Mag-log inCengkeraman jari Kenan di dagunya terasa begitu kuat, namun rasa sakit fisik itu tidak sedikit pun menyurutkan binar pemberontakan di sepasang netra Camelia. Alih-alih menunjukkan ketakutan seperti mangsa yang tersudut, seulas senyuman tipis yang sarat akan cemoohan justru perlahan terukir di bibir ranum Camelia yang masih basah dan memerah akibat ciuman brutal tadi.
Sebagai seorang pemanen jiwa yang bisa membaca situasi kondisi para pria, Camelia tahu persis bahwa kemarahan meledak"Turunin gue di depan mall Kuta aja, Bas," ujar Camelia sembari merapikan ikatan rambutnya di dalam mobil Baskara yang melaju membelah jalanan Bypass Ngurah Rai. Baskara menoleh sekilas, menaikkan sebelah alisnya. "Nggak langsung gue anter ke tempat lo nginep sama dosen lo itu? Tanggung, Ca. Gue juga mau liat mukanya kalau tahu lo pulang telat dan sa gue." Camelia terkekeh dan mencolek dagu Baskara dengan ujung jari lentiknya. "Jangan serakah, Sayang. Mainnya pelan-pelan aja. Kalau singa gue ngamuk sekarang, lo nggak bakal bisa dapet jatah di Jakarta nanti. Turunin gue di sana, gue mau ada urusan bentar." Baskara mendengus pasrah namun senyum patuhnya terulas sore ini. "Oke, My Queen. Apa pun buat lo." Begitu mobil Baskara berhenti di lobi, Camelia langsung turun tanpa menoleh lagi. Begitu kakinya menginjak lantai mall, dia buru-buru mematikan ponselnya. Klik
"Bas, nggak usah bercanda kayak gini," ujar Camelia, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar, memperkuat yang sedang terdesak. Namun, di balik itu, benak Miss Jiwa-nya justru bergolak liar.Baskara tidak menjawab dan tanpa peringatan, pria blasteran itu mencengkeram pergelangan tangan Camelia, menariknya kasar menuju tangga melingkar ke lantai dua."Lepas, Bas! Sakit!" jerit Camelia, sengaja membiarkan dirinya terseret ke sebuah ruangan di ujung lorong.Cklek. Brak!Begitu pintu terbuka, pandangan Camelia langsung disambut interior yang didominasi warna merah marun dan hitam. Persis seperti ruang rahasia dalam film Fifty Shades of Grey. Di tengah ruangan terdapat ranjang besar dengan tiang besi, lengkap dengan berbagai pernak-pernik berbahan kulit, cambuk tipis, tali rami halus, dan lainnya yang tertata rapi di dinding."Selamat datang di dunia gue yang sebenarnya, Camelia," bisik Baskara parau. Dengan gerakan cepat, dia menyudutkan Camelia ke ranjang, merenggut kasar syal dan
Kenan memejamkan matanya kembali dibawah remang lampu kamar yang temaram, rahangnya mengeras, namun dia memilih menahan diri. Dia membiarkan tubuhnya kembali berpura-pura masih tertidur pulas saat mendengar langkah kaki Camelia bergerak mendekat setelah meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menyelinap masuk ke balik selimut, melirik samping wajah Kenan yang tampak tenang.Sinar matahari pagi Denpasar menyapa dengan hangat saat Camelia sudah siap dengan pakaian olahraga yang pas di tubuhnya. Jangan lupa, sapuan concealer dan scaf olahraga tipis sengaja dia lilitkan di leher untuk menutupi bercak merah mahakarya Kenan semalam."Ken, gue izin keluar bentar ya? Mau ikut Car Free Day di Renon, mumpung hari Minggu," ujar Camelia saat mendapati Kenan sedang membaca berkas di ruang tengah.Kenan mendongak, menatap Camelia tanpa ekspresi sedikit pun. "Ya. Pulang sebelum siang. Kita harus cek dokumen akhir sebelum balik ke Jakarta lusa."Camelia sempat tertegun di ambang pintu. Tum
"Masuk, Camelia!" Perintah Kenan terdengar seperti geraman singa di keheningan parkiran yang sepi. Pria itu membuka pintu mobil dengan sentakan kasar, matanya merah padam setelah melumat bibir Camelia dengan brutal dan tanpa ampun.Camelia mendengus, mengusap bibirnya yang terasa sedikit perih dengan punggung tangan sebelum melangkah masuk ke kursi penumpang. "Nggak usah sekasar itu juga bisa, kan? Sakit bibir gue."Begitu pintu tertutup rapat dan mesin mobil menderu kencang membelah jalanan malam, keheningan di dalam kabin terasa begitu mencekam. Kenan mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, melajukan kendaraan di atas rata-rata."Gue nggak suka lo bertingkah lancang di depan siapapun kayak tadi," buka Kenan tanpa menoleh ke arah Camelia, suaranya rendah namun bergetar menahan sisa amarah. "Apalagi Pak Rendra tadi, dia bukan orang sembarangan yang bisa lo skakmat begitu saja dengan mulut pintar lo itu. Harus main cantik, bukannya harusnya lo tahu itu?Camelia yang a
"Urusan lab sudah beres. Sore ini lo ikut gue ke Seminyak," ujar Kenan dingin sembari memutar kemudi, membelah jalanan Denpasar yang mulai padat. Sesi laboratorium dengan Pak Wayan memang selesai lebih cepat dari perkiraan setelah semua data pembanding berhasil diekspor.Camelia yang sedang sibuk memoles lipstik merah tipis di bibirnya hanya melirik malas melalui kaca spion tengah. "Gue pikir kita mau langsung balik ke rumah lo buat istirahat, Ken. Badan gue pegel semua gara-gara pagi tadi."Kenan meliriknya sekilas, rahangnya mengencang mendengar kata 'pagi tadi'. "Ada restoran privat di sana. Gue ada janji temu sebentar, dan lo harus ikut tetap di samping gue. Jangan banyak protes.""Oke, oke. Terserah lo, Pak Dosen," sahut Camelia santai, mengulum senyum misterius. Pikirannya justru melayang pada kehangatan pagutan Baskara di ujung jembatan mangrove pagi tadi. Satu bidak baru sudah berhasil dia kunci, dan sekarang dia hanya perlu menikmati ke mana Kenan akan membawanya.Restora
"Tegang banget muka lo pagi ini, Ken. Kurang tidur apa gimana?" goda Camelia sembari memakai sepatu boot-nya di atas jembatan kayu hutan mangrove lokasi kedua. Pagi ini suasananya jauh lebih berkabut dan dingin dibanding kemarin.Kenan yang sedang memeriksa kamera GPS seketika menoleh, matanya menyipit tajam. "Jangan bahas personal di saat kita nggak berdua, Camelia. Fokus ambil sampel pembanding hari ini. Jangan sampai ada adegan kepleset jilid dua.""Sensi banget. Padahal gue cuma nanya. Siap, Bapak Kenan terhormat," Camelia berdiri, menepuk-nepuk celananya dengan senyum miring yang teramat seksi. Dia sengaja tidak menyinggung soal 'tanda love putih' itu, membiarkan Kenan tetap merasa bahwa rahasia pribadinya terjaga rapat di balik topeng dosennya yang angkuh.Langkah kaki yang bersemangat memecah konfrontasi kecil mereka. Baskara muncul dari arah pos pemantau dengan membawa tas ransel tahan air, penampilannya kasual namun ketampanan pria blasteran ini tetap bersinar di bawah re
"Siapa ya?"Kalimat pendek itu terus berputar-putar di dalam otak Camelia tanpa bisa dihentikan. Selama dua tahun dia membuka dan mengoperasikan akun Miss Jiwa House, belum pernah sekalipun dia diteror atau bertemu dengan orang aneh yang mengusik kehidupan aslinya. Anggotanya selalu bersikap tahu
Camelia membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat anggun. Dia melangkah perlahan menjauhi area bar, membiarkan rambut panjangnya berayun mengikuti ritme kakinya yang sengaja dibuat tetap tenang. Di bawah pengaruh alkohol yang mulai membuat kesadarannya menipis, ego Miss Jiwa justru mendomin
Kenan menghentikan langkahnya di dekat meja bundar dengan sorot mata terkejut saat menangkap sosok Camelia duduk di sebelah Raga. Namun, ekspresi keterkejutan itu langsung disembunyikan dengan sangat rapi dalam hitungan detik, kembali berganti menjadi wajah dingin yang formal. "Baru sampai lo, Ba
Hari-hari berikutnya dilalui Camelia dengan tenang tapi juga ada perasaan lain yang membuatnya aneh, ia tidak lagi bertemu Kenan di kampus untuk beberapa hari ini. Setiap kali dia datang untuk mengambil data penelitian baik pagi atau malam hari, ruangan laboratorium selalu dalam keadaan kosong dan







