Share

Rahasia Malam di Bioskop
Rahasia Malam di Bioskop
Author: Blackwood

Bab 1

Author: Blackwood
Namaku Davina Aryaf, seorang dosen di jurusan tari.

Meski memiliki wajah yang polos dan manis, kenyataannya aku menderita kecanduan seks yang membuatku sulit mengendalikan gairah sendiri.

Aku berusaha mati-matian menahan keinginanku untuk mendesah setiap saat. Dalam hati aku, selalu berdoa agar penampilanku tidak terlalu menarik perhatian.

Namun, takdir berkata lain. Mungkin karena sekresi hormon estrogen yang terlalu kuat, lekuk tubuhku tumbuh pesat seperti balon yang ditiup kencang.

Kulitku halus dan lembut, dadaku berukuran 36E yang bulat sempurna, dan bokongku kencang sekaligus menonjol. Tampak seperti buah persik yang ranum dan berair.

Setiap kali pria melihatku, tatapan mereka selalu penuh gairah. Seolah ingin segera merobohkanku ke tanah dan menikmatiku sepuasnya.

Aku sering merasa tidak nyaman karena di depan tatapan panas para pria yang terasa begitu nyata menyentuh kulitku.

Aku tahu ini salah. Seharusnya aku melarikan diri atau bersembunyi.

Namun, rasanya terlalu nikmat, terlalu menggairahkan.

Tatapan-tatapan itu seolah menelanjangi pakaianku helai demi helai. Aku merasa seolah sedang dibelai dan dimainkan di bawah tatapan semua orang. Tubuhku bergejolak karena sensasi yang tak tertahankan ini. Gelombang kenikmatan menjalar ke seluruh anggota gerak tubuhku, seiring dengan napas yang memburu. Kakiku lemas hingga hampir tidak bisa berdiri.

Logikaku meronta di dalam kepala, memperingatkan diri sendiri bahwa ini tidak boleh terjadi.

Namun tubuhku menjerit, berharap seseorang bisa memuaskanku.

Ambang batas kenikmatanku perlahan meningkat, kecanduan ini mulai tak terkendali.

Aku sempat membeli banyak mainan dewasa melalui internet, berniat menggunakannya untuk meredakan kesepian saat gairah ini tak tertahankan lagi ini.

Namun, setelah merasakan tatapan panas dan sentuhan-sentuhan samar dari para pria, benda-benda itu sama sekali tidak berguna. Mereka tidak cukup kuat untuk memadamkan api yang berkobar hebat di dalam diriku.

Pada malam hari ketiga libur musim panas, aku berbaring di tempat tidur dengan wajah memerah, membelai kakiku yang jenjang dan putih. Meski alat bantu itu sudah diatur ke kecepatan maksimal, aku tetap merasa hampa. Seolah-olah ada lubang besar di dalam diriku yang tak pernah bisa terisi oleh nafsu.

Mengingat kalender, malam ini adalah masa ovulasiku. Reaksi putus zat yang kuat ditambah kendali hormon, membuat tubuhku yang kesepian ini semakin menderita. Seperti api yang disiram minyak.

Aku sangat berharap, ada seorang pria tiba-tiba muncul di sisiku.

Siapa pun pria itu, asalkan dia cukup kuat untuk memberiku kenikmatan yang paling merangsang.

Tiba-tiba, aku teringat pembicaraan orang-orang tentang sebuah bioskop di dekat sini.

Itu adalah tempat misterius di kota kecil ini. Pada siang hari, tampak seperti bioskop biasa. Namun setelah tengah malam, mereka secara sembunyi-sembunyi memutar film-film yang sangat merangsang.

Tempat itu menarik banyak pria dan wanita kesepian. Begitu lampu dipadamkan, suara gesekan kain mulai terdengar, dan aroma gairah memenuhi ruangan.

Aku memejamkan mata, membiarkan logika dan dorongan hati beradu.

Gadis baik-baik mana yang pergi ke tempat seperti itu? Namun jika terus begini, tubuhku akan membuatku gila.

Daripada kehilangan kendali dan menangis memohon pada orang asing di tempat umum, lebih baik aku pergi ke sana. Di tengah atmosfer yang penuh gairah, mungkin keanehanku tidak akan terlalu mencolok.

Begitulah caraku meyakinkan diri yang gemetar ini.

Aku menanggalkan baju tidurku, lalu mengenakan atasan tali tipis yang seksi. Tentu saja aku tidak memakai bra. Payudaraku yang putih salju kini bebas tanpa ikatan, berguncang lembut dan memancarkan aroma feminin yang kental.

Untuk bagian bawah, aku memakai rok pendek yang nyaris tak menutupi bokong, dengan celana dalam t-back hitam berhiaskan mutiara besar di dalamnya. Setiap langkah yang kuambil adalah benih gairah yang mulai tumbuh.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 8

    Bukan tipe pria seperti itu? Padahal tadi malam dia baru saja "mencetak gol" kedua kalinya di kamarku. Tetapi aku benar-benar tidak bisa jujur, jadi percakapan itu berakhir begitu saja. Namun aku bertekad, aku harus membuat Kakak tahu wajah asli Josua!Tiba-tiba, aku teringat bioskop itu. Sebelum pergi waktu itu, dia bilang jika aku ingin mencarinya lagi, aku harus datang lebih awal. Karena kalau terlambat, kursi itu akan diisi wanita lain. Artinya ... dia tidak hanya melayani aku saja di bioskop itu?Karena aku tidak bisa memberitahu Kakak tentang hubunganku dengan Josua, maka memberitahunya tentang Josua dengan wanita lain adalah jalan keluarnya. Mereka baru saja jadian, tapi Josua sudah selancang ini. Kakak pasti tidak akan bisa menoleransinya.Setelah Kakak tertidur malam itu, aku mengambil kain untuk membebat dadaku. Lalu memakai baju abu-abu kusam yang longgar untuk membungkus tubuhku rapat-rapat. Aku memakai masker dan menyembunyikan rambut di balik topi sebelum menyelinap k

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 7

    "Ka-kamu ... bagaimana kamu bisa masuk?"Aku hampir melompat saking takutnya, tetapi tidak berani bersuara terlalu keras. Melihatku yang sengaja menekan suara, gerakannya justru semakin liar. "Kenapa? Kamu pikir kunci pintu kamar saja bisa menghalangiku?"Dia ... mencongkel kunci pintu untuk masuk? Saat ini, aku semakin merasa bahwa dia benar-benar bajingan. Aku menendang-nendang dan mendorongnya sekuat tenaga. "Pergi! Kamu pacar kakakku, bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Apa kamu nggak merasa bersalah pada Kakak?""Cih, kakakmu itu segalanya bagus. Cantik dan lembut, hanya saja tubuhnya sedikit terlalu ringkih, nggak tahan dihajar lama-lama." Josua membenamkan kepalanya dan menciumi leherku dengan kasar. "Tapi kamu, bisa menutupi kekurangan itu dengan sempurna. Aku bisa melayani kalian berdua sekaligus, seharusnya kamu diam-diam senang."Benar-benar tidak tahu malu. Aku menggigit bahunya sekuat tenaga, tetapi tubuh orang ini seperti terbuat dari besi, ototnya sangat keras. Saa

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 6

    Adegan gila tadi malam seketika terputar kembali di depan mataku. Dengan suara sedikit gemetar aku menatap kakakku. Aku berkata, "Di-dia ....""Ini pacarku, Josua Perkasa," kata kakakku sambil tersenyum bahagia. "Waktu kamu di sekolah dulu, bukannya kamu selalu bilang ingin bertemu dengannya?"Aku mau tak mau menghirup napas dalam-dalam. Orang ini ... pacar kakakku?Lalu kemarin aku dan dia!Seketika punggungku terasa dingin, setetes keringat dingin jatuh dari pelipisku, dan seluruh tubuhku kaku."Calon Adik ipar, nggak suka ya punya kakak ipar sepertiku?" Josua menyeringai nakal. Tidak ada ekspresi terkejut sedikit pun di wajahnya.Jangan-jangan ... kemarin dia sudah tahu siapa aku?Tidak mungkin, kalau dia benar-benar tahu, dia tidak akan menanyakan nomor teleponku. Hanya bisa dikatakan bahwa mental pria ini terlalu kuat. Saat ini kepalaku terasa berdengung."Davina, kamu kenapa? Wajahmu agak pucat." Kakakku bertanya dengan bingung."Ng-nggak apa-apa," jawabku sambil menggelengkan k

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 5

    Aku terdorong olehnya hingga membentur sandaran kursi di depan dengan bunyi “buk!”. Seluruh punggungku terasa pegal, bokongku sampai berubah bentuk karena terimpit.Kekuatan yang tak bisa dilawan itu, membuat rasa nikmatku melesat ke puncak tertinggi. Aku bahkan tidak memedulikan lagi pria-pria lain yang duduk di sekitar. Aku berteriak langsung, lebih keras dan lebih nyaring daripada desahan wanita di film itu.Terdengar suara gesekan di sekeliling. Puluhan pasang mata menatap dan menembus kegelapan dengan pandangan panas, iri, dan penuh liur.Aku terkulai lemas di pelukan pria kuat ini, menghirup aroma maskulin yang penuh dan liar. Rasanya sekujur tubuhku sangat lunglai hingga tidak bisa berdiri.Sensasi ditonton ini benar-benar luar biasa. Lagi pula di tengah kegelapan pekat seperti ini, mereka tidak bisa melihat wajahku. Kenikmatan tanpa batas di tempat ini benar-benar meningkat hingga ke titik ekstrem.Daguku dicengkeram dengan kuat, ibu jarinya mempermainkan bibirku. "Jalang, ting

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 4

    Tiba-tiba, sebuah tangan besar meremas bokongku, memilin gundukan kenyal nan ranum itu dengan kuat. "Butuh bantuan?""Uh!" Dalam kondisi yang sangat sensitif, rangsangan yang tak terduga itu membuat sekujur tubuhku gemetar. Remasan yang tiba-tiba itu, baik teknik maupun kekuatannya, terasa sangat pas hingga ke puncaknya. Seolah-olah mengirimkan aliran listrik dahsyat langsung ke jiwaku.Napasku semakin memburu, rasanya seperti baru saja berlari nonstop sejauh satu kilometer. Aku bahkan mulai merasa sesak.Dia ... bagaimana dia bisa begitu ahli mempermainkan wanita?Hanya dengan satu gerakan, dia sudah membuatku merasa jiwaku melayang ke langit. Aku melengkungkan pinggul, menyambut tangan besar itu, tidak ingin terpisah barang sedikit pun.Mau. Aku sangat membutuhkan bantuannya. Keinginanku untuk mendapatkan seorang pria sudah mencapai puncaknya."Biar kutebak," bisiknya sambil mendekat, embusan napas panasnya menerpa leherku. "Ini pertama kalinya kamu ke sini? Pertama kali tapi sudah

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 3

    Aku mengerti maksudnya. Mungkin setelah ini, aku akan diperlakukan dengan jauh lebih kasar. Sejujurnya, aku sempat merasa ragu. Namun, mataku tertuju pada bagian bawah tubuhnya.Otot-otot yang keras membuat celana pendek abu-abunya menonjol kencang. Kejantanannya yang luar biasa tercetak dengan sangat jelas. Pemandangan di depanku seolah menyihirku. Niatku untuk mundur berubah menjadi ajakan yang lembut."Kumohon ...." "Hmm, kemarilah." Dia sedikit menggeser kakinya, memberiku ruang untuk masuk.Aku mengatupkan bibir, menarik bokongku agar tidak terlalu menyentuh kakinya saat lewat. Namun, saat melintas di depannya, aku entah bagaimana tersandung sesuatu. Tubuhku limbung dan aku jatuh terduduk tepat di atas pangkuannya.Seketika, sebuah sensasi panas menghunjam dengan keras dari bawah. Keras sekali! Otot paha pria ini terasa sekeras baja! Benar-benar perkasa!Bokongku tenggelam. Aku terhanyut merasakan panas yang membara itu, ingin sekali melebur di atasnya dan tidak pernah terpisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status