ログインCamelia berdiri di depan cermin apartemennya dengan perasaan campur aduk. Perintah Kenan kemarin terus terngiang, seolah berbisik tepat di telinganya, “Pakai sesuatu yang menunjukkan kalau kamu punya... jiwa.”
"Hah, bapak-bapak dingin dan otoriter itu. Argh!" Gerutu Camelia sambil membuka lemari pakaiannya, ia sempat tergoda untuk menarik gaun merah satin dengan potongan rendah—seragam kebesarannya sebagai "Miss Jiwa". Ia ingin muncul begitu saja dan menantang Kenan secara terbuka di medannya sendiri. Namun, akal sehatnya segera menyentakkan kesadarannya. Jika ia melakukannya sekarang, skripsinya akan tamat, dan Kenan punya seribu cara untuk menghancurkan reputasinya sebelum ia sempat lulus. "Jangan macam-macam, Cantik. Saatnya kamu bermain aman," ucapnya pada diri sendiri sambil menatap pantulannya di cermin. Sambil memoles tipis bibirnya, Camelia teringat pesan dari Lucifer semalam yang mengajaknya bertemu sore ini. Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya. Ia sudah membalas pesan itu dengan sedikit tarik ulur sebelum mematikan ponselnya. Bagi Miss Jiwa, pertemuan hanya bisa terjadi di malam Minggu, dan itu pun melalui proses kurasi yang sangat panjang. Ia punya aturan main sendiri—tak ada yang bisa langsung sampai ke ranjangnya tanpa melewati labirin permainan mental yang ia susun. Dan Lucifer? Pria itu bahkan belum masuk dalam radar penilaiannya. Dia hanyalah anggota baru yang terlalu percaya diri tapi juga menggetarkan hatinya. "Hah, ada-ada saja. Anggota baru kok berani banget, lo siapa, Lucifer?" ucap Camelia yang berbicara sendiri pada kaca riasnya sambil mengacungkan brush bedaknya. Padahal ada semburat merah di pipinya saat mengingat nama dan pesan singkat yang Lucifer kirim. "Perfect. Waktunya, milih baju. Enaknya pakai baju apa ya?" lanjutnya sambil berdiri di depan lemari pakainnya sambil mencoba mengenyahkan rasa yang tidak harus dia miliki saat ini. Akhirnya, Camelia memilih jalan tengah. Ia memakai blus cream dengan potongan yang pas di tubuh, dipadu rok plisket warna mahagoni di bawah lutut. Kacamata bulatnya tetap bertengger, dan rambut aslinya dikuncir rapi. Sore ini, ia terlihat seperti mahasiswi baik-baik dan kutu buku, tapi setidaknya tak seperti "gembel jalanan" seperti yang Kenan ejek kemarin. "Fokus, Camelia. Mari bermain di Cafe tempat lo, medan arena lo. Nggak akan ada yang ngenalin kalau lo itu Miss Jiwa. Tenang, Cantik," bisiknya dengan senyum manis yang sudah dilatih, meski tangannya tidak bisa berhenti gemetar. Pukul 16.00 WIB Midnight Garden di sore hari memiliki suasana yang sangat berbeda dengan malam hari. Lampu-lampu neon redup belum dinyalakan. Hanya cahaya matahari senja yang menembus kaca-kaca besar, menciptakan bayangan panjang di atas lantai kayu dengan aroma kopi dan kayu manis yang menenangkan. Begitu masuk, Camelia langsung disambut oleh tatapan ramah para pelayan. Mereka jelas tidak mengenalinya sebagai Miss Jiwa sang ratu malam yang misterius. Mereka hanya melihat seorang mahasiswi polos yang tampak ingin menghabiskan waktu di sana. "Ikut saya." Suara bariton itu berasal dari arah belakang tepat saat pintu Cafe terbuka. Begitu Kenan muncul, atmosfer ruangan seolah berubah dalam sekejap. Semua pelayan menunduk dan menyapa dengan hormat yang luar biasa. Camelia berjalan menuju area VIP mengikuti Kenan dari belakang dalam diam, tempat eksklusif yang biasanya hanya dipesan oleh klien-klien kelas atas. Mungkin dia salah satu pengunjung VIP tetap di sini, batin Camelia. Kenan segera membuka pintu dan duduk. Kemeja hitamnya yang dibuka kancing atasnya memberikan kesan santai namun tetap mematikan. Tanpa basa-basi, ia langsung membuka laptop dan memesan minuman tanpa bertanya terlebih dahulu pada Camelia. Camelia ikut duduk perlahan di hadapan Kenan. "Selamat sore, Pak." Kenan tidak menjawab. Ia hanya menatap Camelia dari atas sampai bawah selama beberapa detik seolah menilai. "Setidaknya kamu tidak memakai flanel bau keringat itu hari ini," ucapnya dingin sebelum kembali fokus ke layar laptopnya. Sialan banget mulutnya manusia satu ini. Hih! umpat Camelia dalam hati. Camelia hanxa diam tak menggubris. Tak lama, pelayan datang membawa pesanan. Kenan menggeser salah satu gelas ke arah Camelia. Isinya adalah cairan berwarna ungu gelap dengan hiasan kelopak bunga mawar di atasnya. Jantung Camelia berhenti berdetak sesaat. Itu adalah Purple Soul—minuman custom favorit Miss Jiwa yang hanya dibuatkan jika diminta khusus. "Silakan diminum. Saya dengar ini minuman paling populer di sini untuk orang yang sedang... mencari jiwanya yang hilang," ujar Kenan dengan nada penuh sindiran. Camelia menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak berani menyentuh gelas itu secara langsung. "Ehem. Bapak... sering ke Cafe ini?" "Saya pemilik tempat ini, Camelia." Deg. Hantaman itu membuat dunia Camelia seolah berputar. Apa maksud semua ini? Kenan pemilik Midnight Garden? Sialan! Kenan menyandarkan punggungnya, menatap Camelia dengan senyum smirk yang sangat jelas. "Saya tahu setiap jengkal yang terjadi di bawah atap Cafe ini. Termasuk siapa saja yang datang... ah, salah satunya ada seorang gadis yang sering mengenakan topeng dan asyik bercengkerama dengan para pria berbeda setiap minggunya." Camelia mengepalkan tangannya di bawah meja. Pengakuan itu seperti godam yang menghancurkan pertahanannya. Jadi selama ini, saat ia "mengeksekusi" mangsanya, Kenan melihatnya? Di mana pria itu mengawasinya? Lewat ruang CCTV atau dari balik meja bar? "Orang-orang memang ada-ada saja ya, Pak. Ehm... cake ini enak juga ya, Pak," suara Camelia mulai bergetar. Ia berusaha keras mengalihkan pembicaraam yang Kenan bawa. Dalam hati Camelia terus merapalkan kata-kata menenangkan, 'Aman, lo pasti aman, Cantik. Dia nggak bakal tahu kalau lo itu Miss Jiwa'. Satu jam berlalu. Kenan sibuk dengan laptopnya, sementara Camelia mengalihkan kecemasannya dengan mengerjakan tugas jurnal dari Kenan. Ruangan itu sunyi, hanya diisi suara detik jam, tarian jari Kenan pada keyboard, dan gesekan pena Camelia di atas kertas. Di balik layar laptopnya, Kenan—sang Lucifer yang asli—melirik sekilas pada mahasiswi di depannya. 'Aku suka melihat kamu seperti ini, Camelia. Kamu patuh dan juga cemas di saat bersamaan', batin Kenan. Ia merasa puas melihat mangsanya terjebak tepat di pusat sarangnya sendiri."Lo beneran siap ketemu sama dia, Ca?" tanya Kenan dengan suara baritonnya. Tangannya memegang kemudi mobil SUV hitamnya, sementara matanya sesekali melirik Camelia di kursi penumpang. Camelia menyunggingkan senyum tipis misteriusnya, membetulkan blazernya. "Gue nggak pernah selintas pun merasa takut, Ken. Dulu dia cuma sosok fiktif di balik layar HP gue sebelum masuk ke kehidupan gue dua tahun ini. Sekarang, saatnya gue tatap matanya langsung." Di kursi belakang, Raga menghentikan jemarinya yang menari di atas layar laptop. "Sinyal lokasi Kenzo udah terkunci di area VIP lantai dua resto keluarga Hartanto. Tim pengamanan Abimanyu udah nutup semua pintu keluar-masuk. Dia kejebak dan nggak tahu kalau itu restoran punya Mami, Bang." "Bagus," balas Kenan dingin, memarkirkan SUV mewah itu tepat di area parkir eksklusif bagian belakang. Pria berdarah dingin itu melepas sabuk pengamannya, lalu meraih jemari Camelia dan mengecup jemari yang melingkar cincin pernikahan mereka. "Ingat,
"Lo beneran yakin kalau pacar Kenzo itu cuma sewaan, Ga?" tanya Camelia sembari menyilangkan kakinya dengan anggun di atas sofa kulit penthouse. Jubah tidur satinnya terurai, dan di jemarinya tersemat cincin pernikahan berlian yang kini melingkar manis di jari manisnya. Hari pertama pasca pernikahan mereka langsung bergerak cepat, tidak ada kata santai. Di hadapannya, Raga memutar laptop canggihnya ke arah Camelia dan Kenan. "Seratus persen yakin, Kak. Gue udah meretas seluruh jejak transaksi kartu kredit dan data penerbangan atas nama Kenzo selama enam bulan terakhir. Kagak ada yang namanya liburan romantis di Eropa bareng pacar. Dia cuma mengunci diri di sebuah apartemen sewaan di kawasan Jakarta Barat." Kenan yang berdiri di samping Camelia, menyesap kopi hitamnya perlahan. Binar mata sang Dosen Lucifer memancarkan aura dingin yang membekukan. "Artinya, cerita soal kesibukan kerjaan dia dan beberapa kali kamu bertemu dengannya bersama pacarnya secara tidak sengaja itu cuma k
"Ternyata jas ini emang pantesnya dipakai sama dosen killer kayak lo, Ken," sapaan Raga sembari merapikan ikatan dasi kupu-kupu di leher Kenan. Pria muda itu bersandar di meja rias ruang tunggu pengantin pria, menatap sepupunya dari pantulan cermin dengan wajah tengilnya. Kenan yang mengenakan tuxedo hitam buatan penjahit Italia hanya melirik Raga dingin lewat cermin. "Kalau lo ke sini cuma buat ngoceh, mending lo cek sekali lagi keamanan luar gedung sekarang, Ga." "Aman, Bos! Semua kamera dan jalur enkripsi di area gedung sampai ballroom udah gue gembok rapat," jawab Raga santai sembari memamerkan layar tablet pribadinya. "Tikus bernama Kenzo itu nggak bakal bisa menyusup satu inci pun hari ini. Hari ini jelas panggung milik lo sama Kak Camelia." Kenan membetulkan posisi jam tangan mewahnya, menyunggingkan senyum tipis. "Bagus. Karena hari ini gue nggak menerima gangguan dalam bentuk apa pun." Sementara itu, di ruang pengantin wanita, atmosfer kemewahan memancar begitu indah
"Gue tau mata lo tajam, Bang, tapi kagak usah mandang gue kayak mau memutilasi gitu juga kali," celetuk Raga sembari menyesap es kopinya santai. Pria yang baru mendarat dari Tokyo beberapa hari lalu itu menyandarkan punggung di sofa ruang kerja penthouse, menatap Kenan dan Camelia yang berdiri berdampingan di hadapannya. Kenan menyilangkan kedua tangan di dada, menatap sepupunya dengan raut dingin tanpa senyum. "Gue cuma memastikan lo balik ke Jakarta bukan buat bikin pusing. Gladi bersih besok harus berjalan tanpa cela sedikit pun." "Santai, Bos. Gue ke sini murni mau jadi saksi pernikahan paling heboh tahun ini," balasan Raga diiringi cengiran khasnya. Dia lalu menoleh ke arah Camelia, mengedipkan sebelah mata secara jahil. "Lagian, calon ipar gue ini udah pinter banget ngejinakin lo, Bang. Mana berani gue macam-macam." Camelia terkekeh tipis, melipat tangannya dengan gaya santai yang biasa walau dalam hatinya ada rasa was-was. "Bagus kalau sadar diri, Ga. Jangan sampai gue y
"Lo mikirin apa jam dua malam begini belum tidur, Ca?" panggil Kenan dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur. Tangannya merayap dari pinggang Camelia, menarik tubuh polos gadis itu makin merapat ke dada bidangnya di atas ranjang king size. Camelia memiringkan badannya, menatap garis tegas wajah calon suaminya di bawah pendar remang lampu tidur. "Nggak ada, Ken. Cuma deg-degan aja lusa kita udah resmi nikah." Kenan menyunggingkan senyum tipis yang sarat dominasi, merengkuh leher Camelia lalu mengecup bibirnya lembut. "Semua udah diatur sempurna. Lo cuma perlu berdiri di samping gue dan nikmati peran lo sebagai Nyonya Kenan Abimanyu." "Gue tau," bisik Camelia pelan sembari menyandarkan kepalanya di dada Kenan. Namun, begitu Kenan kembali terlelap dengan deru napas yang teratur, napas Camelia justru tertahan. Pikiran liarnya melayang jauh menembus jarak ratusan kilometer menuju sebuah rumah minimalis di Bali sana. Di dalam ingatan Camelia, pendar pualam "Kamar Mer
"Lo bener-bener iblis, Raga," desis Camelia dengan nada suara yang bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam sepupu Kenan yang sedang merapikan kerah kemejanya dengan begitu santai di lorong remang dekat gudang. Raga hanya menyunggingkan seringai tipis yang teramat mengejek. "Bukannya lo yang nikmatin setiap detik dorongan gue tadi, Kak? Suara desahan lo nggak bisa bohong. Tubuh lo tuh selalu kangen sama keliaran gue." "Cabut dari sini sekarang sebelum gue bener-bener lupa diri dan tebas leher lo!" ancam Camelia seraya membetulkan gaun santainya yang sempat berantakan. Raga mengedipkan sebelah matanya penuh kemewahan dosa, lalu melangkah santai meninggalkan lorong gelap itu menuju area living room seolah tidak pernah terjadi adegan panas di antara mereka beberapa menit lalu. Begitu sosok Raga tak lagi terlihat, Camelia bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama. Dia langsung menyalakan pancuran air hangat, berdiri di bawah g
Bantingan pintu kamar unit apartemen Camelia terdengar cukup keras dan bergema di dalam ruangan yang sepi. Gadis itu langsung bersandar pada daun pintu yang tertutup rapat, memejamkan mata erat-erat untuk meredakan gemuruh di dadanya yang belum juga reda. Nafasnya masih memburu, t
Mobil sedan hitam Kenan berhenti di sebuah restoran bergaya kolonial yang tampak sangat privat dan tenang. Camelia memarkir mobilnya tepat di samping mobil Kenan dengan perasaan ragu.Begitu masuk, seorang pelayan langsung menggiring mereka ke sebuah ruang semi-VIP di sudut ruangan. Ada
Suasana di tangga darurat siang itu mendadak menjadi medan perang dingin yang mencekam. Kenan berdiri di anak tangga bawah, menghalangi jalan keluar dengan postur tubuh tingginya yang kaku penuh otoriter. Sementara, sosok pria bernama Raga masih berdiri santai di samping Camelia. Tangannya bahka
Bunyi detak jam dinding di laboratorium lantai tiga terdengar seperti dentang lonceng kematian yang terasa lambat. Sudah masuk jam ketiga sejak istirahat makan siang berakhir, dan Camelia merasa otaknya sudah mencapai titik didih. Bahunya benar-benar terasa kaku, dan jari tangannya mulai gemetar k







