pagi yang segar sebelum matahari muncul menjadi salah satu favorit Levana. Dia bisa berlama-lama di halaman rumah hanya untuk menatap langit dan menikmati aroma pagi yang menenangkan.Tamu datang tak lama setelah itu. Levana sedikit menyipitkan matanya sebelum tamu tersebut masuk
Duduk berdua dengan sang istri sambil melihat anak-anak bermain dengan riang adalah salah satu bayangan Galen sejak dulu. Sekarang terealisasi.Di siang hari sebelum makan siang, di weekend yang damai, Galen dan Levana bersantai di halaman belakang sambil ditemani suara tawa Birru dan Ivory. Ivory sudah mulai belajar berjalan dan sudah bisa diajak bermain oleh sang kakak.Birru yang dulu melihat adiknya bisa berdiri dan melangkahkan kakinya, tampak bahagia luar biasa. Tanpa diminta oleh siapa pun, dia langsung mengambil ipad-nya dan merekam adiknya.“Jadi, cukup dua aja atau mau nambah satu lagi?”Melihat dua anaknya yang tampan dan cantik tentulah membuat Galen merasa jika produk yang dihasilkan olehnya dan Levana adalah bibit unggul. Tak masalah kalau dia punya lebih dari dua.“Cukup dua aja. Pabriknya tutup.” Levana menyandarkan tubuhnya pada tubuh Galen masih sambil memantau kedua anaknya.“Bisa dibuka lagi, ‘kan? … pabriknya.” Semilir angin menerbangkan rambut Levana dan mengenai
“Birru, kok sendirian?” Birru yang sibuk dengan tabletnya itu menoleh ke arah sumber suara. Dalam satu hari, Birru mendapatkan kesempatan dua jam untuk bermain gadget dan dia sekarang tengah menggunakan kesempatan itu dengan baik.“Iya,” jawabnya singkat sebelum kembali fokus pada tabletnya.Yang bertanya adalah Retno yang baru sampai ke rumahnya. Tidak bersama siapa pun, hanya sendiri. Birru sama sekali tidak peduli dengan neneknya tersebut.Retno duduk di sofa single sambil menatap pada cucunya yang tampak begitu tak acuh. Seperti Retno yang tidak pernah mengakui Birru di masa lalu, sekarang Birru pun melakukan hal yang sama.Waktu sudah berlalu, tetapi tidak ada yang berubah dalam hubungan mereka. Bahkan Birru pun tidak pernah memanggil Retno sama sekali seakan tahu jika hubungan mereka memang tidak bagus.“Om Dante ke mana kok kamu di sini sendirian?” tanya Retno lagi.“Lagi ada urusan sebentar.” Meskipun singkat, tetapi Birru tidak pernah tidak menjawab pertanyaan Retno.“Kamu ma
Ivory Leora Wiraguna menjadi penambah kebahagiaan dalam keluarga Galen dan Levana. Setelah drama melahirkan yang berjalan hampir dua puluh empat jam, akhirnya dia lahir bergabung dengan sesaknya dunia.Birru yang melihat adik cantiknya sudah terlahir itu enggan melakukan apa pun. Bahkan untuk pergi ke sekolah pun harus melalu drama panjang.“Mama, Mas mau sama Adek.” Begitu katanya ketika dia diminta untuk bersiap sekolah.“Nanti sepulang sekolah juga kan sama Adek lagi, Mas. Sekarang Mas pergi sekolah dulu. Lagian sekolahnya juga nggak lama.”“Tapi kalau Mas Birru di sekolah suka kepikiran Adek, Ma.”“Mikirin Adek boleh, tapi jangan sampai Mas Birru nggak fokus sekolahnya.”Itulah kira-kira rentetan percakapan antara Birru dan Levana di suatu pagi. Birru yang tak mau sekolah dengan banyak sekali alasan. Ya, mungkin karena masih senang-senangnya dia menjadi seorang kakak.Jarak usia Birru dan Ivory yang cukup jauh membuat Birru sudah paham bagaimana menjadi seorang kakak. Sebelumnya s
“Udah berapa lama kira-kira kita udah nggak ketemu, ya, Bu? Terakhir kali sepertinya waktu lahirannya Naka.”“Iya, Bu. Kalau nggak ada acara begini saya milih di rumah aja. Perjalanan jauh begini kasihan papanya Heydar.”Obrolan ibu dan mertua Gia itu kembali terjalin setelah semua orang sudah pamit pulang. Tinggal orang tua Gia dan orang tua Heydar yang tetap ada di sana karena mereka memutuskan untuk menginap.Retno sebenarnya menolak rencana tersebut, tetapi pada akhirnya menyetujuinya. Galen sudah membawa istri dan anaknya pulang karena Levana pun sudah tampak kelelahan. Hamil tua membuat tenaga perempuan itu terasa tersedot habis meskipun tidak ada banyak hal yang dilakukan.“Tapi, udah nggak pernah kumat-kumat lagi ‘kan, Bu, sakitnya papanya Heydar? Waktu saja dikabari kalau waktu itu masuk rumah sakit lagi, saya juga cemas.”“Alhamdulillah, Bu. Ya, sekarang kalau di rumah saya nemani jalan setiap pagi. Yang penting harus dibuat gerak aja tubuhnya biar nggak lemes.”Obrolan itu
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Gia akan menempati rumah barunya sebelum Levana melahirkan. Setelah perabotan rumah tangga sudah terpenuhi di rumah tersebut, saatnya keluarga kecil itu berpindah rumah.Kebahagiaan itu tampak tumpah ruah tidak karuan. Levana yang perutnya sudah membesar itu hanya melihat orang-orang sibuk menyiapkan makanan.“Mbak Leva, Ibu buatkan jamu buat Mbak Leva.” Itu adalah ibu mertua Gia. Perempuan berhijab itu tampak begitu keibuan.Sejak awal mengenal Levana beberapa waktu lalu, perempuan paruh baya itu sangat perhatian dengan Levana. Jika mereka bertemu pun ada banyak sekali wejangan yang diberikan terkait kehamilan.Levana merasa memiliki ibu dan diperhatikan dan itu membuat hatinya menghangat. Andai saja dia memiliki ibu mertua sebaik itu, Levana pasti akan membalasnya tak kalah baiknya.“Terima kasih, ya, Bu. Ibu udah banyak banget buatin saya ini dan itu.” Levana tersenyum tulus ketika menatap perempuan itu.“Nanti sebelum Ibu pulang, Ibu aka







