공유

Bab 4

작가: Blackwood
Tiba-tiba, sebuah tangan besar meremas bokongku, memilin gundukan kenyal nan ranum itu dengan kuat. "Butuh bantuan?"

"Uh!" Dalam kondisi yang sangat sensitif, rangsangan yang tak terduga itu membuat sekujur tubuhku gemetar. Remasan yang tiba-tiba itu, baik teknik maupun kekuatannya, terasa sangat pas hingga ke puncaknya. Seolah-olah mengirimkan aliran listrik dahsyat langsung ke jiwaku.

Napasku semakin memburu, rasanya seperti baru saja berlari nonstop sejauh satu kilometer. Aku bahkan mulai merasa sesak.

Dia ... bagaimana dia bisa begitu ahli mempermainkan wanita?

Hanya dengan satu gerakan, dia sudah membuatku merasa jiwaku melayang ke langit.

Aku melengkungkan pinggul, menyambut tangan besar itu, tidak ingin terpisah barang sedikit pun.

Mau. Aku sangat membutuhkan bantuannya. Keinginanku untuk mendapatkan seorang pria sudah mencapai puncaknya.

"Biar kutebak," bisiknya sambil mendekat, embusan napas panasnya menerpa leherku. "Ini pertama kalinya kamu ke sini? Pertama kali tapi sudah sejalang ini, kamu benar-benar barang langka."

Begitu kata "jalang" itu terucap, tangannya mencubit lekukan pinggangku dengan kuat. Rasanya jauh lebih merangsang daripada disengat alat kejut listrik. Tubuhku seketika lemas seperti air, rasa ingin buang air kecil melonjak gila-gilaan.

"Kalau mau kubantu, memohonlah padaku."

Dia sama sekali tidak terburu-buru. Sebaliknya, dia malah menjauhkan tangannya. Seiring dengan perginya rasa panas itu, kehampaan yang luar biasa kembali menyerang. Melihat seringai nakalnya, aku sadar. Pria di depanku ini bukanlah orang amatir, melainkan seorang ahli yang sangat berpengalaman. Dia memainkan taktik tarik-ulur dengan sangat sempurna.

Dia sudah tahu kalau aku adalah wanita jalang yang tidak tahu malu. Dia sengaja menunggu dengan tenang sampai aku sendiri yang memohon secara aktif.

Namun sekarang, aku tidak punya pilihan lain.

"Kumohon ... aku mohon ...." pintaku dengan mata memerah. Aku merasa sekujur tubuhku terus-menerus dihantam rasa panas. Kepalaku berdengung, persis seperti orang tenggelam yang memegang erat sebatang kayu apung.

"Dasar jalang, kamu memang butuh dihajar!" Dia tertawa keras, lalu menarikku dengan satu sentakan kuat ke dalam pelukannya.

Tenaga orang ini sangat besar. Kekuatan yang sama sekali tidak bisa dilawan itu membuatku langsung tunduk dan patuh.

Aku merasa seolah sedang duduk di atas gumpalan api. Otot-ototnya yang keras dan perkasa menempel rapat tanpa celah pada tubuhku. Kejantanannya yang luar biasa, terasa jauh lebih mengerikan daripada pria di film tadi!

Aku bersandar erat pada dadanya, merasakan tangan besarnya meremas-remas bokongku. Tangannya begitu besar, hingga bisa membungkus seluruh belahan bokongku. Begitu panas dan membara, membuatku merasa seolah duduk di dalam air hangat. Tanpa sadar aku menjepit bokongku rapat-rapat dan mengunci tangannya layaknya seekor kerang, agar dia tidak bisa lagi menarik tangannya pergi.

"Lentingannya bagus juga, aku coba bagian yang lain." Dia mengulurkan tangannya yang lain, menyelinap masuk melalui atasan taliku. Sekali lagi, rasa panas yang luas itu menyapu pinggangku yang lembut dan langsung merangkup payudaraku yang bundar.

Rangsangan panas itu membuat tubuhku menegang. Desahan jalang yang tak tertahankan langsung lolos dari bibirku.

Bokongku ikut menegang lurus, rasanya detik berikutnya aku akan kehilangan kendali sepenuhnya.

"Kenapa? Baru begini saja sudah nggak tahan?"

Tidak, bukan begitu. Aku sendiri tidak tahu mengapa malam ini aku berkali-kali lipat lebih sensitif dari biasanya. Aku hanya merasa di bawah tangannya, aku seperti adonan yang bisa diremas dan dibentuk sesuka hati. Rasanya sangat nikmat, aku ingin segera menikmatinya. Kenikmatan luar biasa, yang belum pernah kurasakan sebelumnya ini sudah hampir tidak bisa kutahan lagi.

"Aku nggak tahu, aku ... kumohon, aku mohon ... ah! Hah ... biarkan aku ...." Aku berjuang untuk membalikkan badan, kedua tanganku memeluk lehernya, dan aku langsung duduk mengangkang di atas pangkuannya. Aku ingin diisi dengan kasar, tidak ingin menunggu satu detik pun lagi.

"Suaramu bagus sekali, lanjutkan."

Dia membuka ikat pinggangnya. Memperlihatkan urat-urat yang menonjol di pangkal pahanya, kemudian mencengkeram bokongku. Dengan geraman rendah, dia menekankannya pada pangkal pahaku dengan tenaga yang sangat besar.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 8

    Bukan tipe pria seperti itu? Padahal tadi malam dia baru saja "mencetak gol" kedua kalinya di kamarku. Tetapi aku benar-benar tidak bisa jujur, jadi percakapan itu berakhir begitu saja. Namun aku bertekad, aku harus membuat Kakak tahu wajah asli Josua!Tiba-tiba, aku teringat bioskop itu. Sebelum pergi waktu itu, dia bilang jika aku ingin mencarinya lagi, aku harus datang lebih awal. Karena kalau terlambat, kursi itu akan diisi wanita lain. Artinya ... dia tidak hanya melayani aku saja di bioskop itu?Karena aku tidak bisa memberitahu Kakak tentang hubunganku dengan Josua, maka memberitahunya tentang Josua dengan wanita lain adalah jalan keluarnya. Mereka baru saja jadian, tapi Josua sudah selancang ini. Kakak pasti tidak akan bisa menoleransinya.Setelah Kakak tertidur malam itu, aku mengambil kain untuk membebat dadaku. Lalu memakai baju abu-abu kusam yang longgar untuk membungkus tubuhku rapat-rapat. Aku memakai masker dan menyembunyikan rambut di balik topi sebelum menyelinap k

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 7

    "Ka-kamu ... bagaimana kamu bisa masuk?"Aku hampir melompat saking takutnya, tetapi tidak berani bersuara terlalu keras. Melihatku yang sengaja menekan suara, gerakannya justru semakin liar. "Kenapa? Kamu pikir kunci pintu kamar saja bisa menghalangiku?"Dia ... mencongkel kunci pintu untuk masuk? Saat ini, aku semakin merasa bahwa dia benar-benar bajingan. Aku menendang-nendang dan mendorongnya sekuat tenaga. "Pergi! Kamu pacar kakakku, bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Apa kamu nggak merasa bersalah pada Kakak?""Cih, kakakmu itu segalanya bagus. Cantik dan lembut, hanya saja tubuhnya sedikit terlalu ringkih, nggak tahan dihajar lama-lama." Josua membenamkan kepalanya dan menciumi leherku dengan kasar. "Tapi kamu, bisa menutupi kekurangan itu dengan sempurna. Aku bisa melayani kalian berdua sekaligus, seharusnya kamu diam-diam senang."Benar-benar tidak tahu malu. Aku menggigit bahunya sekuat tenaga, tetapi tubuh orang ini seperti terbuat dari besi, ototnya sangat keras. Saa

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 6

    Adegan gila tadi malam seketika terputar kembali di depan mataku. Dengan suara sedikit gemetar aku menatap kakakku. Aku berkata, "Di-dia ....""Ini pacarku, Josua Perkasa," kata kakakku sambil tersenyum bahagia. "Waktu kamu di sekolah dulu, bukannya kamu selalu bilang ingin bertemu dengannya?"Aku mau tak mau menghirup napas dalam-dalam. Orang ini ... pacar kakakku?Lalu kemarin aku dan dia!Seketika punggungku terasa dingin, setetes keringat dingin jatuh dari pelipisku, dan seluruh tubuhku kaku."Calon Adik ipar, nggak suka ya punya kakak ipar sepertiku?" Josua menyeringai nakal. Tidak ada ekspresi terkejut sedikit pun di wajahnya.Jangan-jangan ... kemarin dia sudah tahu siapa aku?Tidak mungkin, kalau dia benar-benar tahu, dia tidak akan menanyakan nomor teleponku. Hanya bisa dikatakan bahwa mental pria ini terlalu kuat. Saat ini kepalaku terasa berdengung."Davina, kamu kenapa? Wajahmu agak pucat." Kakakku bertanya dengan bingung."Ng-nggak apa-apa," jawabku sambil menggelengkan k

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 5

    Aku terdorong olehnya hingga membentur sandaran kursi di depan dengan bunyi “buk!”. Seluruh punggungku terasa pegal, bokongku sampai berubah bentuk karena terimpit.Kekuatan yang tak bisa dilawan itu, membuat rasa nikmatku melesat ke puncak tertinggi. Aku bahkan tidak memedulikan lagi pria-pria lain yang duduk di sekitar. Aku berteriak langsung, lebih keras dan lebih nyaring daripada desahan wanita di film itu.Terdengar suara gesekan di sekeliling. Puluhan pasang mata menatap dan menembus kegelapan dengan pandangan panas, iri, dan penuh liur.Aku terkulai lemas di pelukan pria kuat ini, menghirup aroma maskulin yang penuh dan liar. Rasanya sekujur tubuhku sangat lunglai hingga tidak bisa berdiri.Sensasi ditonton ini benar-benar luar biasa. Lagi pula di tengah kegelapan pekat seperti ini, mereka tidak bisa melihat wajahku. Kenikmatan tanpa batas di tempat ini benar-benar meningkat hingga ke titik ekstrem.Daguku dicengkeram dengan kuat, ibu jarinya mempermainkan bibirku. "Jalang, ting

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 4

    Tiba-tiba, sebuah tangan besar meremas bokongku, memilin gundukan kenyal nan ranum itu dengan kuat. "Butuh bantuan?""Uh!" Dalam kondisi yang sangat sensitif, rangsangan yang tak terduga itu membuat sekujur tubuhku gemetar. Remasan yang tiba-tiba itu, baik teknik maupun kekuatannya, terasa sangat pas hingga ke puncaknya. Seolah-olah mengirimkan aliran listrik dahsyat langsung ke jiwaku.Napasku semakin memburu, rasanya seperti baru saja berlari nonstop sejauh satu kilometer. Aku bahkan mulai merasa sesak.Dia ... bagaimana dia bisa begitu ahli mempermainkan wanita?Hanya dengan satu gerakan, dia sudah membuatku merasa jiwaku melayang ke langit. Aku melengkungkan pinggul, menyambut tangan besar itu, tidak ingin terpisah barang sedikit pun.Mau. Aku sangat membutuhkan bantuannya. Keinginanku untuk mendapatkan seorang pria sudah mencapai puncaknya."Biar kutebak," bisiknya sambil mendekat, embusan napas panasnya menerpa leherku. "Ini pertama kalinya kamu ke sini? Pertama kali tapi sudah

  • Rahasia Malam di Bioskop   Bab 3

    Aku mengerti maksudnya. Mungkin setelah ini, aku akan diperlakukan dengan jauh lebih kasar. Sejujurnya, aku sempat merasa ragu. Namun, mataku tertuju pada bagian bawah tubuhnya.Otot-otot yang keras membuat celana pendek abu-abunya menonjol kencang. Kejantanannya yang luar biasa tercetak dengan sangat jelas. Pemandangan di depanku seolah menyihirku. Niatku untuk mundur berubah menjadi ajakan yang lembut."Kumohon ...." "Hmm, kemarilah." Dia sedikit menggeser kakinya, memberiku ruang untuk masuk.Aku mengatupkan bibir, menarik bokongku agar tidak terlalu menyentuh kakinya saat lewat. Namun, saat melintas di depannya, aku entah bagaimana tersandung sesuatu. Tubuhku limbung dan aku jatuh terduduk tepat di atas pangkuannya.Seketika, sebuah sensasi panas menghunjam dengan keras dari bawah. Keras sekali! Otot paha pria ini terasa sekeras baja! Benar-benar perkasa!Bokongku tenggelam. Aku terhanyut merasakan panas yang membara itu, ingin sekali melebur di atasnya dan tidak pernah terpisa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status