แชร์

Rahasia Perawat Magang
Rahasia Perawat Magang
ผู้แต่ง: Liam

Bab 1

ผู้เขียน: Liam
"Sayang, kangen aku nggak? Coba aku lihat ...."

Jeremy Huba, pacarku, terengah-engah di ujung panggilan video. Suaranya terdengar serak sekaligus seksi.

Dengan perasaan malu, aku menggigit bibir sambil mengarahkan kamera ponsel ke dadaku yang terbungkus rapat oleh jas putih perawat.

Namun, pacarku yang berada di balik layar tampaknya belum puas. Dengan nada manja sekaligus memerintah, dia berkata, "Patuh ya, buka satu kancing lagi. Satu saja!"

Jariku gemetar saat menyentuh kancing yang terasa dingin di dadaku.

Tepat pada saat itu, pintu UKS terbuka tanpa suara.

Jantungku rasanya mau copot karena terkejut. Spontan, aku langsung menelungkupkan ponsel ke atas meja.

Vino Gatra, pemain bintang dari tim bola basket universitas, sudah berdiri di ambang pintu. Dia memeluk sebuah bola basket di tangannya. Anak rambut di dahinya basah oleh keringat, beberapa helai tampak menempel di keningnya yang bersih.

Melihatku yang panik dan salah tingkah, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum penuh arti.

"Suster Karina, aku nggak mengganggumu, ‘kan?"

Namaku Karina, seorang perawat magang di UKS kawasan kampus ini.

Di saat yang sama, aku juga seorang wanita kesepian yang terus-menerus dibakar oleh gairah.

Karena dorongan hasrat dalam tubuhku yang sulit dijelaskan, aku membutuhkan keintiman rutin dari pasanganku. Jika tidak, saat malam tiba, rasanya seperti ada ribuan semut yang menggerogoti celah-celah tulangku. Rasa haus yang kosong itu bisa membuatku gila.

Namun Jeremy, kekasih yang sudah bertunangan denganku begitu kami lulus kuliah, justru dikirim oleh perusahaannya ke wilayah selatan untuk membuka pasar baru. Dia harus pergi selama satu tahun penuh.

Dia yang telah mengubahku dari seorang gadis polos, menjadi wanita yang memahami keintiman. Tetapi di saat aku paling membutuhkannya, dia justru mencampakkanku begitu saja.

Bagaimana mungkin aku bisa menahannya?

Terlebih lagi, aku bekerja di tempat yang dipenuhi hormon yang meledak-ledak seperti ini. Setiap hari, ada banyak tubuh muda yang energik berseliweran di depan mataku.

Di lapangan, para mahasiswa jurusan olahraga itu hanya mengenakan kaus kutang tipis. Keringat mengalir menyusuri lekuk otot mereka yang kencang, setiap tetesnya seolah jatuh menghantam jantungku yang membara.

Aku hanya bisa mengandalkan panggilan video dengan Jeremy setiap malam. Mengandalkan kata-kata vulgar dan perintahnya demi mendapatkan sedikit hiburan yang menyedihkan.

Sama seperti saat ini.

Aku memendam paksa debaran jantungku yang menggila, merapikan kerah baju, lalu berpura-pura tenang dan bertanya, "Vino, sudah semalam ini, ada perlu apa?"

Vino meletakkan bola basketnya begitu saja di lantai, lalu berjalan perlahan mendekatiku.

Dia sangat tinggi. Dengan postur setinggi 190 cm, bayangan yang dijatuhkannya saat berdiri di depan meja kecilku hampir mengurungku sepenuhnya.

Aroma khas remaja yang bercampur antara keringat dan rumput segar langsung menyeruak, menerobos masuk ke rongga hidungku dengan sombongnya. Hal itu, seketika membuat tubuhku yang baru saja terangsang oleh video tadi menjadi semakin tegang.

"Saat latihan sore tadi, sepertinya pergelangan kakiku terkilir. Sekarang agak sakit," ujarnya sambil menunjuk ke arah pergelangan kaki. Suaranya terdengar serak khas orang yang selesai berolahraga.

Aku bergegas bangkit. "Kalau begitu duduk dulu, biar kuperiksa."

Dia menurut dan duduk di kursi yang berada di hadapanku. Setelah melepas sepatu basketnya yang mahal, terlihat kakinya yang berbalut kaus kaki putih.

Aku berjongkok, lalu dengan hati-hati melepaskan kaus kakinya.

Pergelangan kakinya memang tampak agak memerah dan bengkak.

Ujung jariku menekan bagian itu dengan lembut.

"Aduh ...!" Dia menarik napas dalam-dalam, tubuhnya agak condong ke depan.

Gerakannya ini membuat lututnya menyentuh bahuku.

Hanya terhalang oleh lapisan tipis jas putih perawat, aku bisa merasakan dengan jelas kerasnya tulang lututnya, serta hawa panas luar biasa yang terpancar dari tubuhnya.

Tubuhku sontak menegang. Rasa panas yang familier melonjak dari perut bagian bawah, lalu menyebar dengan cepat ke seluruh anggota badan.

"Kak, tanganmu gemetar."

Ujung jarinya yang hangat menempel lembut di punggung tanganku yang dingin. Meski terhalang sekat sarung tangan lateks yang tipis, kehangatan itu seperti aliran listrik yang menyengat ke seluruh tubuhku.

Aku segera menarik tanganku, lalu mendongak dan tatapanku beradu dengan matanya yang tampak jenaka sekaligus misterius.

Sejak detik itu, aku tahu bahwa rahasia yang kusembunyikan di balik jas putih ini mungkin tidak akan bisa dipertahankan lagi.

Aku berdiri dengan panik, memperlebar jarak dengannya. Jantungku berdegup kencang seolah-olah hendak melompat keluar dari tenggorokan.

"Bukan masalah besar, cuma terkilir sedikit. Aku akan menyemprotkan obat. Setelah kembali nanti kompres dengan kantong es. Jangan melakukan olahraga berat selama dua hari ini," ucapku dengan rentetan kalimat yang sangat cepat. Aku langsung berbalik untuk mengambil semprotan di lemari obat.

Punggungku bisa merasakan dengan jelas tatapan matanya yang membara. Tatapan itu terus mengikuti seperti bayangan, seakan-akan hendak menembus jas putih yang kukenakan.

Sembari memegang botol obat, aku berjongkok kembali, tetapi tidak berani mendongak untuk menatapnya lagi.

Cairan semprotan yang dingin menyentuh kulitnya yang membara, menimbulkan suara desisan pelan.

Dia tidak berbicara lagi. UKS seketika menjadi sunyi senyap yang mencekam, hanya menyisakan suara napas belaka.

Setelah selesai mengobati lukanya, aku menunduk dan berkata, "Sudah selesai."

Namun, dia tidak bergerak. Dia malah mengulurkan tangan, lalu dengan lembut menyelipkan sehelai rambutku yang menjuntai di pipi ke belakang telinga.

Ujung jarinya, entah sengaja atau tidak, mengusap daun telingaku. Memicu rasa bergidik yang hebat.

"Terima kasih, Kak." Suaranya ditekan sangat rendah, mengandung magnet yang memikat. "Kakak benar-benar cantik dan baik hati."

Aku mundur selangkah dengan sentakan kuat, hingga hampir menabrak lemari obat di belakangku.

"Sa-sama-sama, ini sudah tugasku," jawabku terbata-bata.

Dia berdiri. Postur tubuhnya yang lebih tinggi satu kepala dariku memberikan tekanan yang begitu kuat.

Dia menatapku dalam-dalam. Tatapan matanya begitu rumit hingga membuat hatiku berdetak kencang.

Kemudian, dia mengambil bola basketnya, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan UKS.

Begitu pintu tertutup, seluruh kekuatanku seolah lenyap seketika. Aku terduduk lemas di kursi.

Aku menunduk menatap ponsel yang tertelungkup di atas meja. Layarnya masih menyala, menunjukkan bahwa panggilan telah terputus.

Jeremy mungkin tidak sabar menungguku, lalu menutup teleponnya dengan kesal.

Aku mengambil ponselku. Namun, ujung jariku tanpa sadar mengusap daun telinga yang baru saja disentuh oleh Vino. Di sana masih tersisa sensasi sentuhan yang membara.

Pikiranku mendadak memutar ulang ingatan tentang sepasang matanya yang tajam dan kalimatnya yang berbunyi, "Kak, tanganmu gemetar."

Apakah dia menyadarinya?

Apakah dia bisa melihat kegugupan dan hasrat dalam diriku?

Rasa malu yang lebih mendalam menenggelamkanku.

Aku, bagaimana bisa punya pikiran sekotor itu pada seorang mahasiswa yang usianya empat tahun lebih muda dariku?

Aku menyambar gelas di atas meja, lalu meneguk habis air es di dalamnya. Aku mencoba memadamkan kobaran api yang kian berkobar di dalam tubuh.

Namun, usaha itu sia-sia.

Malam itu, aku menderita insomnia.

Setiap kali memejamkan mata, yang muncul adalah wajah muda nan tampan milik Vino, serta tubuhnya yang sarat akan kekuatan.

Aku hanya bisa menggunakan cara paling primitif. Menjepit selimut, lalu berguling dan bergesekan di atas ranjang demi memuaskan diri. Hingga akhirnya tubuhku terlelap karena kelelahan setelah mengalami kejang hampa yang hebat.

Kupikir ini hanya sebuah insiden selingan yang tidak disengaja.

Namun, aku tidak menyangka, ini baru awal dari segalanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rahasia Perawat Magang   Bab 12

    Namun, pendirian Jeremy sangat teguh.Dia mengerahkan seluruh relasi dan jaringan yang dimilikinya. Dia menyewa pengacara terbaik, dan bersumpah akan membuat kedua bajingan itu membayar mahal atas perbuatan mereka."Aku nggak peduli siapa orang di belakangnya," ujarnya kepada pengacara melalui sambungan telepon di hadapanku. "Kasus ini nggak akan pernah berakhir dengan jalur damai. Aku cuma mau satu hasil, pastikan mereka membusuk di dalam penjara!"Melihat bagaimana dia sibuk ke sana kemari demi membelaku, menjadi tameng yang melindungiku dari badai, untuk pertama kalinya aku merasakan dengan sangat dalam apa yang disebut dengan rasa aman.Berkat kegigihan Jeremy, kasus ini pada akhirnya tidak berhasil diredam oleh pihak lawan.Soni dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, atas dakwaan percobaan pemerkosaan serta keterlibatan dalam tindakan pengancaman.Sementara Vino, atas tindakan pengancaman dan pemerasan yang dilakukannya, meskipun dia baru saja menginjak usia 18 tahun, namun karen

  • Rahasia Perawat Magang   Bab 11

    "Kita pulang," kata Jeremy.Dia menggendongku sepanjang jalan hingga tiba di rumah kontrakan yang kusewa di luar area kampus.Dia membaringkan tubuhku dengan lembut di atas ranjang, lalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan sebaskom air hangat. Sembari membawa selembar handuk kecil, dia menyeka bekas air mata di wajahku serta debu yang menempel di tubuhku secara perlahan.Gerakannya sangat hati-hati dan penuh kelembutan, seolah-olah dia sedang merawat sebuah barang antik yang tak ternilai harganya.Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menatap wajahnya dengan pandangan kosong.Bagi diriku, beralih dari neraka menuju surga hanya membutuhkan waktu singkat selama satu jam.Pria ini adalah juru selamatku.Setelah selesai membersihkan tubuhku, dia duduk di tepi ranjang, menggenggam tanganku yang dingin, lalu bertanya dengan suara lembut, "Sekarang, apa kamu bisa menceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"Menatap sepasang matanya yang memerah karena gurat darah, serta luka

  • Rahasia Perawat Magang   Bab 10

    Aku memejamkan mata dengan putus asa, dua aliran air mata mengalir perlahan menyusuri sudut mataku.Jeremy, maafkan aku. Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa menjaga kesetiaanku untukmu. Tepat di saat aku menyerah untuk melawan dan bersiap menyongsong takdir yang menghinakan ini, pintu studio tiba-tiba didobrak dengan keras dari luar!Brak! Terdengar suara dentuman yang sangat nyaring, disusul serpihan kayu yang beterbangan.Sesosok tubuh yang tinggi dan tegap tampak berdiri di ambang pintu membelakangi sorot cahaya.Dia masih mengenakan setelan jas yang rapi. Namun karena berlari, dasinya miring ke satu sisi dan anak rambut di dahinya tampak berantakan karena embusan angin.Meski begitu, wajah yang selalu kurindukan siang dan malam itu terlihat dengan sangat jelas.Dia adalah Jeremy!Bagaimana bisa dia berada di sini?Aku terpaku, begitu pula dengan Soni.Pandangan Jeremy menyapu seluruh sudut ruangan. Begitu melihat diriku yang dikunci pada dinding oleh Soni dengan pakaian yang aca

  • Rahasia Perawat Magang   Bab 9

    Aku berhati-hati saat memijak dahan pohon, lalu mengulurkan tangan untuk mendorong jendela.Jendela itu terbuka dengan sangat mudah.Aku melongokkan kepala ke dalam. Bagian dalam gedung tampak gelap gulita, tidak ada satu pun yang bisa kulihat dengan jelas."Di mana barangnya?" tanyaku menoleh ke arah Vino yang berada di bawah pohon."Tepat di atas meja di bawah jendela, sebuah map dokumen berwarna biru!" teriaknya dari bawah.Aku menarik napas dalam-dalam, mencengkeram ambang jendela dengan kedua tangan, lalu mengerahkan tenaga untuk menopang tubuh dan memanjat masuk.Tepat saat kedua kakiku menapak di lantai, terdengar suara "klik" dari arah belakang.Itu bukan suara ranjang kamera, melainkan ... suara pintu yang dikunci dari luar.Jantungku seketika mencelus. Aku tersentak dan langsung menoleh.Pintu studio entah sejak kapan sudah tertutup rapat.Sementara di ambang pintu, tampak sesosok bayangan manusia berdiri di sana.Orang itu bukan Vino.Melainkan orang lain.Seorang pria paruh

  • Rahasia Perawat Magang   Bab 8

    Orang itu adalah Vino.Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan mendekat.Mendengar suara langkah kaki, dia membalikkan tubuhnya. Begitu melihatku, dia mematikan rokok di tangannya."Kamu akhirnya datang juga," ujarnya dengan nada suara yang sangat tenang. Seolah-olah sudah menduga bahwa aku pasti akan datang."Mana fotonya?" tanyaku langsung pada inti masalah, suaraku agak bergetar karena gugup.Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menggoyang-goyangkannya di hadapanku. "Jangan buru-buru, Kak. Kita sudah lama nggak bertemu, kenapa nggak ngobrol dulu?""Nggak ada yang perlu kubicarakan denganmu. Hapus fotonya! Apa sebenarnya maumu?""Mauku?" Dia tertawa, melangkah maju mendekatiku perlahan-lahan. "Aku nggak mau apa-apa, aku cuma ... kangen sama Kakak."Dia berdiri tepat di depanku, mengulurkan tangan, lalu melepas masker yang kukenakan."Lihat, begini ‘kan jauh lebih baik." Dia mengamati wajahku dengan tatapan mata yang penuh obsesi. "Aku tetap lebih suka lihat wajah Ka

  • Rahasia Perawat Magang   Bab 7

    Setiap hari aku hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Aku tidak berani pergi bekerja, tidak berani keluar rumah, bahkan tidak berani mengangkat telepon dari nomor asing.Aku mengajukan izin cuti satu minggu lagi kepada kepala perawat dengan alasan kurang sehat.Kepala perawat sangat mengkhawatirkanku, bahkan sempat berkata ingin menjengukku ke asrama, tetapi aku langsung menolaknya dengan panik.Aku benar-benar mengurung diri dari dunia luar.Saat akhir pekan, Jeremy menelepon. Dia bertanya mengapa aku jarang membalas pesannya selama beberapa hari terakhir.Aku memaksakan diri untuk mengumpulkan energi, memberi tahunya bahwa akhir-akhir ini kondisiku sedang tidak fit dan butuh banyak istirahat."Kamu kenapa, Sayang? Sakitnya parah nggak? Apa aku ajukan cuti untuk pulang menjengukmu?" Di seberang telepon, nada suara Jeremy terdengar penuh kekhawatiran.Mendengar perhatian dari suaranya, air mataku hampir saja tumpah.Untuk sesaat, timbul gejolak impulsif dalam diriku untuk menceritakan s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status