Share

77. Data Terakhir

last update publish date: 2026-06-09 22:55:56

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden jendela perlahan mengusik tidur Camelia. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, merasakan kondisi tubuhnya yang untungnya sudah jauh lebih baik daripada kemarin. Efek flu dan pusing di kepalanya sudah mereda, menyisakan sedikit rasa pegal di pinggang akibat datang bulan.

​Saat Camelia memutar tubuhnya, dia mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan tertata rapi. Aroma maskulin Kenan masih tertinggal tipis di atas bantal.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   143. Pertemuan di Ruang Kuliah

    ​"Selamat pagi, rekan-rekan mahasiswa sekalian. Mulai hari ini, saya yang akan mengampu mata kuliah Biologi Sel dan Genetika Lanjutan untuk program Magister," suara bariton Kenan Abimanyu mengalun tegas dan berwibawa, memecah keheningan di ruang kuliah S2 Pascasarjana.​Kenan berdiri dengan gagah di depan meja podium dengan balutan kemeja putih berlengan digulung hingga siku. Sebagai seorang dosen biologi yang dikenal kaku, dingin, dan sangat disiplin, auranya langsung mencengkeram perhatian seluruh isi kelas tanpa perlu menaikkan intonasi suaranya.​Di barisan kursi tengah, Camelia duduk dengan santai. Mengenakan kemeja sutra putih yang dipadukan dengan celana marun, ia menatap suaminya di depan podium dengan senyum tipis penuh rahasia.​"Peraturan di laboratorium dan kelas saya tidak pernah berubah," lanjut Kenan, matanya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti tepat pada sosok Camelia selama beberapa detik lebih lama. "Saya tidak menoleransi ketidakdisiplinan, analisis data yang c

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   142. Pengepungan Kenzo & Pengakuan

    ​"Lo beneran siap ketemu sama dia, Ca?" tanya Kenan dengan suara baritonnya. Tangannya memegang kemudi mobil SUV hitamnya, sementara matanya sesekali melirik Camelia di kursi penumpang. ​Camelia menyunggingkan senyum tipis misteriusnya, membetulkan blazernya. "Gue nggak pernah selintas pun merasa takut, Ken. Dulu dia cuma sosok fiktif di balik layar HP gue sebelum masuk ke kehidupan gue dua tahun ini. Sekarang, saatnya gue tatap matanya langsung." ​Di kursi belakang, Raga menghentikan jemarinya yang menari di atas layar laptop. "Sinyal lokasi Kenzo udah terkunci di area VIP lantai dua resto keluarga Hartanto. Tim pengamanan Abimanyu udah nutup semua pintu keluar-masuk. Dia kejebak dan nggak tahu kalau itu restoran punya Mami, Bang." ​"Bagus," balas Kenan dingin, memarkirkan SUV mewah itu tepat di area parkir eksklusif bagian belakang. Pria berdarah dingin itu melepas sabuk pengamannya, lalu meraih jemari Camelia dan mengecup jemari yang melingkar cincin pernikahan mereka. "Ingat,

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   141. Jejak Kenzo yang Terbongkar

    ​"Lo beneran yakin kalau pacar Kenzo itu cuma sewaan, Ga?" tanya Camelia sembari menyilangkan kakinya dengan anggun di atas sofa kulit penthouse. Jubah tidur satinnya terurai, dan di jemarinya tersemat cincin pernikahan berlian yang kini melingkar manis di jari manisnya. Hari pertama pasca pernikahan mereka langsung bergerak cepat, tidak ada kata santai. ​Di hadapannya, Raga memutar laptop canggihnya ke arah Camelia dan Kenan. "Seratus persen yakin, Kak. Gue udah meretas seluruh jejak transaksi kartu kredit dan data penerbangan atas nama Kenzo selama enam bulan terakhir. Kagak ada yang namanya liburan romantis di Eropa bareng pacar. Dia cuma mengunci diri di sebuah apartemen sewaan di kawasan Jakarta Barat." ​Kenan yang berdiri di samping Camelia, menyesap kopi hitamnya perlahan. Binar mata sang Dosen Lucifer memancarkan aura dingin yang membekukan. "Artinya, cerita soal kesibukan kerjaan dia dan beberapa kali kamu bertemu dengannya bersama pacarnya secara tidak sengaja itu cuma k

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   140. Pernikahan Megah & Janji Masa Kecil

    ​"Ternyata jas ini emang pantesnya dipakai sama dosen killer kayak lo, Ken," sapaan Raga sembari merapikan ikatan dasi kupu-kupu di leher Kenan. Pria muda itu bersandar di meja rias ruang tunggu pengantin pria, menatap sepupunya dari pantulan cermin dengan wajah tengilnya. ​Kenan yang mengenakan tuxedo hitam buatan penjahit Italia hanya melirik Raga dingin lewat cermin. "Kalau lo ke sini cuma buat ngoceh, mending lo cek sekali lagi keamanan luar gedung sekarang, Ga." ​"Aman, Bos! Semua kamera dan jalur enkripsi di area gedung sampai ballroom udah gue gembok rapat," jawab Raga santai sembari memamerkan layar tablet pribadinya. "Tikus bernama Kenzo itu nggak bakal bisa menyusup satu inci pun hari ini. Hari ini jelas panggung milik lo sama Kak Camelia." ​Kenan membetulkan posisi jam tangan mewahnya, menyunggingkan senyum tipis. "Bagus. Karena hari ini gue nggak menerima gangguan dalam bentuk apa pun." ​Sementara itu, di ruang pengantin wanita, atmosfer kemewahan memancar begitu indah

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   139. Teror Sebelum Pernikahan

    ​"Gue tau mata lo tajam, Bang, tapi kagak usah mandang gue kayak mau memutilasi gitu juga kali," celetuk Raga sembari menyesap es kopinya santai. Pria yang baru mendarat dari Tokyo beberapa hari lalu itu menyandarkan punggung di sofa ruang kerja penthouse, menatap Kenan dan Camelia yang berdiri berdampingan di hadapannya. ​Kenan menyilangkan kedua tangan di dada, menatap sepupunya dengan raut dingin tanpa senyum. "Gue cuma memastikan lo balik ke Jakarta bukan buat bikin pusing. Gladi bersih besok harus berjalan tanpa cela sedikit pun." ​"Santai, Bos. Gue ke sini murni mau jadi saksi pernikahan paling heboh tahun ini," balasan Raga diiringi cengiran khasnya. Dia lalu menoleh ke arah Camelia, mengedipkan sebelah mata secara jahil. "Lagian, calon ipar gue ini udah pinter banget ngejinakin lo, Bang. Mana berani gue macam-macam." ​Camelia terkekeh tipis, melipat tangannya dengan gaya santai yang biasa walau dalam hatinya ada rasa was-was. "Bagus kalau sadar diri, Ga. Jangan sampai gue y

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   138. Bayangan Kamar Merah

    ​"Lo mikirin apa jam dua malam begini belum tidur, Ca?" panggil Kenan dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur. Tangannya merayap dari pinggang Camelia, menarik tubuh polos gadis itu makin merapat ke dada bidangnya di atas ranjang king size. ​Camelia memiringkan badannya, menatap garis tegas wajah calon suaminya di bawah pendar remang lampu tidur. "Nggak ada, Ken. Cuma deg-degan aja lusa kita udah resmi nikah." ​Kenan menyunggingkan senyum tipis yang sarat dominasi, merengkuh leher Camelia lalu mengecup bibirnya lembut. "Semua udah diatur sempurna. Lo cuma perlu berdiri di samping gue dan nikmati peran lo sebagai Nyonya Kenan Abimanyu." ​"Gue tau," bisik Camelia pelan sembari menyandarkan kepalanya di dada Kenan. ​Namun, begitu Kenan kembali terlelap dengan deru napas yang teratur, napas Camelia justru tertahan. Pikiran liarnya melayang jauh menembus jarak ratusan kilometer menuju sebuah rumah minimalis di Bali sana. ​Di dalam ingatan Camelia, pendar pualam "Kamar Mer

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   4. Memancing di Air Keruh

    ​Bunyi detak jam dinding di laboratorium lantai tiga terdengar seperti dentang lonceng kematian yang terasa lambat. Sudah masuk jam ketiga sejak istirahat makan siang berakhir, dan Camelia merasa otaknya sudah mencapai titik didih. Bahunya benar-benar terasa kaku, dan jari tangannya mulai gemetar k

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   3. Di Bawah Tatapan Dosen Baru

    ​Langkah kaki Camelia terasa berat saat ia menyusuri lorong parkiran kampus yang sepi menuju mobil miliknya. Berjalan santai dengan wajah yang sengaja dia pasang secuek mungkin seperti biasa, namun sisi lain batinnya berteriak lelah. Rasanya hari ini luar biasa sekali. Di kampus, ia hanya bertemu

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   36. Jerat Baru

    ​Bantingan pintu kamar unit apartemen Camelia terdengar cukup keras dan bergema di dalam ruangan yang sepi. Gadis itu langsung bersandar pada daun pintu yang tertutup rapat, memejamkan mata erat-erat untuk meredakan gemuruh di dadanya yang belum juga reda. Nafasnya masih memburu, t

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   5. Singgasana yang Rentan

    Camelia berdiri di depan cermin apartemennya dengan perasaan campur aduk. Perintah Kenan kemarin terus terngiang, seolah berbisik tepat di telinganya, “Pakai sesuatu yang menunjukkan kalau kamu punya... jiwa.”"Hah, bapak-bapak dingin dan otoriter itu. Argh!" Gerutu Camelia sambil membuka lemari p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status