공유

Bab 2

작가: Blackwood
Aku menatap diriku di cermin, wajah memerah dan pakaian yang berani. Siapa pun bisa melihat bahwa gadis ini bukanlah "gadis baik-baik".

Sekali saja, bisikku pada diri sendiri.

Cukup sekali ini saja aku melepaskan kendali. Setelah terpuaskan, aku pasti bisa mengendalikan tubuhku kembali.

Setelah memastikan kakak perempuanku tertidur lelap, aku mengendap-endap keluar rumah dan segera naik taksi menuju bioskop tersebut.

Pria penjual tiket menatapku dengan pandangan kagum yang tidak dia tutupi. Saat menyerahkan tiket, dia dengan kurang ajar mengelus tanganku.

Aku gemetar, menggigit bibir, dan segera melangkah pergi dengan cepat.

Di dalam ruang pemutaran film yang remang-remang, sudah banyak pria berbadan tegap yang duduk tersebar di berbagai sudut. Mereka tampak penuh energi yang tak tersalurkan. Aroma hormon pria yang kuat menerpaku, membuat tubuhku seketika lemas.

Secara tidak sadar, aku memperhatikan mereka satu per satu, menahan getaran tubuhku saat berjalan mendekat.

Orang-orang itu mendongak. Puluhan tatapan panas serentak tertuju padaku, memindai seluruh tubuhku layaknya sinar-X.

Tatapan itu terasa seperti tangan-tangan yang merobek atasan taliku, menghancurkan rok pendekku, serta menggantikan pakaian itu dengan sesuatu yang keras dan panas untuk menghunjam tubuhku.

Rasa terintimidasi yang kuat mengepungku. Napasku memburu di bawah tekanan itu, rasanya udara pun mulai ikut terbakar. Dalam puncak kegembiraan, aku tanpa sadar mengangkat sedikit ujung rokku, memamerkan sebagian kecil bokongku yang putih dan kencang. Seketika, suara hirupan napas dan tegukan ludah terdengar dari seluruh ruangan.

Mereka seperti sekumpulan binatang buas yang siap menerjang, ingin melahapku hingga tak bersisa.

Ah ... benar, ini rasanya.

Perasaan "ditelanjangi" oleh mata mereka membuatku malu sekaligus bergairah.

Wajahku memerah, tubuhku mulai berkeringat karena panas. Kenikmatan mengalir liar di dalam diriku. Sebelum kakiku benar-benar lemas, aku berpegangan pada sandaran kursi, menjepit kakiku rapat-rapat karena merasakan area sensitifku mulai basah.

Saat itulah, aku menemukan seorang pria di sudut ruangan. Dia tampak berusia di bawah tiga puluh tahun, berperawakan sangat kekar dan tampan. Meski hanya duduk, dia memancarkan aura maskulin yang sangat kuat. Berdasarkan pengalamanku, pria ini pasti memiliki stamina luar biasa dan sangat ahli "di ranjang".

Terdorong oleh aroma hormonnya, aku tidak bisa menahan diri dan melangkah mendekatinya.

Semakin dekat, jantungku semakin berdebar. Pria ini benar-benar sangat kuat. Lengan yang terlihat itu penuh dengan otot-otot padat, tampak lebih besar dari kakiku sendiri.

Begitu melihatnya, perasaan familier memenuhi seluruh tubuhku, hingga kedua kakiku tanpa sadar saling bergesekan.

Sambil meremas ujung rok dan menggigit bibir, aku perlahan menyelinap masuk ke barisan kursinya. Ada beberapa pria lain yang duduk di barisan itu. Saat melihatku yang memakai rok mini memaksa masuk, mata mereka berkilat penuh gairah.

Pria yang duduk di kursi pertama mengambil kesempatan untuk meraba tubuhku secara diam-diam. Dia segera menyadari sesuatu. "Sial ... di balik ini kosong," bisiknya penuh semangat kepada pria di sebelahnya.

Aku tersentak. Sentuhan jari kasar pria itu pada bagian sensitifku terasa terlalu merangsang hingga aku kehilangan tenaga. Secara kebetulan, aku justru jatuh terduduk tepat di atas tangan pria itu.

Melihat bokongku menempel padanya, dia segera mendekatkan hidung dan menghirup napas dalam-dalam. Dia berkata, "Sangat jalang!"

Pria di sebelahnya tidak mau kalah. Dia meraba ujung rokku dan menarik tali celana dalamku hingga terdengar bunyi "plak" saat dilepaskan.

"Dia pakai sesuatu di dalam, sebuah t-back."

Aku mengertakkan gigi. Tanganku gemetar saat menyingkirkan tangan mereka, lalu terus melangkah maju di tengah suara siulan nakal mereka.

Setelah bersusah payah sampai ke pojok, aku berdiri di depan pria kekar itu dengan kepala sedikit menunduk. Napasku terengah-engah, membuat dadaku naik-turun dengan kencang, yang langsung membuat mata pria itu terpaku.

"Maaf, apa di sini ... ada orangnya?" Aku berusaha tetap tenang, tetapi suaraku tetap gemetar tak terkendali.

Dia mengalihkan pandangannya sedikit, lalu berkata dengan nada menggoda, "Kamu yakin mau duduk di sini?"

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 8

    Bukan tipe pria seperti itu? Padahal tadi malam dia baru saja "mencetak gol" kedua kalinya di kamarku. Tetapi aku benar-benar tidak bisa jujur, jadi percakapan itu berakhir begitu saja. Namun aku bertekad, aku harus membuat Kakak tahu wajah asli Josua!Tiba-tiba, aku teringat bioskop itu. Sebelum pergi waktu itu, dia bilang jika aku ingin mencarinya lagi, aku harus datang lebih awal. Karena kalau terlambat, kursi itu akan diisi wanita lain. Artinya ... dia tidak hanya melayani aku saja di bioskop itu?Karena aku tidak bisa memberitahu Kakak tentang hubunganku dengan Josua, maka memberitahunya tentang Josua dengan wanita lain adalah jalan keluarnya. Mereka baru saja jadian, tapi Josua sudah selancang ini. Kakak pasti tidak akan bisa menoleransinya.Setelah Kakak tertidur malam itu, aku mengambil kain untuk membebat dadaku. Lalu memakai baju abu-abu kusam yang longgar untuk membungkus tubuhku rapat-rapat. Aku memakai masker dan menyembunyikan rambut di balik topi sebelum menyelinap k

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 7

    "Ka-kamu ... bagaimana kamu bisa masuk?"Aku hampir melompat saking takutnya, tetapi tidak berani bersuara terlalu keras. Melihatku yang sengaja menekan suara, gerakannya justru semakin liar. "Kenapa? Kamu pikir kunci pintu kamar saja bisa menghalangiku?"Dia ... mencongkel kunci pintu untuk masuk? Saat ini, aku semakin merasa bahwa dia benar-benar bajingan. Aku menendang-nendang dan mendorongnya sekuat tenaga. "Pergi! Kamu pacar kakakku, bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Apa kamu nggak merasa bersalah pada Kakak?""Cih, kakakmu itu segalanya bagus. Cantik dan lembut, hanya saja tubuhnya sedikit terlalu ringkih, nggak tahan dihajar lama-lama." Josua membenamkan kepalanya dan menciumi leherku dengan kasar. "Tapi kamu, bisa menutupi kekurangan itu dengan sempurna. Aku bisa melayani kalian berdua sekaligus, seharusnya kamu diam-diam senang."Benar-benar tidak tahu malu. Aku menggigit bahunya sekuat tenaga, tetapi tubuh orang ini seperti terbuat dari besi, ototnya sangat keras. Saa

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 6

    Adegan gila tadi malam seketika terputar kembali di depan mataku. Dengan suara sedikit gemetar aku menatap kakakku. Aku berkata, "Di-dia ....""Ini pacarku, Josua Perkasa," kata kakakku sambil tersenyum bahagia. "Waktu kamu di sekolah dulu, bukannya kamu selalu bilang ingin bertemu dengannya?"Aku mau tak mau menghirup napas dalam-dalam. Orang ini ... pacar kakakku?Lalu kemarin aku dan dia!Seketika punggungku terasa dingin, setetes keringat dingin jatuh dari pelipisku, dan seluruh tubuhku kaku."Calon Adik ipar, nggak suka ya punya kakak ipar sepertiku?" Josua menyeringai nakal. Tidak ada ekspresi terkejut sedikit pun di wajahnya.Jangan-jangan ... kemarin dia sudah tahu siapa aku?Tidak mungkin, kalau dia benar-benar tahu, dia tidak akan menanyakan nomor teleponku. Hanya bisa dikatakan bahwa mental pria ini terlalu kuat. Saat ini kepalaku terasa berdengung."Davina, kamu kenapa? Wajahmu agak pucat." Kakakku bertanya dengan bingung."Ng-nggak apa-apa," jawabku sambil menggelengkan k

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 5

    Aku terdorong olehnya hingga membentur sandaran kursi di depan dengan bunyi “buk!”. Seluruh punggungku terasa pegal, bokongku sampai berubah bentuk karena terimpit.Kekuatan yang tak bisa dilawan itu, membuat rasa nikmatku melesat ke puncak tertinggi. Aku bahkan tidak memedulikan lagi pria-pria lain yang duduk di sekitar. Aku berteriak langsung, lebih keras dan lebih nyaring daripada desahan wanita di film itu.Terdengar suara gesekan di sekeliling. Puluhan pasang mata menatap dan menembus kegelapan dengan pandangan panas, iri, dan penuh liur.Aku terkulai lemas di pelukan pria kuat ini, menghirup aroma maskulin yang penuh dan liar. Rasanya sekujur tubuhku sangat lunglai hingga tidak bisa berdiri.Sensasi ditonton ini benar-benar luar biasa. Lagi pula di tengah kegelapan pekat seperti ini, mereka tidak bisa melihat wajahku. Kenikmatan tanpa batas di tempat ini benar-benar meningkat hingga ke titik ekstrem.Daguku dicengkeram dengan kuat, ibu jarinya mempermainkan bibirku. "Jalang, ting

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 4

    Tiba-tiba, sebuah tangan besar meremas bokongku, memilin gundukan kenyal nan ranum itu dengan kuat. "Butuh bantuan?""Uh!" Dalam kondisi yang sangat sensitif, rangsangan yang tak terduga itu membuat sekujur tubuhku gemetar. Remasan yang tiba-tiba itu, baik teknik maupun kekuatannya, terasa sangat pas hingga ke puncaknya. Seolah-olah mengirimkan aliran listrik dahsyat langsung ke jiwaku.Napasku semakin memburu, rasanya seperti baru saja berlari nonstop sejauh satu kilometer. Aku bahkan mulai merasa sesak.Dia ... bagaimana dia bisa begitu ahli mempermainkan wanita?Hanya dengan satu gerakan, dia sudah membuatku merasa jiwaku melayang ke langit. Aku melengkungkan pinggul, menyambut tangan besar itu, tidak ingin terpisah barang sedikit pun.Mau. Aku sangat membutuhkan bantuannya. Keinginanku untuk mendapatkan seorang pria sudah mencapai puncaknya."Biar kutebak," bisiknya sambil mendekat, embusan napas panasnya menerpa leherku. "Ini pertama kalinya kamu ke sini? Pertama kali tapi sudah

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 3

    Aku mengerti maksudnya. Mungkin setelah ini, aku akan diperlakukan dengan jauh lebih kasar. Sejujurnya, aku sempat merasa ragu. Namun, mataku tertuju pada bagian bawah tubuhnya.Otot-otot yang keras membuat celana pendek abu-abunya menonjol kencang. Kejantanannya yang luar biasa tercetak dengan sangat jelas. Pemandangan di depanku seolah menyihirku. Niatku untuk mundur berubah menjadi ajakan yang lembut."Kumohon ...." "Hmm, kemarilah." Dia sedikit menggeser kakinya, memberiku ruang untuk masuk.Aku mengatupkan bibir, menarik bokongku agar tidak terlalu menyentuh kakinya saat lewat. Namun, saat melintas di depannya, aku entah bagaimana tersandung sesuatu. Tubuhku limbung dan aku jatuh terduduk tepat di atas pangkuannya.Seketika, sebuah sensasi panas menghunjam dengan keras dari bawah. Keras sekali! Otot paha pria ini terasa sekeras baja! Benar-benar perkasa!Bokongku tenggelam. Aku terhanyut merasakan panas yang membara itu, ingin sekali melebur di atasnya dan tidak pernah terpisa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status