Inicio / Romansa / Rahasia Sang Kuda Hitam / IKATAN YANG TERBANGUN

Compartir

IKATAN YANG TERBANGUN

Autor: Fisa
last update Fecha de publicación: 2026-03-04 08:00:05

Ayla tidak segera menjauh.

Sentuhan di wajahnya masih terasa hangat, pelan, dan terlalu nyata untuk diabaikan. Jari-jari makhluk itu tidak menekan, tidak memaksa, namun keberadaannya cukup untuk membuat seluruh tubuh Ayla tetap diam. Napasnya masih belum stabil, naik turun dengan ritme yang kacau, sementara pikirannya berusaha mengejar apa yang sedang terjadi di hadapannya.

Ia seharusnya takut.

Dan memang, sebagian dirinya masih merasakan itu.

Namun di balik rasa takut tersebut, ada sesuatu yang lain lebih halus, lebih dalam, dan perlahan tumbuh tanpa ia sadari. Rasa yang tidak ia mengerti, namun cukup kuat untuk menahannya tetap di tempat.

Ayla menelan ludah, matanya tidak lepas dari sosok di depannya. Dalam cahaya samar yang hampir tidak ada, wajah itu masih sulit terlihat jelas. Hanya garis-garisnya saja yang terbentuk cukup untuk dikenali, namun tetap menyisakan misteri.

“Menungguku…?” suaranya pelan, serak, hampir seperti tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.

Makhluk itu tidak langsung menjawab.

Tangannya perlahan turun dari wajah Ayla, namun tidak sepenuhnya menjauh. Jari-jarinya berhenti di dekat pergelangan tangannya, menyentuh ringan, seolah memastikan Ayla tetap di sana.

“Apa kau tidak mengingat?” suaranya rendah, tenang, namun mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan—seperti kekecewaan yang tertahan, atau harapan yang terlalu lama dipendam.

Ayla mengernyit.

Pikirannya berputar cepat, mencoba mencari sesuatu—sebuah kenangan, perasaan, atau apa pun yang bisa menjelaskan kata-kata itu. Namun tidak ada.

Ia menggeleng pelan.

“Aku… tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

Keheningan mengikuti.

Namun kali ini, keheningan itu terasa lebih berat.

Makhluk itu tidak bergerak selama beberapa detik. Seolah kata-kata Ayla memiliki arti lebih dari yang terlihat. Lalu perlahan, ia menarik tangannya sedikit, meski tidak sepenuhnya melepaskan.

“Tidak…” suaranya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “kau pernah.”

Jantung Ayla berdetak lebih cepat.

Ada sesuatu dalam nada itu yang membuatnya merinding. Bukan ancaman, bukan kemarahan melainkan keyakinan. Keyakinan yang terlalu kuat untuk dianggap sekadar kesalahan.

“Di tempat ini,” lanjutnya pelan, “kau pernah memanggilku.”

Ayla terdiam.

Kata-kata itu menggantung di udara, terasa asing namun entah kenapa… tidak sepenuhnya terasa salah.

Gambaran samar mulai muncul di benaknya.

Bukan ingatan yang jelas.

Hanya perasaan.

Tentang masa kecil.

Tentang berlari di antara kandang.

Tentang suara tawa yang pernah memenuhi tempat ini.

Dan sesuatu yang lain.

Sesuatu yang selalu ada… namun tak pernah benar-benar ia lihat.

Napas Ayla tertahan.

Ia mengangkat tangannya tanpa sadar, menyentuh dadanya sendiri, seolah mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak teratur.

“Aku… tidak ingat,” bisiknya pelan, namun suaranya kini tidak sekuat sebelumnya.

Makhluk itu tidak memaksanya.

Tidak mendesak.

Ia hanya berdiri di sana, dekat, cukup dekat untuk membuat Ayla merasakan kehangatan tubuhnya di tengah udara dingin lorong itu.

“Tidak apa-apa,” katanya akhirnya.

Nada suaranya berubah.

Lebih lembut.

Lebih dalam.

Seperti sesuatu yang telah menunggu terlalu lama hingga tak lagi terburu-buru.

“Kau akan mengingat.”

Kata-kata itu tidak terdengar seperti dugaan.

Lebih seperti kepastian.

Ayla menggigit bibirnya pelan. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin menolak, namun bagian lain justru… ingin mempercayainya.

Ia tidak mengerti.

Semua ini tidak masuk akal.

Namun perasaan itu tetap ada.

Semakin kuat.

Semakin sulit diabaikan.

Perlahan, ia menyadari satu hal yang membuatnya semakin gelisah.

Ia tidak lagi merasa ingin lari.

Pikiran itu masih ada.

Namun tubuhnya tidak merespons seperti sebelumnya.

Seolah ketakutan yang tadi begitu kuat kini mulai melemah, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketertarikan.

Ayla mengangkat pandangannya kembali.

“Siapa kau sebenarnya…?” tanyanya pelan.

Makhluk itu terdiam sejenak.

Lalu, perlahan, ia mundur satu langkah.

Jarak di antara mereka bertambah, meski tidak sepenuhnya jauh.

Cahaya samar itu kembali bergerak, dan untuk sesaat, bayangannya jatuh di dinding lorong.

Ayla melihatnya.

Dan napasnya kembali tertahan.

Bayangan itu tidak sepenuhnya manusia.

Bentuknya berubah.

Terkadang tinggi dan tegak.

Terkadang memanjang, menyerupai sesuatu yang lain.

Sesuatu yang ia kenal.

Kuda.

Tubuh Ayla merinding.

Matanya kembali ke sosok di depannya.

Kini ia mengerti.

Atau setidaknya… mulai mengerti.

“Kau…” suaranya hampir tidak terdengar, “kuda itu…”

Makhluk itu tidak menyangkal.

Namun juga tidak langsung mengiyakan.

Ia hanya menatap Ayla dalam diam.

Dan perlahan—

senyum tipis terbentuk di wajahnya.

Bukan senyum biasa.

Lebih seperti sesuatu yang telah lama menunggu momen ini.

“Jika itu bentuk yang paling mudah kau pahami…”

ia berhenti sejenak,

“…maka ya.”

Jantung Ayla berdegup keras.

Semua potongan mulai tersambung.

Tatapan itu.

Sentuhan itu.

Dan perasaan yang sejak awal tidak pernah hilang.

Makhluk di hadapannya

bukan sekadar kuda.

Namun juga bukan sepenuhnya manusia.

Sesuatu di antaranya.

Sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Namun tetap ada.

Dan kini

berdiri tepat di hadapannya.

Ayla tidak tahu harus merasa apa.

Takut.

Penasaran.

Atau…

tertarik.

Namun satu hal yang ia sadari dengan jelas

apa pun makhluk ini,

dan apa pun yang mengikat mereka

ia sudah terlalu jauh untuk kembali.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   Penyamaran

    Sore mulai berubah menjadi senja ketika Ayla dan Kuda Hitam meninggalkan Arena Fajar.Tubuh Ayla masih terasa lelah setelah latihan seharian. Namun pikirannya justru dipenuhi pertanyaan baru tentang sekolah yang tadi dibicarakan Kuda Hitam.Sekolah yang bukan untuk anak-anak.Bukan pula tempat latihan biasa.Tempat itu adalah lembaga pendidikan khusus bagi mereka yang telah memiliki kemampuan tinggi dan dipersiapkan untuk menjadi penjaga wilayah, komandan pasukan, pengendali energi, bahkan calon penjaga Pilar.Ayla berjalan sambil sesekali melirik Kuda Hitam."Apakah kita benar-benar akan masuk ke sana?""Kalau Shizuka mengizinkan.""Dan kalau aku tidak cukup kuat?"Kuda Hitam menoleh."Justru karena kau belum cukup kuat, kau perlu belajar."Ayla terdiam.Jawaban itu sederhana, tetapi masuk akal.Mereka kemudian kembali menuju kediaman Shizuka.Sesampainya di istana, mereka menemukan Shizuka sedang duduk di bawah Pohon Kehidupan. Beberapa dokumen kuno terbuka di hadapannya.Shizuka me

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   Sekolah Para Penjaga

    Latihan hari itu akhirnya berakhir ketika matahari mulai condong ke arah barat. Ayla duduk di bawah pohon besar di tepi Arena Fajar. Napasnya masih berat, rambutnya sedikit berantakan, dan kedua tangannya terasa pegal setelah berkali-kali mencoba mengendalikan energi Gerbang Pertama. Ia menatap telapak tangannya. "Benar-benar melelahkan..." Kuda Hitam berdiri tidak jauh darinya sambil memperhatikan keadaan sekitar. "Untuk hari pertama, kau sudah cukup baik." Ayla menoleh. "Benarkah?" "Ya." Ia kemudian tersenyum kecil. "Tapi kau masih sering memaksa kekuatanmu." Ayla menghela napas. "Aku akan belajar." Shizuka telah kembali ke kediamannya bersama beberapa penjaga. Para murid juga mulai meninggalkan arena satu per satu. Tidak lama kemudian, suasana menjadi jauh lebih tenang. Kuda Hitam masih berdiri diam. Namun pikirannya justru mulai memikirkan sesuatu yang lain. Mereka mungkin akan tinggal di Negeri Rubah cukup lama. Shizuka sendiri sudah mengatakan

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   Tatapan Sang Penguasa

    Latihan terus berlangsung hingga matahari mulai naik lebih tinggi.Suara benturan energi terdengar dari berbagai penjuru Arena Fajar. Para murid dan prajurit sibuk dengan latihan masing-masing, sementara Ayla masih berdiri di bawah pengawasan Kuda Hitam.Namun ada seseorang yang sejak tadi tidak banyak berbicara.Shizuka.Ia berdiri di bawah pohon tua di tepi arena.Kesepuluh ekornya bergerak perlahan mengikuti hembusan angin. Tatapannya tidak tertuju pada para murid yang sedang bertanding.Melainkan kepada Ayla.Sejak beberapa menit terakhir, Shizuka memperhatikan setiap gerakan gadis itu.Cara Ayla berdiri.Cara ia bernapas.Cara energi di dalam tubuhnya bergerak.Bahkan perubahan kecil pada ekspresi wajahnya tidak luput dari perhatian sang penguasa rubah."Aneh..."gumam Shizuka.Salah satu penjaga yang berdiri tidak jauh darinya menoleh."Ada sesuatu yang salah, Yang Mulia?"Shizuka tidak langsung menjawab."Perhatikan Ayla."Penjaga itu mengikuti arah pandangnya."Ada apa dengan

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   Tiga Murid Terkuat

    Pagi semakin tinggi.Arena Fajar yang sebelumnya terasa tenang kini berubah menjadi tempat yang dipenuhi aktivitas.Di setiap sudut, para prajurit berlatih.Suara pedang beradu terdengar berkali-kali.Beberapa penjaga melatih kemampuan energi roh, sementara yang lain berlatih membentuk penghalang.Bahkan pepohonan di sekitar arena dijadikan bagian dari latihan.Ayla berdiri di tengah semua kesibukan itu.Ia memperhatikan keadaan sekitar dengan rasa kagum."Tempat ini selalu seramai ini?"tanyanya.Kuda Hitam yang berdiri tidak jauh darinya mengangguk."Biasanya lebih ramai.""Ini adalah salah satu pusat latihan terbesar di Negeri Rubah.""Semua orang yang ingin meningkatkan kemampuan mereka akan datang ke sini."Ayla mengangguk.Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kecil dari arah belakang.Beberapa orang menoleh.Tiga anak berjalan memasuki arena.Mereka tampak masih sangat muda.Dua laki-laki dan seorang perempuan.Ketiganya mengenakan pakaian sekolah roh berwarna putih dengan la

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   Pagi Pertama

    Malam semakin larut.Setelah Kuda Hitam meninggalkan kamar, Ayla masih berdiri di dekat jendela.Pandangannya tertuju pada hutan yang diterangi cahaya kebiruan dari bunga-bunga roh.Ia masih memikirkan semua percakapan mereka.Tentang Shizuka.Tentang kerajaan ini.Tentang kedua orang tuanya.Dan terutama tentang latihan yang akan dimulai besok.Ayla menghela napas panjang."Aku harus kuat."Ia mengatakannya pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.Namun setelah itu, rasa lelah mulai mengambil alih.Ayla akhirnya berbaring di tempat tidur.Matanya kembali tertuju pada patung leluhur berekor seratus yang berdiri di kejauhan.Entah mengapa, patung itu masih membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.Ada sesuatu yang aneh.Sesuatu yang belum bisa ia pahami.Namun malam itu ia tidak memiliki tenaga untuk memikirkannya lebih jauh.Perlahan, matanya tertutup.Dan akhirnya Ayla tertidur.Waktu berlalu.Cahaya pagi mulai memasuki kamar.Burung-burung roh terdengar berkicau dari balik pep

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   Malam Pertama di Negeri Rubah

    Malam perlahan turun menyelimuti Negeri Rubah.Cahaya keemasan yang sejak pagi menerangi pepohonan kini berganti dengan sinar kebiruan dari ribuan bunga roh yang bermekaran di seluruh penjuru kerajaan. Kelopaknya memancarkan cahaya lembut, membuat seluruh wilayah tampak seperti lautan bintang.Setelah pembicaraan panjang bersama Shizuka berakhir, salah seorang pelayan datang menghampiri Ayla."Lady Ayla, kamar Anda telah disiapkan."Ayla mengangguk pelan."Terima kasih."Ia kemudian menoleh kepada Kuda Hitam yang masih berdiri di bawah Pohon Kehidupan."Apa... kau bisa mengantarku sebentar?"Kuda Hitam menatapnya beberapa saat."Tentu."Shizuka yang melihat itu hanya tersenyum tipis."Pergilah. Besok pagi latihan akan dimulai. Manfaatkan malam ini untuk beristirahat."Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang diterangi lentera kristal.Malam itu terasa sangat tenang.Sesekali terdengar suara serangga malam dan aliran sungai kecil yang mengelilingi istana.Ayla berjalan sambil mem

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   KEGELABAN YANG MENUSUK

    Kegelapan di dalam lorong itu tidak seperti gelap biasa. Ia terasa padat, menekan, seolah bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sesuatu yang benar-benar ada dan mengisi ruang di sekeliling Ayla. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam, membiarkan matanya mencoba menyesuaikan diri, meski hamp

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   LANGKAH RAHASIA

    Ujung jari Ayla masih menempel pada permukaan kayu itu. Dingin, namun bukan dingin biasa. Ada getaran halus di baliknya samar, hampir tak terasa, tetapi cukup untuk membuat napasnya tertahan. Seolah ada sesuatu di sisi lain yang hidup dan menyadari sentuhannya. Ia tidak langsung menarik tangan, just

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   NALURI YANG MULAI AKTIF

    Napasnya terasa tidak teratur. Ia mencoba menenangkan diri, memaksa pikirannya kembali logis. Ini hanya kandang. Hanya seekor kuda. Tidak ada yang aneh. Seharusnya begitu. Namun perasaan di dadanya berkata lain. “Ini… tidak mungkin,” bisiknya pelan. Di hadapannya, kuda hitam itu tetap berdiri.

  • Rahasia Sang Kuda Hitam   GERAK GERIK ANEH DI KANDANG

    Udara di dalam kandang terasa berbeda begitu Ayla melewati ambang pintu lebih hangat, namun juga lebih berat, seolah ruang itu menyimpan sesuatu yang tidak terlihat. Aroma jerami, tanah lembap, dan kayu tua memenuhi inderanya, bercampur dengan bau samar yang asing, sesuatu yang tidak bisa ia kenali.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status