LOGINDia mewarisi sebuah peternakan tua yang sunyi, tempat legenda dan rahasia lama bersembunyi. Di antara kuda-kuda liar, satu selalu berbeda mata gelapnya penuh misteri, langkahnya menegangkan, dan aura yang membuat semua orang menjauh. Sejak hari pertama, ada sesuatu tentang kuda itu yang tak bisa dijelaskan. Seseorang… atau sesuatu… seakan menunggu, memperhatikan, dan menantang batas keberanian. Hanya dia yang merasa terikat pada makhluk itu, penasaran hingga tak bisa menoleh ke lain arah. Setiap malam di peternakan terasa berbeda. Angin membawa bisikan, bayangan bergerak, dan hati berdetak lebih cepat dari yang biasa. Sesuatu yang kuat, liar, dan memikat menuntun dirinya ke tarikan yang sulit dijelaskan antara takut, ingin, dan penasaran yang membara. Rahasia lama, legenda yang terlupakan, dan perasaan yang tak bisa dihindari mulai menyatu. Satu keputusan bisa mengubah hidupnya. Satu malam bisa mengubah segalanya. Dalam dunia ini, cinta bisa muncul di tempat yang tak terduga… dan rasa penasaran bisa menjadi awal dari sesuatu yang tak terlupakan.
View More“Ini benar-benar harus aku yang urus…?”
Suara Ayla terdengar pelan, hampir seperti hilang sebelum sempat terdengar jelas. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Malam kembali sunyi, hanya diisi oleh suara angin yang bergerak pelan di antara pepohonan tua di sekitar peternakan. Namun kata kata tantenya masih terngiang di kepalanya. “Tante nggak bisa terus ngurus ini, Ayla. Kamu satu-satunya yang tersisa. Semua sudah atas nama orang tuamu… sekarang itu tanggung jawab kamu.” Ayla menunduk. Kalimat itu sederhana. Tapi terasa seperti sesuatu yang dijatuhkan begitu saja ke pundaknya tanpa ia siap menangkapnya. Ia berdiri di depan gerbang kayu yang dulu begitu ia kenal. Gerbang yang setiap pagi dibuka ayahnya, dan setiap sore ditutup kembali sebelum matahari benar-benar tenggelam. Sekarang… gerbang itu hanya berdiri diam. Lapuk. Retak. Seolah sudah lama menunggu seseorang yang tidak pernah kembali. Sudah tiga hari sejak Ayla kembali ke sini. Tiga hari sejak ia meninggalkan kehidupannya di kota kehidupan yang dulu ia perjuangkan mati-matian untuk dapatkan. Ia tinggal di sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota. Bekerja di sebuah kantor administrasi yang tidak pernah benar-benar ia sukai, tapi cukup untuk membuatnya bertahan hidup. Setiap hari hampir sama. Bangun pagi, berdesakan di kendaraan umum, duduk berjam-jam di depan layar, lalu pulang ke kamar yang selalu terasa terlalu sempit untuk disebut rumah. Tidak ada yang istimewa. Tapi setidaknya… tidak menyakitkan. Berbeda dengan tempat ini. Ayla menarik napas pelan. Tempat ini menyimpan terlalu banyak hal. Ia lahir di sini. Tumbuh di sini. Mengenal dunia pertama kali dari tempat ini. Ayahnya adalah pemilik peternakan itu, pria yang jarang bicara, tapi selalu bangun lebih awal dari siapa pun. Tangannya kasar, suaranya tegas, tapi setiap kali Ayla terjatuh waktu kecil, dialah yang pertama mengangkatnya tanpa banyak kata. Ibunya berbeda. Lebih hagat. Lebih banyak bicara. Selalu ada di dapur, atau berjalan di sekitar kandang sambil memastikan semuanya baik-baik saja. Ia sering mengomel, tapi tidak pernah benar-benar marah. Mereka bukan keluarga yang sempurna. Tapi mereka cukup. Dan dulu… itu sudah lebih dari cukup. Namun Ayla tidak pernah melihatnya seperti itu. Saat remaja, tempat ini terasa seperti penjara. Terlalu jauh dari kota. Terlalu sepi. Terlalu membosankan. Ia ingin lebih. Ingin kehidupan yang lebih besar. Lebih bebas. Lebih… berarti. Dan karena itu, ia pergi. Dengan alasan sekolah. Lalu pekerjaan. Dan perlahan… tanpa ia sadari, jarak itu menjadi kebiasaan. Pulang hanya sesekali. Telepon semakin jarang. Percakapan menjadi singkat, canggung, dan akhirnya… hampir tidak ada. Sampai satu hari semuanya berhenti. Orang tua Ayla mengalami kecelakaan tragis saat dalam perjalanan menuju kota untuk menjenguknya. Mereka sangat merindukan Ayla dan ingin memastikan keadaannya baik-baik saja. Hujan turun sangat deras sepanjang perjalanan, membasahi jalanan hingga menjadi licin dan berbahaya. Namun, mereka tetap melanjutkan perjalanan, dengan harapan bisa segera bertemu putri mereka. Di sebuah tikungan, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba tergelincir. Kendaraan itu kehilangan kendali dalam hitungan detik. Segalanya terjadi begitu cepat. Tidak ada yang sempat menyelamatkan mereka. Perjalanan yang seharusnya penuh harapan itu pun berubah menjadi duka yang mendalam. Ayla bahkan tidak ada di sana. Ia menerima kabar itu dari orang lain. Terlambat untuk pulang. Terlambat untuk melihat mereka untuk terakhir kali. Terlambat… untuk memperbaiki segalanya. Langkah Ayla terasa berat. Ia akhirnya mendorong gerbang kayu itu dan masuk ke dalam. Tanah lembap langsung menyambut langkahnya. Bau jerami dan tanah basah memenuhi udara aroma yang dulu begitu ia benci, kini justru terasa menyesakkan. Kaena semuanya mengingatkannya. Pada hal-hal yang sudah tidak bisa ia kembalikan. Peternakan itu kini jauh berbeda. Rumput liar tumbuh tidak terurus. Pagar banyak yang miring. Beberapa bagian kandang terlihat hampir runtuh. Tempat ini… seperti perlahan mati. Sama seperti bagian dalam dirinya. Ayla mengepalkan tangannya. Ia tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semua ini. Ia bahkan tidak yakin apakah ia mampu. Namun kali ini, ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Dan mungkin… ini adalah satu-satunya kesempatan yang tersisa untuknya. Untuk memperbaiki sesuatu. Atau setidaknya… tidak kehilangan semuanya lagi. Angin malam berhembus pelan. Dan di tengah semua itu perasaan itu muncul lagi. Dingin. Halus. Tapi nyata. Ayla terdiam. Ia sudah merasakannya sejak malam pertama ia kembali. Perasaan seperti sedang diawasi. Ia pernah mencoba mengabaikannya. Meyakinkan dirinya bahwa itu hanya lelah. Atau pikirannya yang belum stabil. Namun perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Justru semakin jelas. Seolah ada sesuatu di tempat ini… yang menyadari kehadirannya. Perlahan, Ayla mengangkat kepalanya. Tatapannya jatuh ke arah kandang utama. Bangunan itu berdiri dalam bayangan malam, hanya diterangi cahaya bulan yang samar. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Namun entah kenapa… tidak terasa kosong. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang bukan hanya ada tapi juga menunggu. Langkah Ayla bergerak perlahan. Satu langkah. Lalu satu lagi. Hingga akhirnya, ia berdiri di depan pintu kandang. Tangannya terangkat, menyentuh kayu dingin itu. Ia ragu. Namun hanya sesaat. “Aku tidak akan lari lagi…” bisiknya pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ia benar-benar bersungguh-sungguh dengan kalimat itu. Ayla mendorong pintu itu. Suara derit panjang memecah keheningan malam. Lalu, tanpa benar-benar tahu apa yang akan ia hadapi. ia melangkah masuk ke dalam.....Aroma sup hangat kembali memenuhi ruangan.Kali ini Ayla jauh lebih berhati-hati saat duduk di meja makan.Ia bahkan sempat melirik karpet yang tadi hampir menjatuhkannya.Kuda Hitam yang melihat itu hanya menggeleng pelan."Kau mengawasi karpet sekarang?"Ayla mendengus."Karpet itu berbahaya.""Itu karpet biasa.""Bagimu mungkin."Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu menghela napas seperti seseorang yang menyerah untuk berdebat.Ayla akhirnya mulai makan.Dan baru setelah beberapa suapan, ia menyadari betapa laparnya dirinya.Sup hangat itu terasa sederhana.Namun cukup membuat tubuhnya yang lelah mulai terasa lebih ringan.Sementara itu, Kuda Hitam duduk di seberangnya.Ia juga makan.Namun berbeda dengan Ayla.Matanya tidak pernah benar-benar santai.Sesekali tatapannya mengarah ke jendela.Lalu ke pintu.Kemudian kembali ke ruangan.Seolah selalu memastikan tidak ada sesuatu yang mendekat.Ayla memperhatikannya beberapa saat."Kau selalu seperti itu?"Pria itu mengangkat pan
Malam telah turun sepenuhnya.Dari jendela kamar yang diberikan kepadanya, Ayla bisa melihat cahaya biru dari menara di seberang danau masih berkilauan di kejauhan. Cahaya itu menjadi satu-satunya hal yang mengingatkannya bahwa dunia ini benar-benar nyata.Atau setidaknya... cukup nyata untuk membuatnya tidak bisa tidur.Ayla duduk di tepi tempat tidur.Tangannya memeluk lutut.Pikirannya masih dipenuhi terlalu banyak hal.Pilar Ketiga.Orang tuanya.Sembilan Gerbang Dewa.Peninggalan yang hilang.Dan sosok pria yang sekarang berada di rumah ini.Rumahnya.Entah kenapa bagian terakhir itu membuat Ayla semakin gelisah.Ia melirik ke arah pintu kamar.Meski pria itu telah memberinya kamar sendiri, tetap saja mereka hanya berdua di rumah asing yang berada di dunia yang bahkan tidak ia kenal."Aku benar-benar gila kalau dipikir-pikir..." gumamnya.Tok.Tok.Tok.Ayla langsung menegakkan tubuh.Suara ketukan terdengar dari balik pintu."Ayla."Suara pria itu."Apa kau masih bangun?"Ayla s
malam semakin larut.Cahaya biru dari menara di seberang danau masih terlihat melalui jendela besar rumah itu, berdenyut perlahan seperti jantung yang tidak pernah berhenti berdetak.Ayla dan pria itu masih duduk berhadapan di meja kayu panjang.Di antara mereka terbentang beberapa lembar peta tua yang baru saja dikeluarkan dari sebuah peti penyimpanan.Ayla memandangi garis-garis aneh yang membentang di atas kertas kusam itu.Sebagian wilayah diberi tanda dengan simbol yang tidak ia kenali.Sebagian lainnya bahkan tampak sengaja dicoret."Dunia ini lebih besar daripada yang kau bayangkan," kata pria itu.Ayla mengangkat pandangan."Seberapa besar?"Pria itu terdiam sesaat."Lima benua.""Mirip duniaku.""Tidak."Ia menggeleng."Lima benua. Puluhan kerajaan. Ratusan klan. Dan ratusan ras."Ayla berkedip."Ras?"Pria itu menunjuk salah satu wilayah pada peta."Manusia."Lalu bergeser ke wilayah lain."Kaum Batu."Kemudian ke tempat lain."Kaum Kabut."Ayla mengernyit."Kaum Kabut?""Me
Air dari rambut Ayla masih menetes pelan ketika ia keluar dari kamar mandi.Pakaian yang dipinjamkan oleh pemilik rumah itu terasa sedikit longgar, namun cukup nyaman. Setelah kejadian memalukan dengan tanaman aneh tadi, pikirannya akhirnya sedikit lebih tenang.Setidaknya untuk sementara.Namun begitu ia kembali memasuki ruang utama rumah itu, semua pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya kembali muncul.Rumah itu terasa sunyi.Tidak seperti rumah manusia pada umumnya.Tidak ada jam yang berdetak.Tidak ada suara aktivitas.Hanya cahaya lembut berwarna kebiruan yang masuk dari jendela besar di sisi ruangan.Di dekat perapian batu yang tidak menyala, pria berambut hitam itu sedang berdiri sambil memandang keluar.Seolah ia sudah tahu Ayla akan datang."Aku sudah selesai."Pria itu menoleh.Tatapan gelapnya singgah sesaat pada Ayla sebelum kembali tenang seperti biasa."Bagus."Ayla menarik kursi kayu terdekat lalu duduk.Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi ruangan itu.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.