LOGINJuna terpaku beberapa detik, matanya terkunci pada manik mata Salva yang terlihat jernih namun penuh dengan kekhawatiran. Tatapan itu terlalu dekat, hingga membuat pikirannya perlahan kosong.
Hingga akhirnya, Juna pun menyadari, bahwa ia tidka boleh seperti ini. Perlahan, Juna menjauhkan wajahnya.Ia memutus kontak mata itu sebelum akal sehatnya benar-benar hilang.Juna berdehem pelan, mencoba mengembalikan ketenangan dan wibawa yang sempat goyah hanya karena jarakPagi itu, jarum jam di dinding ruang rapat Hotel La Grande Malang sudah menunjukkan pukul 09.20.Ruangan itu terasa dingin karena pendingin udara yang menyala maksimal, namun kegelisahan yang terpancar dari Salva justru membuat suasananya terasa semakin panas.Sudah dua puluh menit berlalu dan pihak perusahaan binatu milik Gala belum juga muncul.Juna sendiri masih duduk tenang di kursinya sambil membalik halaman demi halaman berkas kerja sama vendor dengan ritme santai. Wajahnya nyaris tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.Baginya, menunggu bukanlah hal baru.Dulu, saat masih menjadi sopir taksi, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu penumpang keluar dari mall atau hotel tanpa kepastian akan dibayar mahal. Jadi keterlambatan seperti ini belum cukup untuk memancing emosinya.Berbeda dengan Salva. Wanita itu sejak tadi terus melirik jam tangannya. Jemarinya beberapa kali mengetuk tablet di pangkuan
Juna menyesap kopi hitamnya perlahan. Aroma pahit yang kuat langsung memenuhi inderanya, sementara matanya masih terpaku pada lembaran laporan kerja sama vendor yang sejak tadi ia baca tanpa jeda. Alisnya sedikit berkerut. “Jadi…” gumamnya pelan sambil membalik halaman laporan itu. “Kenapa Kakek repot-repot membawa usaha milik Gala masuk ke jaringan hotel ini?” Ia mengangkat pandangannya sebentar. “Padahal menurutku, di kota sebesar ini pasti banyak jasa binatu yang jauh lebih profesional kalau kita benar-benar membuka penawaran mitra secara terbuka.” Tatapannya kemudian beralih pada Salva yang sedang merapikan cangkir di meja kecil dekat sofa. Salva mengangguk kecil, tanda setuju dengan ucapan itu. Namun tangannya tetap sibuk membenarkan posisi sendok dan tatakan cangkir yang sebenarnya sudah sangat rapi. “Kembali lagi…” ucapnya tenang. “Dalam dunia bisnis, semuanya tidak selalu soal kualitas atau efektivitas, Tu
Juna terpaku beberapa detik, matanya terkunci pada manik mata Salva yang terlihat jernih namun penuh dengan kekhawatiran. Tatapan itu terlalu dekat, hingga membuat pikirannya perlahan kosong.Hingga akhirnya, Juna pun menyadari, bahwa ia tidka boleh seperti ini. Perlahan, Juna menjauhkan wajahnya.Ia memutus kontak mata itu sebelum akal sehatnya benar-benar hilang.Juna berdehem pelan, mencoba mengembalikan ketenangan dan wibawa yang sempat goyah hanya karena jarak beberapa senti.“Aku tidak apa-apa/ tenang saja,” ucapnya akhirnya. Suaranya sedikit serak. “Mungkin cuma kurang tidur.”Salva baru tersadar bahwa posisi mereka tadi terlalu dekat.Seketika ia memundurkan tubuhnya, kembali duduk dengan jarak yang lebih aman. Wajahnya merona cukup jelas di bawah cahaya redup mobil, sementara tangannya buru-buru merapikan tablet di pangkuannya hanya untuk mengalihkan rasa gugup.“Maaf, Tuan,” ucapnya pelan. “Saya hanya khawatir
Malam itu, kemegahan penthouse milik Satya terasa begitu tenang, namun di saat yang sama juga menyesakkan.Juna duduk di sofa kulit premium yang terlalu empuk untuk ukuran hidupnya selama ini. Kenyamanan seperti itu bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.Di hadapan mereka, lampu-lampu kota berkelip indah dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Kota itu terlihat kecil dari atas sana, seolah seluruh dunia berada di bawah kaki keluarga Wiwaha.Satya menyesap teh hangatnya perlahan sebelum akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka setelah pertemuan panas di ruang kerja sore tadi.“Jangan pernah terpikir untuk kembali dengannya, Cucuku,” ucap Satya tenang. “Apa jaminannya dia akan berubah?”Juna menoleh ke arah kakeknya. Kalimat itu tepat menghujam ulu hatinya. Sejenak, ia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena sempat terlintas bayangan masa lalu saat menatap Aleya tadi. Ada bagian dari dirinya yang masi
“Tapi sekretaris saya yang cantik ini… sangat mengenal siapa pria di depan saya ini.”Suasana di ruangan Satya yang tadinya hanya terasa kaku, kini berubah menjadi medan perang dingin yang tidak nyaman. Satya, yang memang belum mengetahui detail masa lalu pernikahan Juna, menatap Aleya dengan sorot penuh rasa ingin tahu.Di matanya, Aleya terlihat seperti wanita terpelajar dengan pembawaan elegan dan penampilan yang pantas berada di lingkungan elite seperti ini.“Betulkah?” tanya Satya pelan. “Siapa nona muda yang cantik ini?”Gala jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menyunggingkan senyum menyeringai penuh kemenangan. Tatapannya melirik Juna sekilas, seolah sudah memegang kartu as untuk mempermalukan pria itu habis-habisan di depan Satya.“Oh, jadi Anda menerimanya tanpa mencari tahu latar belakangnya sama sekali, Tuan Satya?” ucap Gala dengan nada pura-pura prihatin. “Wanita ini a
Salva memasukkan laptop dan beberapa berkas penting ke dalam tas jinjingnya dengan gerakan cepat namun rapi. Kamar hotel yang sekaligus dijadikan kantor sementara itu terasa begitu sunyi malam ini, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di sudut ruangan. Namun berbeda dengan suasana kamar yang tenang, isi kepala Salva justru terasa penuh dan bising.Sebagai sekretaris pribadi keluarga Wiwaha, pihak hotel memang menyediakan kamar khusus untuknya agar ia tidak perlu bolak-balik pulang saat pekerjaan menumpuk. Apalagi sejak kedatangan Juna, jadwal kerjanya benar-benar berubah total. Hampir setiap hari ia harus berada di dekat pria itu.Dan entah sejak kapan, hal itu mulai terasa berbahaya bagi dirinya sendiri.Salva mengembuskan napas pelan lalu duduk di tepi ranjang yang rapi. Tatapannya kosong menatap lantai marmer di depannya, sementara pertanyaan Juna tadi siang terus terngiang di kepalanya.“Menurutmu… apa yang sebenarnya sedang dia







